
Cahaya merah keorange menerpa tubuh kekar yang kini tengah berdiri di atas batuan besar menghadap ke arah pantai. Ke dua kelopak matanya tertutup rapat. Menikmati hembusan angin pantai yang menyejukkan. Membelai wajah tampan itu dengan penuh kelembutan.
"Jangan mengejutkanku," suara bariton itu berseru keras.
Senyum jahit dari gadis culun itu luntur begitu saja. Bibir pink alami itu di poutkan karena kesal. Ia mendekati Alex Felton berdiri bersisian dengan Alex. Menatap sunset yang terlihat terbenam dengan keindahan yang selalu mampu memukau setiap mata. Terlihat cantik namun terlihat sendu.
"Kenapa malah berdiri di sini?" ujar Dara pelan.
Ke dua kelopak mata Alex terbuka perlahan. Memperlihatkan keindahan manik mata hijau tajam itu. Ia menoleh ke samping, sedikit menundukkan kepalanya. Mengingat tingginya dan Dara yang cukup terpaut jauh. Tapi, ia suka dengan tubuh pendek dan mungil satu ini. Bisa di bilang, gadis Asia yang selalu terlihat memukau di mata pria Eropa. Terlepas dari tinggi tubuh dan warna kulit.
"Hanya ingin menatap sunset."
Dara menengadah dengan mata memicing kesal."Sendiri saja tanpa mau mengajak aku?" kesal Dara.
Alex terkekeh renyah. Membuat wajah kesal itu malah tersenyum pada akhirnya.
"Kau terlalu sibuk dengan Mark tentang masalah, yeah...kau tau maksudku," balas Alex dengan nada beratnya.
Dara mengikis jarak antara ia dan Alex. Kepala nya menengadah.
"Turunkan sedikit tinggi tubuhmu!" Dara berujar sembari memberikan kode dengan tangan untuk meminta Alex menunduk.
Alex melakukan nya begitu saja. Ia menunduk kan tubuh nya. Ke dua sisi sudut bibir Dara Margaretha di tarik ke atas. Ke dua kaki pendek itu berjinjit. Hanya untuk bisa menyamai tinggi tubuh Alex Felton.
Cups!
Click!
Ciuman di layangkan di pipi Alex dengan gerakan kilat. Alex terkejut dengan keberanian Dara. Dara menarikan wajah nya. Dan kembali berdiri dengan benar. Ia menoleh ke bawah. Ke dua sisi pipinya memerah karena malu. Tapi, lucunya meskipun malu ia tetap saja melakukan nya.
"Bagaimana hasilnya?" teriak Dara dengan nada keras bersautan dengan deburan ombak di bawah sana.
Alex membalikkan tubuhnya ke belakang. Di mana Emma berdiri dengan kamera di tangannya. Seperti nya wanita satu itu mengecek hasil foto yang ia dapatkan.
__ADS_1
Emma mengulas senyum. Sebelum mengangkat tangannya dengan kode ibu jari di acungkan.
"Bagus!" teriak Emma Young dengan senyum lebar.
Dara tersenyum lima jari. Lihatlah! Muka Alex yang terlihat begitu lucu saat ini. Gadis culun itu melirik Alex dengan ekor matanya. Ia melihat Alex terbengong karena ulahnya.
"Terima kasih sayang!" Ujar Dara menggoda Alex suara keras. Ia cepat-cepat turun dari batu besar itu.
Emma Young tertawa geli melihat Dara berlari kala ke dua kaki kecil itu sampai di pasar ke arahnya.
"Emma!!! Ayo lari!!" Serunya kala hampir sampai di tempat Emma berdiri.
Tangannya dengan cepat menyambar pergelangan tangan Emma. Takut-takut Bos Mafia kejam itu merampas hasil foto Emma. Ia ingin mencetak foto pertama nya dengan Alex. Meski ia di anggap mencari mati karena itu. Tidak apa-apa.
Alex menggeleng kecil melihat ke duanya berlari ke arah penginapan di pinggir pantai. Sebelum tersenyum geli melihat tingkah Dara. Ia menyentuh pelan pipinya yang di kecup oleh Dara. Senyum lebar itu tercetak begitu saja.
...***...
Sesekali ke duanya menatap Zain dengan pandangan berbeda. Pria itu terlihat masih sangat lemah untuk banyak bergerak. Apa lagi ke dua kakinya mengalami kelumpuhan sementara.
Alan masih diam. Ia kembali melirik sang adik yang terlihat mulai memejamkan ke dua matanya. Mungkin apa yang di katakan oleh wanita berambut pirang ini ada benarnya. Tidak ada bagusnya Zain mendapatkan ingatannya. Jika bisa, adiknya tidak akan pernah mengingat akan kematian yang hampir merenggut nyawanya.
