
Ke dua mata pria gagah itu terbelalak mendengar penuturan anak buah nya. Ke dua tangannya mengepal erat. Hingga buku-buku jari jemari itu memucat.
"Apakah sudah di periksa sampai ke akar-akarnya?"
Kepala pria berkulit hitam pekat itu mengangguk cepat. Kelopak mata nya di tutup perlahan. Bagaimana bisa? Otak cerdasnya seketika membeku. Tidak mungkin bukan Tessa dan adiknya? Ini gila.
"Bahkan karena fakta ini. Nona Brown membunuh Tessa. Jasad Tessa di bakar tadi malam. Nona Brown benar-benar tengah marah besar. Apalagi kondisi Juan Brown kritis saat ini. Seperti nya Tessa benar-benar telah merencanakan semuanya."
Pria itu menjelaskan dengan lugas. Alan Lewis membeku sesaat, ke dua telapak tangannya di angkat. Ia mengusap kasar wajah gagah nya. Kenapa Alex Felton diam saja saat ia menuding nya sebagai seorang pembunuh. Bos Mafia kejam itu bahkan tidak membalas perkataan nya. Pria itu hanya menatap nya dengan pandangan dingin saja.
Alan Lewis merasa bodoh seketika. Jadi, selama ini Alex memilih diam hanya untuk menjaga harga diri sang adik. Jujur Alan merasa menyesal terus mendesak bahkan terus melancarkan serangan pada Alex. Hanya dia yang membenci, pria itu hanya diam dan menangkis semua serangan serta rencana liciknya. Meskipun begitu, Alan tidak bisa mengakui akan kesalahannya.
Lebih baik, ia jauhkan adik nya yang masih hidup dari Texas. Meski hatinya merasa bersalah pada Jenni. Perempuan itu benar-benar tulus mencintai sang adik. Bahkan selama bertahun-tahun kematian Zain. Jenni sama sekali tidak pernah terlibat percintaan dengan satu orang lelaki pun. Tapi, sang adik malah menyakiti perempuan yang tulus itu begitu saja.
"Sekarang apa yang ingin tuan rencana kan?"
Alan menarik napas dalam-dalam. Sebelum menghembuskan nya perlahan.
"Bawa Zain keluar Texas. Ada baik nya meninggalkan Texas untuk saat seperti ini. Lagipula, tidak ada lagi yang perlu kami pertahankan di sini." Alan menjawab dengan nada lirih.
Dendam yang di balas sudah tak lagi ada. Semuanya telah sangat jelas. Lelaki mana yang mampu menahan sebuah pengkhianat di dunia ini. Jika pria lain yang menjadi selingkuhan kekasih Alex. Maka sudah pasti akan tidak akan ada rasa sakit teramat dalam. Sayang nya, sang adiklah yang berbuat salah terlebih dahulu. Walaupun begitu, bagi Alan Lewis. Zain Lewis adalah keluarganya yang berharga. Adik nya satu-satunya.
"Baik, tuan." Pria itu membalik kan tubuhnya. Sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan Alan.
...***...
"Bagaimana dengan keadaan Juan?"
Seruan dari suara bariton itu membuat kepala Jenni menoleh ke belakang. Wanita cantik ini sudah meminta maaf akan perbuatannya pada Alex. Kini mereka sudah sama-sama berdamai. Jenni menghela napas pelan.
__ADS_1
"Kata Dokter kondisi nya, masih belum lepas dari masa kritis. Apa lagi dia kehilangan banyak darah," balas Jenni lemah.
Alex mengambil langkah sekali lagi. Berdiri di samping Jenni, menatap ke arah ruangan berlapis kaca. Di sana Juan terbaring dengan banyak alat bantu. Leher pria itu terluka cukup parah.
"Dia akan segara bangun." Alex memberikan kata-kata harapan untuk Jenni.
Kepala Jenni mengangguk cepat."Ya, adikku akan kembali bangun," jawabnya,"lalu bagaimana dengan keadaan Adella?"
"Berangsur-angsur membaik. Hanya saja, dia sudah pasti sangat membenciku."
Jenni menoleh ke arah Alex. Wajah pria itu tampak letih dan menyedihkan. Seperti nya, pria ini benar-benar terperangkap dalam cinta yang dalam pada gadis culun itu. Jenni mengulas senyum.
