
Pagi ini pagi pagi sekali Mona sudah bangun dan bersiap. Hari ini hari pertama penggarapan pembuatan iklan perhiasan perusahaan Barata. Sudah beberapa dress di cobanya, namun belum menentukan pilihan akhir.
Banyak pakaian yang terlempar di atas tempat tidurnya.
"pake yang mana?" Mona bingung, padahal pakai baju apa saja tetap terlihat cantik. dan biasanya tidak pernah juga dia seperti ini.
Akhirnya dia memutuskan memakai baju yang di titipkan Barata ke pelayan butik Dona kemaren. Sebenarnya memang sudah dari tadi dia mau memakai baju itu namun rasa gengsi ketika nanti bertemu Barata, karena sudah dipastikan biasanya hari pertama sang bos pengontrak bakal datang untuk mengecek semuanya.
"cuek aja kali ya, kalau di ledek nya!!!" gumam Mona sambil memakai baju pembelian Barata.
"pakai topi, pakai kacamata hitam, dahhh, kalau dia ngejek pura-pura enggak tahu aja" Mona merasa sudah siap dan berangkat, bekal sudah disiapin dari pagi tadi masukkan ke dalam mobil.
sudah dua hari ini Mona tinggal di apartemen nya, sang mama sudah pulang ke Balikpapan.
Mona naik mobil besar kesayangan nya. Mobil Hummer hitamnya yang gagah yang bertolak belakang dengan penampilan nya yang feminim.
Yah, senyaman Mona aja lah, dia memang dari dulu paling suka dengan tipe mobil mobil besar. beberapa bulan yang lalu papa nya membelikannya BMW i8 sebagai kado ulang tahun nya namun jarang sekali dia menggunakan nya katanya enggak keren enggak sanggar. Ada ada aja si Mona.
Kostum udah masuk, bekal, peralatan yang laen, ok. Mona pun menuju lokasi yang sudah ditentukan untuk pembuatan iklan nya. Dengan kelajuan yang santai Mona tiba disebuah gedung tempat perusahaan periklanan yang bekerja sama dengan perusahaan Barata.
Setelah parkir Mona turun dan menghampiri Melani dan Roy.
Roy adalah lelaki lemah lembut sebagai tim make up pribadi Mona.
"Mon, buka bagasinya eke mau ambil barang-barang!" walaupun kemayu tapi untuk urusan tenaga untuk angkat mengangkat Roy tipe orang yang gesit dan ringan tangan.
Ketiganya masuk ke ruangan yang di instruksi kan. Mona dengan serius berbincang dengan sutradara dan penanggung jawab lapangan.
"ada apa?" tanya Melani sang manager
"konsep iklan belum ada yang di setujui pihak perusahaan, belum deal!!" jawab Mona sambil mengerucutkan bibirnya.
"pantas saja belum menentukan lokasi syuting!!" Melani menambahi opini
"cerewet juga rupanya ya?" tambah Melani lagi
__ADS_1
"yah mungkin dia ada banyak pertimbangan pengen yang wah, atau yang simpel tapi di kenang orang yang melihat dan tertarik untuk beli itu kan susah, namanya juga bos ya harus cerewet lah!!" Mona tidak membela dia hanya berada di posisi netral saja.
"kenapa?" tanya Roy yang melihat lirikan Mona
"laper? tadi siapkan bekal aja tapi enggak sarapan!!" Mona sedikit manyun.
"mbak mona," panggil salah satu kru
"iya" jawab Mona
"kita diminta brifing dulu sebentar di dalam" jawab kru tersebut
"Mel, kamu duluan aja masuk, aku ke toilet sebentar!" ucap Mona yang menyuruh Melani duluan masuk.
lalu Mona ke. toilet sebentar untuk buang air kecil. Setelah selasai dia langsung menuju ruangan untuk brifing tadi.
Tok tok tok, Mona mengetuk pintu yang tertutup dan masuk. ternyata rapat sedang berlangsung. Bos besar sudah ada di depan dengan marah nya karena dari pihak periklanan sudah beberapa kali mengajukan konsep iklan tapi semua nya ditolak dengan alasan iklan nya biasa aja.
