Maaf, Mengambil Tunanganmu

Maaf, Mengambil Tunanganmu
Barata


__ADS_3

(Barata)


Aku dan Hans masuk ke gedung ini. gedung ini tadi pagi aku sudah kesini, tapi aku sangat kecewa. Aku sudah mengontrak jasa biro periklanan ini dengan sangat mahal dan pembayaran pun sudah lunas aku bayar, namun sepertinya penggarapan pembuatan iklan belum bisa dimulai hari ini.


Bagaimana mau dimulai konsep iklan nya saja belum ada yang cocok untuk ku. Dari tiga konsep yang di ajukan tidak ada satu konsep pun yang menarik hati ku. Semuanya terkesan biasa dan monoton. Aku tidak suka! maka semua ku tolak!!


Pagi ini brifing jam sembilan, aku marah sekali. dan sedang asiknya mengeluarkan semua kekesalan, Mona datang, dia masuk dengan seenaknya.


Bagaimana iklan ku mau jadi, modelnya aja baru datang!!! dan lengkaplah sudah semua kemarahan ku.


Aku kaget seketika melihat raut wajahnya dan berubah sendu. Mona duduk di sebelah Melani, dia hanya diam tak mau menatapku. Hingga aku keluar meninggalkan ruangan ini.


Hans menyarankan aku untukinta maaf, karena menurut info yang Hans dapat sejak pagi Mona sudah nangkring di ruangan itu bersama Melani dan Roy pria jadi jadian sebagai tim periasnya Mona.


Semua yang disarankan Hans sudah ku lakukan, namun tidak ada respon sama sekali dari nya.


Siang ini setelah makan siang aku berjanji akan kesini lagi menagih konsep iklannya sehingga besok sudah mulai syuting.


Setelah tepat jam satu siang, aku dan Hans menuju perusahaan periklanan ini lagi.


Ku lihat sosok wanita cantik dengan gaun garis garis hitam putih, yah siapa lagi dia kalau bukan Mona, gadis cantik yang sudah seminggu ini selalu mengganggu hidupku. dan yang herannya dia biasa saja aku nya yang kaya abg cabe cabean.


Mona keluar aula besar itu dengan tergesa-gesa dan aku hanya menatap langkah kepergian nya


"pak.. " dia menyapa ku dan sedikit membungkuk memberi hormat dengan senyuman terpaksanya.


Aku yang tak sadar hanya menatap mengiringi kepergiannya.


"Hans ikuti dia, biar aku sendiri yang brifing di sini" dengan sadar aku memerintahkan Hans untuk mengikuti nya, aku takut aja dia terlihat masih marah dan enggan melihatku.


dan untung aku menyuruh Hans mengikutinya selama brifing aku tidak melihat batang hidungnya.


Ternyata ada jiwa pemberontak juga dia ya?


ada empat konsep yang di ajukan dan aku memilih konsep usulan dari sutradara Haris.

__ADS_1


Aku terkesan dengan moto nya "cantiknya perhiasan tak habis termakan waktu" menurutku itu sangat unik jadi semua kalangan bisa memakai produk perhiasan ku, baik muda ataupun yang sudah lanjut.


"Hans, dimana?" selesai brifing aku langsung menyambar handphone ku dan menanyakan keberadaan Mona, aku takut dia kenapa-kenapa, masalahnya walau terlihat garang dia adalah wanita yang sangat manja semua ku saksikan sewaktu aku berada di rumah nya waktu itu.


"danau biru" jawab Hans


Aku langsung kesana. Ku lihat Mona duduk dengan santainya. Dia berdiri dan berputar berjalan ke arah ku. menyadari keadaan terlihat wajahnya kaget saat melihat aku sudah berada di hadapannya.


"pak.. " sapanya sedikit membungkuk dan senyum terpaksa walau dalam keadaan bagaimana pun dia selalu terlihat sopan dan ramah. walau aku tau pasti amarah di dalam dadanya sudah akan meledak apalagi di lihatnya aku sedang seorang diri namun kulihat dia masih bisa mengontrol emosinya.


"dek.. " aku meraih tangannya ketika dia berjalan melewati ku.


