M Y Y O U T H

M Y Y O U T H
udah 4 bulan ya?


__ADS_3

Sejak kelulusan hingga sekarang, mungkin sekitar 4 bulan Nei tidak bertemu dengan teman-teman nya di Senior High School kecuali dengan Nadin.


Walaupun Ia dan Nadin beda kampus tapi mereka sering hangout bareng.


Mereka berdua kompak memakai gamis hitam dan kerudung berwarna mocca. Sebagian besar perempuan yang hadir juga memakai pakaian yang sama dengan mereka.


"Ah, Arsa," ucap Nadin sambil menjentikkan jari kanannya.


Nei memandang Nadin sambil mengerutkan alis.


Hening beberapa detik ditengah sholawatan yang ramai.


"Arsyad kali ya," kata Nei memastikan.


"Ya kan biasanya dipanggil Arsa," jawab Nadin mengingatkan.


"Udah ah sholawatan aja" ucap Nei. Ia berusaha menghentikan pembicaraan ditengah acara.


Tiga jam sudah berlalu, acara belum selesai. Namun Nadin dan Nei sudah berdiri bersiap meninggalkan acara. Keduanya sepakat untuk pulang jam 10 karena besok masih ada kelas.


"Nei..." Nadin berhenti kemudian memegang pergelangan tangan kanan Nei sambil memasang wajah kebelet.


"Kamar mandi yuk," lanjut Nadin.


"Ih sendiri aja," suruh Nei melepas pegangan Nadin di tangannya.


"Kan tau..." kata Nadin tanpa melanjutkan kata-katanya.


"Jangan lama-lama tapi," Nei pun berjalan mendahului Nadin ke arah kamar mandi kampus yang berada lumayan jauh dari tempat acara.


Bukan tanpa alasan Nei mengingatkan untuk tak lama, karena dia sudah hafal dengan Nadin yang butuh waktu lama hanya untuk buang air kecil.


"Aku tunggu di sini aja ya," ucap Nadin ketika sampai di pintu depan kamar mandi.


"Ikut masuk ajalah, nanti nunggunya di depan pintu toilet," pinta Nadin.


"Gak mau ah, di luar sini aja," kata Nei sembari mendorong tubuh Nadin masuk ke dalam kamar mandi.


Nadin hanya pasrah dan masuk dengan wajah tertekuk.


"Eh, jangan lama-lama beneran loh," kata Nei sekali lagi.


"Biarin lama," ucap Nadin dari dalam toilet dengan nada kesal.


Nei yang mendengarpun hanya tertawa ringan kemudian membenarkan letak tas kecil berwarna hitam miliknya.


Kamar mandi yang mereka kunjungi memang jauh dari keramaian karena letaknya di belakang gedung. Sudah dipastikan kamar mandi yang berada di dekat kios-kios jajanan yang buka di depan pasti antri.


Jadi Nei sengaaja mengarahkan ke kamar mandi sepi di belakang agar tidak menunggu lama.

__ADS_1


Nei hanya diam memainkan gantungan kuncinya sambil menunduk dan menyandarkan tubuhnya ke tembok di belakangnya.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya.


Nei yang sedikit melamunpun mengernyitkan keningnya ketika ia sadar ada sepasang kaki beralas sandal di depannya yang terletak agak jauh.


Diapun dengan cepat mendongak dan melihat siapa yang berhenti di depannya itu.


Karena cahaya lampu yang tak menyorot ke luar kamar mandi, lampu yang nyala hanya di kamar mandi, jadi remang-remang tak terang.


Neipun semakin menyipitkan matanya untuk melihat orang yang ada di depannya, jaraknya tak dekat juga tak jauh.


Dia membelalakkan kedua matanya ketika sadar siapa orang yang ada di depannya.


"Kok di sini," kata Nei lirih pada lelaki di depannya.


"Habis dari kamar mandi," ucapnya sambil menunjuk kamar mandi laki-laki yang terletak di samping kamar mandi perempuan.


Dia Arsa, ah bukan. Arsyad. Muhammad Arsyad. Orang yang tadi bermain sholawat di atas panggung. Dia hanya berdiri diam dengan wajah tanpa ekspresi.


"Eh, lama nggak ketemu ya," ucap Nei canggung.


"Eh tapi untuk apa bertemu kan hanya teman" batin Nei.


