
Manik mata hijau tajam itu tampak mengamati gadis di depan nya ini dari bawah sampai ke atas. Tidak ada kaca mata yang membingkai wajah manis nan imut itu. Gaun biru laut selutut membuat kulit kuning langsat itu semakin terlihat berkilauan. Rambut pendek di sambung, tak lupa di warnai dengan warna coklat gelap. Wajah yang selalu terlihat natural kini tidak lagi terlihat. Ada make up tipis dengan pewarna bibir yang merubah warna bibir pink itu tampak merah merekah. Hanya yang tidak bisa gadis ini rubah adalah yang terpasang apik di ke dua kaki nya. Dara memakai sepatu flatshoes. Tidak memakai high heels, untuk menyempurnakan tampilan barunya. Jujur saja, gadis ini terkesan dewasa dan elegan.
"Aku tau kau terpesona dengan perubahanku. Hati-hati ke dua bola matamu itu menggelinding," cemooh Dara yang semakin hari semakin berani saja berbicara santai dengan bos Mafia kejam ini.
Apa lagi setelah pria ini menyatakan perasaan nya satu Minggu yang lalu di rumah sakit. Alex menghela napas berat.
"Kau ingin ke kampus atau mencari lelaki untuk di jerat?" kesal Alex. Suara bariton itu semakin terdengar berat.
Ke dua sudut bibir Dara Margaretha berdenyut-denyut ingin mengulas senyum serta tawa keras. Ternyata, beginilah ekspresi wajah dan suara dari seorang Alex Felton yang tengah posesif. Akan tetapi, ia harus menahan perasaan tergelitik itu. Harus berwajah biasa saja, meskipun hati nya berbunga-bunga. Alex harus berjuang untuk meluluhkan hatinya. Meski sebenarnya, dari awal gadis ini sudah luluh seluluh-luluh nya oleh pria ini. Akan tetapi, ia harus menahannya.
Kapan lagi ia mengerjai Alex, si Bos Mafia kejam ini. Derap langkah kaki dari dalam rumah besar terdengar nyaring. Si manja menghentikan langkah kakinya. Pria dengan stelan jas kantor rapi dengan harga ratusan dolar itu melipat ke dua tangannya di depan dada. Menelisik Dara dari atas sampai bawah.
"Swit...Swit!" ujarnya dengan pandangan mata nakal,"apakah ini benar di culun yang selalu terlihat seperti anak SMP? Kenapa bisa berubah menjadi secantik ini?" lanjut nya, mendapatkan pelototan dari Alex.
Dara mengulas senyum. Jari jemarinya menyisir kecil anak rambut nya ke belakang telinga. Dan tersenyum pongah.
"Bukankah aku harus terlihat cantik hanya untuk mendapatkan kekasih baru?" Dara sengaja berucap dengan nada keras. Ekor mata di lapisi softlens coklat itu melirik ekspresi Alex.
Pria itu mengeraskan ke dua sisi rahangnya. Mark terkekeh kecil, pria ini tau jika Dara sengaja mengucapkan nya. Siapa juga yang mau menolak si burung rajawali. Hampir saja Mark mencongkel indah nya itu kala melirik milik Alex. Kenapa otaknya jadi aneh begini?
"Ya, aku akui hal itu. Tapi sepertinya masih ada yang kurang dengan penampilanmu, Dara."
Dara menoleh dengan dahi berkerut dalam, menatap ke arah Mark Felton.
"Apanya yang kurang?" tanya nya dengan nada tak mengerti.
Bukankah semua nya sudah di persiapkan dengan matang. Semuanya di bantu oleh Emma.
"Kau lupa jika pria Eropa suka buah melon bukan buah apel," goda Mark.
Sontak saja Dara menyilang ke dua tangannya di depan dada. Ia menatap kesal ke arah Mark.
"Sesama kepuyaan yang gak seberapa harus nya kau juga sadar diri, burung puyuh!" balas Dara dengan nada sarkas.
Mbeek!!!!!
Senyum di wajah Mark langsung sirna karena perkataan Dara. Oke, seperti nya kedua Tom dan Jerry di dunia nyata ini tidak akan pernah punya waktu baik dan perkataan waras. Alex menutup ke dua kelopak matanya. Ia yakin, setelah ini ke duanya akan adu argumen lagi.
"Kau jeruk mandarin!"
__ADS_1
"Burung puyuh!"
"Jeruk mandarin!"
"Burung puyuh!!!!"
"STOP!!!!" Alex berteriak. Ia mengangkat sebelah tangannya ke atas.