"saya tidak mengeluarkan uang yang sedikit untuk iklan ini dan saya inginkan keseriusan dari kalian, masa konsep nya saja belum ada, jangan sampai iklan selesai mepet dengan peluncuran produk!" Barata sedikit meninggikan suaranya
"ini modelnya?" tanya Barata tiba-tiba sedikit menghentak pada Mona, Mona mengangguk dan melemparkan senyuman terpaksanya,
Mona langsung tersentak di bilang begitu, dia tidak Terima dalam hati dia sudah datang dari tadi pagi lantaran dia ke kamar kecil saja, terus kalau marah pada pihak periklanan kenapa dia yang di bawa bawa jadi korban juga.
"saya tidak tau menau hari ini kalian harus menemukan konsep yang pas, setelah makan siang saya akan kemari lagi, saya pikir hari ini sudah mulai syuting nya, ternyata masih hanya menunggu buang waktu buang biaya, saya permisi." Barata pergi meninggalkan perusahaan periklanan itu bersama Hans sang asisten.
Mona tertunduk lesu, dia malas sekali dengan sindiran tadi.
"enggak usah dimasukkan dalam hati?" bujuk Melani
"namanya juga bos, kalau banyak pikiran ya cuma bisa marah marah!" tambah nya lagi
"iya," Mona langsung memeluk Melani
"maaf mbak Mona, gara-gara kesalahan kami mbak Mona kena getahnya juga padahal mbk Mona udah datang pagi kemari" sutradara iklannya meminta maaf atas ketidaknyamanan Mona.
"enggak pa pa mas,! emang si bos itu pengen konsep yang bagaimana sih? tanya Mona balik.
__ADS_1
" kami juga tidak tahu kami sudah mengajukan tiga desain iklan yang akan di buat, namun lagi lagi di tolak" jawab sang sutradara.
"ya, kita pikirkan sama sama saja konsepnya, sambil duduk memandang sekeliling, siapa tahu inspirasi datang" usul Mona "dan saya juga berharap inspirasi nya datang sebelum makan siang, kalau tidak kita kena marah lagi" ucap Mona dengan bercanda
"iya mbak ngeri juga ya, ganteng ganteng suka marah, tadinya eke naksir doi tapi lihat dia yang arogan gitu eke jadi mundur deh" Roy ikut nimbrung ngegosiip
"Roy, ikut cari inspirasi bagaimana iklannya" ajak Mona pada Roy, biasanya cowok lelembut itu yang banyak ide.
"Hans, aku tadi keterlaluan gak?" tanya Barata pada asistennya
"keterlaluan yang mana?" tanya Hans karena dipikirnya kejadian tadi wajar wajar saja.
"aku marahi Mona!" jawab Barata datar
"kok Mona sih, ya menurutku juga biasa aja marahi karyawan yang terlambat" jawab Hans
"biasa aja ya, wajar ya, ya sudah kalau begitu!" kata Barata.
kedua nya masuk mobil menuju kantor mereka yang ada di jakarta. Dalam perjalanan nya Barata diam saja, dia berfikir melihat raut wajah Mona ketika Barata membentaknya tadi, dia juga sudah mempermalukan Mona di depan kru tadi sewaktu brifing.
"dek, maaf yang tadi" Barata mengetik di menu whatsapp di handphone nya yang akan di tujukan kepada Mona, lalu pesan itu di hapus kembali.
Barata bimbang mau ngetik apa, namun keadaan bimbangnya menuai perhatian Hans yang sedang menyetir di sebelah nya.
"yah, kalau emang enggak enak hati karena marah tadi, minta maaf aja, daripada di kantor nanti marah marahnya berlanjut!" ledek Hans dengan sedikit memberi saran
"apa gak pa pa?" tanya Barata pada Hans
"ya enggak pa pa, daripada mood nya ilang karena ngambek, iklan nya malah gak jadi jadi!" ledek Hans
"bilang apa?" tanya Barata
"bilang aja maaf" Hans sudah mau tertawa dalam hati, bosnya ini udah tua, udah punya tunangan tapi baru kali ini merasakan galau
akhirnya Barata mengetik di handphonenya dan mengirimkan kepada Mona
"maaf"
__ADS_1
sudah cuma satu kata itu yang tertulis dan terkirim.
Hans menggeleng, masa tidak ada kata kata embel embel yang lain.