Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 10. MALU DAN KETAKUTAN


__ADS_3

Senandung nada mengalun di bibir pink tipis itu kala membuka lemari pendingin. Tangan dengan cekatan meraih susu kotak. Menutup perlahan pintu kulkas. Nyanyian di bibir nya terhenti saat manik mata madu itu melirik buah jeruk di atas meja. Pangkal hidung nya mengerut bersamaan dengan dahinya. Senyum aneh terbit wajah manis gadis berkaca mata itu. Kotak susu di letakan di atas meja. Ia meraih jeruk yang cukup besar di tangan nya.


"Wah! Jeruknya saja sebesar ini!" Monolog Dara meraba-raba buah jeruk yang berada di tangannya.


Manik mata madu itu melirik ke bawah. Helaan napas terdengar samar. Bibir bawah nya di gigit pelan. Otak gila! Bagaimana bisa ia menuruti keinginan otaknya. Dengan senyum malu mengembang, Dara memasukan jeruk Mandarin itu ke dalam bra nya. Mengisi ke dua sisi dengan buah jeruk. Ia terkekeh kecil melihat dadanya tampak begitu besar. Karena ulahnya sendiri.


"Dara!!! Cepat bawakan susunya!!!"


Teriakkan keras di kolam berenang yang berada tepat di belakang dapur. Membuat Dara kalang kabut, gadis culun itu berlari cepat mengambil nampan dengan dua gelas. Tidak lupa meletakkan susu kotak di atasnya. Gadis ini berjalan terburu-buru, sialnya. Malah lupa dengan buntalan yang kini menonjol di dadanya.


Tom dan beberapa orang yang berjejer rapi membulat kan ke dua mata mereka, melihat Dara. Ah! Ralat. Melihat dada gadis Asia itu yang tiba-tiba membesar dalam hitungan menit. Mau suntik implan pun butuh waktu yang lama bukan? Tapi kenapa gadis berkaca mata itu malah bisa membesarkan miliknya dalam hitungan menit?


"Ini!" Seru Dara terdengar terengah-engah sembari meletakkan nampan di atas meja.


Byuur!!!!


"Ih! Menjijikan," dumel Dara melihat Mark menyemprotkan air mineral yang sempat masuk ke dalam mulutnya.


Alex Bos Mafia Kejam itu menaikan sebelah alis matanya saat tanpa sengaja malah menatap dada Dara yang mengembung. Lucunya, gadis itu malah tak sadar apa yang membuat Mark menyemburkan air.


"Wah! Gedenya!" seru Mark sebelum mengusap air yang membasahi dagu lancip milik nya.


"Apanya?" Dara terlihat keheranan dengan senyum mesum yang kini terbukti di wajah Mark.


"Asli nggak itu?" bukan menjawab Mark malah kembali bertanya.


Dahi Dara semakin mengerut saja. Alex tidak ambil pusing. Bos Dragon itu memilih menuangkan susu ke dalam gelas. Menyesapnya perlahan.


"Apaan, sih! Gak jelas banget!" tukas Dara terdengar kesal.


Mark bangkit dari posisi duduk nya. Melangkah mendekati Dara.


"Ini maksudku. Asli nggak sih?" Mark dengan kurang ajarnya menoel buah jeruk di balik baju kaos Dara.


Plak!


"Kurang ajar banget tanganmu!" Dara menepis tangan Mark dengan wajah memerah.


Sebelum sadar kala menunduk. Mark hanya terkekeh mesum. Oke, Dara memaki dirinya untuk pertama kalinya hanya karena kebodohannya. Kenapa ia bisa lupa mengeluarkan jeruk Mandarin di dalam bra-nya. Sekarang dia harus bagaimana?


"Silikon?" Mark berseru kembali.


Dara mengangkat dagunya dengan pongah."Enak saja," bantahnya,"ini karena aku tidak pakek bra!" sambungnya tak tau malu.


Mau bagaimana lagi. Sudah kepalang basah. Lebih baik mandi sekali, bukan?


