Maaf, Mengambil Tunanganmu

Maaf, Mengambil Tunanganmu
keluarga yang kompak


__ADS_3

(Barata)


Siang ini aku ada janji menemui klien ku yang ada di kota ini. Perusahaan perumahan elit itu meminta perusahaan kami untuk mengisi furniture perumahan tersebut. Alhamdulillah, lumayan juga untuk tahap awal ini ada 100 unit.


Tiba di bandara aku langsung memerintahkan asistenku untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk meeting nanti.


"Hans, kamu duluan aja, aku mau menghampiri model untuk iklan perhiasan kita besok" ucapku pada Hans asisten merangkap sekretaris ku.


Aku punya dua sekretaris yang kedua nya seorang pria. Bukannya takut dengan Sandra tunangan ku tapi aku malas saja kebanyakan sekretaris cewek lebih mementingkan penampilan daripada kinerja.


Dan yang namanya wanita sehebat apapun memiliki keterbatasan. Batasan moral tidak bisa jalan atau kerja sampai larut malam, batasan suami dia harus menjaga kehormatan suami, batasan karena sudah memiliki anak ini yang susah tidak semua wanita bisa membagi waktu antara pekerjaan dan anak, ok lah ada baby sitter tapi apakah mau si anak lebih dekat dengan baby sitter daripada dengan ibunya sendiri.


Aku nanti begitulah inginnya kalau sudah berkeluarga istri diam aja di rumah jika ada usaha apa cukup mengontrol nya sekali kali, jadi kuality time untuk keluarga dan kualitas untuk pendidikan dari seorang ibu terjadi dengan maksimal.


Tapi itu khayalanku saja sepertinya, karena apakah mau Sandra diam jadi anak rumahan, memasak, ngasuh anak, bisa bisa kena stroke ringan mendadak dia.


Aku menghampiri Mona model yang direkomendasikan Jeong, entah sedang apa dia disini kelihatannya menanti seseorang


"selamat siang nona" sapa ku


"iya" jawabnya sambil menatap kearah ku


"ada yang bisa saya bantu?" tanya nya lagi, ups ternyata tipe cewek yang to the point, bagus juga jadi tidak usah berbasa-basi lagi langsung aja kepokok bahasan.


Ketika sedang asik ngobrol


"Adeeek" panggil wanita paruh baya yang langsung disambut Mona dengan pelukan.


Oo ternyata mamanya, masih muda dengan jilbab gaulnya yang di iket ke belakang. kelihatan nya berketurunan asing. pantas Mona cantik, ada keturunan bule nya.


Mona mengenalkan ku pada mamanya tapi ups enggak keren banget panggilannya "pak" setua itukah aku di matanya.

__ADS_1


Mamanya mengira aku pacarnya Mona, aku sih iya iya aja secara dapet cewek cantik ya mana nolak, tapi apa coba yang dikatakan Mona "aku sudah punya tunangan" ohh ya ampun Mona kamu mematikan kartu As ku.


Ada Bumi disini, oooo ternyata Mona adiknya Bumi teman kuliah pasca sarjana ku di Amsterdam. kenapa dia gak cerita kalau punya adik cantik begini.


Cerita singkat cerita mamanya yang supel itu mengundangku makan malam di rumahnya, salah ee bukan mengundang tapi memaksa tapi aku mau.


Terlihat sekali keluarga yang sangat kompak dan harmonis. Beda dengan keluarga ku satu di timur satu di barat tidak pernah ada candaan atau gurauan. Semua serba serius, serius ngurusin penampilan, ngurusin kehormatan, urus bisnis ini, semua serba glamor tidak sedikitpun kesederhanaan.


Mami sibuk dengan butik dan teman sosialita nya, papi sibuk dengan bisnis dan wanita-wanita nya. terkadang aku kasian dengan Lira dia menjadi korban ketamakan dan keserakahan kedua orang tuaku hingga dia tumbuh jadi cewek yang angkuh, arogan, semua harus nurutin dia. Terkadang tidak segan segan dia berkata kasar kepada siapa saja.


