M Y Y O U T H

M Y Y O U T H
Malu


__ADS_3

"Nei, turun yuk, jalan-jalan," ajak Nadin ketika keduanya sedang di kamar setelah ta'lim pagi selesai.


"Nei yang sedang membaca buku sembari duduk di kasurnya pun hanya bergumam tak jelas.


"Ayolah Nei... bosen nih aku," keluh Nadin karena ia tak melakukan apa-apa. Hanya duduk di samping kasur menghadap Nei yang sedang membaca.


Biasanya hari Ahad, teman-teman mereka akan dijenguk oleh orangtuanya bahkan ada yang pulang pagi dan kembali sore hari. Namun, pekan lalu kedua orang tua Nei dan Nadin sudah berkunjung. Jadi lah mereka masih di kamar.


"Baca buku, biar nggak bosen," ucap Nei lirih.


"Ya kali," jawab Nadin.


Nadin berdiri dari tempatnya dan langsung menarik lengan Nei untuk berdiri dan mereka berjalan keluar kamar menuju halaman Ma'had.


Nei yang ditarik tangannya hanya pasrah sembari membawa bukunya di tangan satunya.


"Mau kemana sih Nad... enak an di kamar aja," usul Nei sambil mereka berjalan.


"Udah diem," ketika mereka sampai di halaman, hampir semua gazebo yang mengelilingi halaman sudah penuh dengan teman-teman dan para wali santri.


"Eh Nadin," kata kak Salwa, kakak kelas 12 yang juga tinggal di Ma'had. Mereka mengenalinya namun tak dekat.


"Iya kak," Nadin yang merasa terpanggil membalikkan badannya dan melihat kak Salwa yang berdiri dengan membawa paper bag.


"Aku boleh minta tolong nggak," tanya kak Salwa dengan nada bicara yang cepat.


"Boleh, boleh kak, mumpung kita nggak ngapa-ngapain," jawab Nadin dengan percaya diri.


"Beneran nih, soalnya aku sama temen-temen masih ada tugas di atas," ujar kak Salwa menyakinkan.


"Iya kak, santai aja, iya kan Nei," jawab Nadin sambil menoleh pada Nei yang berada di sampingnya.


Nei hanya mengangguk menanggapi.


Nei merasa ada yang janggal. Jika sudah seperti ini, biasanya kakak kelas dua belas akan mencari mangsa di lantai dasar dan meminta tolong hal yang sulit dilakukan.


Seperti,


"Ini tolong banget kamu fotocopy di Ma'had putra ya," ucap kak Salwa sambil memberikan paper bag yang berisi lembaran kertas pada Nadin.


Nadin mengira ia dan Nei bisa keluar Ma'had sekaligus berjalan-jalan namun malah sebaliknya.


Santri Ma'had putri dilarang berkunjung dengan santri Ma'had putra. Namun, mesin fotocopy hanya ada di Ma'had putra, Jadi diperbolehkan ke sana untuk fotocopy saja.


Sebenarnya di sekolah mereka ada tapi ini hari Ahad, Jadi sekolah di tutup.


Jika di luar kawasan sekolah juga ada tukang fotocopy namun mereka harus bayarkan sedangkan di Ma'had putra itu gratis karena milik Ma'had.

__ADS_1


Nadin hanya tersenyum getir.


"Harus banget fotocopy nih kak," tanya Nadin pada kak Salwa.


"Duh, nggak bisa ya kamu Nad, tapi kan kamu udah di Ma'had tiga tahun, masa nggak berani," ujar kak Salwa sembari mengingatkan.


"Eh, bisa, bisa kak," jawab Nadin dengan ragu.


"Nggak apa-apa ya, itu semua di fotocopy buat kelasku aja jadi sekitar tiga puluh aja," ucap kak Salwa.


Nadin mengangkat kedua alisnya, sebanyak ini?


"Ini semuanya kak yang difotocopy?" tanyanya tidak percaya.


"Iya kan itu buat persiapan latihan ujian kelas dua belas, Jadi banyak," jelas kak Salwa.


