Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 53. RAHASIA BESAR YANG TERBUKA


__ADS_3

"Tidak usah ikut campur dengan urusanku. Kau urus saja pekerjaanmu," tukas Alex dengan nada tegas.


Mark menatap lambat ke arah sang kakak dengan pandangan mata tak terbaca. Manik mata hijau nan begitu indah itu, menelisik raut wajah sang kakak. Pria dari darah dengan nya ini terlihat sangat aneh di matanya. Mark hanya bertanya perihal keberandaan Dara Margaretha.


Setelah kepergian Dara dari rumah saat malam itu. Tiga tiga hari lebih Dara tidak lagi berada di rumah. Gadis culun itu tidak membawa ponsel yang di berikan oleh Alex padanya. Tom tidak berada di rumah ataupun di markas. Sedangkan Emma, wanita itu berkata tidak tahu menahu akan keberadaan Dara. Rumah besar ini terasa begitu sepi tanpa keberadaan Dara di dalamnya. Sama seperti dahulu.


"Kenapa nadamu begitu sewot, Alex? Aku hanya bertanya dengan baik-baik. Apakah kepergian Dara ada hubungannya denganmu?" tebak Mark Felton.


Si manja bukanlah pria bodoh. Pria tampan ini, sangat pintar dalam menilai situasi. Hanya saja ia terlalu sering kalah beradu argumen dengan Dara.


Alex menghela napas lelah."Tidak ada yang terjadi. Dia hanya ingin sendiri," dusta Alex.


Kembali Mark menelisik ke dua manik mata sang kakak. Pria gagah itu membalikkan tubuh nya.


"Hei! Kau mau kemana? Aku belum selesai berbicara denganmu, Lex!" teriak Mark Felton setengah kesal.


Alex Felton tak ambil pusing. Ia langsung melangkah meninggalkan Mark di ruangan kerja nya.


"Kenapa dia jadi aneh begini. Aku tau Alex bukan pria waras tapi, ini begitu aneh di mataku!" monolog Mark pelan. Masih menatap punggung belakang Alex yang semakin menjauh darinya.


...***...


Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Dara duduk di samping kursi kemudi. Hanya ada musik sebagai pengisi kekosongan nada di antara kedua nya. Sesekali ekor mata dokter tampan itu melirik Dara yang terlihat masih bungkam. Kondisi Dara sudah lumayan membaik.


Kepalanya menoleh ke samping. Menatap langit yang terlihat kelam. Mesin penghangat menyala, agar tubuh di dalam kuda besi itu tetap hangat.


"Oh, salju pertama turun!" seru Dara dengan menegakkan tubuhnya yang semula bersandar senyaman mungkin di kursi.


Senyum yang telah lama redup terlihat kembali. Juan ikut menoleh ke arah kursi di samping nya. Hanya sekedar menatap senyum darah yang terasa menghangat kan hatinya. Garis bibir Juan Brown ikut di angkat tinggi ke atas.


"Ini kali pertama nya kamu melihat salju bukan?" tanya Juan membuka suara berat sedikit bas itu.


Dara terlihat antusias menurunkan kaca mobil. Ia menoleh ke arah Juan sebentar.


"Tidak. Ini bukan pertama kalinya aku melihat salju. Saat aku masih berusia enam tahun aku juga pernah melihat salju, kok!" balas Dara antusias.


Kepala nya kembali menoleh ke kaca. Tangannya sedikit di ulur keluar. Meskipun gadis berkaca mata itu tau jika apa yang kini ia lakukan berbahaya. Beruntung, jalanan di hari pertama salju turun masih sangat sepi. Seperti nya orang-orang engan keluar dari rumah karena cuaca yang mulai dingin. Hingga memilih bergelung di dalam selimut. Atau sekedar duduk bersama di perapian bersama keluarga lebih menyenangkan.

__ADS_1


Dahi Juan berlipat."Apakah sebelum kamu pernah tinggal di negara Eropa atau di negara Asia lainnya?" tanyanya penasaran.


Telapak tangan Dara mulai di sapa hawa dingin. Dan salju kecil yang turun jatuh di telapak tangannya. Dara menarik perlahan telapak tangannya. Sebelum menaikkan kaca mobil secara otomatis.


"Ya. Aku dulu sekali. Pernah tinggal di Eropa. Saat kebahagiaan sangat terasa nyata."


"Benarkah?"


"Hem..."


"Apakah di Amerika juga?"


