M Y Y O U T H

M Y Y O U T H
Rumor.


__ADS_3

"Eh Nei," panggil seseorang yang berjalan mendekati Nei dan Nadin, membuat mereka berhenti.


"Iya?" tanya Nei sambil menghadap teman perempuan seangkatannya, Diandra namanya.


"Ini buku kamu, tadi ketinggalan kan?" sambil menyodorkan buku yang tadi ia tinggalkan di ruang Olimpiade.


"Oh iya, makasih banget ya, rencananya mau aku ambil besok," jelas Nei sambil menerima bukunya denga tangan yang tak memegang kantor plastik.


"Iya sama-sama, eh itu bukan dari aku lo, tadi aku dititipin sama kak Izzat waktu nggak sengaja lewat," terangnya sambil mereka bertiga lanjut berjalan pulang.


"Kak Izzat?" tanya Nadin memastikan.


"Ngapain dia yang ngasih?" tambah Nadin penasaran.


Diandra hanya mengangkat kedua pundaknya tanda tak tau.


Nei dengan perasaan senang tak bisa disembunyikan, ia tersenyum kecil sembari melihat bukunya.


"Makasih ya Dian," ucap Nei tulus.


"Iya, santai aja," jawab Diandra.


...


Keesokan harinya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, teman-teman diharapkan segera menuju ruang club masing-masing," pengumuman terdengar ke seluruh sekolah.


"Ayo Nad," ajak Nei ketika semua teman mereka masih duduk di kursinya masing-masing.


"Semangat banget," kata Nadin menanggapi.


"Iya lah, kan nggak pelajaran," kata Nei dengan wajah sumringah.


"Tumben, biasanya paling suka pelajaran," tanggapan Nadin melihat Nei yang sudah berdiri di sampingnya.


"Biarin, ayo..." bujuk Nei dengan menarik pelan lengan Nadin agar berdiri.


"Duluan aja deh," kata Nadin.


"Kan kita beda lantai juga ruangannya," jawab Nadin mengusulkan.


"Iya juga sih, beneran aku berangkat duluan ya..." ucap Nei meyakinkan.


"Iya Nei..." jawab Nadin sambil tersenyum.


"Oke, nanti istirahat bareng," ucap Nei sambil berjalan meninggalkan kelas.


Nadin menghela nafas perlahan sambil memikirkan Nei yang mulai menyukai kak Izzat. Ia takut sahabatnya terlalu berharap


"Nad, seni kan?" tanya salah satu temannya.


"Iya," jawab Nadin sambil mengambil beberapa peralatannya.


"Ke sana yuk," ajak temannya.


"Iya, bentar," jawab Nadin.


...


Ketika di ruang club bahasa Arab, Nei masuk dan hanya menemukan kak Arsa yang duduk di bangku bagian laki-laki sebelah kanan.


Nei terdiam sebentar di ambang pintu, apa sebaiknya ia menunggu teman yang lain. Teringat ia pernah satu ruangan dengan kan Arsa walaupun tak terjadi percakapan tapi ia tak nyaman.


Nei melihat kak Arsa yang sedang fokus membaca buku.


"Masuk aja," kata kak Arsa dengan nada datar membuat Nei yang sedang melihatnya langsung mengalihkan pandangan.


Nei tak menjawab hanya berjalan menuju bangku bagian perempuan di sisi kiri. Nei duduk dan menyiapkan buku dan kitab bahasa Arab di mejanya.


Setelah jam tepat pukul 08.00, kelas dimulai.

__ADS_1


...


Bel istirahat pertama berbunyi. Hari Sabtu hanya diisi club mata pelajaran dan ekstrakulikuler setelah itu jama'ah Dzuhur kemuadian pulang lebih awal daripada hari biasanya.


"Seru nggak club seninya?" tanya Nei dengan senyuman di bibirnya.


"Ya...masih seperti biasanya, tapi kan tadi gurunya dari luar sekolahkan, jadi lebih rame gitu sih kelasnya," terang Nadin dengan wajah antusias.


"Rame gimana?" tanya Nei.


"Ya tanya jawab gitu Nei,banyak yang tanya tentang tehnik menggambar, sama peralatan lukis yang di bawa sama gurunya tuh kayak aesthetic gitu lo..." jelas Nadin.


Nei mengangguk menanggapi.


"Ke kamar mandi dulu yuk," ajak Nadin.


"Ke kelas dulu aja naro ini," ucap Nei sambil memperlihatkan buku-bukunya.


"Aku ke kamar mandi, kamu bawa ini ke kelas, trus nanti nyusul ke kamar mandi, kita langsung ke kantin deh," putus Nadin sembari memberikan peralatan lukisnya pada Nei.


"Oke," jawab Nadin.


Sesampainya di kamar mandi, hanya ada satu bilik yang kosong. Nadin langsung memasukinya.


Nadin mendengar tiga pintu lainnya terbuka ketika ia masih di dalam bilik.


"Eh, tau Aneisha dari kelas E unggulan itu nggak?" tanya salah satu perempuan yang berada di depan cermin.


Nadin yang mendengarnya dari dalam hanya diam menyimak.


