M Y Y O U T H

M Y Y O U T H
Buat kamu.


__ADS_3

Hari-hari berlalu, latihan OBA yang kedua pun datang.


"Udah nggak usah diberesin langsung ke sana aja, nanti telat lagi lo," ucap Nadin memperingatkan.


Bel istirahat pertama telah berbunyi.


"Kamu yang beresin?" tanya Nei sembari mengemas alat tulis nya.


"Iya, aku," jawab Nadin yakin.


"Daripada kamu telat loh," lanjut Nadin mengingat pertemuan pertama lalu Nei terlambat.


"Nggak lah," tepis Nei.


Nadin memegang kedua pundak Nei agar menghadap ke arahnya.


"Sekarang, cepet," kata Nadin bulat.


"Iya,iya," ucap Nei pasrah. Nei mengambil buku dan kotak pensilnya.


Sembari berdiri Nei berkata "Beresin yang rapi beneran," dengan nada mengancam.


"Ih, ngeremehin aku nih," jawab Nadin sombong.


"Beneran lo Nad," ucap Nei sambil menunjuk Nadin.


"Iya udah sana-sana," kata Nadin sambil sedikit mendorong Nei agar berjalan keluar kelas.


"Bawel," kata Nadin sambil tersenyum.


Nei berjalan dengan menunduk ke gedung Hegra. Menyapa beberapa teman yang bersimpangan dengannya.


Sesampainya di depan ruangan, pintunya masih tertutup. Ketika Nei membukanya ternyata di kunci.


Nei hanya menghela napas pasrah. Padahal ia sudah cepat-cepat malah belum dibuka.


"Kenapa nggak masuk?" Nei yang mendengar suara berat laki-laki terkejut. Ketika ia berbalik ia melihat kak Arsa di belakangnya, Nei menghembuskan nafas lega.


"Eee... kayaknya dikunci kak," jawab Nei tanpa menatap lawan bicaranya.


Kak Arsa hanya mengangkat sebelah alisnya meragukan. Dia memberi isyarat kepada Nei agar bergeser, memberinya ruang untuk membuka pintu.


Pintu terbuka. Kak Arsa menatap Nei dengan wajah sombong nya.


"Dikunci?" ucap kak Arsa dengan nada menyindir.


Nei yang seharusnya malu malah kesal melihat ekspresi wajah kak Arsa. Ia menautkan kedua alisnya dan menatap tajam kak Arsa.


Kak Arsa yang ditatap seperti itu hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya.


"Silahkan," ucap kak Arsa dengan tangan mempersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan terlebih dulu.


Nei hanya memutar bola matanya santai dan menambahkan senyum di bibirnya kemudian melangkahkan kaki berjalan mendekati pintu.


Sudah di depan pintu, kak Arsa malah masuk mendahului Nei yang berdiri di depannya.


Nei yang melihatnya hanya menghembuskan nafas kesal.


Hanya selama beberapa menit mereka duduk, satu persatu peserta Olimpiade mulai berdatangan dan memenuhi ruangan.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," kak Izzat yang terlihat berwibawa dengan senyum manisnya.


"Wa'akaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh..." jawab semua dengan kompak dilanjutkan dengan berdo'a awal majlis.


"Hari ini kita akan mengadakan simulasi Olimpiade di lab kom," kata kak Izzat mengumumkan.


"Kenapa nggak langsung ke lab aja," celetuk salah satu


laki-laki yang duduk di sebrang.

__ADS_1


"Tinggal jalan ke sebelah," jawab yang lainnya dengan santai.


Kak Izzat menepuk kedua tangannya dan menunjuk ruangan sebelah dengan ibu jarinya. Semua murid berdiri dan berjalan ke luar dengan kak Izzat yang mengikuti di belakang.


"Hari ini soalnya sama dan nomornya nggak diacak, Jadi mohon kejujurannya," kata kak Izzat dengan tegas.


Kemudian ia duduk di meja monitor komputer yang ada di depan. Sedangkan Nei memilih duduk di kursi bagian belakang.


Simulasi diadakan selama tiga puluh menit menghabiskan waktu istirahat pertama ditambah sepuluh menit pelajaran selanjutnya.


Ketika sudah selesai, kak Izzat menutupnya dengan beberapa kalimat motivasi agar belajar lebih giat untuk Olimpiade Sekolah pekan depan.


"Habis ini masuk kelas kak?" tanya salah satu perempuan.


"Iya, saya sudah izinkan telat 15 menit," jawab kak Izzat dengan lugas.


Hembusan nafas jenuhpun terdengar, kak Izzat kemudian menutup kelas dan menunggu semua keluar terlebih dulu.


Sedangkan Nei, ia repot mencari bukunya yang tidak ada di mejanya.


Nei menepuk dahinya ketika teringat ia meninggalkannya di ruang sebelah.


Ketika Nei melewati pintu ingin keluar ia berhenti mendengar pertanyaan kak Izzat.


"Udah sembuh?" kata kak Izzat memastikan. Bukankah ia terlihat baik-baik saja dan Nei tadi mengikuti latihan dengan lancarkan.


"Iya kak, udah lama juga," jawab Nei sambil tersenyum mengahadap kak Izzat.


Entah mengapa Nei merasa ia gugup melihat kak Izzat yang berjalan mendekat dan merasa ia terlalu pendek berdiri di depan kak Izzat.


"Harus habis," kata kak Izzat sambil menyodorkan sekantong jajanan padanya.


"Eh, kenapa kak?" Nei yang tadinya menunduk reflek mendongakkan kepalanya ke atas menatap kak Izzat.


