
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Pengumuman untuk peserta Olimpiade Bahasa Arab berkumpul di ruang olimpiade bahasa lantai dua gedung Hegra, sekian dari kami. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," pengumuman dari speaker sekolah.
Senior High School di sini sama seperti sekolah swasta pada umumnya. Terdapat lapangan basket yang luas dikelilingi dengan tiga gedung later u dengan satu gedung yang terdapat lobi sekolah di tengahnya.
Gedung Hegra merupakan gedung utama, yang terletak menghadap jalan raya. Semua ruangan utama terdapat di gedung ini, termasuk ruang Olimpiade beberapa mata pelajaran.
"Nad, anterin yuk," ajak Nei setelah mendengar pengumuman disaat bel istirahat pertama baru saja berbunyi.
"Yuk," Nadin yang bersemangat langsung berdiri dan menggandeng Nei.
"Eh, tempatnya dimana?" tanya Nadin ketika mereka menuruni tangga menuju lantai dasar, kelas mereka di lantai dua.
"Lantai dua," jawab Nei.
"Gedung?" lanjut Nadin bertanya.
"Hegra," jawab Nei membuat langkah Nadin berhenti.
"Hah? Nanti aku balik sama siapa?" tanya Nadin tiba-tiba. Bukankah biasanya dia santai-santai saja.
"Lantai dua lagi," lanjutnya.
"Mmm..." sambil berpikir, Nei menggandeng lengan Nadin dan lanjut berjalan.
"Sampai lantai satu aja," ucap Nei memutuskan.
"Nanti banyak asatidz di sana," keluh Nadin mengingat ruangan guru ada di lantai satu gedung Hegra.
"Kan akmda aku yang dukung kamu Nei," cibir Nei, mengulang kalimat Nadin ketika menyakinkan nya untuk ikut Olimpiade.
"Udah ah, nanti telat lagi aku," Merekapun berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong kelas.
Benar saja, mereka berpisah di lantai satu dengan ucapan semangat dari Nadin untuk Nei yang menanggapi dengan memutar bola matanya jenuh.
"Jangan lupa bawa kabar terbaru ya Nei," ucap Nadin dengan sedikit keras karena jarak mereka yang cukup jauh.
Nei membalasnya dengan senyuman dan ibu jarinya yang mengiyakan.
Ada-ada saja temannya. Mana ada gosip di ruang olimpiade.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," ucap suara laki-laki dari dalam ruangan.
Nei yang masih berjalan mendekatpun terhenti dan mempercepat langkahnya menuju pintu.
"Duh, dimarahin nggak ya?" ucapnya bingung ppada diri sendiri. Kalau ada Nadin, pasti ia yang langsung mengajak masuk dan meminta maaf pada asatidz yang mengajar.
Tapi di sini ia sendiri tanpa Nadin.
"Huh..." Nei menghembuskan nafas perlahan kemudian menampakkan dirinya di depan pintu dan mengetuk pintunya perlahan sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Wajah Nei terlihat gugup dengan menampilkan senyuman lebar.
"Assalamu'alaikum, maaf terlambat," katanya lirih sambil menunduk tanpa menatap siapa yang di ajak bicara olehnya.
"Wa'akaikumussalam, kamu ngomong sama siapa?" suaranya terdengar tegas dan mengundang tawa dari peserta lain yang ada di dalam ruangan.
Nei yang gugup tambah malu, ia mulai menegakkan pandangannya dan melihat kakak kelas laki-laki, bukan ustadz yang menjawab ucapannya tadi.
"Eee...," Nei hanya melihat sekitar dengan gugup dan menggigit bibir bawahnya ke dalam.
"Sini dulu," ucap kak Izzat, kakak kelas yang berdiri di samping meja guru, depan papan tulis menghadap peserta Olimpiade.
Nei berjalan perlahan ke dalam dan berdiri di ujung papan tulis satunya, berjarak jauh dari Kak Izzat.
Bukankah dia kakak kelas yang menawarkan Olimpiade Bahasa Arab di kelasnya waktu itu?
"Perkenalkan nama kamu, kemudian duduk," titahnya dengan nada yang tak setegas tadi.
"Nama aku Aneisha Zafia," Nei dengan menundukkan pandangannya langsung berjalan cepat menuju bangku yang berada di belakang.
"Setelah terjeda sebentar karena teman kalian yang terlambat, kita lanjutkan pembahasan kita yang tadi," Kata kak Izzat sambil dengan pembawaan yang tegas namu terlihat santai.
"Eh, bukannya pembimbing Olim itu ustadz ya? Kok ini...?" tanya Nei menggantungkan kalimatnya, pada teman di sampingnya.
"Tadi mau jelasin waktu kamu mau masuk," jawabnya.
"Oh..." kata Nei dengan senyum canggung.
Terhitung hanya ada lima belas orang yang terbagi sembilan orang perempuan dan enam laki-laki yang duduk berpisah, laki-laki pada deret sebelah kanan sedangkan perempuan bagian bangku deret kiri.
"Saya mewakili Ustad Zain selaku pembimbing Olimpiade, Hanya ada empat orang yang akan mewakili sekolah kita untuk Olimpiade Bahasa Arab tingkat kota, dua kategori putra dan dua kategori putri,"
Nei mulai memperhatikan dan menatap fokus ke depan.