"Wanita itu unik, Alex. Mereka bisa memberikan maaf dan bahkan memberikan kesempatan kembali pada pria yang menyakiti nya. Percayalah, meskipun Dara saat bangun akan marah dan berkata ia membencimu. Tapi, percayalah di hatinya masih tersisa cinta untukmu," balas Jenni dengan nada bijak.
Alex mengulas senyum tipis. Kala bayangan wajah Dara di pelupuk mata. Senyum gadis berkaca mata itu. Keberanian Dara menghadapi dirinya, serta kekonyolan gadis itu bersama Mark sang adik.
"Bisakah ia memaafkan aku?"
Alex terkekeh kecil. Jenni Brown, wanita di samping nya ini adalah wanita yang hangat dan manis sebenarnya. Karena itulah Zain jatuh hati pada kejang Jenni. Sayangnya, wanita yang di nilai hangat ini juga mampu menjadi pribadi yang berbanding terbalik dengan sifatnya. Saat ia di sakiti. Dan Alex Felton telah melihat sisi kejam dari seorang Jenni Brown.
"Terima kasih, Jen!" seru Alex.
"Hem..." Kepala Jenni mengangguk pelan.
Ke duanya menatap Juan yang terlihat tertidur tenang di dalam ruangan ICU. Pria itu seperti nya sangat betah memejamkan ke dua matanya. Di antara Alex Felton dan Zain Lewis. Juan Brown adalah lelaki yang hangat dan adil. Pria di dalam sana semasa mudanya di habiskan untuk banyak menolong orang-orang yang membutuhkan.
Alex masih ingat kenapa tuan muda Brown yang kaya itu sangat ingin menjadi seorang dokter. Ia berharap bisa memberikan banyak bantuan pada orang-orang yang tidak punya uang. Di banding hanya menyumbang uang. Juan lebih suka langsung terjun di lapangan, menjadi tenaga medis. Sungguh, mulia.
...***...
__ADS_1
"Ayolah! Kau tak sayang aku!"
Si manja Mark Felton terdengar merengek pada gadis yang tiga jam yang lalu membuka mata. Gadis yang masih terbaring lemah di atas ranjang pesakitan itu hanya mampu mengeleng lemah.
"Cih! Kau jahat sekali. Kenapa sih nggak mau balik lagi ke rumahku," kesal Mark,"atau kamu mau aku belikan apartemen?" sambungnya.
Dara menghela napas."Aku punya rumah sendiri, Mark."
"Ha? Rumah siapa?"
"Rumahku."
"Rumah di Indonesia?" tanya Mark dengan wajah bodoh.
Dara mengeleng kecil. Ia kembali mendapatkan ingatan nya di saat usia enam tahun. Dara Margaretha adalah anak yang cerdas. Dari kecil ia sudah mampu mengingat banyak hal secara detail. Otak jenius nya, membuat ia di berikan beasiswa. Tidak sulit bagi Dara untuk belajar. Syok karena kecelakaan, membuat ia kehilangan beberapa kenangan indahnya.
Tinggal di panti asuhan. Ia di pulangkan ke Indonesia oleh pemerintah. Masih melekat di ingatan Dara. Ia menjadi pendiam setelah kematian orang tua nya. Ia bahkan lupa dengan rumah yang di beli oleh sang ayah. Kini ia mampu mengingat semuanya. Kisah samar kini mampu ia ingat dengan jelas.
"Rumahku di Texas," bakanya pelan.
"Bagaimana bisa kau punya rumah di Texas?" tanya Mark dengan wajah penasaran.
"Cerita nya panjang. Aku mau istirahat, kau keluarlah!" usir Dara dengan nada lemah.
Mark membuka bibir nya. Namun mengatubnya kembali. Pria ini berpikir Dara membutuhkan waktu sendiri saat ini.
"Baiklah. Aku di rumah tamu. Jika kau butuh apa-apa. Ini! Langsung telpon aku, ya!" Ujar Mark sembari meletakan ponsel Dara yang di tinggalkan oleh gadis ini di rumahnya.
Dara mengangguk pelan. Mark membalikkan tubuhnya. Melangkah menuju pintu. Ruangan VIP yang di sekat dengan ruangan tamu serta dapur mini. Mark terkejut kala membuka pintu. Di mana di samping dinding, Alex bersandar. Dengan perlahan-lahan Mark menutup pintu ruangan Dara.
__ADS_1
"Kau tidak ingin masuk menemuinya?" tanya Mark.
"Tidak. Nanti saja," balas Alex pelan.