M Y Y O U T H

M Y Y O U T H
Olimpiade Sekolah.


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu peserta Olimpiade tiba.


"Nad..." ucap Nei dengan nada gugup.


"Bismillah, pasti bisa, kan udah biasa," kata Nadin ingin menenangkan.


"Tapi ini pertama di Senior High School," ucap Nei mengingatkan.


"Udah, udah, yuk berangkat yuk," kata Nadin sembari berdiri dan menarik Nei agar ikut berjalan dengannya.


"Nanti di dalem jangan gugup, anggap aja kayak simulasi kemarin," tambah Nadin meyakinkan.


Nei hanya mengangguk menyetujui.


Mereka berdua berjalan ke ruangan lab komputer yang digunakan untuk tempat Olimpiade Sekolah.


"Nggak usah dianterin ah, kayak apaan aja," ucap Nei ketika mereka sudah akan melangkah ke gedung Hegra.


"Yeee... biarin aku anterin aja," kata Nadin bersikeras.


"Nggak Nad, di sini aja," ucap Nei sambil berjalan menjauh dan melambaikan tangannya pada Nadin.


Ia hanya membawa satu pensil dan pulpen untuk berjaga-jaga, mungkin keduanya akan dibutuhkan.


Sesampainya di ruangan sudah ada beberapa anak yang duduk di depan komputer sesuai yang sudah ditentukan. Nei membaca tulisan yang terpampang jelas di depan layar , mencari di mana tempatnya.


Menghembuskan nafas lega, Nei duduk di kursi tengah.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, berdo'a mulai," guru pengawas memberikan instruksi yang dengan kompak dilakukan.


Selesai berdo'a, guru pengawas memberikan beberapa peraturan dalam Olimpiade Bahasa kali ini.


Ketika sudah, semuanya langsung dengan patuh mengerjakan soal.


...


"Diumumin kapan Nei?" tanya Nadin ketika mereka hendak ke Mushola untuk sholat ashar.


"Katanya tadi langsung hari ini habis jama'ah," ucap Nei memberitahu.


"Beneran? Kok aku ikut gugup ya..." kata Nadin dengan wajah gelisah.


"Santai aja Nad, pasti lolos," ucap Nei meyakinkan.


"Tadi soalnya gampang?" tanya Nadin penasaran.


"Ya... lumayan," jawab Nei dengan senyuman di wajahnya.


Sebenarnya Nei juga ragu ia bisa lolos tapi ia harus tetap optimis kan?


"Nanti juga yang diumumin kan nggak cuma Olimpiade Bahasa Arab aja Nad, ada dua atau tiga Olimpiade gitu," ucap Nei memberitahu.


"Oh ya?" tanya Nadin tak yakin. Kalau club seninya sendiri belum ada tawaran untuk mengikuti lomba.


"Iya, kayaknya Olimpiade Fisika sama Biologi deh, apa sama matematika ya, lupa aku," ucap Nei sambil mengingat-ingat.


"Kok tau Nei?" tanya Nadin.


"Tadi waktu keluar Lab Komputer ternyata Lab Komputer yang lain juga ada yang make, trus keluarnya juga barengan sama mereka," ucap Nei menerangkan.


"di gedung Hegra juga?" tanya Nadin memastikan.

__ADS_1


"Iya, di lantai dua kan ada tiga lab komputer jadi semuanya kepake tadi," lanjut Nei.


"Trus, trus," kata Nadin penasaran.


"Trus ya tadi sempet ngobrol sebentar gitu sama temen yang ikut Olimpiade Fisika tapi ya nggak keburu," ungkap Nei.


"Yang ikut Olimpiade Fisika kelas kita ada nggak?" tanya Nadin penasaran.


"Ada tadi, siapa ya tapi..." ucap Nei sambil mengingat-ingat.


"Tadi aku tanya sama kelas lain, dia ngasih tau kalau kelas kita ada yang ikut, tapi siapa ya..." lanjut Nei.


"Ah, masa lupa," kata Nadin masih penasaran.


"Siapa ya Nad, soalnya aku nggak lihat wajahnya langsung, Jadi ya nggak tau deh, lupa," ucap Nei sambil mengangkat kedua pundaknya tidak tau.


Mereka pun sampai di Mushola dan dengan segera masuk dan memenuhi shof yang masih kosong.


...


"Gimana perasaannya setelah lolos Olimpiade?" tanya Nadin dengan antusias. Ia senang bukan main ketika nama Aneisha dipanggil menjadi salah satu yang lolos Olimpiade Bahasa Arab.


Mereka sedang berjalan berdua menuju Ma'had.


"Alhamdulillah..." ucap Nei dengan tenang.


"Ih, nggak kelihatan seneng," kata Nadin melihat ekspresi wajah Nei yang biasa-biasa saja.


