
Manik mata hijau bening itu melirik monitor layar komputer nya. Pengunjung Mall tampak begitu ramai di hari Minggu. Bahkan untuk bioskop terlihat padat dengan banyaknya pasangan kekasih yang datang dari siang.
Tok!
Tok!
Tok!
Netra hijau melirik pada pintu ruangannya.
"Masuk!" seru Mark keras dari dalam.
Klik!
Kreat!
Pintu terbuka perlahan. Wanita cantik dengan body bak gitar spanyol. Depan belakang mengiurkan. Bibir merah maron di dada belahan dadanya tampak mengintip di balik baju kerjanya. Di tangannya ada berkas pemasukan dan data pengunjung.
"Saya ingin memberikan laporan pemasukan dan statistik pengunjung di Mall, Pak!" Ujarnya sembari memberikan berkas pada Mark.
Mark Felton tampak begitu mempesona dengan dua kancing kemeja putih terbuka. Dasi yang semula melekat melingkar di kerah baju. Terlihat telah longgar, itu sungguh membuat wanita satu ini merasa panas dingin melihat keseksian pria berusia dua puluh enam tahun ini.
Mark Felton tampak serius membuka laporan yang di berikan. Sekretaris cantik berambut pirang itu menelisik setiap visual mumpuni dari sang CEO. Jujur saja dia sangat ingin naik ke atas ranjang Mark Felton. Melihat betapa panasnya pria satu ini. Entah kenapa sudah begitu banyak baju yang ia pakai untuk menggoda Mark Felton. Rok pendek nyaris memperlihatkan dalamnya. Banyak usaha yang di lakukan untuk bisa membuat Mark tergoda dengan kemolekan tubuh nya. Anehnya pria ini malah biasa saja. Seolah-olah ia hanya melihat pandangan dinding saja.
Bukankah itu mengesalkan? Apakah ia tidak menarik?
Apa yang kurang dari dirinya. Dia cantik, pintar dan seksi. Lucunya, jangan kan di sentuh di lirik saja Mark tidak pernah padanya.
"Apakah ada yang masih di butuhkan nona Robert?" seru Mark tanpa mengangkat pandangan nya pada wajah sang sekretaris.
"Tidak, Pak!" jawab nya dengan nada lemah.
Wanita itu membalik kan tubuh nya. Melangkah menuju pintu keluar. Beberapa langkah lagi tungkai kaki jenjang yang memperlihatkan kemulusan tanpa cacat itu keluar dari kamar. Suara berat Mark Felton terdengar.
__ADS_1
"Nona Robert," seru Mark sebelum mengangkat pandangan nya ke arah tubuh wanita cantik itu.
Langkah kaki jenjang itu berhenti melangkah.
Senyum lebar merekah di bibirnya. Ia dengan cepat membalikkan tubuhnya. Tak lupa ia tersenyum menggoda.
"Ya, Pak! Apa ada sesuatu yang Bapak inginkan?" tanyanya.
Mark mengulum bibir merah tebal yang terasa kering itu. Ugh! Mark Felton benar-benar terlihat begitu menggoda. Semua yang pria ini lakukan selalu mampu membuat banyak wanita menjerit keras. Seperti saat ini, hati kecil Selena mengerang tak tahan melihat kelakuan Mark.
"Tidak jadi, keluarlah!" Mark berujar kemudian dengan raut wajah tampan dosa.
Rahang Selena terasa terjun bebas kala pria itu berkata demikian. Saat ia sudah berharap begitu tinggi pada Mark. Pria ini malah menjatuhkan harapan nya begitu saja. Tanpa memikirkan perasaannya.
"Ah...ya," ucap Selena Robert pada akhirnya.
Ia tetap mengulas senyum. Sebelum kembali membalikkan tubuhnya. Melangkah keluar dari dalam ruangan Mark. Tidak lupa ia menutup rapat kembali ruangan kerja sang Bos. Di dalam ruangan Mark menghela napas. Ia meletakan berkas yang di bawa oleh sang sekretaris di atas meja. Sebelum mengerang kesal. Ke dua manik mata hijau berkilau itu menunduk. Menatap adiknya yang tengah terlalap.
"Apakah adikku sekecil itu?" ujarnya dengan nada lesu.
Ok. Anggap saja Mark Felton adik dari pria Alex Felton si Mafia kejam tengah eror. Salahkan Dara Margaretha yang selalu mengatakan miliknya kecil. Burung puyuh tidak terlalu kecil menurut nya. Hanya saja sering-sering di ledek membuat Mark Felton merasa tak pede pada masa depannya. Pria ini menghela napas perlahan.
