Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 54. TERBONGKAR NYA SEMUA RAHASIA


__ADS_3

Flashback on!


"Salju pertama akan turun hari ini, Yah!" seru Delta kecil dengan penuh semangat.


Pria berusia empat puluhan itu mengangguk pelan. Adik lelaki nya yang berusia tiga tahun itu makan sereal di suapi oleh sang ibunda tercinta. Keluarga yang bahagia. Ayah Dara adalah seorang desainer interior hebat. Yang baru saja mendapatkan promosi kerja di Texas.


"Ayo! Ini sudah saatnya Dara berangkat sekolah!" seru wanita manis itu bangkit dari posisi duduk nya setelah suapan terakhir.


Dara mengangguk pelan. Ia turun dari kursi. Sang ayah meraih tas milik nya.


"Ibu mau ikut juga?" tanya Dara kala manik mata indah itu jatuh pada dompet kesayangan sang ibu.


"Ya. Ibu mau ke supermarket Indonesia yang ada di pusat kota. Bahan-bahan makanan sudah banyak yang habis!"


Kepala Dara mengangguk pelan. Anak lelaki itu melangkah mendekati sang kakak.


"Gentong!" ujarnya dengan nada gemas.


Dara terkekeh kecil. Ia meraih tubuh sang adik lelaki nya yang sedikit cadel. Sang kepala keluar telah lebih dahulu keluar dari rumah. Yang tidak bisa di bilang kecil atau pun sangat besar. Wanita manis itu meraih mengambil alih tubuh putra nya dari sang putri.


Keluarga kecil itu menuju pintu keluar. Pria itu tampak begitu perhatian. Memasang kan seat belt pada tubuh Dara. Di samping kemudi. Di kursi belakang sang istri dan sang putra terlihat duduk dengan tenang.


" Let's go!!" seru si kecil terdengar ceria.


Dara dan ke dua orang tuanya tertawa kecil mendengar seruan si kecil. Mobil sedan itu melaju dengan kecepatan stabil. Bulir-bulir salju turun dan terbang melayang.


"Kamu harus selalu pakai pakaian dingin. Jangan makan pilih-pilih di sekolah. Hadis makan sayur jangan daging terus," suara cerewet sang ibu terdengar.


Dara kecil hanya mengerucut kan bibir merah tipis itu. Dara Margaretha tidak suka dengan kecerewetan sang ibunda tercinta. Sesekali sang ayah melirik tubuh putrinya.


"Sayur itu pahit, Bu! Dara nggak suka!" balas Dara terdengar sebal.


"Sayur tidak pahit sayang. Kamu nya saja banyak alasan," timpal sang ibu.


"Brokoli hijau pahit, Dara gak suka!" banyak Dara.

__ADS_1


"Tidak boleh begitu. Katanya Dara adalah anak yang pintar. Kalau mau seperti ayah harus banyak makan sayur. Biar sehat dan pintar," kini sang ayah ikut menimpali.


Dara hanya mampu menghela napas. Ia menoleh ke belakang, sekedar melihat Kevin. Adik lelaki nya yang duduk dengan tenang di pangkuan sang ibu. Manik mata madu itu sangat indah Kevin kecil tersenyum untuk sang kakak.


"Ayah! Awas!!" teriak keras sang mama terdengar.


Sebelum lehernya di putar ke depan. Benturan keras membuat mobil yang di tumpangi nya berputar beberapa kali. Jalanan aspal yang licin. Membuat ban mobil tidak mampu di tahan oleh rem. Mobil sedan itu terguling-guling. Ada dua mobil yang terlibat bernasip naas. Sedangkan mobil tangki yang menabrak mobil awal sebelum menabrak mobil keluarga nya terlihat hancur. Anak lelaki yang berusia empat tahun lebih tua darinya terserat keluar mobil. Sedangkan dirinya malah tersangkut oleh seat belt.


Rintihan nya terdengar. Samar-samar Dara kecil membuka ke dua kelopak mata sempit nya.


"Ayah...ibu...adik..."


Dara memanggil lirih orang-orang yang ia sayangin. Kondisi keluarga nya begitu parah. Di luar mobil banyak orang-orang yang berlari mendekati dua mobil sedan yang terlihat sangat parah.


"Nak!" seru salah satu dari lelaki di luar mobil.


"Keluarkan anak kecil itu lebih dahulu. Dia masih bisa di selamatkan," ucap satunya lagi.


"Hubungi ambulance!"


"Tapi di mana supir mobil yang telah menabrak dua mobil ini?"


Samar-samar Dara mendengarkan perdebatan yang semakin lama semakin menghilang. Kelopak matanya terpejam sempurna.


Flashback off


"Bagaimana dengan kondisi nya?" suara panik Alex terdengar nyaring.


