
Beberapa orang berlarian mengejar buruan nya masing-masing. Bunyi bising dari tembakan dan teriakan keras mengalun. Gadis berkacamata itu beberapa kali mengusap dadanya hanya karena suara tembakan. Tangannya di genggam oleh Alex. Pria itu menarik tubuh Dara mendekat ke arah nya. Hingga punggung belakang Dara berbenturan dengan dada bidang Alex. Pria itu memeluk Dara dari belakang. Sebelum memposisikan ke dua tangan Dara untuk membidik sasaran. Ke dua nya berdiri di perbukitan. Mata tajam itu dapat melihat dengan jelas pergerakan orang-orang di bawah sana.
"Bidik saat aku memberikan aba-aba," bisik Alex Felton di telinga Dara di sertai hembusan napas hangat.
Kepala Dara mengangguk pelan. Alex mengerakkan posisi Dara dengan mengarahkan bahunya. Jari telunjuk Dara siap menarik pelatuk pistol.
"Sekarang!" seru Alex cepat.
Door!!!
Pelatuk di lepaskan. Peluru melesat menghujam sasaran. Hingga bunyi tembakan menggema. Alex tersenyum miring melihat gadis culun ini tepat sasaran. Dara membulatkan ke dua matanya melihat tembakannya mengenai kepala pria yang tengah bertarung di bawah sana.
Terasa mengerikan baginya. Namun apa boleh buat, salah siapa jatuh cinta pada Mafia kejam satu ini. Membuat dirinya harus merenggut beberapa nyawa.
"Kapan ini akan berakhir?" tanya Dara. Sebelum menengadah kan wajahnya melihat pria tampan ini.
"Sampai semua nya kita dapat kan. Dan harusnya kau membidik titik yang melumpuhkan nya saja kelinci manisku. Karena kita bisa menjual organ tubuh nya yang masih berguna," jawab Alex terdengar begitu ringan di telinga Dara.
Organ tubuh? Di jual? Wah! Pria ini sangat gila. Tapi apa boleh buat, mereka yang di buru memang pantas mendapatkan nya. Kelompok yang di buru adalah kelompok pengedar narkotika terbesar di Texas. Mereka akan menyelundupkan narkoba di beberapa negara. Termasuk negara Indonesia, tentunya di bantu oleh beberapa oknum yang seharusnya ikut membasmi nya. Sayangnya, uang memang selalu mampu mengendalikan banyak hal.
"Apa masih lama?" keluh Dara,"telingaku sudah mulai berdengung karena suara pistol dan teriakan di bawah sana," sambungnya.
Alex Felton terkekeh pelan. Tubuh nya di bungkukkan perlahan. Kepalanya menelusup dibalik leher Dara. Hembusan napas hangat menerpa leher jenjang Dara. Dagu runcing bertengger di bahu kanan Dara.
"Kedepannya kau akan terbiasa mendengar, melihat, dan bahkan melakukan hal seperti tadi. Jika ia menjadi pendampingku, tanganmu tidak akan pernah berhenti dari darah dan darah lagi. Karena semua nya memiliki rantai kehidupan masing-masing. Jika tidak ingin di bunuh kau harus membunuh terlebih dahulu Dara. Karena dunia gelap ini hanya penuh dengan hal yang memuakkan. Apakah kau menyesal masuk kedalam hidupku, Hem?" ujar Alex dengan nada berat.
Dara Margaretha terdiam. Dunia Mafia bukanlah dunia biasa. Ada banyak hal yang membuat diri merasa muak. Kematian dan darah tidak akan pernah bisa di hindari. Karena telah menjatuhkan hati nya pada seorang Bos Mafia kejam ini. Maka sudah pasti ia harus menerima segala hal yang ada. Baik ia suka maupun dia benci.
__ADS_1
Dara menghela napas pelan."Selagi asalkan bukan darahmu yang tumpah itu tidak akan menjadi masalah bagiku."
Alex terdiam sesaat. Seolah tengah mencerna apa yang telah indera pendengaran nya saring. Beberapa detik kemudian ia tersenyum lebar. Hembusan angin menerpa wajah ke duanya. Membelai helaian rambut hitam legam pendek itu menerpa wajah Alex. Aroma sampo mawar tercium dari rambut Dara yang berkibar.
