
Mereka pulang sekolah setelah sholat jama'ah ashar di Masjid. Boarding School,ada yang pulang ke rumah ada yang pulang ke Ma'had.
Ma'had letaknya masih di kawasan yayasan sekolah yang tak jauh dari gedung-gedung sekolah.
Jika Ma'had putri ada di bagian kiri maka Ma'had putra di bagian kanan, berseberangan dengan potensi bertemu yang minim. Kecuali jika sengaja bertemu.
"Nad turun sekarang yuk," ajak Nei dengan merangkul buku pelajaran untuk besok.
"Mushola apa perpustakaan?" kata Nadin yang masih memilih buku-bukunya.
"Terserah, ngikut," jawab Nei yang duduk di ranjang Nadin. Mereka se kamar berempat dengan dua temannya yang sudah turun.
"Perpus aja," putus Nadin yang langsung berjalan dengan cepat menuruni tangga.
Jam 8 malam setelah jama'ah Isya' dan makan malam, biasanya mereka turun untuk belajar bersama, ada yang mengerjakan tugas bersama, ada yang belajar sendiri.
Intinya kalau udah selesai makan mereka belum boleh ke kamar sebelum waktu belajar habis.
Perpustakaan atau Mushola? Bedanya kalau di Mushola itu belajarnya lesehan dan lebih tenang nggak ada suara daripada di perpustakaan. Perpustakaan itu ada bangkunya jadi nggak lesehan, ada tempat kecil buat lesehan tapi biasanya udah diisi sama yang bikin rame.
Nadin yang sudah masuk perpustakaan mencari tempat duduk strategis samping jendela.
"Cepet banget jalannya," keluh Nei yang baru sampai lima menit setelah Nadin. Dia hanya berjalan sedangkan Nadin lari, apalagi Nadin lebih tinggi beberapa senti darinya.
"Kamu aja yang lama..." jawab Nadin santai.
Ia sudah membuka bukunya dan mulai mengulang pelajaran hari ini, diikuti Nei yang lebih suka membaca pelajaran untuk besok.
Nei menghembuskan nafas kesal, di perpustakaan terlalu banyak suara yang terdengar walaupun lirih.
Mereka berdua lebih sering belajar di Mushola daripada di Perpustakaan.
"Udah Nei?" tanya Nadin yang melihat Nei menutup bukunya.
"Rame ah," keluh Nei.
Nadin yang niat untuk mengajak ngobrol pun langsung mendapat kesempatan.
"Lomba Bahasa Arab udah dipikirin?" tanya Nadin, mengingat pengumuman beberapa hari lalu.
"Kan ada belajar bareng dulu sebelum lomba," lanjut Nadin melihat Nei yang diam berpikir.
"Ada belajarnya?" tanya Nei memastikan.
"Ya iya lah, inikan OBA," ucap Nadin dengan suara lirih.
"Apaan tuh," jawab Nei bertanya.
"Olimpiade Bahasa Arab, Nei. Masa nggak tau sih?" tanya Nadin gemas. Jangan-jangan Nadin juga tidak mendengarkan penjelasan waktu itu.
"Kan kita masih kelas sepuluh nih, Jadi ikut-ikut olim aja dulu," kata Nadin membujuk.
"Boleh sih," kata Nadin sambil berpikir.
__ADS_1
"Tapi..." lanjutnya ragu.
"Kan dulu di Junior High School juga bisa kan," tawar Nadin lagi.
"Tapi kan nggak juara satu," keluh Nei.
"Ya kan berpartisipasi Nei..." Nadin menengok kanan kiri takut ada yang menegurnya.
"Iya sih bener..." ucap Nei dengan nada yang masih ragu.
"Dengar-dengar besok pendaftaran pesertanya ditutup," kata Nadin.
"Iya kah?" tanya Nei ragu.
"Iya lah, besok aku temenin daftar," ucap Nadin sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Lah kamu nggak ikut?" tanya Nei.
"Ya nggak lah, mana bisa aku," ucap Nadin dengan percaya diri.
"Trus, kenapa aku ikut," bisik Nei dengan nada yang menekankan kata di setiap kalimatnya.
"Aku dukung kamu menjadi santri yang membanggakan Nei," ucapan Nadin memantapkan hati Nei.
"Nggak usah aja deh, saingannya temen-temen kelas lain, ada kakak kelas juga pasti," kata Nei mulai tak yakin lagi.
"Shut..." Nadin meletakkan jari telunjuk kanannya di atas pipi Nei.
"Nggak boleh insecure, Kita harus percaya diri. Kan ada aku," lanjut Nadin dengan menaik turunkan kedua alisnya.