Di ambang pintu masuk UGD. Di dalam sana Dara maupun Juan tengah di tangani. Mark menatap nanar tubuh Dara yang tergolek di ranjang pesakitan. Tubuh nya penuh dengan darah yang masih terus mengalir. Di seberang ranjang Dara. Kondisi Juan terlihat memprihatinkan.


"Kami akan berjuang semaksimal mungkin, tuan Felton," ucap dokter wanita yang terlihat ketakutan.


Alex menoleh."Keluar kan semua dokter di Rumah Sakit ini. Tangani Dara dan Juan. Jika ada apa-apa dengan mereka, maka Rumah Sakit ini akan menjadi lautan darah!" ancam Alex terdengar sangat menakutkan.


Dokter wanita serat kepala Rumah Sakit mengangguk serentak. Mereka kalang kabut masuk kembali ke dalam ruangan UGD. Mark menoleh ke samping. Manik mata hijau itu mendapati pandangan khawatir dan takut kehilangan di manik mata Alex.

__ADS_1


Ke dua telapak tangan Alex bergerak mengusap kasar wajah tampannya. Derap langkah kaki keras menggema di lorong gedung UGD. Mark menoleh ke belakang. Ia menatap dua orang yang berlari ke arah mereka dengan wajah penuh ketakutan.


"Hah...bagaimana dengan adikku?" Jenni berteriak lantang meskipun napas nya memburu.


Di samping tubuh Jenni. Niko Wu tak kalah sama.


"Mereka masih di dalam," seru Mark. Lelaki tampan ini tau. Sangat tau jika Alex tidak akan menjawab pertanyaan Jenni.


Ke dua mata Jenni memerah. Jantung nya berdebar keras. Pikiran nya melayang pada kejadian masa lalu. Di mana Zain Lewis di larikan ke Rumah Sakit dan di nyatakan meninggal dunia. Di hari pernikahan nya.


Kepala Jenni Brown mengeleng cepat. Ia tidak siap kehilangan lagi dan lagi. Sudah cukup baginya ia kehilangan Zain, sang kekasih hati. Jenni tidak siap kehilangan adik nya. Kembarannya yang sangat ia sayangi.Ke dua mata nya memerah. Tubuh nya di balikkan. Hingga telapak tangan itu dilayangkan.


Greb!


Mark dan Niko terkejut dengan pergerakan Jenni. Tangan wanita cantik itu tanpa takut mencengkram kerah kemeja hitam Alex.


"Kau! Itu kau bukan? Kau membunuh adikku. Sama seperti kau membunuh Zain!!!" teriak Jenni dengan nada melengking.


Alex hanya diam. Perasaan pria kejam ini tengah carut marut.


"Tolong berhenti Jenni! Aku dalam keadaan tidak mampu mengontrol emosi," ucap Alex dengan suara bariton nya.


Jenni terkekeh kecil."Kau adalah lelaki munafik Alex!!!" teriak Jenni keras.


"Lepaskan Alex, Jenni!" Mark menarik bahu Jenni dengan keras. Hingga Jenni mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kau tidak puas membunuh satu sahabatmu. Sekarang kau ingin membunuhnya lagi," teriak Jenni murka.


Niko hanya menjadi penonton saja. Sesekali mata Niko melirik ke balik kaca transparan. Ia dapat melihat Dara dan Juan di tangani oleh banyak dokter di dalam sana.


"Stop! Menuduhku, Jenni!" Aku tidak pernah membunuh Zain. Meskipun aku ingin membunuhnya. Saat ia bercinta di atas ranjang kekasihku! Kau begitu ingin merasakan perasaan sakit bukan. Baiklah, aku akan membuka rahasia itu. Kau tau kekasihmu menggauli kekasihku di malam sebelum janji suci kalian. Aku tidak peduli siapa yang membunuh nya! Yang pasti aku sangat puas, dia mati mendapatkan karma pengkhianatan!" suara keras Alex menghantam gendang telinga orang-orang.


Rahang tegas itu terlihat mengeras. Urat-urat leher Alex tampak mencuat. Pria ini tengah meledak. Jenni terpukul keras, bahkan kaki jenjang itu mundur dua langkah. Kepala nya mengeleng menyangkal perkataan Alex. Mark tercekat mendengar fakta baru ini.


"Kau berbohong!" teriak Jenni keras.

__ADS_1


Alex tersenyum sinis."Tidak ada gunanya aku berbohong. Lalu kau pikir kenapa aku putus dengan Tessa. Wanita yang sangat aku cintai? Jika bukan karena sebuah pengkhianat? Ah, aku merasa kasih padamu. Karena itu aku menerima semua makianmu dan cacianmu. Tapi sekarang aku sangat muak dengan semua nya. Aku sakit! Kau juga harus merasakannya. Bagaimana rasanya di permainan oleh Tessa, huh!" Alex berucap dengan nada menyeramkan,"menyakitkan bukan?" sambungnya lagi.


__ADS_2