
Manik mata lelah itu menatap anak didiknya dengan pandangan yang begitu hangat. Rambut yang terlihat sudah memutih semua. Namun masih terlihat cantik dan elegan di balik kulit wajah yang tak lagi kencang.
"Apakah ada perubahan padanya?" tanya wanita tua itu dengan nada lembut.
Kepala Dara mengangguk cepat dengan senyum lebar. Sofia mengulas senyum tipis pada Dara.
"Sudah banyak yang berubah. Napasnya lebih stabil dan tubuh nya terasa lebih rileks dalam menyentuhku. Aku rasa ia sudah delapan puluh persen kembali normal," jawab Dara terdengar antusias.
Sofia mungut-mungut."Sebenarnya untuk penyakit itu. Hal terbesar yang di butuhkan adalah dorong dan tindakan dari orang yang ia percayai dan ia cintai. Semakin besar cinta seorang manusia, semakin besar keinginan tidak ingin menyakiti itu di rasakan. Karena saat logika tidak lagi hidup, ada hati yang tidak lumpuh saat hawa napsu menyerang tubuh," ujar Sofia.
Dokter hebat satu ini. Sangatlah luar biasa, mengingat sangat sulit untuk menyembuhkan penyakit penyimpangan satu ini. Pengalaman, ketekunan dan keinginan keras Sofia. Ia menjadi seorang Dokter psikologi yang paling di cari. Sayangnya tidak mudah untuk bisa membawa wanita ini kehadapan orang-orang kaya. Ia lebih suka membantu orang dan berkelana.
"Aku akan terus mendukung nya. Karena aku yakin, cinta tulus dan yang begitu besar ini akan mampu membuat dirinya kembali seperti lelaki lainnya." Dara berucap dengan nada penuh keyakinan. Telapak tangannya menyentuh hati nya yang berdebar untuk Alex Felton.
Gadis culun ini terlalu awam pada rasa. Meskipun Sofia akui, jika Dara Margaretha adalah gadis yang pintar dan mempunyai rasa empati yang tinggi. Akan tetapi, gadis culun ini lupa. Jika cinta tidaklah muda di tebak bagaimana rasa itu bekerja. Dunia yang ia jalani masih sangat jauh. Rasa pahit dan pedihnya kehidupan belum benar-benar di rasakan.
Sofia takut akan rasa pahit yang belum pernah gadis Asia ini ecap membuat dirinya kehilangan arah. Dara memang gadis yang membuat Sofia terpukau. Sofia dapat merasakan hati gadis ini terlalu lemah.
"Cinta itu memang kodrat nya adalah ketulusan Dara. Namun jangan terlalu banyak memasukkan rasa di dalamnya. Karena rasa patah akan membuatmu kehilangan arah. Ini pesan dariku sebagai tutormu, manusia itu kuat karena cinta. Namun juga lemah karena cinta. Aku hanya ingin kau lebih rasional dalam mengatur rasa. Aku melihat kamu terlalu mudah memberikan hati terlalu dalam pada lelaki yang kau cintai," ucap Sofia dengan nada lembut,"jangan biarkan kamu berkorban terlalu dalam untuk sebuah hubungan. Karena jika hanya atau orang saja yang berkorban. Sudah pasti, perasaan nya untukmu bukanlah sebuah ketulusan," sambung Sofia.
Dara berdiri dari posisi duduk nya. Ia memeluk wanita tua di depannya ini dengan lembut. Dara sudah menganggap Sofia seperti ibunya sendiri. Karena kehangatan wanita hebat satu ini. Sofia membalas pelukan Dara.
"Aku yakin dia tidak begitu, Mom!" ucap Dara pelan,"aku percaya padanya. Karena jika sampai bisa menyakiti hatiku. Aku akan kehilangan semua nya. Termasuk cinta aku padanya," lanjut Dara.
"Ya, aku tau. Aku berdoa kebahagiaanmu selalu Dara!" ujar Sofia tulus.
"Terima kasih, Sofia!"
__ADS_1
Ke dua wanita berbeda usia yang itu tersenyum lembut.
...***...
...Tling~...
Bunyi dari pintu besi itu terbuka setelah kata sandi apartemen di masukan. Ke dua manik mata hijau itu menatap lambat apartemen lama itu. Kala pintu terbuka lebar. Harusnya apartemen lama ini terlihat begitu berantakan dan penuh debu tebal yang menghiasinya. Tapi sejauh apapun manik mata hijau itu menatap. Tidak ia lihat ketidak bersihan di apartemen yang kini ia pijak. Bahkan aroma masakan menari-nari di indera penciuman nya.
