
Sepulang dari bandara, mama minta dianterin ke pasar. Bumi menolak dia menawarkan belanja di mall atau swalayan saja. Mama membantah dengan alasan di pasar harga lebih murah dan kondisi sayur atau ikan yang kita inginkan masih dalam keadaan lebih segar. Namun dengan segala perdebatan akhirnya kedua anaknya mengalah dan menemani mamanya ke pasar tradisional.
Keduanya mengikuti sang mama dari belakang.
"ma, masih lama ya?" tanya Bumi yang sebentar sebentar nengok jam mahal di tangannya.
"adek sih gak bilang kalau udah jemput mama!! begini deh kejadiannya kejebak di pasar!! mana bau pakaian udah sama dengan bau ikan yang mama beli" sepanjang jalan Bumi mengomel saja. Sedangkan Mona menikmati perjalanannya. melihat orang orang berinteraksi di pasar. interaksi antara penjual dan pembeli yang saling tawar menawar
"kak, coba tengok deh cewek itu!! tawar menawar enggak sudah sudah padahal cuma beda dua ribu aja saling ngotot" tunjuk Mona pada cewek sederhana namun terlihat jelas kecantikannya.
Bumi mengeluarkan uang seratusan "mbak dibeli aja" dia memberikan uang tersebut pada cewek cantik tadi. Dan yang menerima uang tersebut kaget, bengong, apa maksudnya ini
"hei tuan, tunggu!! ini uangnya, nonaaa!!" cewek tersebut menjerit namun Mona dan Bumi sudah berlalu.
Mereka bertiga akhirnya menyelesaikan shoping nya di pasar tradisional itu.
"huhhh, akhirnya, penderitaan berakhir!!!" Bumi bernapas lega. beda hal yang di rasakan Mona
"uhhmm, kapan-kapan hunting kemari ah, lumayan tadi aku tengok dibagian pakaian bagus-bagus" gumamnya dalam hati.
Mona memang tipe cewek yang tidak makan merek, asal pakaian itu bagus pas di tubuh dan serasi meskipun beli di pasar tradisional atau pedagang kaki lima dia tidak segan untuk beli dan memakainya. Dia pikir kalau semua harus serba bermerek habislah honor modelnya sekali dapet proyek.
Dia masih ingin bercita-cita membuka spa, sudah itu mau buka restoran serba bakar, mau bUka butik, dan lain-lain. Dia sadar dunia model ini sangat singkat kalau cuma untuk dibelikan hal yang tidak penting maka hilang, lenyap sudah penghasilan jerih payah nya menjadi model. Sekarang umurnya sudah 25 tahun di umur 30 orderan sudah sepi bahkan tidak sama sekali.
"akhirnya sampai juga di rumah" celoteh Bumi yang tidak rela harinya hari ini di isi dengan jalan ke pasar tradisional. dia bergegas naik keatas ke kamar nya untuk mandi dan ganti pakaian.
Sedangkan Mona dia ikut membawa belanjaan mama dan membantu mencuci sayuran yang di beli mama tadi. Setelah siap baru dia masuk ke kamarnya yang ada di lantai bawah.
Rumah ini dulunya banyak penghuni namun semakin dewasa para penghuninya semakin sibuk. Mama dan papa lebih sering di Balikpapan, bang Pagar paling jika ada urusan atau undangan atau lebaran baru pulang. Bumi dan Mona lebih suka tinggal di apartemen nya. jadi tinggallah para pelayan yang menikmati rumah besar ini.
Mama sudah memasak berbagai masakan. Mama memang paling suka memasak untuk keluarganya, rasanya ada kepuasan tersendiri jika masakan nya habis di lahap di meja makan.
Mama selalu mengabdikan dirinya untuk suami dan anak-anak nya. Dari hal kecil hingga persoalan besar selalu menjadi pusat perhatian mama.
"dek, ngapain kak Bumi tadi ngasih cewek itu duit?" tanya mama yang rupanya memperhatikan gerak-gerik kami ketika di pasar tadi.
"mungkin kesal aja tawar menawar gak sudah sudah!" jawab Mona asal
"mereka kenal dek?" tanya mama semakin penasaran
"ya enggak tau, tapi kayaknya enggak kenal deh! karena cewek tadi juga jerit jerit panggil kami tuan dan nona, dia kaget paling tau tau di kasih duit merah" Mona semakin asal jawabnya
"Ma, makan siangnya kok cuma ini aja??" Mona protes bingung ketika mereka makan siang.
"perasaan mama tadi masak banyak dan enak-enak?" Mona makin bingung, sejak kapan mama masak disembunyi sembunyikan.
"udah makan yang itu aja, yang tadi mama masak untuk nanti malam!! awas ya kalau mama lihat habis?!! mama malas masak lagi!!!" ancam mama
__ADS_1
"yaaah mama jadinya kita makan sambel tempe, ikan lele goreng ama cah kangkung ini? tanya Bumi
" kalau tau begini gofood aja" tambah Mona
"abisin jangan tidak berterimakasih" ancam mama lagi. terpaksa deh.