"Hem...ya, tapi aku lupa di bagian mananya. Karena sudah sangat lama sekali."


"Usia berapa itu, kalau aku boleh tau?"


"Enam tahun. Ya, enam tahun." Jawab Dara mengangguk pelan mencoba menyakinkan ingatan nya.


Jari jemari tangannya bergerak menyentuh kaca matanya. Membenahi kaca mata yang sempat merosot karena ia mengangguk pelan.


Juan ikut mengangguk pelan.


Juan menoleh ke samping."Aku mempunyai sebuah apartemen sederhana di dekat kampus. Kau bisa menghuninya. Dengan syarat, rawat apartemenku itu dengan baik," ucap Juan.


Dara tersenyum lebar. Ia tak menyangka di balik wajah sok cool dan suka marah Juan Brown. Siapa sangka jika pria ini memiliki hati yang baik.


"Seperti nya salju pertama sangat deras." Seru Juan lagi. Kala melihat semakin lebat saja bulir-bulir es itu jatuh di atas kap mobilnya.


"Hah! Iya!"


Stir mobil itu di putar perlahan oleh Juan di persimpangan. Dari arah berlawanan, truk besar melaju dengan cepat. Juan yang masih terlihat santai tidak memperhatikan persimpangan.


Clitt!!!!


Brak!!!!!


Bruk!

__ADS_1


Akh!!!!!


Bunyi ban mencicit keras menggema. Hingga mobil sedan hitam itu di hantam keras. Melaju tak terkendali. Dara terpekik keras. Hingga beberapa kali kepala nya terhantam. Mobil sedan hitam itu terbalik beberapa kali.


Salju turun semakin deras. Aroma anyir menguar. Juan menoleh ke samping di mana kaca di bagian tempat gadis yang ia cintai duduk pecah.


"Da...da...ra——" panggil Juan dengan nada lemah.


Kepala gadis itu terlihat di penuhi oleh Dara. Rasa sakit menghantam tubuh Juan. Pria itu bahkan tidak menyadari lehernya tertusuk pecahan kaca. Kembali ia memanggil nama Dara dengan susah payah. Tangan penuh luka itu terlihat menggapai tubuh Dara. Sebelum terjatuh lemah.


Tiga menit jeda waktu. Dara membuka mata, gadis itu menatap samar ke arah tempat duduk Juan. Pria itu telah tak sadarkan diri. Kepala Dara teras sangat pusing. Pandangan matanya terlihat kabur. Aneh nya. Gadis ini seolah-olah merasa de javu dengan kondisi. Mobil yang terbalik salju yang turun mengenai tubuh nya. Teriak kan orang-orang semakin terdengar samar.


"Nak!"


"Ayah...ibu... adik..."


"Keluarkan anak kecil itu terlebih dahulu. Dia masih bisa di selamatkan!"


Bak kaset rusak. Suara-suara yang samar entah suara siapa berdenggung di telinga nya. Rasa dingin, pedih dan sakit terasa familiar pada Dara. Sebelum kelopak mata itu terpejam erat.


...***...


"APA???????" teriaknya menggelegar.


"Kami baru saja mendapatkan kabar ini, Bos!" ujar Emma dengan napas memburu.


Alex terpukul mundur kebelakang. Kepala nya berdenyut pening. Naasnya memburu.


"Dan kondisi baik Dara maupun tuan muda Juan parah sekali. Sekarang di bawa ke Rumah Sakit," ucap Emma lagi.


Alex menepuk kasar dadanya. Ulu hatinya terasa di jepit keras. Bukan ini yang Alex ingin kan.


"Bos!" teriak Emma khawatir. Tangannya mengarang menyentuh tangan Alex.


Bos Mafia Kejam ini hampir saja menghantam dinding. Ke dua sisi matanya basah.


"Dia adalah korban selamat dari kecelakaan yang merenggut ke dua orang tua serta adiknya berusia tiga tahun."

__ADS_1


"Untuk menyelamatkan tuan muda Mark yang sekarat. Dokter memutuskan untuk menolong tuan muda Mark. Padahal yang paling kritis saat itu adalah adik balita nona Dara. Aku tidak tau hubungan sial apa yang melatar belakangi hubungan Bos dan dia."


Dua penjelasan informan nya kembali di ingatan. Ia tak ingin di benci karena kematian orang tua dara. Yang secara tidak sengaja terlibat dalam pemenuhan orang tua nya. Apa lagi adik gadis culun itu mati karena menyelamatkan adiknya.


__ADS_2