
Melangkah pasti, Nei berjalan cepat melewati gerbang. Namun karena ada beberapa anak kecil yang sepertinya adik-adik yang sedang ikut menjenguk kakaknya, Nei memelankan langkahnya dengan Nadin berada di belakang.
"Nei..." lirih Nadin di belakang, ia hanya menunduk tak berani melihat-lihat.
"Apa sih," ucap Nei dengan nada tegas.
Setelah melewati halaman yang cukup luas, mereka berdiri di depan ruang fotocopy dan melihat dari kaca bagian depan ada tiga santri putra di dalam ruangan.
"Nei..." ucap Nadin sambil mereka berpandangan.
"Kamu dulu gih," kata Nei.
"Nggak berani," keluah Nadin.
Nei membelalakkan matanya galak.
Nei langsung denga semangat mengatakan "Yuk bisa yuk, bismillah,".
Nei yang mendengarnya hanya tersenyum.
Nadin melepas sandalnya diikuti dengan Nei mereka melangkah mendekati pintu.
"Assalamu'alaikum," salam Nadin yang membuat ketiga orang di dalam yang sebelumnya asik mengobrol menoleh ke arah pintu.
"Wa'akaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab mereka bersamaan.
"Mau fotocopy," ucap Nadin dengan nada lirih.
"Bentar ya, antri nih," jawab mas-mas yang duduk di depan computer.
"Lama nggak mas?" tanya Nei tanpa mendongakkan kepalanya.
"Barusan sih, jadi lumayan," jawabnya santai.
Nei dan Nadin yang baru pertama kali ke sini pun bingung, masa mereka menunggu berdiri di depan.
"Duduk aja di depan dek," ucap salah satu dari mereka yang sedang menunggu fotocopy.
"Iya," kata Nei lirih.
Mereka berdua lalu duduk menunggu di depan teras ruangan.
Banyak anak kecil yang sedang bermain di halaman Ma'had, entah itu hanya berlari-lari ataupun bermain petak umpet. Perasaan di Ma'had putri sekalipun banyak yang menjenguk, anak kecilnya tidak akan sebanyak di sini.
Ketika orang yang berada di dalam, mereka tidak mengenalnya kecuali,
"Mas Aydan gimana?" tanya Nadin yang duduk bersebelahan dengan Nei dengan nada lirih agar tak terdengar sampai ke dalam.
"Aydan siapa?" jawab Nei ikut berbisik.
"Itu yang fotocopy, dia kan kakak kelas kita yang tim hadroh juga," kata Nadin memberitahu.
"Masa iya, tau darimana?" tanya Nei meragukan.
Nadin yang memiliki segudang informasi hanya tersenyum tengil dan berkata "Aku gitu lo..." dengan percaya diri.
Nei memutar bola matanya jenuh.
"Gimana?" tanya Nadin menuntut.
"Gimana apanya?" tanya Nei balik.
__ADS_1
"Kak Aydan nya," terang Nadin.
"Kelihatan sholeh," jawab Nei mencari aman.
"Sholeh? Maksutnya gimana nih, emang lainnya nggak?" tanya Nadin meminta penjelasan.
Nei tertawa pelan membuat Nadin menyuruhnya diam dengan berkata "Shut..., Nei..." dengan gemas.
Nei yang teringat langsung terdiam sambil melihat ke dalam ruangan. Sepertinya mereka tak dengar.
"Ya Sholeh, kan tadi kan kamu nanya, kan kakaknya pake sarung, kopyah, bawa tasbih lagi ditangannya," ucap Nei masih berbisik.
"Sama aja, semuanya juga gitu," jawab Nadin realistis.
Mereka sejenak melihat ke halaman yang semakin ramai karena bertambah yang menjenguk.
"Eh denger-denger kak Aydan temennya Kak Arsa juga," ucap Nadin memecah keheningan.
"Seangkatan?" tanya Nei.
"Mau tau aja," jawab Nadin dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Nei hanya menautkan kedua alisnya dan memandang aneh pada Nadin.
"Lama juga ya kita nunggunya," keluh Nadin sambil menengok ke dalam.
"Iya, lama," tambah Nei yang juga sudah mulai bosan.
Mereka menghembuskan nafas pasrah bersamaan.
Suara ketukan pintu terdengar dua kali dengan otomatis Nei dan Nadin menolehkan kepala mereka ke sumber suara.
Mereka berdua masuk dan memberikan paper bag berisi kertas milik kak Salwa.
