
Nei yang menyadari ia menatap langsung kedua mata kak Izzat pun segera menundukkan pandangannya.
Selain kak Izzat, berdiri teman sebayanya dengan senyum yang ramah dan lesung pipi yang membuatnya semakin terlihat manis, kak Haidar namanya.
"Em... permisi kak," ucap Nei sambil menggandeng tangan Nadin yang terdiam di sampingnya. Nei berpikir apa tadi kak Izzat mendengar perkataannya atau tidak.
"Loh, bukannya kamu adek kelas yang telat itu ya," ucap kak Izzat mengingat wajah tak asing di depannya.
Nei yang hendak melangkah pun berhenti.
"Iya kak, Aneisha," katanya lirih tanpa menatap lawan bicaranya. Nei menambahkan namanya untuk memperjelas bahwa dia punya nama, bukan si telat.
"Maafin temen saya ya kak, dia tuh nggak pernah telat kak. Cuma kemaren aja," ucap Nadin menengahi.
Kak Izzat hanya mengangguk menanggapi.
"Kalian udah mampir di stan bagian ekstra belum?" tanya kak Haidar yang langsung membuat Nadin semangat menjawab.
"Belum kak, mau ke sana," kata Nadin.
"Jangan lupa mampir ke stan hadroh ya,kalau suka bisa langsung daftar aja," tambah kak Haidar.
"Iya kak, suka kok," ucap Nadin dengan nada yang terdengar sangat antusias.
Mengingat kak Izzat dan kak Haidar adalah pemain Hadroh yang segera lengser karena sudah kelas dua belas.
Nei yang tak nyaman menarik pelan seragam bagian lengan Nadin membuatnya menoleh pada Nei.
Nadin mengangkat kedua alisnya tak paham. Nei menggelengkan pelan, ingin segera pergi.
"Jangan lupa mampir ya Aneisha," ucap kak Izzat sembari berjalan dengan kak Haidar melewati mereka berdua.
Nadin menolehkan pandangannya ke belakang, sedangkan Nei meninggalkannya berjalan terlebih dahulu. Ketika Nadin sadar, ia telah tertinggal jauh oleh Nei dan langsung menyusulnya.
Nei berhenti di stan club matematika dan ikut mendengarkan program mereka bersama dengan temen-teman lain yang sudah berdiri di stan itu.
"Pelan-pelan lah Nei jalannya," keluh Nadin setelah berdiri di samping Nei.
"Metematika banget nih?" tanya Nadin menyakinkan. Seingatnya Nei tidak terlalu berminat di pelajaran matematika walaupun nilai ujiannya bagus-bagus.
"Shut..." ucap Nei sambil mengangkat jari telunjuk di depan bibirnya.
Nadin yang mulai ikut memperhatikan merasa ada yang menarik pergelangan tangannya. Ia menoleh dan mendapati Nei keluar dari gerombolan.
"Lah, udah, nggak daftar nih," tawar Nadin pada Nei yang berjalan perlahan sambil memperhatikan stan-stan di kanan kirinya.
"Bingung Nad..." keluh Nei tanpa menoleh pada Nadin yang berjalan di sampingnya.
"Kamu apa?" tanya Nei pada Nadin.
"Ya biasa lah. Club seni," jawab Nadin santai. Ia tidak terlalu menyukai pelajaran tapi jika disuruh melukis, Nadin jagonya.
"Daftar dulu yuk," kata Nei mengajak, mereka langsung mendekati club seni yang tampak lebih renggang daripada club mata pelajaran lainnya.
__ADS_1
Mereka masih harus antri di urutan nomor tiga, ada dua murid laki-laki di depan mereka.
"Kak mau daftar club," ucap Nei setelah tiba giliran mereka.
"Kalian tadi ikut penjelasan programnya," tanya panitia yang juga ketua club seni.
"Nggak kak," jawab Nadin.
"Nanti tanya temen kamu yang tadi iku ya," ucap panitia.
"Iya kak," kata Nadin.
"Atas nama? Kelas?" tanya panitia sembari mengetik di laptop.
"Nadinia Aqila, kelas sepuluh MIA E," ucap Nadin.
"Panggilannya Nadin ya?" tanya panitia.
"Iya kak," jawab Nadin cepat.
Kak panitia mengetik namanya kemudian berkata "Oke...udah, makasih ya," ucap kak panitia.
"Iya kak, Terimakasih," kata Nadin sambil berjalan keluar stan bersama Nei.
"Kamu club apa ya Nei, dulu Junior High School kan udah ikut matematika, mau matematika lagi?" tanya Nadin menawarkan.