Ke duanya langsung berhenti. Dara dan Mark sontak takut-takut menoleh ke arah Alex. Pria itu menoleh menatap ke arah Dara dengan pandangan aneh.
"Kau!" Tunjuk Alex pada Dara."Kau tidak boleh ke kampus hari ini," lanjut nya.
"Lah? Kenapa???" balas Dara dengan nada ragu. Ingin menaikan nada suaranya. Melihat wajah Alex yang memerah padam. Membuat ia tidak mampu melakukan nya.
"Kau mau menguji bagaimana aku jika cemburu, Hem?" Alex berseru dengan nada serak seksi miliknya. Ke dua tungkai kaki panjang itu melangkah mendekati Dara yang berdiri di depannya.
Reflek Dara mundur kala Alex maju. Mark menjadi penonton adegan ke duanya.
Buk!
Punggung belakang Dara membentur tembok belakang nya. Ke dua kelopak mata bulan sabit itu membesar kala ke dua sisi tubuh nya di kekung oleh ke dua tangan Alex. Tubuh pria itu membungkuk. Hembusan napas hangat permen mint berhembus di wajah Dara.
Deg!
Deg!
Deg!
Sialan sekali pria ini. Dara sampai tidak tau cara bernapas yang benar. Jantung nya menggila karena Alex. Senyum miring yang mampu membuat dirinya lupa daratan. Beberapa kali kelopak mata sempit itu berkedip-kedip cepat karena ulah Alex. Ia mencoba lepas dari pesona Alex. Harus sadar.
Mark gigit jari melihat keduanya. Ingin berteriak kesal tidak mungkin. Ia masih sayang nyawa. Hal hasil ia menghentak-hentak ke dua kakinya di lantai. Sebelum melonggos pergi.
...***...
"Kenapa kita harus pergi dari Texas, Alan?" tanya Zain di atas kursi roda.
Pria ini hanya melirik Alan yang duduk di sofa.
"Untuk penyembuhanmu, kita butuh keluar dari Texas," berdusta Alan.
__ADS_1
Zain menatap lambat wajah Alan Lewis."Bukankah Texas memiliki rumah sakit dengan tenaga medis yang juga mampu merawatku?"
Alan tidak menjawab. Pria itu berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati sang adik. Wajah yang selalu terlihat sangar tidak terlihat sama. Alan terlihat seperti kakak pada umumnya. Dengan senyum lembut yang di ulas.
"Aku pikir kau butuh udara baru. Kita akan ke Hongkong untuk pengobatanmu," balas Alan.
Zain hanya diam. Ia tak tau kenapa Alan terkesan terburu-buru. Bahkan ia selama bangun dari tidur panjang nya. Tidak pernah keluar dari rumah besar Lewis. Semuanya di lakukan di dalam rumah.
"Baiklah. Aku mengerti." Zain pada akhirnya mengalah.
...***...
"Bagaimana kondisi tubuhmu sekarang?" Jenni berucap lembut.
Kembaran nya ini terbangun empat hari yang lalu. Kini sudah berada di ruangan rawatan.
"Sudah lebih baik."
"Maafkan aku. Kau seperti ini karena kebodohanku," lirih Jenni.
Wanita cantik yang duduk di pinggir ranjang Juan itu menunduk dalam. Juan mengulas senyum. Pria ini di beri tahu oleh bawahan Jenni. Semua hal yang terjadi.
"Tidak apa-apa Jenni. Aku senang jika kau sudah bisa melepaskan dendam. Yang penting saat ini bukanlah tentang dendam. Tapi tentang kebahagiaanmu. Carilah kebahagiaanmu sendiri Jenni. Tidak ada orang yang mampu memberikan kebahagiaan untukmu, kecuali dirimu sendiri." Juan berucap bijak.
Jenni Brown mengangguk pelan. Sebelum mengulas senyum. Juan benar-benar pria berhati besar. Andaikan ia menuruti perkataan Juan. Maka sudah pasti tidak ada kekacauan yang terjadi. Juan pasti masih baik-baik saja.
"Terima kasih, Juan."
"Sama-sama, my sister!"
Kedua nya tersenyum lembut. Jenni akan melepas kan semua nya. Memulai hal baru, mungkin ia akan meninggalkan Texas secepatnya setelah Juan pulih.
.
.
.
Ayo dong☺️ Likenya di kencengin🙈🙈🙈 aku nggak minta Vote koin atau Vote koin. Cuma minta jempol nya aja😅😅 katanya minta crazy up, kasih like aja pelit🤣🤣🤣 Jangan lupa! Like nya di akhir setiap selesai baca!!
__ADS_1