
(Mona)
Setengah enam aku bangun, biasanya jam lima aku udah bangun tapi pagi ini rasanya malas sekali. aku langsung mandi dan berwudhu menunaikan ibadah sholat subuh yang kesiangan.
Semenjak berteman dengan ibu ustadzah si Dona disainer itu dan si cerewet Syakila ada sedikit kemajuan dalam hidupku di bidag agama. Sedikit demi sedikit Dona Menstranfer ilmu agama nya kepada ku.
Sehingga yang dulunya ibadah sholatku sering ku tinggalkan atau pun bolong bolong, sekarang pelan pelan aku sudah menunaikan ibadah sholat dengan rutin walaupun terkadang sering lalai dan terlambat. namun alhamdulillah sekarang tidak pernah absen lagi.
Jangan di tiru ya readers harusnya tepat waktu dan jangan menunda-nunda dalam hal kebaikan, tidak boleh lalai akan sholat.
Aku menuju dapur ku lihat pak barata sedang berkutat di sana dengan menggunakan celemek doraemon ku.
Aku ingin tertawa geli namun harus jaim. Tubuh tinggi, gagah, ganteng penampilan bule namun tangannya memegang spatula kayak SpongeBob aja.
Aku duduk di meja makan sambil memperhatikan gerak geriknya.
"ehh adek sudah bangun, sudah mandi" sapa pak Barata, dan aku hanya tersenyum
"bapak bisa masak?" tanyaku penasaran pasalnya aku yang wanita yang kodrat nya di dapur aja keteteran menghadapi kuali panas.
"tanya kakak mu Bumi, dua tahun kami di sana siapa yang jadi kokinya?" ucapnya dengan bangga
Aku kembali lagi tersenyum, alangkah bahagia dan beruntung nya Sandra itu punya kamu, yang keren, perhatian, pinter bisnis, pinter masak pula.
Tiba-tiba aku tertunduk sedih. Ngapain sedih???
Yah sedih lah seharian ini ditemani seseorang yang sudah punya tunangan.
"bapak tidak pulang?" tanya ku kemudian
"nanti setelah adek sarapan, mungkin Hans udah otw nih, hari ini jadi syuting?" tanya pak Barata.
"kata Melani mulai jam satu siang" jawab ku
__ADS_1
Dia memberi ku semangkok bubur nasi bertabur suwiran ayam goreng dan bawang goreng. kemudian dia meletakkan semangkok lagi kuah hitam berisi potongan ayam. lalu sepiring kerupuk.
"bapak enggak makan?" tanyaku yang melihat cuma terhidang satu mangkok bubur untukku saja
"ya makanlah.. ini punya bapak" dia duduk di sebelah ku dan mulai menikmati bubur ayam buatannya. Aku hanya diam mematung memandangnya
"makanlah.. bapak sengaja buat bubur biar lambung nya mudah mencerna" dia memerintah kan aku untuk makan.
Aku mulai memakan dan menikmati bubur ayam buatan pak Barata, enak.. bahkan lebih enak daripada yang biasa di beli oleh Roy.
"bagaimana?" tanya pak Barata
"enak... lebih enak dari yang sering di beli Roy" jawab ku sedikit memuji
"yang ini lebih sehat dan lebih higienis" ucapnya membanggakan karyanya
"iya.. seperti Syakila aja semua serba harus higienis" jawab ku
aku kembali menikmati bubur ayamnya. uhh sungguh perhatian sekali kemana perginya seorang penguasa yang arogan kemaren? pria kejam tukang marah!!
(Barata)
Ketika aku bangun Mona masih tidur dengan nyenyaknya.
Jeong dan Syakila tidak jadi menginap di apartemen Mona dengan alasan ada operasi darurat yang harus di tangani malam ini juga.
Setelah mandi aku pergi kedapur aku ingin membuat bubur ayam untuk Mona, model cantik yang membuat tidurku sangat nyenyak semalam. Entahlah seperti mendapat semangat setelah mencium dahinya semalam, seperti mendapat kekuatan untuk berjuang.