Mark tergelak keras."Bohong!" tuduh Mark.


Dara menghela napas."Terserah mau percaya atau nggak. Aku nggak peduli!" tukas Dara.


Mark tersenyum miring."Percaya kok, kalau sudah pegang!" lanjut nya sebelum bergerak ingin menyentuh kembali.

__ADS_1


Dara menghindar. Mark berlari mengejar Dara. Gelak tawa dari Mark terdengar lantang. Alex tidak peduli dengan ke dua nya, pria berwajah dingin itu memilih membuka email di ponsel nya.


"Hat——" baru saja Mark ingin memprihatinkan Dara.


Gadis itu sudah tersandung duluan oleh kakinya sendiri.


Bruk!


"Akh!!?" Dara merintih kala terjerembab ke depan.


Tuk!


Tuing!


Tuing!


Tuing!


Tuk!


Oh Tuhan. Tolong bunuh saja Dara Margaretha saat ini juga. Ke dua jeruk Mandarin itu terbang dari tempat nya. Satu menggelinding jatuh masuk ke kolam satu lagi menggelinding menghantam kaki Alex.


Pria yang di hantam jeruk Mandarin dari balik bra Dara. Ia menunduk dan meriah benda bulat cukup besar itu. Dengan dahi berlipat. Alex tidak memperhatikan yang terjadi. Pria itu menoleh ke depan. Di mana Dara tengkurap dengan senyum di paksakan.


Satu detik!


Dua detik!


Tiga detik!


Gemuruh tawa terdengar jelas. Bukan hanya si manja Mark saja yang tertawa keras. Bahkan Tom dan para anggota Dragon yang lainnya tertawa keras melihat apa yang terjadi. Mark merosot berguling-guling di lantai kumuh itu. Mark bahkan lupa tempat ia berguling hanya karena merasa perutnya keram karena tertawa. Tak jauh berbeda, anak buah Alex pun juga tertawa keras dan terbatuk-batuk duduk di lantai.


Dara mukanya memerah sampai ke daun telinga. Gadis itu bangkit dengan cepat dan berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah. Alex masih tidak mengerti situasi. Ke dua mata nya berkedip cepat. Dengan rasa ketidak pedulian, Alex meletakan buah bulat itu di atas nampan. Kembali melanjutkan pengecek kan email di ponsel nya.


Mark sudah, K.O dengan tawanya. Air matanya ikut meleleh keluar. Gadis bodoh! Bagaimana bisa melakukan pertunjukan selucu itu.


...***...


"Kau meminta aku berurusan dengan Alex Felton?" ujar pria bermata biru itu dengan nada tak percaya.


"Ya, bukankah jika kita membuat Alex lumpuh dan hancur akan memberikan tuan keuntungan besar?" tawar Alan dengan nada merayu.


Pria paruh baya dengan banyak bintang di ke dua dadanya itu mendengus keras. Pria yang menjadi atasan dengan kedudukan tinggi kepolisian Texas ini jelas tak ingin berurusan dengan Alex Felton. Mafia Kejam berdarah dingin di itu sangat mengerikan di matanya. Baginya, tidak ada yang lebih mengerikan selain berhubungan dengan seorang Bos Mafia.


Kelompok Mafia Dragon benar-benar bringas. Saat mereka telah mencengram mangsa. Maka sampai tercabik-cabik pun, mereka tidak akan melepaskan mangsa buruan. Bahkan jika mayatnya di buang keluar, itu lebih buruk dari pada hanya melihat tulang belulang. Semua organ tubuh yang berharga di ambil dari tempat nya.


Masih melekat di ingatan nya. Sang atasan yang menempati posisi nya dahulu. Mencoba menyingung Dragon. Ia di temukan mati mengenaskan. Bukan hanya dia saja, seluruh keluarga nya di bantai oleh Dragon dengan cara yang mengenaskan. Alex Felton tidak punya belas kasih. Tidak punya rasa iba saat menghabisi orang yang baik sengaja menyinggung nya ataupun yang tidak sengaja menyinggung dirinya.