"Yakin kau suatu saat kau akan menyesali perkataanmu ini?"
Dara mengigit pelan bibir bawahnya."Ya. Tapi jika kau menyakitiku maka aku juga tidak akan segan menyakitimu, Alex. Aku bukan gadis yang terima dengan pasrah rasa sakit," balas Dara pelan.
Alex Felton kembali lagi mengulas senyum."Jika aku menyakitimu. Kau bisa menyakiti aku juga," balas Alex,"agar lebih adil untuk kita berdua," sambungnya lagi.
Dara mengulang senyum."Baik. Aku pegang perkataanmu."
Alex mengangguk kecil sebelum melayangkan kecupan di sudut bibir Dara. Ia menegakkan tubuhnya lagi. Sebelum menatap ke depan.
"Sebelum itu. Mari sapu habis perburuan ini. Ingat jangan menembak titik yang membuat mereka mati. Tapi buat mereka lumpuh saja, jangan sampai kita rugi banyak. Mereka masih bisa di manfaatkan. Anggap saja kita bersenang-senang dengan bermain permainan ini," ujarnya memberikan semangat dan peringatan pada Dara.
...***...
"Dimana Dara?" seru Mark kala sampai di ruangan tengah.
Emma yang terlihat sibuk dengan pembukuan berhenti mengerakkan jarinya di atas keyboard laptop. Kepalanya mendongak melihat adik bungsu dari sang Bos.
"Dia keluar bersama Alex. Memangnya ada apa?" tanya Emma Young melirik si manja dengan pandangan letih nya.
Wanita cantik ini sudah sangat capek mengecek pembukuan yang di kirimkan. Semua uang yang di dapat kan dalam penjualan organ tubuh di pasar gelap.
Mark Felton melangkah mendekati sofa. Duduk di sofa dengan posisi yang nyaman baginya. Menoleh ke samping, melihat Emma bawahan sang kakak yang selalu terlihat sibuk.
__ADS_1
"Kemana?"
"Berburu." Emma menjawab dengan cepat.
"Eh? Berburu?" Mark terdengar syok.
"Ya."
"Kenapa Alex membawa Dara ikut berburu? Dia akan sangat syok melihat nya." Mark terdengar khawatir."Bisa-bisa ia langsung kabur dari tempat ini. Kau juga tau bukan Alex itu sangat gila saat berburu. Melihat dia membunuh orang, sebagai adik kandungnya aku merasa ngeri," imbuhnya.
Emma terkekeh kecil. Ia merenggang kan tubuh nya. Bunyi persendian terdengar samar.
"Apakah kau sebegitu takut nya jika dia pergi dari sini?" tanya Emma pelan.
"Tentu saja. Kalau dia pergi dari rumah ini, suasana rumah akan terasa hambar seperti dahulu. Aku ingin suasana rumah ini terasa hidup. Meski dia itu aneh sekali. Dan selalu membuat aku kesal. Setidaknya saat dia di sini, Alex terlihat lebih cerah dari pada biasanya. Wajah datar dan dingin nya lebih hidup," papar Mark Felton pelan.
Emma mengangguk setuju. Apa yang di katakan oleh Mark tidaklah salah.
"Apakah hanya semata-mata karena itu saja?" Emma bertanya dengan raut wajah aneh.
Dahi Mark berlipat dalam."Ya, tentu saja." Mark menjawab cepat.
"Kau tidak ada hati padanya?" tanya Emma penasaran.
"Ada. Hanya sebagai seorang saudara. Karena dia lucu dan membuat aku merasa gemas. Dia baik dan pas dengan Alex. Alex terlalu dingin dan kaku. Sedangkan Dara dia hiperaktif dan bisa mencairkan suasana. Karena itulah aku suka dia," balas Mark si manja dengan jujur.
Emma menatap lambat Mark Felton. Sebelum mengulum senyum. Seperti nya Mark Felton sudah mulai dewasa. Semoga saja pria ini tidak selalu membuat dirinya merasa sulit kedepannya.
__ADS_1