"Apa bahasa Arab aja, kan seru tuh," usul Nadin mengingat sahabatnya yang juga berminat di pelajaran Bahasa Arab sejak Junior High School, tapi ia lebih memilih matematika.
"Iya ya, bahasa Arab aja," putus Nei setelah beberapa menit diam berpikir.
Mereka berjalan putar balik menuju stan club bahasa Arab.
"Teman-teman kelas sepuluh agar segera menuju stan ekstrakulikuler karena waktu bazaar tersisa dua puluh menit," terdengar suara speaker yang mengumumkan.
"Tuh, udah mau selesai," kata Nadin mengingatkan yang mendapat anggukan dari Nei.
Sepertinya mereka datang terakhir karena tidak ada antrian lagi.
"Kak daftar," kata Nei kepada kakak kelas panitia club. Bukankah ketua club bahasa Arab itu kak Izzat ya tapi kok yang jaga perempuan, batin Nei
"Atas nama, dari kelas," ucap panitia itu dengan pandangan yang fokus pada laptop di depannya.
"Aneisha Zafia kelas sepuluh MIPA E," kata Nei menyebutkan nama dan kelasnya.
"Ane, siapa?" tanya kakaknya.
"Aneisha Zafia," ucap Nei dengan jelas.
"Aneisha Zafia..." kata kak panitia sembari mengetik namanya.
"Oke, selamat bergabung ya dek," ucap kak panitia denga senyum ramah.
Nei langsung ikut tersenyum dan berkata "Iya kak, Terima kasih," ucap Nei.
__ADS_1
"Kamu udah daftar club?" tanya kak panitia pada Nadin yang berdiri di sampingnya.
Melihat Nadin yang mengobrol denga kak panitia ia berjalan mundur bersiap meninggalkan tempat.
Baru satu langkah, dia merasa ada yang janggal. Sepertinya sepatunya menginjak sesuatu.
Saat matanya menunduk melihat sesuatu apa yang diinjaknya, Nei membelalakkan matanya melihat ujung sepatu lain berada di bawah sepatunya.
Nei langsung melangkah maju dan reflek menoleh ke belakangnya dan hanya melihat seragam murid laki-laki.
Nei mendongakkan kepalanya, tambah terkejut dan malu mengetahui siapa orang itu, Arsa. Orang yang sama dengan orang yang pendapatnya Nei setujui ketika pertemuan peserta Olimpiade.
Arsa hanya melihatnya sambil menautkan kedua alisnya. Ia berdiri sendiri di belakang Nei.
Nadin yang telah selesai berbicara dengan kak panitia langsung menarik lengan Nei menuju ke bagian stan ekstrakulikuler. Tanpa menyadari temannya yang bicara dalam diam dengan Arsa.
Arsa hanya diam dengan pandangan mengikuti langkah Nei.
"Kamu mau daftar?" tanya kak panitia pada Arsa.
Sadar dirinya diajak bicara, ia menghadapkan pandangannya ke depan.
"Kita tuh harus cepet Nei, tuh udah sepi di sini, nanti kita nggak dapet ekstrakulikuler lo..." Nadin yang berlari kecil masih sempat mendumel.
"Aku ikut hadroh perempuan, kamu juga ya," putus Nadin mengambil suara.
"Nggak ah, aku nggak bisa main alat hadroh," keluh Nei.
Memang dari Junior High School ia sudah di ajari beberapa alat hadroh oleh Nadin tapi ia bisa jika bermain sendiri. Namun, jika sudah semua alat dimainkan bersama, Nei benar-benar tidak bisa.
"Ya udah daftar hadroh putri dulu," ajak Nadin.
Ingat ketika Kak Haidar menawarkan ia untuk bergabung tim hadroh, di sekolahnya terbagi menjadi dua Hadroh putra dan Hadroh putri.
Setelah Nadin mendaftar, mereka berjalan melihat-lihat sambil Nei berpikir.
"Club jurnalistik?" tanya Nadin ketika mereka melewati stan jurnalistik.
"Enggak ah," jawab Nei dengan wajah bingung.
"Yang olahraga gitu, ada badminton, voli, renang," tawar Nadin sembari melewati stan-stan bazaar yang ia sebutkan.
Nei hanya menggelengkan kepalanya.
"Ah, paskib," usul Nadin lagi.
"Nggak," tolak Nei.
"Apa ya Nei..." ucap Nadin ikut memilah.
"Itu aja," kata Nei memutuskan sambil menunjuk stan ekstrakulikuler.
...
__ADS_1
To be continued