"Lalu kenapa kalau punyaku kecil? Yang penting punyakan?" ucapnya pelan. Ekspresi yang di keluarkan oleh Mark saat ini benar-benar sangat lucu.
Sebenarnya milik pria ini tidak kecil seperti yang di gadang-gadang oleh gadis culun itu. Ukuran milik Mark adalah ukuran pas pada setiap pria Eropa. Demi harga dirinya, Dara Margaretha terpaksa meledek milik Mark kecil. Lucunya, Mark malah menangkapi serius perkataan Dara. Mereka selalu saja berdebat hal yang sama.
...***...
"Mau kemana?" seruan suara bariton dari arah belakang.
Dara sontak membalikkan tubuhnya. Senyum lebar, ia melangkah setengah berlari ke arah Alex. Tidak ada rasa sungkan dan takut padanya. Ia memelukku tubuh Alex dengan kuat. Wajahnya di benamkan masuk ke dalam dada bidang Alex. Aroma tubuh pria itu di hirup dalam. Tiga hari sudah Alex Felton tidak pulang ke rumah besar. Dara merasa sangat merindukan dia.
Kepala nya menengadah. Saat tangan Alex membalas pelukan nya. Alex tidak mampu menampik akan perasaan rindu pada kelinci manisnya ini.
__ADS_1
"Kenapa tidak pulang ke rumah sih?" ujar Dara terdengar jelas jika ia tengah kesal pada pria yang ia peluk ini.
Alex menghela napas."Ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Karena itu aku tidak bisa pulang."
Bibir pink itu terlihat manyun. Kaca matanya merosot saat ekspresi wajahnya berubah. Alex diam-diam tersenyum tipis melihat perubahan raut wajah Dara. Sebelum tangan kanannya menyentuh sebelah sisi wajah Dara. Terasa hangat.
"Hah! Bos Mafia memang selalu memiliki banyak alasan," dengus Dara kesal.
Alex terkekeh kecil. Indra pendengaran Dara menyukai suara kelemahan dari Alex. Ia tidak berhenti mengulas senyum lebar.
"Ouch! Sakit!!" Teriak Dara memberontak saat Alex Felton malah mencubit kasar pangkal hidung minimalis nya. Hingga oksigen tidak masuk ke dalam paru-paru.
Alex tertawa keras melihat raut wajah Dara yang memerah. Bahkan gadis culun ini memukul kesal dan keras pergelangan tangan Alex hingga memerah mengingat pria ini memiliki kulit putih pucat.
"Aku tidak bisa bernapas!" Seru Dara masih memberontak.
Alex melepaskan cubitan nya. Tawa Alex Felton semakin mengudara kala melihat lubang hidung minimalis itu kembang kempis meraut oksigen sebanyak-banyaknya karena ulah Alex. Dara membenahi kaca mata yang yang kian merosot. Ia berkacak pinggang setelah nya.
"Kau jahat!" imbuhnya dengan nada berang.
Alex menghentikan tawanya. Ia melangkah mendekati Dara. Dara mundur satu langkah. Ah, seperti nya Dara benar-benar marah karena ulah Alex padanya.
"Jangan marah-marah dong. Kalau kamu begini terlihat seksi," bujuk Alex dengan nada lucu.
Dara menahan pergerakan otot-otot wajahnya untuk tersenyum karena ulah perkataan Alex.
"Bohong!" tukasnya. Mata kecil itu sengaja di besar-besarkan.
Alex mengulum bibir merah merekah itu. Menarik baju Dara, gadis culun ini kehilangan keseimbangan. Masuk ke dalam pelukan Alex. Dagu runcing Alex bertengkar di kepala Dara.
"Jangan marah, sayang. Kau terlihat semakin menggemaskan saat marah. Aku benar-benar tidak tau kenapa kau terlihat begitu lucu. Rasanya ingin akan masukan ke dalam karung karena saking lucunya," goda Alex begitu saja.
Bluss
__ADS_1
Wajah Dara memerah hingga menjalar ke daun telinga nya. Pada akhirnya, ke dua sisi sudut bibir Dara terangkat tinggi karena perkataan Alex.
"Tapi, bohong!" lanjut Alex. Sebelum menggaduh dan tertawa secara bersamaan keras amukan Dara.