
Barata gugup tidak tau apa yang harus dilakukan. Dia hanya menghubungi Jeong meminta Syakila kemari.
Barata masih setia memeluk mona, dia bingung matanya juga sudah berair. berkali-kali dicium nya dahi Mona
"dek,, bangun dek,,,!!"
Tak seberapa lama Jeong dan Syakila tiba di apartemen Mona. karena memang posisi apartemen Mona yang dekat dengan rumah sakit tempat Syakila bekerja.
"Bar, ada apa?" tanya Jeong melihat Barata yang sangat cemas sambil memangku Mona dalam dekapannya.
"Mona pingsan Jeong, Sya tolong dia!!" pinta Barata memelas ketika melihat kedatangan sahabat nya itu.
Barata langsung merebahkan Mona di sofa dan Syakila memeriksanya.
"seperti nya masalah pencernaan, lambung Mona memang bermasalah sejak SMA. dia pernah masuk rumah sakit selama sebulan lebih" Syakila bercerita sambil terus memeriksa keadaan Mona.
drrtt drrtt drrtt handphone Mona bergetar yang ada di atas meja sofa.
"mama,, " kata Barata yang bertambah gugup
"angkat aja Bar, mana tau penting" usul Jeong
"Sya, kamu yang angkat!!" pinta Barata
Syakila: assalamu'alaikum
mama: waalaikumsalam, loh ini bukan adek?
Syakila: iya ma, ini Syasa
mama: ooo.. Mona nya mana?
Syakila: ma, mama jangan panik dulu ya, Mona pingsan tapi sudah Syasa periksa, nanti kalau ada apa-apa Syasa bawa ke rumah sakit.
mama: Sya.. mama ingin dengar mona, dia sudah siuman?
Syakila: belum ma, ini Syasa letak hapenya di telinga Mona
mama: dek.. adek... ini mama sayang
Mona sedikit narik napas dan mengerutkan dahinya
Mama: dek... adek...
Mona: ma... mama...
Mama: iya sayang ini mama, adek kenapa? tadi pagi enggak sarapan?
Mona: iya ma.. tadi cepat cepat
mama: siang enggak makan?
Mona : makan tapi sedikit
mama: malam udah makan?
Mona : belum...
__ADS_1
Syakila kembali mengambil alih handphone nya Mona.
Syakila: ini Syasa ma,
mama: sayang mama titip Mona ya, dia memang susah diajak makan selalu saja di ingetin
Syakila: iya ma
mama: besok mama kesana pagi pagi sekali, malam ini cuaca buruk jadi mama enggak bisa kesana.
Syakila: iya ma kalau enggak ada pasien darurat Syasa tidur sini nemenin Mona. Syasa juga baru datang dan langsung periksa
Mama: obatnya ada di kamar Mona, tanya dia aja ya..
ya sudah mama tutup dulu kalau ada apa-apa kabari mama
Syakila: iya ma Wasalamualaikum
Mama: waalaikumsalam
Syakila kembali meletakkan handphone Mona di meja.
"kenapa?? sudah tau ada riwayat jelek soal lambung masih saja telat makan bahkan tidak makan" Syakila mengomel dia beranjak ke kamar Mona mengambil obat lalu di letakkannya di meja sofa.
"minum dulu obatnya!!" Syakila kesal karena Mona tidak menjaga pola makannya.
"kenapa semua orang marah sama Mona??" Mona langsung memeluk Syakila.
"Mon, aku enggak marahin kamu, tapi kamu sakit di buat sendiri, masa dari pagi belum makan???!!" Syakila memeluk Mona yang saat ini sedang menangis dengan sedihnya
"ceritakan jangan di pendam nanti tambah sesak, asam lambung nya naik! !" pinta syakila
"pak Barata marahin aku Sya... di depan kru di depan orang-orang" tangis Mona pecah dan Syakila melotot tajam ke arah Barata
"waduh balak dua belas nih,, kayaknya lebih serem dari Mona nih" gumam Barata dalam hati yang dari tadi juga menyimak pembicaraan mereka berdua.
Setelah agak tenang Mona meminum obatnya dengan panduan Syakila.
