M Y Y O U T H

M Y Y O U T H
Bazaar tiba.


__ADS_3

"Nei..." sambut Nadin dengan merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Nei.


Nei hanya memutar bola matanya malas melihat Nadin.


Bel tanda masuk pun berbunyi, guru Bahasa Indonesia memasuki ruang kelas mereka.


Setelah dibuka dengan salam dan berdo'a bersama pelajaran pun di mulai,


"Nei, tadi gimana? Ada cowok yang kemaren nggak?" tanya Nadin dengan lirih dan menunduk kepala, bersembunyi dari ustdzah yang sedang memberi penjelasan di depan.


Nei mengangguk menanggapi pertanyaan Nadin.


"Gimana? gimana?" tanyanya tak sabar.


Nei meletakkan jari telunjuk nya di bibirnya sendiri sambil terus memperhatikan ustadzah yang sedang menerangkan.


"Ah Nei... spill dikit aja, masih ganteng kan?" tanya Nadin penasaran.


Nei malah menatapnya dengan mata yang melotot dengan senyum aneh. Nadin hanya menautkan kedua alisnya bingung.


"Berdiri," ucap tegas ustadzah yang tiba-tiba berdiri di samping meja Nadin sambil mengetuk meja.


Nadin langsung menegakkan kepalanya dan membawa bukunya sembari berdiri di bangkunya.


Nadin tersenyum canggung melihat ustadzah yang mulai menjauh dari mejanya.


"Udah dibilangin kan," ucap Nei tanpa suara, kemudian langsung memperhatikan kembali materi pelajaran.


Ustadzah Bahasa Indonesia ini memang selalu tegas dari pertemuan pertama mereka.


...


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga..." ucap Nadin dengan semangat menyambut bazaar.


Bel istirahat pertama sudah berbunyi, teman-temannya sudah banyak yang keluar kelas dan tersisa sedikit yang masih mencatat pelajaran.


Nadin menoleh ke sampingnya dan melihat Nei yang sedang membereskan meja mereka. Hari ini Nei menulis ketika pelajaran berlangsung karena Nadin yang tak mau melewatkan bazaar. Padahal kan bazaarnya tidak bisa berjalan.


"Cepet ah," keluh Nadin.


"Makanya kamu beresin meja kamu sendiri," omel Nei.


"Udah rapi itu," ucap Nadin membela diri.


"Rapi gimana sih," jawab Nei mempertegas.


Setelah selesai merekapun berjalan mengarah ke lapangan tempat bazaar berlangsung.


Hari ini, bazaar dilaksanakan tertutup tidak terbuka untuk umum. Hanya untuk warga Senior High School dan Junior High School yang kawasan sekolahnya masih dalam satu lingkup.


"Cerita yang kemaren deh, capek banget dari kemaren nggak sempet mulu mau cerita," keluh Nadin.


Mengingat setelah mereka ditegur ustadzah kemaren mereka tidak bisa mengobrol sampai pulang sekolah.


Ketika istirahat jam kedua Nadin terlalu bersemangat karena lauknya daging kemudian dia lupa bertanya pada Nei sampai pulang sekolah.


Sampai jam belajar di Ma'had mereka juga tidak sempat bercerita karena mengerjakan tiga tugas mata pelajaran sekaligus.


Pagi tadi sebelum berangkat sekolah, Nadin meninggalkan buku pr-nya di kamar. Jadilah dia berlari kembali ke Ma'had dan berakhir ngos-ngosan di kelas karena menghindari keterlambatan.

__ADS_1


"Nggak ada yang spesial kok Nad," balas Nei menyakinkan.


"Waktu kemaren kamu latihan itu ya, aku kan cerita-cerita tuh sama Salsa sama lainnya juga ya," ucap Nadin memberitahu.


Salsa teman kelasnya yang juga tinggal di Ma'had.


"Iya, trus," jawab Nei.


"Katanya yang bimbing Olim itu kak Izzat ya," terusnya.


"Kok bisa tau?" tanya Nei, kan kelasnya yang ikut Olimpiade hanya dirinya.


"Ya udah tau juga kali se sekolahan," kata Nadin meyakinkan.


"Bisa gitu ya?" tanggap Nei agak tak percaya.


"Secara di sekolah kita tuh Olimpiade Bahasa Arab paling di tunggu-tunggu selain lomba sholawatan pastinya, apalagi kalo pembimbing nya Kak Izzat, kan dia keren banget," kata Nadin dengan menggebu-gebu.


"Kata orang-orang sih," lanjut Nadin. Jeda beberappa detik Nadin berbicara.


"Kamu inget kakak kelas yang lewat lorong sebrang waktu kita di kantin ternyata ada acara sholawatan, tapi cuma kita doang yang nggak ikut itu loh..." terang Nadin mengingatkan.


"Iya, trus," jawab Nei.


"Yang kamu bilang ganteng itu loh," lanjut Nadin mengingatkan perkataan Nei.b


"Iya inget Nadin," jawab Nei dengan agak sebal. Sudah jelas ia mengingatnya.