"Biar cepet sembuh aja," kata kak Izzat sambil tersenyum manis.


Nei yang melihatnya hanya bisa berteriak di dalam hati dan langsung menundukkan pandangannya lagi.


"Udah buruan balik, nanti telat," kata kak Izzat sembari senyum dan berjalan melewatinya.


Nei yang tinggal sendiri di kelas hanya bisa menahan senyum melihat ada tiga kotak susu dengan tiga rasa berbeda dan satu larutan juga ada beberapa snack dan roti.


"Banyak banget," ucap Nei lirih.


Ia berbalik dan berjalan kembali ke kelas dengan senyum di wajahnya yang tak bisa dikendalikan.


Sesampainya di depan kelas, Nei meminta maaf atas keterlambatannya dan meminta izin pada guru yang mengajar di kelasnya.


Ia berjalan masuk dengan menyembunyikan kantong plastik hitam di balik kerudung bagian depan yang terlihat menonjol dan berjalan dengan cepat ke tempat duduknya.


"Apaan tuh," tanya Nadin penasaran sesaat Nei baru saja duduk.


Anehnya lagi Ia melihat Nei yang tersenyum manis sembari memasukkan kantong plastik ke loker mejanya


"Kamu kenapa Nei?" tanya Nadin memastikan karena melihat Nei yang tak berhenti tersenyum.


Nei hanya memberikan isyarat pada Nadin untuk diam sambil tersenyum dan menunjuk ke depan.


Nadin hanya menanggapi nya dengan mengangguk pasrah.


...


"Dari siapa?" tanya Nadin pada Nei yang berada di sampingnya.


Mereka baru saja menyelesaikan jama'ah Ashar di Mushola sekolah dan sekarang sedang berjalan menuju Ma'had.


Tadi ketika ada kesempatan Nadin bertanya pada Nei tapi hanya dijawab dengan senyuman aneh.


"Udah nggak sabar aku pengen cerita," kata Nei dengan antusias.

__ADS_1


"Gimana,gimana," jawab Nadin sama antusiasnya.


"Tebak dari siapa?" tanya Nei yang masih tersenyum.


"Kak Izzat?" jawab Nadin lirih setelah memperhatikan sekitar tak ada yang mendengar.


"Iya," ucap Nadin membenarkan.


Nei berdeham menyiapkan suaranya untuk bercerita.


"Tadi kan aku tinggal di kelas tuh, nyari buku aku," ucap Nei mulai bercerita.


"Eh, bentar deh, bukunya kan belum diambil," lanjut Nei dengan menghentikan langkahnya mengingat ia yang tak jadi mampir ke kelas tadi untuk mengambil bukunya.


"Besok aja, kan ada club bahasa Arab kamu," kata Nadin memberikan solusi.


"Iya juga ya," putus Nei kemuadian melanjutkan ceritanya dengan berjalan kembali.


"Trus, trus," kata Nadin tak sabar.


"Trus ada kan Izzat kan yang masih di kelas juga, dia emang keluar paling akhir gitu," ucap Nei dengan lirih.


Nadin mengangguk antusias.


"Apaan sih Nad, kok gitu banget," kata Nei melihat antusiasme Nadin.


"Cepet terusin," jawab Nadin membuat Nei tertawa kecil.


"Dia tanya tuh kamu udah sembuh, ya kan aku ikut kelas ya, jadi sehat kan pastinya," ucap Nei mengingat kejadian tadi.


"Basa-basi aja itu," kata Nadin menanggapi.


"Abis itu dia ngasih ini," ucap Nei sambil mengangkat kantong plastik yang ia bawa.


"Gitu aja? nggak ngomong apa-apa lagi?" tanya Nadin memastikan.


"Eee...iya itu aja kayaknya," jawab Nei mengingat.


"Gimana Nad menurut kamu?" tanya Nei dengan penasaran.


"Kalau kamu sendiri Nei?" ucap Nadin kembali bertanya.


Nadin hanya menggelengkan kepalanya bingung.


"Waktu itu dia juga kasih kamu jajan, hari ini juga, padahal kan tau tuh kalau kamu udah sembuh," kata Nadin menganalisis.


Nei hanya mengangguk menyetujui.


"Tapi ya kalau di sekolah kita gini udah ngasih jajan gitu, berarti kan..." ucap Nadin menggantungkan kalimatnya.


Membuat Nei menatapnya dengan wajah penasaran.


"dan ini yang ngasih kak Izzat, banyak yang suka sama dia," ucap Nadin melanjutkan.


"Setahuku dia nggak pernah ngasih jajan ke perempuan kan?" tanya Nadin meminta persetujuan Nei.


"Tapi kan kita murid baru Nad, kak Izzat udah kelas dua belas. Nggak tau dua tahun ini gimana," kata Nei yang membuat dirinya sendiri bimbang.


"Iya juga sih," ucap Nadin menyetujui.


"Kamu udah suka ya?" tanya Nadin hati-hati.


"Sebenarnya tuh nggak suka, tapi dia kayak ngebuat aku ngerasa istimewa gitu lo Nad..." jawab Nei dengan nada bimbang.


"Tapi sebenarnya aku nggak pengen suka," tambah Nei menyakinkan.


"Jangan dulu deh Nei, siapa tau emang cuma bener-bener permintaan maaf kan?" kata Nadin. Ia takut melihat sahabatnya kecewa, Nei pasti akan benar-benar terluka jika ia sudah mulai berharap.


Nei benar-benar orang yang bisa memberikan seluruh fokusnya untuk orang yang ia sukai.

__ADS_1


...


To be continued


__ADS_2