"Kalau begitu, tuan muda Lewis saja yang melakukan nya. Aku tidak ingin mendapatkan kematian mengenaskan. Apa lagi keluargaku, mereka tidak boleh mendapatkan rasa sakit dari kesalahanku," bantahnya.


Alan terkekeh sinis."Tidakkah Anda dendam tuan Domani? Atas apa yang dia lakukan lima tahun yang lalu pada atasan serta teman-teman seperjuanganmu yang mati mengenaskan?" hasut Alan.

__ADS_1


Dendam? Apa penting nya mendendam. Bagi Rogan Domani, lebih baik hidup dalam kedamaian. Keluarga nya adalah nomor satu. Ia memiliki dua orang putri cantik dan seorang putra yang tampan. Anak-anak nya yang berharga, jika bisa Rogan tidak ingin bersinggungan dengan seorang Alex Felton si Mafia Kejam.


"Tidak," jawab Rogan.


Pria paruh baya itu berdiri dari posisi duduknya."Untuk selanjutnya, aku berharap Anda jangan menghubungi saya lagi!" lanjut nya lagi.


Ia melangkah keluar dari ruangan pertemuan. Alan mengerang kasar.


Brak!!!!


"Kenapa tidak ada satupun yang bisa berjalan sesuai keinginanku!!!!" serunya dengan napas memburu. Ke dua matanya memerah dengan kilatan kebencian di dalamnya.


...***...


Brak!


Pintu kamar terbuka kasar. Dara tersentak dari posisi tidur nya. Rasa kantuk yang sempat membuainya untuk tertidur hilang begitu saja. Di ambang pintu Emma masuk terburu-buru.


"Dara pergilah ke kamar, Bos!" serunya dengan nada dan wajah tampak aneh.


Gadis itu meraih kaca mata bulat tebal itu. Sebelum melirik jam weker yang berada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.


"Ada apa?" tanya Dara dengan nada serak.


Emma menarik cepat Dara."Tidak ada waktu kau turuti saja apa yang aku katakan!!!" Emma tampak panik.


Ia menarik tangan Dara. Mau tak mau gadis berkaca mata itu ikut berlari menuju kamar Alex. Di luar kamar ada Tom berdiri di depan pintu. Pria berkulit hitam itu menatap lambat Emma yang berdiri di depan tubuh Dara.


"Kenapa kau bawa dia, Emma?" protes Tom terdengar tak suka.


Emma melirik Dara dengan ekor matanya. Sebelum menghela napas.


"Kita tidak punya waktu banyak. Hanya ini pilihan yang terbaik," ujarnya dengan nada gusar.


Dahi Dara berkerut dalam. Tom kembali melirik Dara. Pria itu memberikan kode untuk Dara masuk. Emma mendorong pelan punggung belakang Dara memasuki kamar.


Kreat!


Klik!


Dara menoleh kebelakang. Pintu di kunci dari luar. Dara menoleh kembali ke depan. Kamar Alex tampak berantakan. Cahaya kamar temaram.


HAP!


Buk!


Tubuh nya dengan cepat di tangkap dan di dorong ke dinding. Hembusan napas pria itu tampak baik turun. Ke dua matanya memerah dan menajam.


"Bo...bo...bos..." Dara berucap panik.


Ke dua tangan nya di tahan ke atas. Bahkan lidah Alex menjilat perbatasan leher Dara. Gadis itu terpekik keras kala gigitan di keras di lehernya. Darah merembes keluar.

__ADS_1


"Ssssttt!!! Kau harus diam. Aku tidak suka jika mayat bisa bicara!" ujar Alex dengan nada yang sangat menyeramkan.


Tawa pria itu menggelegar. Tubuh Dara bergetar hebat. Alex, menakutkan. Dia terlihat berbeda. Aura yang di pancarkan terasa begitu menyeramkan.


__ADS_2