"masih sakit??" tanya Syakila dan Mona menjawab dengan anggukkan
"kita pindah di kamar aja ya?? tanya Mona lagi dan Mona juga menjawab dengan anggukan kembali
" mas!! tolong bawa Mona ke kamarnya!!" seru Syakila pada Barata. dan dengan sigap Barata langsung mendekat
"aku bisa jalan sendiri kok" tolak Mona merasa tidak enak hati
"biar mas Barata aja Mon, biar dia tanggung jawab buat kamu sakit" ucap syakila terbawa emosi juga.
Mona diam saja ketika menggendong Mona masuk ke dalam kamarnya, dengan sangat hati-hati Barata merebahkan Mona ke tempat tidur nya. dan kemudian Barata duduk si tepian tempat tidur Mona.
"Mon, aku ambil makan buat kamu ya?" tanya Syakila dan Mona mengangguk.
"jadi enggak sotonya?" tanya Syakila, ternyataa tadi sore Mona sibuk berkutat di dapur sedang belajar buat soto.
"jadi,, tapi enggak tahu rasanya?" Mona tersenyum
"kebiasaan kalau masak enggak di cicip, kenapa sudah masak malah enggak makan?" goda syakila dan Mona hanya tersenyum lemah
__ADS_1
"aku ambil makan dulu!!" Syakila bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur
"bagaimana keadaannya dek?" tanya Jeong tiba-tiba yang sudah duduk di meja makan.
"kakak bikin adek kaget aja deh aah" Syakila menarik napas panjang dan mengusap usap dadanya
"kayaknya mereka berdua lagi ribut? jadi Mona ngambek!!! mogok makan!!!" jelas Syakila dan Jeong hanya menaikkan kedua alisnya
"emang mereka berdua ada hubungan apa??" tanya Syakila, Jeong hanya menaikkan kedua bahunya
"awas ya kalau ada apa-apa dengan Mona!!" ancam Syakila.
Di dalam kamar Mona dan Barata hanya berdiam diri. dan Syakila datang membawa makanan
"kenapa??" tanya Syakila
"kalau buka mata rasanya pusing" rengek Mona
"ya iya lah pusing!! enggak makan seharian asam lambung naik ke otak jadinya pusinglah" Syakila masih dalam mode emosi dia ngomel kayak emak emak.
"orang sakit itu di sayang, bukannya di marahin terus, kamu udah persis kayak mama" rengek Mona manja
"makan yang banyak!! biar ada tenaga supaya bisa marah balik tuh sama si borokokok bukannya mogok makan" omel Syakila.
mendengar hal itu, Barata langsung keluar dari kamar Mona.
"bukan mogok makan bu dokter, tapi males aja" elak Mona
"sama aja" Mona tidak menjawab karena mulutnya penuh di sumpal sesendok nasi oleh Syakila.
Barata duduk merebahkan diri di sebelah Jeong.
"kenapa??" tanya Jeong membuka obrolan.
"ehmmm" Barata menaikkan kedua alisnya lalu menatap Jeong
"lagi mencoba bermain hati??" tanya Jeong lagi.
Barata menarik napas panjang
"entahlah.... sejak kamu merekomendasikan dia jadi model iklan ku dalam reunian itu, sejak itu juga dia masuk kesini" Barata menunjuk tunjuk kepalanya.
"kadang secara kebetulan kami bertemu ku pikir itu takdir, kadang aku yang mencari-cari alasan untuk bertemu dengannya, dan ketika ada dia hatiku terasa nyaman suka sekali melihatnya, kadang dag dig dug rasanya jika berdua aja dengannya" kenang Barata mengutarakan apa yang di rasanya pada Jeong.
"bagaimana dengan Sandra?" tanya Jeong lagi dan membuat Barata diam berpikir sejenak
"itulah aku bingung, bersama dia aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini??
apa karena kami besar bersama ya? keluarga kami bersahabat dekat maka dari itu kedua orang tua kami memutuskan kami bertunangan!!" jelas Barata lagi
"terus terang bersama Sandra aku tidak pernah merasakan jantung seperti rasanya mau meledak??" tambah Barata lagi, Barata kembali menarik napas panjang.
"sepertinya beban hidupmu terlalu berat Bro" Jeong menepak pelan punggung sahabatnya itu.
Kasian si borokoko, kantin kalau jantungnya pecah gimana??
"
__ADS_1