"Seneng Nad..." ucap Nei sambil tersenyum lebar pada Nadin.


"Gitu dong," kata Nadin senang.


"Apakah Anda sudah siap untuk Olimpiade Kota pekan depan?" tanya Nadin memperagakan botol minumnya seperti microphone dan mewawancarai Nei.


Nadin yang mendapat jawaban seperti itu langsung pura-pura meleleh "Ah...Nei..."


Nei yang melihat ke-alay-an Nadin hanya tertawa menanggapi.


"Stop jangan ketawa, aku nggak kuat," ucap Nadin mendramatisir keadaan.


"Apaan sih Nad," kata Nei menepis dengan masih tertawa.


"Eh, tunggu Nei..." ucap seseorang yang menepuk pundak Nei dan menyamakan kecepatan langkah mereka.


"Kenapa, kenapa?" tanya Nadin dengan cepat melihat Diandra yang datang dengan berlari dan nafasnya masih belum teratur.


"Bentar, bentar," kata Diandra sembari mengatur nafasnya.


Setelah beberapa menit Diandra mengambil nafas dan menghembuskan perlahan.


"Kalian tau kan aku punya kakak di Ma'had putra?" tanya Diandra pada Nei dan Nadin yang berjalan di kanan kirinya.


"Nggak," ucap Nei.


"Tau," jawab Nadin tanpa berpikir.


"Gimana sih Nei, masa nggak tau," tambah Nadin yang gemas dengan Nei.


"Ya nggak tau lah," ucap Nei mengingat Diandra juga bukan dari kelas mereka tapi sama-sama anak Ma'had.


"Tenang-tenang," kata Diandra sambil menoleh ke kanan-kiri nya mencegah perdebatan berkepanjangan.

__ADS_1


"Tapi tau kak Haidar kan?" lanjut Diandra memastikan.


Nei mengangguk menanggapi.


"Yang seangkatan sama kak Izza itu lo Nad," kata Nadin mengingatkan.


"Tau Nad..." jawab Nei.


"Yang kita ketemu waktu bazaar udah lama itu," kata Nadin menambahkan.


"Udah tau Nadin..." ucap Nei dengan nada kesal.


"Iya itu kakak aku," kata Diandra yang ditanggapi anggukan oleh Nei.


"Lalu kenapa nih?" tanya Nadin memastikan tujuan Diandra.


"Tadi kan aku ketemu sama kakakku waktu di kantin karena ada something gitu lah, biasa kakak adik," ucap Diandra menerangkan.


"Uang nih pasti," tebak Nadin dengan yakin.


"Kok tau sih?" tanya Diandra sedikit terkejut.


"Ya tau lah," jawab Nadin dengan senyum sombong.


"Biarin dia, trus kenapa?" ucap Nei melihat Nadin yang berlagak.


"Trus kak Haidar sama kak Izzat tadi, kak Izzat kayak nemenin dia gitu kan, waktu aku mau balik, dia nitipin sesuatu sama aku buat Aneisha katanya," perkataan Diandra membuat Nadin melirik tajam pada Nei sedangkan Nei hanya bisa menahan senyum dan senang di hatinya.


"Nitip apaan?" tanya Nadin penasaran.


"Tadi kan aku ke kantin waktu mau pulang soalnya udah janjian sama kakak," tambah Diandra.


"Iya, trus kenapa?" tanya Nadin merasa keterangan Diandra tak berhubungan.


"Kak Izzat cuma bilang buat Aneisha gitu aja sih, tapi aku tebak itu hadiah kamu lolos Olimpiade," kata Diandra.


"Ih, jangan asal nebak gitu Dian," jawab Nadin memperingatkan.


"Ya, siapa tau kan," ucap Diandra yakin.


"Trus, hadiahnya mana?" tanya Nadin.


"Ada dalem tas aku," jawab Diandra.


"Nggak kamu kasih ke Nei?" tanya Nadin.


"Oh iya, bentar," ucap Diandra menghentikan langkahnya menbuat keduanya ikut berhenti.


"Nih," Diandra memberika paperbag berisi kotak yang berukuran sedang pada Nei yang langsung di ambil alih Nadin.


"Buka sekarang ya," tawar Nadin ingin membuka paperbag yang sudah ditangannya.


"Jangan, nanti aja di kamar," ucap Nei sembari mengambil kembali hadiahnya.


"Ih, gitu banget," kata Nadin menanggapi.


Nei hanya tersenyum menggoda Nadin.


"Udah ya, nanti kabarin aku apa isinya," ucap Diandra ketika mereka sudah sampai di depan Ma'had.


Ketiganya berpisah menuju kamar masing-masing. Nadin terus menggoda Nadin ketika mereka berjalan ke kamar.

__ADS_1


...


To be continued.


__ADS_2