"Ya, Anda ada benarnya juga Dokter Lusi," balas Alan pelan.
Pria bermata tajam itu berharap adiknya akan mendapatkan kebahagiaan. Dan ia akan memberikan identitas baru untuk Zain jalani. Menjauhkan Zain dari Alex Felton.
"Saya akan merawat tuan muda Zain sebaik yang saya bisa, tuan Alan."
"Terima kasih!" ucap Alan pelan.
Senyuman di wajah Lusi tercetak jelas.
...***...
__ADS_1
Tessa menatap apartemen miliknya dengan pandangan tak terbaca. Semua nya tampak masih sama. Hanya saja apartemen yang sudah lama tak ia tinggali beberapa tahun ini terlihat penuh debu. Ke dua kaki jenjang itu melangkah perlahan mendekati dingin yang di tempeli oleh bingkai foto besar yang penuh debu. Tangan kanannya terangkat. Telapak tangan Tessa mengusap pelan permukaan cermin bingkai foto.
Ke dua sudut bibir nya terangkat ke atas. Di sana ada gambarnya dan Alex Felton yang saling berpelukan menghadap ke arah kamera. Ia masih ingat kapan foto itu di ambil. Di saat mereka resmi pacaran di tingkat pertama saat ia duduk di universitas.
"Maafkan aku, Alex! Semua itu hanyalah nafsu sesaat saja. Aku tidak pernah mencintai Zain. Dia adalah sahabatmu. Saat itu aku marah karena kau mengabaikan aku setiap kali aku menggoda dirimu," ucap Tessa dengan nada lirih,"kau tau, saat itu harga diriku sebagai seorang wanita terluka. Bayangkan, teman-temanku berkata jika aku tidak memiliki daya tarik. Tidak bisa memuaskanmu. Karena itu kau tak mau menyentuh aku. Dan aku... menggoda Zain hanya untuk tau apakah aku tidak memiliki daya tarik sebagai seorang wanita. Sungguh! Aku berani bersumpah! Aku tidak mencintai. Zain sama sekali. Aku hanya mencintai kamu, seorang!" sambungnya lirih.
Tangannya membelai wajah Alex di bingkai foto. Ia harus mendapatkan Alex kembali. Tessa yakin, Alex masih memiliki perasaan yang sama padanya. Ia akan berlutut meminta pengampunan pada Alex. Tessa menyesali semua nya. Sungguh.
...***...
Aroma ikan bakar menggoda penciuman orang-orang. Mark telah menampung ikan bakar yang terlihat akan matang itu. Tidak ia sadari jika air liur di kerongkongan nya mengalir kala melihat ikan itu di angkat oleh Dara.
"Ih! Itu air liur nya mau tumpah!" peringat Dara dengan wajah jijik.
Kontan saja Mark mengusap sudut bibir. Gila! Mark Felton si manja mengumpat kesal karena tau jika ia ileran.
"Hehe...lapar!" jawabnya dengan senyum cengegesan.
Dara mengeleng pelan. Mark memberikan piringnya pada Dara. Senyum nya patah kala calon kakak iparnya itu malah berdiri dari posisi duduknya. Membawa ikan bakar itu menuju ke arah Alex.
"Owh! Shit!" Mark memaki kasar.
Yang mengeluarkan air liur itu dia. Tapi malah kakaknya yang mendapat ikan bakar yang baru saja matang. Dan sialnya lagi itu adalah ikan paling besar. Alex tersenyum menerima ikan dari Dara. Dara tersenyum malu-malu kucing. Darah Mark tambah mendidih melihat ke duanya. Apakah mereka tidak tau perutnya sudah sangat lapar. Ia rela-rela menjadi tukang kipas. Tapi yang menuai hasil malah orang lain.
"Cih! Mentang-mentang punya Alex gede. Malah dia di kasih yang gede. Tunggu saja aku akan besarkan juga milikku!" Teriak Mark tidak tau malu.
Dara menoleh."Mau di besarkan pakek kepiting apa atau ikan piranha?" goda Dara dengan suara keras.
Kontan saja Emma tersedak saat minum. Hanya karena godaan Dara. Mark meneguk air liur di kerongkongan dengan kasar. Jangan!! Ke duanya! Mark sudah pernah merasakan perihnya di capit kepiting. Ke dua matanya menatap kasihan miliknya. Dasar calon kakak ipar tidak berpri keburungan.
.
.
__ADS_1
.
Maaf ya kakak-kakak kemarin tidak bisa update. Karena kecapean sama dunia real. Dan persiapan diri karena ini mendekati konflik. Hanya pembaca bermental baja yang siap membaca konflik nya😁