...
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, pengumuman untuk pendaftaran peserta Olimpiade Bahasa Arab akan ditutup setelah berakhirnya jam istirahat pertama, diharapkan yang masih ingin berpartisipasi segera mendaftarkan diri, terima kasih. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,"
Jam pelajaran pertama baru saja usai.
"Daftar sekarang yuk Nei," ajak Nadin menoleh pada Nei yang duduk di sampingnya.
"Hm," sahut Nei sambil menulis.
"Nanti antri loh," bujuk Nadin.
"Bentar nih, kurang dua baris," jawab Nei tanpa memalingkan wajah dari bukunya.
"Oke, dua baris," putus Nadin.
Beberapa menit kemudian, Nei selesai mencatat materi dan dengan cepat membereskan alat tulis di atas mejanya begitu pula dengan meja Nadin yang belum rapi.
"Ayok ah, buru," Nadin yang sudah bersiap di samping papan tulis depan.
"Iya ih," kata Nei sambil berdiri dan berjalan menyusul Nadin yang berjalan tergesa-gesa di depannya.
Sesampainya di ruang sekretariat,
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ustadzah, mau daftar OBA us," kata Nadin berdiri di depan pintu ruang sekretariat.
Sedangkan Nei hanya berdiri diam di samping Nadin.
"Wa'akaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, bukan di sini daftarnya, di ruang OSIS," jawab salah satu dari tiga guru perempuan yang ada di dalam ruangan.
"Eh, maaf ya us, saya permisi dulu," Nadin langsung berjalan cepat menuju ruang OSIS yang masih berada di satu lorong namun jaraknya jauh.
"Tungguin Nad," ucap Nei sedikit berteriak, dia tertinggal di belakang Nadin. Kalau Nadin berlari kecil, Nei hanya berjalan perlahan.
"Assalamu'alaikum kak, mau daftar peserta Olimpiade dimana ya?" Nadin bertanya dan memutar matanya melihat banyak anggota OSIS yang berada dalam ruangan baik putra maupun putri.
Anggota OSIS lebih di dominasi oleh murid reguler, mereka yang pulang ke rumah daripada santri Ma'had yang menginap di asrama.
Keseluruhan murid juga lebih banyak reguler daripada Ma'had. Jika reguler 65% maka Ma'had sisanya.
"Di sini dek, masuk aja," ucap salah satu kakak kelas perempuan dengan ramah.
Nadin masuk dan ditanya,"Yang mau daftar kamu?"
"Oh bukan kak temen saya," lanjutnya sambil membalikkan badan ke belakang.
"Eh, Nei dimana?" Nadin bertanya pada diri sendiri. Melihat Nadin yang kebingungan membuat sebagian anggota OSIS menahan tawa dan menjadikan Nadin pusat perhatian.
"Bentar ya kak," lanjut Nadin dengan tersenyum canggung.
Nei hanya berdiri dengan kepala menunduk di dinding luar ruangan. Matanya melihat sepasang sepatu laki-laki berjalan melewatinya.
"Nei, kok nggak ikut masuk sih," ucap Nadin dengan nada kesal.
"Kan kamu nggak ngajak tadi," jawab Nei membuat Nadin tambah kesal.
"Ih ya ikutin aja," suruh Nadin, "Udah ayo,". Sekarang Nadin memastikan dia menggenggam tangan Nei dengan erat.
"Ih..." keluh Nei lirih.
"Saya mau daftar OBA," ucap seorang laki-laki yang berdiri di depan mereka.
Nadin yang berusaha memberikan kode pada kakak panitia tadi untuk mendahulukan dirinya.
Nei mendongak berusaha melihat siapa yang akan menjadi salah satu saingannya nya nanti, namu dari belakang ia tak mengenalinya.
"Udah lah antri dulu dek, nggak lama kok," sahut salah satu kakak kelas laki-laki yang duduk lumayan jah dari mereka.
Nadin hanya menanggapi nya dengan senyum terpaksa.
Nei masih mendongak sedikit terkejut ketika matanya bersitatap dengan orang yang berdiri di depannya dengan tiba-tiba menolehkan wajahnya ke belakang.
Mereka menatap mata satu sama lain sampai, "Hm," dehamam kakak panitia yang menunggu pendaftaran.
Orang di depannya langsung melihat ke depan dan menjalani tanya-jawab dengan panitia, sedangkan Nei mengedipkan matanya dan melihat sekitar dengan wajah gugup.
Nadin yang berada di sampingnya hanya tersenyum aneh melihat interaksi kecil antara keduanya.
__ADS_1
...
To be continued