Kulihat dia sudah duduk manis di meja makan. dengan pakaian rumahan dan tanpa riasan dia tetap cantik mempesona. Sebenarnya aku mulai gugup di mandori gadis secantik Mona, namun aku harus menampilkan masakan enak yang membuat dia bahagia.
Kami sarapan menghabiskan bubur di mangkok masing-masing. dengan sadar ku pandangi terus wajah nya. sepertinya dia merasa serba salah dan canggung, pipinya memerah dan membuat makin gemes melihat nya. Ya Allah kalau aku tidak kuat sudah ku makan habis dia..
Setelah sarapan aku pamit ke kantor. Jam tujuh pagi Hans sudah menjemput dan membawa baju ganti untukku.
__ADS_1
"dek, nanti siang biar bapak jemput, ohh ya nanti jangan lupa telpon mama bilang adek udah sehat dan baik-baik saja, kasian semalam mungkin beliau tidak bisa tidur mau kesini namun cuaca tidak mendukung." sedikit berteriak aku bicara sambil berkemas cepat karena kasian juga Hans sudah menunggu.
"pagi bos" sapa Hans sambil senyam-senyum sendiri
"pagi" jawab ku datar
"gimana bos?? lancar??" tanya Hans
"gimana apa nya??" tanyaku bingung
"Monalisa Pagar Bumi" jawabnya mengkode dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"semalam dia pingsan, ternyata dampak dari dimarahin dia ngambek berat seharian ngomong ketis terus, dan yang paling parah ternyata dia mogok makan, aku kecolongan biasanya kalau jalan sama cewek pasti ngajak makan, dia sih ngusir aku melulu nanya kapan di jemput" panjang lebar aku cerita pada Hans pasti heran aku biasanya tidak pernah segamblang ini kalau cerita, ya kalau ngomong yang perlu aja..
"ternyata aslinya dia rapuh dan manja, enggak tampak diluar seperti garang, kuat dan tegar" jelas ku lagi pada Hans. Hans kembali hanya senyam senyum enggak jelas.
"kayaknya udah kenalan luar dalam nih,, menang banyak dong" goda Hans sang asisten
"dia bukan sandra, dia lebih mementingkan harga diri nya, dan lagi dia ada bodyguard setia, itu dokter imut pacarnya Jeong itu kalau marah aku jadi ngeri, gila bener dia kalau membela sahabat nya" aku tertawa mengingat Syakila mengancamku semalam.
"jadi rame bos semalam, enggak jadi berduaan dong" ledek Hans lagi
"dia pingsan aku enggak bisa bantunya, jadi aku telpon Jeong lah" jelasku pada Hans
"kenapa enggak bos kasih napas buatan" Hans terus menggoda bosnya dan bos nya pun enggak sadar udah di goda Hans dengan semangat si bos bercerita.
"jadi sudah sehari semalam belum dapat apa-apa nih bos??" Hans terus menggoda ku
"ya dapet sedikit enggak perlulah aku ceritakan semua, sekarang bacakan jadwal kita hari ini" aku harus menyudahi Hans mengorek cerita pada ku, dasar asisten yang kepo,, jangan sampai dia bergosip dengan sekretaris dan karyawan karyawan ku. Awas kamu Hans potong bonus tahun ini.
Hans pun membacakan jadwal Barata hari ini sampai kebablasan jadwal besok. ternyata hari ini sangat padat ya, dan besok jadwalnya sudah ada di surabaya.
"jadi besok kita balik ke Surabaya nih?" tanya ku lemas
__ADS_1
"yah si bos belum pisah udah kangen" ledek Hans namun tidak di tanggapi oleh ku. aku hanya diam memikirkan jauh darinya. untuk mengurangi kecemasanku, aku membuka notebook dan mengecek pekerjaan hari ini.
Waduh harus cari cara dan alasan nih biar cepat ke Jakarta lagi, rindu itu berat booss