"Fotocopy berapa lembar?" tanya kak Aydan sambil mengeluarkan kertas-kertas yang ada di paper bag.
"Tiga puluh kak, semuanya," kata Nadin.
Kak Aydan hanya mengangguk menanggapi.
"Dan, dipanggil Ustad Lutfi," seseorang berjalan cepat masuk ke ruang fotocopy dari pintu belakang yang terhubung dengan ruangan lain di Ma'had putra.
"Gantiin dulu," kak Aydan langsung bergegas meninggalkan tempat dan memenuhi panggilan.
Nadin membelalakkan matanya dan menampilkan senyum jahil ketika sadar bahwa orang yang ada di depan mereka saat ini adalah kak Arsa.
"Udah fotocopy atau belum?" tanya Kak Arsa cepat.
Nadin tak menjawab malah menyenggol lengan Nei yang kemudian menatap Nadin. Nadin memberikan isyarat agar Nei yang menjawabnya.
Kak Arsa yang melihatnya hanya diam memperhatikan.
"Belum kak," jawab Nei pelan.
"Yang di fotocopy ini?" tanya kak Arsa sembari menata kertas-kertas yang tadi baru dikeluarkan dari paper bag.
"Iya, tiga puluh," jawab Nei.
"Duduk dulu aja di depan," ucap kak Arsa tanpa menoleh ke arah mereka berdua.
"Makasih kak," ucap Nadin ssambil berjalan ke depan.
__ADS_1
Menunggu lagi.
"Lama nggak ya?" tanya Nei lemas.
"Kenapa emangnya? bukannya kamu bisa lama-lama di sini sama kak..." ucap Nadin usil sambil menunjuk ke dalam ruangan dengan isyarat mata.
"Hus... Nad," peringat Nei.
"Beneran nggak suka nih," tanya Nadin meyakinkan.
"Iya juga sih, kayaknya kalau dilihat-lihat kamu tu suka sama kak Izzat Nei," tambah Nadin dengan pandangan menerawang pura-pura serius.
Nei hanya menghembuskan nafasnya perlahan mendengar ucapan aneh Nadin.
"Apalagi kemaren waktu di bazaar itu kak Izzat udah manggil kamu pake nama lagi," mengingat kejadian ketika Bazaar mereka bertemu kak Izzat dan kak Haidar.
"Biasa aja," tanggapan Nei santai.
"Kemarin aja temen kelas sebelah ada yang nanya sama aku tuh tentang kejadian itu," ucap Nadin.
"Beneran Nad?" tanya Nei tak percaya.
Nadin hanya menganggukan kepalanya.
"Kan yang ngajak ngomong kemaren itu kak Izaat santri Ma'had yang famous," lanjut Nadin.
"Tapi kan cuma ngobrol bentar aja, cuma nggak sengaja lewat," terang Nei.
"Iya sih Nei kan aku juga tau, tapi masalahnya kak Izzat tu kan ramah ya, tapi kalau sama perempuan tuh jarang ngobrol, kita juga kan anak Ma'had," Nadin memberikan penjelasan.
Memang kak Izzat itu ramah hampir ke semua orang kecuali perempuan, itu juga karena di sekolah mereka terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Jadi hanya terlihat wajar jika mengobrol antar lawan jenis ketika organisasi atau ada acara yang membutuhkan seperti bazaar kemarin.
"Iya juga sih Nad... gimana ya," ucap Nei dengan nada khawatir.
"Ya nggak apa-apa juga sih Nei cuma mereka aja tuh yang kepo," kata Nadin menenangkan.
"Takut jadi fitnah," tambah Nadin.
"Iya..." ucap Nei.
Dia tak pernah terpikir akan jadi bahan pembicaraan padahal hanya mengobrol sebentar bukan.
Dulu mereka pernah mendengar kakak kelas Ma'had yang Senior High School di sidang hanya karena kesalah pahaman dikira berpacaran oleh beberapa orang yang melaporkan.
Namun kebenaran nya terungkap ketika sudah menjalani takziran atau hukuman.
"Tapi kamu nggak ada rasa kan sama kak Izzat," tanya Nadin memastikan.
"Kalau ada pun, kak Izzat nggak bakal tau," ucap Nei dalam batin.
"Nei..." panggil Nadin melihat Nei yang diam tak menjawab.
"Hah?" ucap Nadin menoleh pada Nadin dengan senyum di wajahnya.
"Nggak lah Nad..." kata Nei dengan tenang.
...
To be continued.
__ADS_1