Maaf, Mengambil Tunanganmu

Maaf, Mengambil Tunanganmu
maaf


__ADS_3

Monalisa Pagar Bumi membuka handphonenya ketika suara notifikasi whatsapp nya berbunyi.


Dia tidak membuka aplikasi WA, dia hanya melihat pemberitahuan ada chat dari Barata yang menyatakan "maaf"


yah, hanya satu kata maaf itu saja. Mona hanya menaikkan kedua alisnya lalu menyimpan kembali handphonenya. Dan Mona pun kembali mengobrol, membicarakan tentang konsep iklan bersama dengan Melani, Roy, dan sang sutradara. Sedangkan yang lainnya membuat grup-grup atau kelompok juga, dengan beragam aktifitas. Ada yang ngobrol membahas konsep juga, ada yang maen bareng, ada yang denger musik, dan bahkan ada yang curhat ada yang pacaran karena cinlok, cinta lokasi ketemu terus di tempat kerja jadi nya cinta deh.


Di sisi lain. Setelah mengirim WA pada Mona pikiran Barata bukannya tenang malah semakin tidak karuan. pesan yang di kirim ke Mona sudah centang dua tapi kenapa belum di baca oleh Mona? Barata juga menuntut balasan, padahal pesannya hanya satu kata maaf saja, itu juga yang membuat hati gundah gulana. Handphone Barata tidak lepas dari genggaman tangan nya. sesekali dibukanya lagi handphone itu namun masih belum ada balasan dari Mona.


"kenapa lagi? belum ada balasan dari nona Mona?" tanya Hans seolah peka dengan apa yang dirasakan Barata sekarang ini.


"boro-boro dibalas! dibaca aja belum!" Barata sewot dan terlihat kayak wanita yang lagi pms.


"sudah dibaca nya tapi gak dibuka aja, mungkin juga dia ingin menghukummu!" goda Hans.


"karena aku memarahi nya tadi?" tanya Barata serius


"tadi aku tanya dengan kru yang ada di sana, Mona udah datang sejak pagi pagi sekali" Hans menginformasikan atas info yang didapat.


"yah, jadi aku memarahi orang yang tidak salah?" tanya Barata, Hans hanya mengangkat kedua bahunya


"pasti marah banget dia ya? tadi pas aku bilang gitu mukanya langsung berubah" Barata menyesali perbuatannya


"tulis WA lagi aja?!! jelaskan semuanya, sebenarnya kamu tadi enggak bermaksud marahin dia, bilang gitu aja!" usul Hans


Barata pun mengikuti saran Hans, dia mulai mengotak atik handphonenya


"dek, marah banget ya? sekali lagi maaf ya?!?"


setelah terkirim, masih dengan mode pesan sebelumya terkirim belum centang biru.


Sementara, di sisi lain rombongan Mona sibuk dengan diskusi masing-masing.


Mona dan Roy menemukan dua konsep untuk iklan ini.


konsep pertama Mona membayangkan Mona remaja perhiasan itu, Mona dewasa juga memakai perhiasan itu dan Mona setengah baya pun memakai perhiasan itu dengan tetap cantik dan menawan jadi perhiasan itu tidak habis dimakan zaman dan cocok untuk wanita di umur berapa saja.


Haris sebagai sutradara mengerti apa yang dimaksud Mona dia memoles sedikit menambahi adegan adegan tertentu sehingga menjadi cerita yang menarik.

__ADS_1


sedangkan konsep kedua. ada seorang wanita yang sedang berkeliling keliling di sebuah pertokoan, lalu dia melihat kalung yang sedang terpajang di sana dan wanita itu jatuh hati pada pandangan pertama dan memakainya sehingga membuat wanita tersebut menjadi sangat cantik dan elegan.


Waktu istirahat pun tiba karena waktu sudah menunjukkan pukul duabelas siang, semua kru menghentikan aktivitas nya dan memutuskan untuk istirahat, sholat dan makan siang.


Mona membawa bekal, jadi dia tidak beranjak dari tempat duduk nya, sedangkan Melani dia keluar menuju cafe terdekat untuk membeli dua box nasi untuknya dan untuk Roy.


dengan santai mona melahap bekalnya, Roy yang ada di samping Mona hanya melihat saja dan sesekali menelan air liurnya. bukan karena lezatnya bekal Mona namun karena tuntutan alami perutnya.


