
"Eh, Nei bisa bantu pasang-pasang di sana nggak," ucap kak Salma tergesa-gesa menuju ke panggung tempat acara yang akan diadakan.
Nei hanya berkedip bingung mengikuti arah gerakan kak Salma sambil menengok ke kanan dan kirinya. Diapun mengikuti jauh di belakang kan Salma.
"Kamu bisa bantuin pasangin kabel-kabelan gini nggak sih?" tanya kak Salma sambil menunjuk kabel-kabel panjang di sekitar kakinya.
"Hah? Aku kak?" ucap Nei memastikan.
"Duh, kamu kan bukan panitia acara ya Nei," kata kak Salma sambil menepuk dahinya pelan.
"Rusuh pikiranku tuh," lanjutnya. "Maaf ya Nei, tadi agak ngelag," Kak Salma tersenyum.
"Nggak papa sih kak, tapi kalo kabel, elektronik gini aku nggak bisa sih," ucap Nei ragu. Dia kan mahasiswa semester 1 dan baru kuliah 3 bulan yang lalu jadi belum terlalu mengenal dengan kating-kating di kampus.
"Oh, ya udah, maaf ya," kata kak Salma lagi.
"Aku pengen bantu sih kak, lagi nggak ada kelas juga. Ada yang bisa dibantu nggak kak?" sebenarnya mumpung masih siang Nei ingin segera pulang dan bersiap untuk acara nanti malam. Tapi kasihan ngeliat kak Salma yang terlalu sibuk.
Walaupun acaranya sudah disiapkan dari 4 hari yang lalu, tapi hari ini panitia akan mengecek kembali semua peralatan yang berkaitan dengan acara.
"Nggak papa beneran nih kamu bantuin?" tawar kak Salma meyakinkan.
Nei mengangguk ragu dengan senyum sungkan.
"Tadi kayaknya bagian konsumsi tinggal mindahin box makanannya aja deh di kantin," kata kak Salma.
"Ah iya kak, aku ke kantin ya," Nei berlalu menjauh dari lapangan dan menuju kantin yang jaraknya agak jauh.
Nei menghela nafas perlahan. Salahkan sifat tidak enakan nya yang nggak bisa menolak.
"Eh Nei, mau bantu-bantu?" kata salah seorang kating yang ada di kantin.
Nei memutar matanya melihat kantin yang penuh dengan kating-kating perempuan.
Beda dengan senior high school nya dulu yang kelas putra dan putri dibedakan. Kalau di kampus ya campur aja laki-laki perempuan.
"Iya kak, boleh?" tanya Nei ragu. Ia sedikit malu karena hanya dirinya yang mahasiswa baru di sini.
__ADS_1
Tadi karena ada diskusi dengan temannya di kelas terakhir jadi dia tinggal lebih lama di kelas. Saat dia keluar duluan malah ada kak Salma yang mengajaknya. Jadi terjebak deh.
"Boleh boleh sini," Sambil mendekat Nei membenarkan totebagnya di sisi kanan.
"Ini boxnya dipindahin ke ruangan sana ya," katanya sambil menunjuk ruangan pojok kantin.
"Iya kak," Nei hanya menurut dan mulai memindahkannya bersama yang lain.
"Huh, selesai juga," kata Nei pelan.
"Makasih ya udah ikut bantuin, nambah orang nambah cepet," kata kating yang tadi menyuruhnya.
"Oh, iya kak sama-sama," jawab Nei sambil membenarkan kerudungnya yang sedikit berantakan.
"Aku izin pulang dulu ya kak," tambah Nei.
"Eh iya, kami habis ini juga mau pulang," katanya.
Nei berjalan keluar ruangan.
Dia menatap langit luar dan berkata, "Udah sore aja,"
"Bentar deh, kok aku di sini ya, kan bawa motor," ucap Nei gemas dengan dirinya sendiri. Dua hari terakhir memang ia diantar jemput oleh adiknya, jadilah dia lupa kalau hari ini membawa motor.
Nei berjalan ke arah parkiran, mengendarai motornya dan menikmati sejuknya udara di kotanya.
"Assalamu'alaikum mama...". ucap Nei girang. Mamanya menyambut dengan pelukan dan cium di kedua pipi.
Itu kebiasaan Nei pulang kuliah.
"Makan dulu yuk," ajak Mama Nei.
"Iya maaa... laper," ucap Nei manja.
...
"Nadin..." Nei teriak pelan menyambut Nadin yang datang ke arahnya.
__ADS_1
Enam tahun sekolah bersama, mereka harus terpisah ketika menginjak kuliah. Masih di kota yang sama, namun Nei memilih perguruan tinggi swasta sedangkan Nadin negeri.
"Nei...kangen banget," Balas Nadin dengan wajah yang sok melow.
"Kangen? Dih," ucap Nei sambil memutar bola matanya malas.
"Ih sok lu, nggak kangen, dari kapan hari juga udah ngajakin ikut acara aja," Mereka berjalan menuju lapangan dan mencari tempat duduk di depan.
"Soalnya kan umum nih, sholawatan lagi, kan kita harus ikut dong," tambah Nei.
"Eh duduk situ aja tuh," tunjuk Nadin. Posisi shof perempuan berada di belakang shof laki-laki. Disediakan alas untuk mereka duduk lesehan.
"Boleh," sahut Nei senang.
Acara pun berlangsung dengan meriah. Banyak yang membawa banner dari masing-masing komunitas. Lapangan kampus yang biasanya terlihat luas sekarang sudah dipenuhi dengan banyak orang yang datang dari berbagai kalangan.
"Bentar deh Nei," ucap Nadin sambil menyenggol lengan Nei yang ada di sampingnya.
Nei yang tadinya ikut bersholawat pun berhenti dan menoleh dengan senyum ke arah Nadin.
"Hm," jawabnya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Itu bukannya yang suka sama kamu waktu itu ya," kata Nadin sambil menyipitkan matanya ke arah panggung yang jauh dari jangkauan mereka.
"Tadi ada dilayar," tambahnya sambil mengarah ke arah dua layar besar di samping panggung.
"Siapa? Nggak ada deh yang suka," kata Nei mencibir. Mana mungkin ada orang yang suka dengannya antara orang yang ada di atas panggung. Kan mereka alim-alim.
"Duh siapa ya itu namanya," Nadin mengingat-ingat.
"Anak Ma'had itu lo, yang seangkatan sama kita," Nadin mengingat namanya sambil menunjuk dahinya dengan sedikit penekanan.
"Ah, Arsa," ucap Nadin sambil menjentikkan jari kanannya.
Nei memandang Nadin sambil mengerutkan alis.
Hening beberapa detik ditengah sholawatan yang ramai.
__ADS_1
...
To be continued