"Udah ya Nad, makasih banget, aku ke atas dulu ya..." pamit kak Salwa sambil melambaikan tangannya pada Nadin dan Nei yang berdiri diam saling berpandangan.


"Nei..." keluh Nadin sambil mengangkat paper bag nya ke depan matanya.


"Sebanyak ini..." tambahnya.


"Bilangin di kamar aja," ujar Nei sinis sambil memutar kedua bola matanya.


Nei berjalan cepat terlebih dahulu disusul Nei yang berlari kecil mensejajarkan langkah mereka.


"Kita beneran ke Ma'had putra nih Nad?" tanya Nei memelas.


Walaupun tempat fotocopynya berada di bagian paling depan dan terletak di bagian samping namun mereka masih harus melewati gerbang dan koperasi Ma'had putra yang berada di bagian ujung berlawanan dari ruang fotocopy, yang biasanya ramai.


"Nei..." ucap Nadin dengan nada lemas.


"Malu Nad," tambah Nei lagi.


"Nei..." ucap Nadin lagi.


"Hih, emang kak Salwa nggak kira-kira apa ya, masa nyuruh kita fotocopy sebanyak ini, pasti lama nih nanti," keluh Nadin sebal. Kenapa dia tidak menolak saja tadi.


"Kenapa di iyain aja sih Nad," kata Nei berkomentar.


"Lah, tadi kamu juga diem aja," jawab Nadin.


"Nggak enak lah kalau di tolak langsung," ucap Nei.


"Udah bener kita baca buku aja di kamar tadi," lanjut Nei mengeluh.


"Iya juga ya..." kata Nadin menyetujui.

__ADS_1


Nadin dan Nei hanya menganggukan kepala. Kemuadian mereka melihat wajah satu sama lain yang terlihat khawatir.


Bagi santri putri tempat paling dihindari di seluruh kawasan sekolah mereka adalah Ma'had putra.


"Eh nanti yang masuk dulu siapa?" tanya Nei ketika mereka sudah dekat di gerbang utama Ma'had putra.


"Aku ajalah," tawar Nadin dengan santai.


"Eh, ngga jadi, kamu aja Nei, kan kamu terlihat kalem, anggun, cantik lagi," ujar Nadin berpikir ulang. Iya kalau di halaman Ma'had tidak ada orang ia berani, tapi jika ramai kan malu.


"Ih, mana ada kayak gitu, nggak tadi kamu udah bilang iya," ucap Nei dengan nada tegas.


"Nei..." bujuk Nadin dengan nada memelas.


"Nggak mau..." ucap Nei sambil membuang muka menghadap depan.


"Berdua aja sih," usul Nei memikirkan cara.


"Nggak bisa, biasanya gerbangnya kan yang dibuka cuma gerbang samping yang kecil bukan gerbang yang besar," kata Nadin memberitahu.


"Kok kamu tau?" ucap Nei dengan nada curiga dan mata menyipit menggoda Nadin.


"Kata temen-temen yang udah pernah ke sini lah Nei, kamu aja yang nggak pernah ikut dengerin," jawab Nadin santai.


"Masa..." ucap Nei ragu.


Nadin hanya menghembuskan nafas keras.


Mereka sudah sampai tepat di depan gerbang utama. Nadin dan Nei saling berpandangan dan menarik nafas perlahan memupuk kepercayaan diri.


"Bismillah bisa," kata Nadin yakin sambil melangkah maju mendekati gerbang.


"Nggak bisa Nei... malu," ucap Nadin cengengesan lalu ia mundur lagi.


"Bisa Nad, bismillah," ucap Nei menyakinkan.


"Kamu aja gih," tawar Nadin.


"Nggak Nad, aku percaya kalau kamu bisa, anggap aja mereka nggak ada," terang Nei.


"Nei..." bujuk Nadin.


Dari arah pandang mereka terlihat halaman depan Ma'had putra cukup ramai, ada beberapa mobil terparkir yang sepertinya milik wali santri.


"Udah ah, cepetan yuk," dengan gemas Nei mekangkah pasti dengan menggandeng erat pergelangan tangan Nadin.


...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2