
Mereka berdua berjalan santai di lorong kelas sambil mengobrol tanpa terdengar suara karena jauh. Sama-sama tinggi dan kelihatan berwibawa dari jauh.
"Oh itu..." ucap Nei sambil menengok kebelakangnya, memutar badan.
"Iya ganteng," kata Nei tanpa sadar.
"Astaghfirullah Nei," ucap Nadin mengingatkan sambil mengusap pelan lengan Nei yang ada di atas meja.
"Eh," Nei reflek menutup mulutnya dan mengedipkan matanya cepat.
Nadin hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Nei dengan mata sinis.
Orang yang tau mereka berdua berteman akrab akan mengira Nei itu lebih alim dan nggak dekat dengan laki-laki karena Nei terlihat kalem, hanya terlihat. Tapi kenyataannya malah sebaliknya m
Selesai Nadin makan siomay dan Nei menghabiskan minumannya mereka kembali ke kelas dan melihat tak ada orang di kelasnya.
Karena mereka berdua tinggal di Ma'had jadi kalau masih kelas 10 dan 11 belum boleh membawa ponsel ke sekolah, nanti kelas 12 baru di izinkan.
Nadin yang melihat tak ada orang di kelas pun heran karena ini sudah lima menit sebelum masuk kelas, apalagi teman-temannya kan ambis semua termasuk Nei.
"Kan Nei, pasti ada acara nih di aula, makanya sepi," keluh Nadin yang menyesal. Pasti dia ketinggalan berita.
"Kok nggak ada kedenger suara sih, kan biasanya kalau ada acara di aula kita denger," ucap Nei sambil berjalan ke tempat duduknya.
Nei tenang-tenang saja, kalau ada acara sebenarnya ia memilih untuk tidak hadir. Berbeda dengan Nadin yang akan mengajaknya untuk mengikuti rangkaian acara kegiatan apapun di sekolah.
"Bentar, aku tanya kelas sebelah dulu," Nadin langsung berlari kecil ke kelas sebelah untuk memastikan.
"Gimana?" setelah Nei menunggu tak lama Nadin datang dengan nafas yang tak beraturan.
"Ayo, ikut, cepet," Nadin hanya menggenggam erat pergelangan tangan Nei dan mengajaknya berlari kecil menuruni tangga menuju lantai dasar kemudian ke arah Masjid Sekolah.
Nei yang ditarik hanya diam mengikuti dan menyamakan kecepatan langkah mereka berdua.
Mereka yang sudah sampai di depan Masjid hanya diam terpaku melihat teman-teman angkatannya bahkan ada kakak kelas, keluar dari Masjid dan menuruni tangga.
Nadin dan Nei hanya bertatapan mata tanpa berkata.
"Udah?" Nadin langsung bertanya ketika ada temannya yang lewat disampingnya.
__ADS_1
"Udah dari tadi kali," sahutnya.
Nadin hanya menghembuskan nafas pasrah dan berbalik mengikuti arus teman-temannya.
Nei hanya melihat dan mengikuti Nadin di belakang Nadin yang berjalan lambat.
Sesampainya di kelas, Nadin belum juga berbicara. Mereka hanya diam dan mengikuti pelajaran dengan tenang.
"Tadi acara apa Nad?" tanya Nei setelah bel istirahat kedua berbunyi.
Waktunya istirahat,sholat, dan makan. Mereka di beri waktu istirahat sebentar sebelum Sholat Jama'ah di Masjid Sekolah.
Nadin menaikkan pundaknya kemudian menghempaskannya dan berkata, "Tadi ada sholawatan..." dengan nada merengek.
"Latihan? Kok nggak ada pengumuman sih," keluh Nei menanggapi.
Nadin langsung berbalik badan ke samping dan memegang pundak Nei.
"Neiku sayang, aku kan tadi tidur di jam kedua sebelum istirahat kan?" tanya Nadin yang dijawab anggukkan oleh Nei.
"Kamu merhatiin pelajaran kan?" tanyanya lagi.
"Kok kamu nggak bisa denger sih waktu diumumin tadi," kata Nadin sebal sambil melepaskan pegangannya.
"Masa sih? nggak ada pengumuman apa-apa sih seingatku," jawab Nei dengan santai.
Nadin yang kesal semakin geram melihat tanggapan Nei.
Kan dia nggak boleh kehilangan kesempatan untuk melihat sholawat an. Karena di sekolah mereka, anak-anak keren itu berkumpul di tim hadroh. Ada teman-teman seangkatan yang imut ganteng, kakak kelas sebelas yang keren abis apalagi kakak kelas dua belas yang kelihatan berwibawa penuh kasih gitu.
Itu dilihat dari mata Nadin berbeda dengan Nei.
"Kamu sih, kan aku nggak liat," ucap Nadin menyesal, dia menaruh kepalanya di atas meja dengan kedua tangan yang menyangga.
"Ya, maaf. Lagian temen-temen nggak ada yang ngajakin," ucap Nei membela diri.
"Nei, kalau kamu lagi nulis siapa juga yang mau gangguin, takut kena ngambek yang berujung tak di kasih senyuman sing sama kamu," jawab Nadin.
Berhubung mereka sekelas hanya perempuan, jadi nggak enak kalau ada yang ngambek dikit. Mereka kompak untuk menjaga perdamaian suasana di kelas.
__ADS_1
"Kapan-kapan lagi kan ada..." bujuk Nei.
"Iya sih," ucap Nadi menegakkan punggungnya dan mengangkat kepala.
"Tapi kapan..." lanjutnya lemas.
Karena kelas putra dan putri beda gedung jadi mereka jarang bertemu lawan jenis. Walaupun gedungnya bersebelahan.
"Eh, kalian ngapain masih di kelas," tanya kakak kelas dengan galak.
Nadin membelalakkan mata dan menoleh ke arah Nei, menyuruhnya menjawab.
"E... lagi udzur kak," ucap Nei pelan sambil melihat kakak kelas yang berdiri di depan pintu.
"Apa?" kata kakak kelas masih galak.
"Udzur kak," jawab Nei dengan suara yang dikeraskan.
Suara lantunan adzan dzuhur sudah mulai terdengar dari Masjid.
"Kan tetep turun," ucapnya lebih pelan.
"Iya kak ini mau turun," jawab Nei sambil berdiri dan menyikut lengan Nadin untuk ikut berdiri.
"Cepet ya," suruhnya sambil meninggalkan mereka berdua.
"Udah yuk," ajak Nei pada Nadin.
"Serem amat," tanggapan Nadin mengingatkan kakak OSIS yang galak tadi.
"Ya kan kita yang salah, belum turun, semuanya juga udah turun tuh," kata Nei membenarkan.
"Ih, calon kakak OSIS juga nih," goda Nadin pada Nei yang berjalan di sampingnya.
"Ih..." jawab Nei dengan santai.
...
To be continued
__ADS_1