Derap langkah kaki dari ruangan dapur yang di dekat di tangkap oleh pendengaran nya. Ke dua pupil matanya melebar kala melihat sosok yang sudah lama tidak ia lihat. Perempuan yang membawa spatula di tangan kanannya. Perempuan itu tersenyum lebar kala melihat pria yang ia cintai.
Terasa Dejavu. Alex Felton merasa pernah merasakan keadaan seperti saat ini. Wanita dengan apron merah itu mengembangkan sejum semakin lebar. Sebelum ke dua tungkai kaki jenjang itu mendekati Alex yang berdiri kaku.
"Hai! Alex!" sapa Tessa terdengar kikuk di pendengaran ke duanya.
Lidah Alex terasa berat untuk menjawab sapaan Tessa. Gadis cantik itu mengulas senyum sebelum memeluk pelan dada Alex. Tangan nya turun menyentuh pergelangan tangan Alex. Menarik nya masuk ke dalam apartemen. Tak lupa menutup pintu luar. Alex masih terlihat linglung.
"Ayo duduk! Aku masih memasak makan ke sukaanmu di dapur!" Seru Tessa kembali sebelum menarik tangan Alex memasak pria linglung itu duduk.
Wanita yang telah mengkhianati dirinya. Menghancurkan persahabatan nya dengan Zain. Bahkan membuat Juan ikut memusuhi nya. Alex memang kejam. Namun sekejam-kejamnya seorang Mafia. Ia masih kalah kejam dengan perasaan cinta yang membuat ia melembut dan membodoh. Seperti nya saat ini.
Tak!
Dua piring spaghetti bolognese dan dua gelas red wine terhidang di atas meja. Alex tersentak. Kala sadar Tessa telah menghidangkan makanan di atas meja ruangan tengah.
"Aku merindukanmu," seru Tessa dengan nada penuh kelembutan.
Sebelum menjatuhkan pelukan. Benar bukan? Perasaan Alex masih sama padanya. Cinta mampu membodohi manusia. Secerdas apapun manusia dan sehebat apapun dalam berlogika.
__ADS_1
...***...
"Dara!!!" seru Niko berlari menyusul Dara. Dengan tangan menarik pergelangan tangan Dara.
Gadis berambut sebahu itu menyetak kasar pergelangan tangan Niko. Raut wajahnya tampak marah.
"Sudah! Aku tidak ingin dengar perkataanmu yang tidak masuk akal itu!" teriak Dara kesal.
Niko menghela napas pelan."Kau tidak percaya padaku?"
"Tidak. Aku tidak percaya denganmu. Dari awal sampai saat ini. Kau pikir aku tidak merasakan jika kau hanya ingin mendekatiku dengan tujuan lain!"
"Lalu kau pikir Alex itu tulus?" Niko membalas dengan wajah benar-benar kesal.
Ia tak ingin gadis ini tersakiti. Ia mengetahui rencana Jenni dan Tessa. Entah kenapa, hatinya meras tidak rela jika Dara tersakiti. Niko Wu akui jika dirinya awal memiliki niat lain pada Dara. Namun lama kelamaan perasaan itu mulai berbalik berbeda. Ia tulus pada Dara.
"Ya! Dia tulus!"
"Hahaha....wah! Ini benar-benar lucu. Kau melihat nya tulus padamu. Saat dia masih memiliki perasaan pada perempuan lain, huh?" Niko tergelak sinis.
Dahi Dara berlipat dalam."Apa maksudmu?"
"Kau bodoh. Aku akui aku begitu pada awalnya. Tapi perasaanku tulus padamu, sungguh. Tapi perasaan dia tidak! Kau akan tersakiti. Percayalah padaku."
Dara memutar malas ke dua bola matanya. Ia membalikkan tubuhnya. Malas beradu argumentasi dengan Niko yang tiba-tiba saja mengatakan hal aneh padanya.
"Wanita yang dia cintai telah di Texas. Saat ini dia bersama pria yang kau cintai itu!" seru Niko mampu menghentikan langkah kaki Dara yang baru saja di ambil.
__ADS_1
Tubuh Dara berbalik. Raut wajah Dara terlihat berbeda.
"Jika kau tidak percaya pergilah! Cek sendiri. Apakah aku yang berbohong. Atau kau yang ingin di bodohi!" sambungnya lagi.