Kami sedang mencicipi masakan mama nya Bumi. enak,, dua jempol deh untuk mamanya Bumi.


Andai mami begitu pasti papi setia di rumah menanti masakan mami tiap saat.


Papanya Bumi pun ternyata kemari, mungkin sepi di sana sendiri mending nyusul aja.


Eeeee ternyata papanya Mona menduga aku pacarnya Mona sama seperti mamanya, duh kompak banget, pake telepati kali ya.


Tunggu dulu dari tadi kedua orang tua ini repot kali menuduh ku pacarnya Mona, apa segitu enggak pernah nya Mona pacaran atau dia sengaja enggak pernah ngenalin tuh pacar pacarnya. secara gak mungkin kan tidak ada seorang pria pun yang tidak tergoda dengan Mona. Aku saja kalau gak ingat Sandra mau dong jadi pacarnya.


Selesai makan kami berbincang-bincang


"jadi papa bisnisnya di bidang batubara jugq pa?" tanya ku yang memang akhir akhir ini sedang tertarik dunia itu.


"iya " papa mengangguk "kenapa tertarik?" tanya papa


"enak kok bisnisnya, cari lahan, keruk, jual" ucap papa seenak nya saja.


"pengen sih pa!! tapi masih bingung??" jawabku


"penasaran, tapi kalau ada pengusaha batubara yang Bara tanya-tanya jawabannya ngambang, jadinya masih bingung" sambungku lagi sambil menarik napas.

__ADS_1


"kalau papa, awalnya buka perkebunan kelapa sawit, ternyata di beberapa lokasi di dalamnya banyak terdapat batubara, jadi sebagian lokasi yang ada batubara nya saja yang papa bongkar selebihnya masih tetap kelapa sawit" jelas papa


"nantilah kapan-kapan Bara main ke tempat papa di Kalimantan, serius ini pa Bara pengen buka" aku makin penasaran dan pas juga dapet ilmu gratis nih dari papanya Mona


"ini yang papa suka Jiwa-jiwa muda yang semangat untuk maju" papa memuji, jangan memuji pa nanti jatuh karena melambung tinggi.


Mona dan mama hanya menyimak kami ngobrol.


"kalau mau kesana kasih kabar, nanti biar mama siap siap" ucap mama gayanya emang seperti emak emak pada umumnya


"sekalian ajak nih si adek, dia belum pernah kesana, selalu mama dan papa yang kesini" sambung mama lagi


"kamu belum pernah kesana Mon??" tanya ku heran


"belum pak?? takut jatuh ke laut pesawat nya" ucapnya polos.


"ah kamu dek, macem-macem aja alasannya, kemaren diajak katanya sibuk syuting" ejek Bumi


"eeee si adek kok panggilnya bapak sih, dari tadi papa bingung katanya temen Bara kelihatannya masih muda enggak nampak umur 30an kok panggilnya bapak?" papa protes dan membela para kaum Adam.


"iya dek panggil bang, kak, mas kenapa? macam formal banget deh denger nya?!?" yes, kalau mama sudah angkat bicara aku suka beliau lebih tepat sasaran kalau sudah bicara.


"ya kan emang bos nya adek, ya kan pak?" jawab Mona rada sewot


"tuh kan pak lagi, mas aja kenapa, orang surabaya panggilnya mas ya nak? maaf ini anak terlalu dimanja jadinya gini!!" ucap mama


"enggak apa ma senyaman nya Mona aja" jawabku walaupun dalam hati lebih senang dipanggil mas


"tu pak Barata aja enggak marah" kata Mona yang menurut nya ada pembelaan


"mas gak usah bapak" mama nyolot.

__ADS_1


"iya, mas" Mona mengalah aku senyum saja melihat interaksi keduanya sangat akrab dan hangat.


JADI IRI.....


__ADS_2