"Olimpiade di sekolah kita sendiri akan dilaksanakan dua pekan lagi di hari Jum'at jam terakhir setelah sholat Jum'at. Olimpiade sekolah dilaksanakan di tempat ini," Nei mulai menilik lagi bakal calon saingannya di Olimpiade.
"Ustad Zain akan membimbing murid yang lolos di seleksi sekolah nanti, jadi pertemuan selanjutnya masih sama saya, untuk itu saya berharap lebih baik agar tidak ada yang terlambat ke depannya," ucap kak Izzat sambil melihat Nei yang tak memandang ke depan, melainkan melihat ke teman-teman yang lain.
"Materi ujian seleksi olimpiade akan disamakan dengan soal olimpiade tahun-tahun sebelumnya tingkat kota, untuk itu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya," lanjutnya.
"Ada pertanyaan, sebelum diakhiri," ucap kak Izzat menawarkan.
"Untuk peserta Olimpiade tahun kemarin juga ikut seleksi lagi kak?" tanya kakak kelas perempuan yang duduk paling depan.
"Menurut kalian bagaimana? Apa karena sudah pernah lomba tingkat kota maupun provinsi bahkan nasional tidak perlu mengikuti seleksi lagi?" jawab kak Izzat yang membuat beberapa dari mereka berbisik.
Salah satu laki-laki kelas sebelas mengangkat tangannya. Nei melihatnya dengan menyipitkan matanya untuk memperjelas wajah si kakak kelas dari samping,
Nei langsung membelalakkan matanya ketika menyadari dia adalah kakak kelas yang tempo hari bertemu ketika dafta peserta Olimpiade.
__ADS_1
"Iya, silahkan," ucap kak Izzat mempersilahkan.
"Lebih baiknya mengikuti ujian seleksi sekolah, Kan ikut Olimnya tahun kemarin, Tahun ini sudah ada adek kelas yang mungkin lebih bisa," kata dia tanpa menegakkan punggungnya dari sandaran kursi.
"Ada tanggapan lain?" ucap kak Izzat sambil menatap sekelilingnya.
"Yang tadi telat," lanjutnya.
Nei yang merasa itu dirinya, langsung menegakkan punggungnya dan menghadap depan.
"Iya kak setuju, ikut lagi aja, bisa jadi yang tahun kemarin ikut tahun ini nggak lolos kan ya," ucap Nei sambil tersenyum canggung.
Kakak kelas perempuan yang tadi bertanya, langsung menolehkan pandangannya menghadap lurus pada Nei, merasa tersinggung.
Nei yang dilihat hanya berkedip perlahan dengan mengangkat kedua alisnya.
Kakak itupun hanya menghembuskan nafasnya sebal dan kembali menghadap ke depan.
"Untuk memberi kesempatan yang lain lebih baik mengikuti seleksi lagi, biasanya dari tahun ke tahu peserta Olimpiade tingkat kota akan diikuti oleh dua putri perwakilan dari kelas 10 dan 11 juga dua perwakilan putra kelas 10 dan 11," putus kak Izzat.
Sebenarnya itu adalah jawaban yang akan ia utarakan walaupun tidak ada yang mengusulkan seperti itu. Karena di Senior High School mereka terbiasa membuka sesi pertanyaan untuk saling berpendapat satu sama lain.
"Ada lagi," tawarnya kembali.
Salah satu putra mengacungkan tangannya.
"Apa sudah ada informasi lanjutan mengenai lomba tingkat provinsi nanti," tanyanya.
"Baik, setelah mendapatkan juara diposisi 1,2, dan 3 tingkat kota kemuadian akan mengikuti Olimpiade Bahasa Arab tingkat provinsi, untuk menuju ke tingkat provinsi nantinya akan ada kelas bimbingan tambahan bersama Ustad Zain," jelasnya yang ditanggapi ucapan terimakasih dari yang bertanya tadi.
Ustad Zain sendiri sudah terkenal sebagai pembimbing Olimpiade Bahasa khusunya bahasa Arab ketika Nei masih di Junior High School, karena kepiawaiannya.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya kak Izzat.
"Petemuan selanjutnya mau ngapain ya kak," ucap teman yang duduk tepat di samping Nei.
Nei hanya menautkan kedua alisnya, tidak sabaran sekali dia, batin Nei.
Kak Izzat menanggapi dengan tertawa kecil sembari melihat yang bertanya.
"Udah nggak sabar nih mau seleksi?" tanyanya balik.
"Iya kak," ucap temannya itu dengan semangat. Bisa-bisanya.
"Pertemuan pekan depan hanya untuk pekan depan," kata Kak Izzat.
Melihat waktu istirahat pertama yang sudah habis, Kak Izzat mengakhiri pertemuan sesi pertama.
"Ingat ya, jangan telat, kita hanya ada dua pertemuan dan tinggal satu kali saja," ucapnya setelah salam. Kak Izzat meninggalkan ruangan terlebih dahulu kemuadian di susul oleh teman-teman laki-laki yang lain.
__ADS_1
...
To be continued