Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 48. AWAL MULA KEKACAUAN


__ADS_3

Gemuruh dada terasa panas dan membakar. Di balik kaca mata tebal itu Dara melihat dengan jelas interaksi antara Alex dan perempuan lain. Wanita itu merangkul Alex dengan senyum manja di bibir nya. Manik mata madu itu berembun. Bibir bawah Dara bergetar keras, hingga bulir bening menyapa ke dua pipi chubby Dara.


Hembusan angin tak mampu menyurutkan kobaran api yang mampu membakar diri dari dalam. Ke dua tungkai kaki Dara tidak mampu untuk di gerakan. Harusnya ia melangkah mendekati Alex saat ini. Menampar pria kejam itu, hingga ke telapak tangannya terasa patah. Namun, apa yang terjadi? Hatinya terlalu sakit untuk melangkah mendekati ke duanya.


"Ini!"


Seruan di samping tubuh nya saputangan hitam di ulurkan padanya. Dara tidak mau menerima saputangan hitam itu. Niko menghela napas kasar melihat air mata terus mengalir di pipi Dara.


"CK!" Niko berdecak kesal.


Tubuh kekar itu menghadang penglihatan Dara dari pemandangan yang mampu menyakitkan bagi mata. Dan mematahkan hati. Dengan telaten Niko mengusap pelan bulir yang tak ingin berhenti jatuh.


"Apakah aku masih sangat kurang?" monolog Dara terdengar serak.


"Tidak. Kau tidak memiliki kekurangan apapun Dara. Karena hatinya masih untuk wanita di masa lalunya." Balas Niko masih mengusap pelan pipi Dara Margaretha.


Semua telah ia kerahkan untuk bisa menyembuhkan pria itu. Ini kali pertama ia menaruh hati pada seorang pria. Hatinya terasa sangat sakit. Dara sendiri tidak mampu menggambarkan bagaimana perasaan nya saat ini. Saat ini, Dara barulah mengetahui kenapa ada banyak wanita terlihat bodoh di saat seperti ini. Dulu sekali saat ia menonton drama pengkhianatan. Ia akan memaki wanita yang bodoh dan lemah. Harus nya wanita itu menjambak dan menampar pria itu sebagai tempat pelampiasan. Dan mencampakkan nya dengan sadis. Kenapa harus menjadi wanita lemah. Hanya membuang-buang air mata dan menguras waktu.


"Ke——kenapa di sini sakit sekali, Nik...hiks...hiks..." Dara menunjuk dadanya dengan suara isak yang mengalun.


Niko menarik tubuh Dara, masuk ke dalam pelukannya. Mengusap pelan pundak gadis culun ini. Tubuh Dara bergetar keras. Hatinya benar-benar hancur. Kenapa perasaan cinta pertama nya harus patah oleh sebuah pengkhianatan?


"Menangislah!" Ucap Niko mengisap pelan punggung belakang Dara dengan penuh kelembutan.


...***...


"Dia sudah begerak seperti apa yang telah di rencanakan nona. Dan seperti yang kita ketahui, Alex masih memiliki perasaan pada Tessa," jelas sang bawahan.


Jenni terkekeh sinis. Sebelum kekehan kecil itu berubah menjadi tawa keras. Jenni tidak tau jika perasaan manusia bisa seaneh itu. Begitulah perasaan? Sedalam apa lautan masih mampu di selami. Namun sedangkal apapun hati manusia. Tidak mampu di prediksi.


"Lalu gadis culun itu, apakah dia melihat sebuah pengkhianatan yang ada?"

__ADS_1


Kepala wanita itu mengangguk."Ya. Dia melihat kemesraan Alex dan Tessa di dampingi oleh tuan Niko Wu," jelasnya.


"Hah?" Jenni cukup syok,"bagaimana bisa Niko Wu bersama dengan gadis culun itu?"


"Maaf nona. Jika di perhatikan dengan seksama. Tuan Niko memiliki hati pada gadis Indonesia itu," jawabnya penuh keyakinan.


Jenni mengerutkan dalam dahinya."Niko memiliki perasaan pada gadis culun itu?" tanya Jenni dengan wajah tidak mengerti.


"Ya."