"Iya, lumayan," kata Arsyad dengan senyum tipis.


"Hebat ya kamu, udah bisa tampil dimana-mana," Nei memujinya.


"Enggak kok, ini pertama," jawab Arsyad tenang.


Nei menaikkan alisnya. Kenapa Arsyad membuatnya sedikit malu.


"Ah pertama," tanggapan Nei sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Hening beberapa detik di antara mereka, tidak ada yang bersuara.


Nei sebenarnya bingung kenapa hanya dia yang bertanya, kan yang tadi berhenti di depannya Arsyad. Berarti ada yang ingin disampaikan. Seharusnya.


"Eh, kamu nggak harus balik ke sana lagi," lanjut Nei memecah keheningan.


Arsyad yang akan membuka mulutpun urung melihat pintu kamar mandi yang terbuka menampilkan sosok Nadin dengan wajah yang terkejut.


"Eh ada siapa nih," kata Nadin langsung berekspresi heboh melihat Arsyad dan Nei berdua.


"Udah? Kita duluan ya, mau pulang," ajak Nei meminta izin pada Arsyad dan menoleh senyum aneh pada Nadin.


Nadin yang menyadari arti senyuman itupun langsung melakukan aksi yang sebaliknya.


"Duh Nei aku pengen jajan di kios depan dulu nih, kamu sini aja, lama lo nggak ketemu Arsyad," pinta Nadin dengan wajah tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Ya ya ya," sambil berlari kecil meninggalkan Nei dan Arsyad berdua. Hanya berdua, jauh dari keramaian. Namun suara sholawat masih terdengar sampai sini.


"Eh..." hening antara mereka berdua. Nei merasa tidak enak untuk mengatakan perpisahan terlebih dahulu karena menyadari Arsyad ingin mengatakan sesuatu.


Namun mereka hanya saling diam dan tak ada yang bersuara. Nei tak terbiasa dengan situasi canggung berdua hanya dengan lawan jenis.


Dia memang mulai terbiasa sekelas dengan lawan jenis setelah pisah kelas selama enam tahun di sekolahnya dulu.Tapi ini hanya berdua, membuatnya sedikit tak nyaman.


Arsyad berdeham membuat Nei yang tadinya menunduk, mendongakkan kepalanya.


"08- berapa," kata Arsyad tiba-tiba sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Dia tak memakai celana melainkan sarung. Kemeja seragam sholawat yang tertutupi jaketnya.


"Hah?" jawab Nei sambil menautkan alisnya.


"Nomor kamu," kata Arsyad sambil memandang tepat mata Nei.


Nei hanya terdiam sambil mengedipkan matanya dan melihat sekeliling, dia tak terbiasa ditatap oleh laki-laki.


"Buat apa?" jawab Nei sambil menghembuskan nafas perlahan berusaha tenang, tak gugup.


"Nomor kamu udah ganti lamakan," ucap Arsyad datar, Dia memainkan ponselnya.


"Iya," jawab Nei.


"Ya aku minta yang baru," kata Arsyad sambil menyodorkan ponselnya me arah Nei.


Nei hanya diam tak mengambil ponsel di depannya


"Nggak boleh?" tanya Arsyad dengan tangan yang menunggu.


"Iya," Neipun menyambut ponsel Arsyad dan mengetik nomornya.


Setelah itu dia mengembalikan ponselnya pada Arsyad.


"Namanya apa," tanya Arsyad yang akan menyimpan nomornya.


"Terserah kamu aja," kata Nei lirih. Dalam hatinya, Nei bertanya-tanya untuk apa Arsyad meminta nomornya. Tapi dia ragu untuk bertanya langsung.


"Makasih," ucap Arsyad sambil kembali mengantongi ponselnya dan akan berjalan menjauh.


"Udah?" kata Nei yang masih terdiam di tempatnya sedangkan Arsyad sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari tempatnya.


"Kenapa?" jawab Arsyad membalikkan badannya mengarah pada Nei.


"Namanya apa?" tanya Nei abstrak.


Arsyad hanya menanggapi dengan senyuman dan meneruskan langkahnya meninggalkan Nei sendiri.


Nei hanya terpaku diam di tempatnya dengan perasaan tak menentu.

__ADS_1


...


To be continued


__ADS_2