"Mon, nyicip??" Roy dengan memelas


"penyakitan gak??" tanya Mona menggoda Roy


"rabies??" dengan gaya Roy yang kemayu


"gak usah nyicip!! aku gak mau ketularan rabies!! goda Mona


" ihh pelit banget deh ahh" Roy kesal jadinya


"kata nya tadi rabies, ya aku gak mau lah ikut ngidap rabies, nanti lidah nya melet melet, kan jadi repot" Mona memang suka menggoda Roy.


"besok Roy aja yang beli!!" Melani kesal dan meletakkan box nya di atas meja dan langsung di bukanya "kalau Roy, pastii dengan segala tipu muslihat nya enggak pake antri" Melani cerita sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya


"jangan dia Mel!! seru Mona


" loh kenapa??" tanya Melani bingung


"dia ngidap rabies, tadi dia baru saja ngaku" ledek Mona lagi


"ihhhh, mbak Mona eke kan hanya candaan saja, bercanda! bercanda mbak Mona! bukan eke beneran rabies" jelas Roy yang jadi kesel juga


"jadi kamu enggak beneran rabies???" Mona masih dengan zona bercanda nya.


"ya enggak atuh mbak.. " jawab Roy dengan kemayu nya.


Ketiganya makan dengan lahapnya sambil sesekali saling cicip. Selesai makan Mona membuka bekal buahnya.


"aaaa, ini yang paling aku suka kalau makan deket mbak Mona" ucap salah satu kru yang pernah kerja bareng "selalu lengkap sajen nya, mbak minta satu buahnya ya" sambung kru tersebut sambil menyomot satu buah lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"maaf mbak Mel, briefing nya udah mau mulai" kata pihak dari biro periklanan tersebut.


"oh ya, makasih ya" jawab Melani


"Mel, kamu aja yang ikut, aku males, nanti video in aja ya" ucap Mona ogah ogahan sambil melihat lihat instagram di handphonenya.


"lo kenapa? gara-gara dia marah tadi? tumben biasanya profesional!!" bujuk Melani namun kali ini dia salah pilih kata


"aku selalu profesional, dia yang enggak!! hari ini aku ingin nenangin hati dan pikiran besok udah siap kerja, aku gak ingin besok masih terbawa emosi" ucap Mona yang awalnya dengan nada tinggi kini mulai melemah.


Mona keluar gedung namun sebelum keluar gedung dia berpapasan dengan Barata dan Hans


"pak" sapa Mona sedikit membungkukkan badannya tanda hormat.


Sedangkan Barata dan Hans kaget dan membalas dengan senyuman.


Mona melajukan mobil kesayangannya. Melaju dan terus melaju sampai di sebuah taman. Mona turun setelah memarkirkan mobil. dia berganti dengan sendal jepit yang ada di bawah jok tempat duduknya.


Taman itu sangat sejuk, pohon pohon yang besar dan rindang sebagai pemasok oksigen menambah kan keasrian udara yang ada di taman tersebut.


Mona terus berjalan menuju danau. dia duduk di kursi taman yang telah disediakan oleh pihak pengelola taman.


Mona duduk bersandar diam sambil melihat tenang nya air danau buatan tersebut.


Sebenarnya Mona belum terima dimarahin Barata tadi pagi. hatinya masih sungguh sangat kesal sekali. namun demi Melani dan Roy dia harus tersenyum. meskipun airmatanya sudah mulai tumpah.


Lama Mona diam disini. meskipun sudah menghabiskan waktu selama dua jam kelihatannya dia masih sangat betah sekali.


Handphonenya jangan ditanya kemana? setelah mengaktifkan mode silent Mona menaruh handphone itu ke dalam mobilnya.


Setelah hampir jam empat sore Mona bangkit dari duduknya, dia ingin pulang, mampir swalayan membeli bahan makanan, belajar masak, itu yang direncanakan Mona sepulang dari danau itu.


Dan alangkah terkejutnya dia melihat dihadapannya sosok yang membuat hatinya hari ini galau, resah.


"ngapain dia disini?? sejak kapan ada di sini??


pikir Mona dalam hati

__ADS_1


__ADS_2