"maaf Pak" Mona sedikit meringis mungkin karena pegangan tangan ku yang terlalu kuat.


"bisa kita bicara sebentar?" pinta ku memelas kepadanya. Dia tidak menjawab namun penolakan tangan nya melemah lalu aku tuntun dia untuk duduk kembali di kursi yang sudah menemani nya selama dua jam ini. yah kursi yang menemani nya dalam diam.


"Maaf atas kejadian tadi pagi, sungguh saya sangat menyesal" kataku dengan sungguh-sungguh.


Dia mengangkat kedua alis cantiknya lalu meraba dahinya.


"tidak ada yang perlu dimaafkan, wajar sih bos marah dengan anak buahnya" lemah suaranya dan terdengar tarikan napas panjang mencoba melepaskan segala tekanan yang ada di dada nya. dan aku tau jawabannya hanya sebuah formalitas.


Mona tiba-tiba berdiri, aku kaget karena tanganku tertarik oleh tangannya dan secara otomatis terlepas pegangan tanganku pada pergelangan tangannya, jadi aku dari tadi tidak melepaskan pegangan tangan ku.


"pulang yuk!!" pintanya, aku tau dia ingin menghindar. aku mengikutinya dari belakang. kulihat dia hanya memakai sendal jepit. Dia tuan putri kesayangan yang manja seharusnya penampilan nya glamor namun semua tak nampak dari dirinya.


Entah ada magnet apa yang terus saja menarik ku untuk memperhatikan gerak gerik nya dan semua ini membuat debaran jantung ku semakin kencang berdegup dan tak beraturan.


Kami sampai di parkiran. Mona menoleh ke belakang


"bapak pulang dengan siapa? mana pak Hans?" dia celingukan mencari dimana mobilku parkir.


Alhamdulillah ternyata ada perhatian sedikit di hatinya, setidaknya dia mengkhawatirkan nasib ku.


"Hans ada di kantor tadi dia ada urusan" jawabku ini kesempatan untuk bisa nebeng dan dekat dengannya.

__ADS_1


" oooo " sialan, dia hanya ber ooo ria dan masuk mobilnya tanpa ada tawaran basa basi.


Nasib mu Barata!! dia yang tidak peka atau gimana??


Mona menyalakan mesin mobilnya lalu membuka kaca jendela sampingnya


"pak, saya duluan" pamitnya


"Mon.. bisa kah saya ikut... " Aaaaa aku menjatuhkan harga diriku. tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobilnya. dan menjadi penumpang di dalamnya.


"suka dengan tipe besar ya?" tanyaku basa basi


dia tidak menjawab hanya menatapku kesamping.


"biasanya kan para cewek suka mobil yang mini mini yang imut" kelasku dengan muka tembok.


Barata kenapa kamu jadi murahan begini....


"lebih terlihat sangar!! macho... terlihat lebih gagah kan" dia menjawab dengan semangat ternyata aku tidak salah memilih topik


"kan, ada banyak mobil feminim tipe untuk cewek-cewek?" tanya ku lagi memancing untuk cerita.


"banyak sih, kemarin papa beliin yang lebih feminim, tapi jarang aku pake gak banyak kapasitas yang di bawa, kalau yang ini kan banyak muat nya" pamernya sambil menunjukkan bahwa banyak perlengkapan yang dibawanya dalam setiap akan kerja.


aku memutar leherku kebelakang memang ku lihat banyak barang, dan box box di dalamnya mungkin perlengkapan syuting nya.


"bapak mau di turunkan dimana?" tanyanya tiba-tiba


"turun dimana?" aku bingung atas pertanyaannya mau jawab apa?


"terserah tuan sopir mau nurunin dimana?" aku pun balik nanya


"kok terserah sih!! aku mau pulang!! bapak mau kemana??" dia sewot


"ikut adek aja deh.. daripada nyasar" aku jawab asal saja dengan pasang wajah memelas.

__ADS_1


Mona diam, mungkin dia berfikir, tapi terserlah yang penting aku ikut dia aja.


"nyebelin juga nih orang" itu lirihan yang samar aku dengar dari bibirnya. kalau Sandra tuh bibir pasti sudah ku *****.


__ADS_2