"Tau, udah cantik, pinter, imut-imut gitu lagi," jawab yang lainnya.


Nadin yang mendengar sahabatnya di puji hanya menahan tawanya.


"Bukan itu," sambung yang bertanya tadi.


"Yang mana? perasaan yang kelas sepuluh namanya Aneisha dia doang," jawab yang lain.


Nadin merasa mereka adalah kakak kelasnya dari penyebutan kelas sepuluh pada Nei.


"Terus apanya?" tanya yang lainnya dengan penasaran.


"Denger-denger kemarin waktu simulasi Olimpiade dia keluar terakhir kan terus pas keluar bawa kantong plastik gitu," si pembawa berita dengan suara lirih yang membuat lainnya penasaran.


"Trus kenapa?" tanya lainnya dengan bingung.


"Tau nggak siapa yang ngasih?" tanya si pembawa berita.


"Siapa?" tanya salah satunya.


"Kak Izzat?" jawab yang lainnya.


Mereka bertiga mengobrol dengan suara lirih namun Nadin masih bisa mendengarnya.


"Kok tau sih?" tanya si pembawa berita.


"Tau lah, temen-temen yang suka sama kak Izzat tuh udah tau," jawabnya.


"Kemarin juga bukunya Nei yang ketinggalan diambilin sama kak Izzat," tambahnya.


"Di kasihin langsung nggak?" tanya lainnya dengan penasaran.


"Nggak, cuma dititipin temennya," jawabnya.


"Anak kelas sepuluh kok berani banget ya sekarang," ungkap mereka dengan nada sombong membedakan angkatan.


Nadin yang mendengarnya hanya menarik nafas, menyelesaikan hajatnya kemudian ketika ia membuka pintu bilik, Nadin hanya melihat ketiganya sedang berjalan keluar.


Nadin yang melihat Nei sudah berdiri di dinding depan ruang kamar mandi hanya menatapnya terkejut.


"Nei..." ucap Nadin dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Udah?" tanya Nei santai.


"Ke kantin yuk," ajak Nei dengan senyuman.


Nadin berpikir Nei sudah berdiri lama atau datang barusan. Apa ia mendengar suara-suara tentang dirinya?


Mereka ke kantin yang sudah ramai.


"Kamu cari tempat duduk aja, aku yang pesenin," tawar Nadin.


Nei yang terlihat melamun tak menjawab. Nadin memegang lengan Nei.


"Nei," kata Nadin menyadarkan.


"Eh, iya, aku sama kayak kamu aja," jawab Nei sambil mengukir senyum di wajahnya.


Nadin yang melihatnya yakin bahwa tadi Nei mendengarnya.


Bergegas Nadin memesan minuman dan duduk di samping Nei.


"Nggak mesen makanan?" tanya Nei yang melihat Nadin hanya membawa dua jus di tangannya.


"Kamu mau makan?" tanya Nadin balik.


Biasanya jika Nei seperti ini, ia tidak ada selera untuk makan.


"Nggak sih," jawab Nei.


Nadin menghela nafas panjang.


Nei yang sedang meminum jusnya melihat ke arah Nadin sambil mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa?" tanya Nei.


"Nei, kamu nggak kayak gitu, dari awal kan yang notice kamu kak Izzat," ucap Nadin dengan wajah khawatir dan suara lirih agar hanya terdengar oleh Nei.


Nei tertawa menanggapi perkataan Nadin yang terlihat serius.


"Nei..." ucap Nadin dengan nada khawatir melihat temannya malah tertawa.


"Nad, kamu nggak usah mikirin, aku aja nggak kepikiran kok, cuma denger aja," jawab Nei santai.


"Nggak ah, mereka lihatnya tuh dari sudut pandang orang yang suka sama kak Izzat, Jadi bakal ngeliat kamu sebagai orang yang bersalah karena kelihatan deket sama kak Izzat," lanjut Nadin memperjelas.


"Emang kalau aku suka, salah ya?" tanya Nei dengan ragu.


"Nggak Nei, Mereka aja tuh yang lebay kayak kamu ngapain aja, padahal kan kamu cuma sebagai orang yang nerima aja," jawab Nadin.


"Eh, bentar, kamu suka?" tanya Nadin tak sadar dengan pertanyaan Nei.


Nei hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nei, beneran?" tanya Nadin menuntut.


Nei menghembuskan nafas perlahan.


"Sebenarnya nggak Nad, tapi di kasih perhatian," ucap Nei bimbang.


"Itu bukan perhatian Nei," tepis Nadin dengan yakin.


"Trus apa?" tanya Nei menghadap Nadin.


"Permintaan maaf?" ucap Nadin ragu.


"Bener juga sih," ucap Nei kembali menghadap depan meminum jusnya dengan pasrah.


Tapi ia tak bisa menepis kalau hatinya mulai menaruh perhatian pada kak Izzat.


"Pokoknya apapun yang kamu denger tadi jangan dipikirkin," kata Nadin memutuskan.


Nei hanya mengangguk menanggapi.

__ADS_1


...


To be continued.


__ADS_2