"Ya itu kak Izzat, inget nggak?" tanya Nadin pada Nei. Mereka sudah di lantai dasar memasuki area bazaar yang sudah ramai pengunjung, ada adek-adek Junior High School juga.


"Iya, tapi nggak terlalu jelas juga sih waktu itu wajahnya, aku inget perawakannya aja yang bagus," jawab Nei jujur.


"Apaan sih Nad, jangan-jangan kamu aja yang suka," tanya Nei balik.


Nadin hanya menghembuskan nafasnya malas.


"Not my type mereka tuh, tapi ganteng kok," jelas Nadin.


"Apa iya?" tanya Nei meragukan.


"Kamu tahu nggak kak Izzat tuh pernah juara Nasional Olimpiade Bahasa Arab lo..." kata Nadin memberitahu.


"Ih mengalihkan pembicaraan," balas Nei usil.


"Beneran ini Nei, Makanya dia kemarin dia yang jadi juru bicara Olimpiade," lanjut Nadin memberitahu.


"Oh gitu...pantes aja, tapi bukannya kelas 12 itu sibuk ya?" Nei hanya mengangguk kepalanya.


"Maybe masih semester satu awal bulan kali ya," jawab Nadin setelah berpikir sebentar.


"Lagian juga cuma waktu istirahat pertama aja, nggak makan waktu banget lah," lanjut ucapan Nadin setelah dipikir-pikir lagi.


"Bener juga sih," Nei setuju.


"Trus aku denger kamu diajak ngobrol juga sama kak Izzat?" tanya Nadin melanjutkan percakapan yang tadi.


Stan-stan bazaar sudah dipenuhi dengan beberapa orang yang bertanya-tanya mengenai program club dan ekstrakulikuler yang ditersedia di sekolah.


Mereka berdua masih asik mengobrol sambil berjalan perlahan melewati stan-stan bazaar. Nei memperhatikan namun belum ada yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


Sedangkan Nadin fokus menuntaskan rasa penasarannya.


"Hah? ngobrol gimana, nggak ya. Jangan aneh-aneh deh Nad," ucap Nei cepat, ia takut nanti ada yang mendengar dan salah paham.


"Alah, kamu dinotice kan sama kak Izzat," kata Nadin sambil menarik satu sudut bibirnya ke atas.


"Nggak Nad..." jawab Nei dengan sabar.


"Kamu dapet kabar burung dari siapa sih," keluh Nei dengan wajah pasrah.


"Dinding pun bisa berbicara Nei," ucap Nadin dengan yakin.


"Aku mau denger dari narasumber yang terlibat langsung nih," lanjut Nadin sambil tersenyum manis pada Nei.


Nei memutar kedua bola matanya malas.


"Soalnya aku denger kak Izzat yang ngajak ngobrol kamu duluan Nei," Nadin belum berhenti penasaran.


"Nggak ngobrol Nadin..." jawab Nei dengan sabar.


"Kan gara-gara kamu jalannya lambat kemaren aku jadi telat tuh masuk kelasnya," Nei mengambil jeda yang langsung disahut oleh Nadin.


"Bukan karena aku yang jalannya lambat Nei... karena langkah kaki kamu aja yang pendek," sangkal Nadin membenarkan.


Nei langsung melihat ke bawah, langkah mereka yang sama.


"Nggak jauh beda kok sama kamu," bela Nei yang melihat tinggi keduanya juga tak jauh sama.


"Tapi masih tinggi aku, udah gitu yang jalannya pelan itu kamu Nei sayang," ucap Nadin menjelaskan dengan lembut


"Nggak ah, sama aja," putus Nei yakin.


"Udah sih, kok malah bahas kaki sih, tadi sampe mana?" kata Nadin mengingat perkataan Nei tadi.


Nei juga menautkan alisnya berpikir.


Nadin menjentikkan jarinya,


"Ah, kamu terlambat," ucap Nadin ingat.


"Iya aku terlambat trus ditegur aja udah," kata Nei mengingat kejadian kemarin.


"Oh... trus trus," ucap Nadin memperhatikan.


"Mmm... Oh iya kemarin kan udah tuh aku terlambat, Eh dibahas lagi sama kak Izzat waktu dia tanya," kata Nei dengan nada yang mulai sebal mengingatnya.


"Tanya gimana?" Nadin memiringkan kepalanya menghadap Nei sambil tetap berjalan.


"Itu yang tadi terlambat, gimana tanggapannya, gitu..." ucap Nei sambil menoleh ke arah Nadin.


"Nyebelin banget emang kak Izzat, nggak jadi ganteng deh," ucap Nei dengan yakin.


"Hm," dehaman laki-laki yang suaranya tak asing terdengar dari arah depan mereka berdua.


Mereka yang sedang menatap satu sama lain langsung menghadap depan dan Nei terkejut membelalakkan kedua matanya dengan Nadin yang reflek menghadap Nei.


...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2