Setelah magrib pintu ada yang mengetuk. Bik Inah membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.
yah tamunya tak lain Barata, tadi dia sudah menghubungi Bumi minta dikirimkan alamatnya.
Mona baru saja keluar dari kamarnya. Dia mengenakan dress sederhana selutut.
Setelah menunaikan shalat magrib mama langsung menata makanan di meja makan. Mona pun langsung membantu mama.
Barata dipersilahkan duduk di ruang keluarga yang langsung terhubung dengan ruang makan mereka.
"kak Bumi tamu nya udah dateng" Mona memanggil Bumi ke lantai atas. Keduanya pun turun
"adek nak Bara sekarang bukan tamu lagi dia sudah jadi anak mama" ucap mama yang protes sebab Mona memanggil Barata tamu
"pak," Mona sedikit membungkuk tanda hormat.
Bumi langsung duduk di sebelah Barata
"baru aja, bokap dimana?" tanya Barata sedikit ragu
"sudah dua tahun ini mama sama papa menetap di Kalimantan. dan setiap sebulan sekali mama selalu menyempatkan masak untuk kami" kata Bumi menatap mamanya
"biasanya jarang mampir kesini, biasanya dari bandara langsung ke apartemen Mona" jelas Bumi
Barata menanggapi dengan mengangguk saja.
"pencernaannya sedikit bermasalah jadi tidak terbiasa makan makanan luaran, tuh koper biasanya isinya masakan mama yang dikemas dari sana, entah kenapa hari ini kok gak masak dari sana, katanya biar tahan lama jadi masak disini aja" cerita Bumi
"dia manja banget ya" tanya Barata
"enggak, dia cukup mandiri menurutku, namun mama aja yang berlebihan" Bumi menaikkan kedua alisnya "mungkin karena dia putri satu-satunya dan kemaren hampir sempat kecolongan, dia sakit koma hampir seminggu, opname hampir sebulan di rumah sakit" kenang Bumi.
"ohh, gadis ceria begitu bisa sakit juga?" tanya Barata heran
"iya itu tadi masalah pencernaan" jelas Bumi kembali
"yuk makan kayaknya udah siap dari tadi" ajak Bumi.
Bumi dan Barata sempat ngambil S2 bareng di Amsterdam, jadi hubungan keduanya cukup baik. Dan juga sering berjumpa di Surabaya karena Bumi ada bisnis konveksi di kota tersebut.
__ADS_1
Mama sangat senang makan kali ini teryqluhat dengan menu yang sangat lengkap.
"mama, kayaknya makan besar nih" puji Barata sambil salim tangan kepada mama
"lihat kamu mama jadi inget abangnya Bumi, yang ada di Malaysia, udah lama enggak pulang" ucap mama sedikit sendu
"bang Pagar Bum?" tanya Barata pada Bumi
"bapak kenal sama bang Pagar?" tanya Mona tiba-tiba yang dari tadi hanya menyimak mereka ngobrol
"bang Pagar pernah jenguk kami waktu di Amsterdam ya kan Bum?" tanya Barata meyakinkan
"iya" jawab Bumi
"sudah kita makan dulu, ngobrol nya disambung lagi setelah makan" ajak mama
Mereka makan dengan santainya.
"ma, boleh tanya ini apa yang dibungkus?" tanya Barata
"ini nasi bakar isi seafood, ini khas Balikpapan, nah yang ini coto makasar ini request nya papa kalau dia ada di sini" jelas mama
"request adek juga ma" protes Mona merasa dilupakan
"iya si adek paling suka sama cOto makasar buatan mama" jelas mama
Ketika sedang asiknya makan
"assalamu'alaikum" ucap pria paru baya dari sudut ruangan
"waalaikumsalam" Mona langsung kabur peluk papa nya mungkin hampir satu bulan mereka enggak ketemu. "duh yang makan-makan enggak ajak papa" goda sang papa. Mona hanya senyum sambil menuntut papanya ke meja makan.
Mama langsung mencium tangan papa lalu papa mencium pipi mama. "makanlah dulu, tuh ada coto kesukaan papa" tunjuk mama
"waah," papa memandang makanan yang ada di atas meja "Loh ini ada siapa? pacarnya adek?" tanya papa tiba-tiba menebak dengan tebakan yang salah
"bukan pa" protes Mona "ini pak Barata bos Mona" Mona memberitahu papa
"mau nya mama sih begitu sama kayak papa" ucap mama mengadu
"dia temen Bumi kuliah di Amsterdam kemaren pa, ini lagi mau ada peluncuran produk baru dan ingin mengontrak Mona untuk model iklan nya" jelas Bumi
"ohh, kirain papa pacar nya Mona, maaf ya nak Barata" ucap papa jadi enggak enak hati.
Mama sama papa kompakan, kebelet punya mantu kali ya
"udah makan dulu, nanti baru ngobrol masalah yang lain lain!!! oke???" ucap mama sedikit meninggi
__ADS_1
"siap nyonya besar" papa, Bumi, dan Mona kompak menjawab dan Barata hanya tersenyum.