Senyum cemooh terlihat di wajah Jenni."Tidak masalah, toh kita akan mendekati gadis itu untuk di jadikan sekutu. Bukankah permainan ini sangat menarik Rossi?" ucap Jenni dengan nada menyeramkan,"Alex dia akan merasakan perasaan yang benar-benar tidak mampu di gambarkan. Saat dua orang yang ia percayai mengkhianati nya. Saat itu perasaan hancur berkeping-keping akan ia rasakan."


"Ya. Namun, aku tidak terlalu yakin dengan perasaan Alex, nona," ucap Rossi pelan.


"Maksudnya?"


"Perasaan ke Tessa apakah itu benar perasaan cinta? Atau hanya sebuah puing-puing rasa yang tertinggal?"


Jenni tersenyum."Kau benar-benar orang yang hebat Rossi. Semakin lama perasaan manusia juga bisa berubah-ubah. Perasaan cinta bisa berubah sewaktu-waktu. Namun tanpa Alex sadari perasaan sayang pada gadis culun ini telah terperangkap di dalam hatinya." Jenni mengangguk kecil. Menyakini pandangan nya yang begitu tajam.


Jenni mengangkat gelas di tangannya. Sebelum menyesap red wine di tangannya dengan gerakan perlahan. Menyesap rasa manis dan sepat menjadi satu.


...***...


"Dara! Hei ada apa dengan ke dua matamu?" Emma berlari kecil ke arah Dara.


Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya.


"Tidak ada apa-apa," balas Dara dengan nada parau.


"Suaramu kenapa parau begitu?" tanya Emma dengan nada khawatir.

__ADS_1


Wanita cantik ini menarik pelan pergelangan tangan Dara. Meminta gadis satu ini untuk berbalik menghadapnya. Sayangnya, Dara Margaretha terlalu cepat membaca pergerakan tangan Emma. Ia mengambil langkah mundur. Membuat tangan Emma mengawang-awang.


"Aku lebih karena banyak tugas dari kampus, aku istirahat lebih awal. Selamat malam Emma dan mimpi indah!" ucap Dara sebelum ke dua tungkai kaki pendek itu melangkah cepat menuju pintu kamarnya.


Emma mengerut kan pangkal hidung nya. Manik mata hitam legam itu masih merasa ada yang tidak beres dengan Dara.


Tap!


Tap!


Tap!


Telapak sepatu pantofel bergesekan dengan lantai terdengar jelas mendekati Emma. Wanita yang masih terlihat termenung menatap ke arah kamar Dara yang baru saja di tutup dan di kunci.


Bug!


"Kenapa kau berdiri di depan sini dan melihat ke arah kamar Dara, Emma?"


Tepukan di bahu dan suara serak basah itu menyentak kesadaran Emma. Wanita itu menoleh ke samping. Menatap sang pemilik tangan yang bertengger di bahunya.


"Ada yang aneh dengan Dara," ucap Emma dengan nada tidak terlalu yakin dengan apa yang keluar dari bibir nya.


Sebelah alis mata Mark Felton di manja terangkat tinggi ke atas.


"Ada apa dengan Dara?" tanya Mark. Telapak tangan yang bertengger di bahu Emma di turunkan perlahan.


Ke dua manik mata hitam itu menoleh ke pintu kamar. Sebelum menoleh ke arah Mark. Wanita cantik itu terlihat ragu untuk membicarakan nya pada si manja. Kepala nya mengeleng pelan.


"Ah, tidak ada apa-apa kok!"


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Ya." Emma mengangguk pelan.


Mark membawa ke dua manik mata indah itu ke pintu kamar Dara. Entah kenapa perasaan nya tidak enak. Tak jauh berbeda dengan Mark Felton, Emma Young juga merasa ada kejanggalan pada Dara. Gadis culun itu dari awak turun dari mobil jemputan langsung masuk ke rumah terburu-buru menuju kamar. Biasanya saat sampai di rumah. Dara akan lebih dahulu menghampirinya. Hanya sekedar bercanda gurau. Sebelum bertanya di mana Alex Felton. Karena ia tak pernah luput satu kali pun menanyai keberadaan Alex sang pujaan hati.


__ADS_2