Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 45. FLASHBACK ZAIN


__ADS_3

"Apakah ada hal yang menyenangkan terjadi pada hari ini, Hem?" seru Alex dengan nada serak seksi khas miliknya.


Dara berhenti sejenak memijat ke dua sisi bahu Alex. Wajah Alex mendongak ke atas, manik mata hijau tajam itu dapat melihat dengan jelas wajah bahagia dari Dara. Kepala nya mengangguk kecil.


"Ya. Ada hal yang menyenangkan yang aku dapat kan. Meskipun ini bukanlah untuk diriku," jawab Dara.


Dahi putih pucat itu mengerut dalam. Raut wajahnya tampak begitu penasaran dengan kata-kata yang akan di keluarkan oleh Dara.


"Apa itu?"


Dara membungkukkan tubuhnya. Netra indah madu itu berbenturan dengan milik Alex.


"Aku dan Sofia menemukan cara untuk menyembuhkan penyakitmu," ujar Dara dengan nada lembut.


Alex membeku sesaat. Tubuh nya menegang. Ke dua manik mata hijau tajam itu menelisik ke dua netra indah yang di bingkai kaca mata milik gadis culun ini. Ia tengah berpikir Dara berbohong atau hanya sebuah candaan semata. Dara menegakkan tubuhnya. Ia mempoutkan bibir nya. Sebelum melangkah mengitari sofa di ruangan tengah rumah besar Felton.


Ia duduk di samping Alex. Tak sungkan ataupun malu memeluk tangan Alex. Berdasar di lengan Bos Mafia kejam ini.


"Jangan terlalu terkejut Alex. Sofia bilang, ia sudah pernah menangani seorang kelainan seksual yang sama sepertimu. Hanya saja kesuksesan nya tidak di publikasikan. Katanya, pria itu meminta untuk menyembunyikan nya. Bukankah kita sangat beruntung?" ulas Dara terdengar sangat lega.


Ke dua kelopak mata yang di hiasi bulu mata tebal dan lentik itu berkedip sangat cepat. Kala kesadaran mulai menguasai diri. Alex melepaskan secara paksa kepala Dara yang bersandar nyaman di lengan kokoh nan keras itu. Ke dua tangan nya jatuh pada ke dua sisi bahu Dara. Gadis culun itu saling berhadapan dengan nya.


"Apakah kau serius? Bisakah kau mengulang nya lagi?" tanya Alex masih tidak mempercayai apa yang dia dengar.


Dara mengulum senyum di bibir nya."Sofia tau cara menyembuhkan nya. Dan dia mengajarkan aku caranya. Kau sebentar lagi bisa di sembuhkan Alex Felton. Kau bisa kembali normal," kembali Dara berucap,"dan ingat jangan lupa saat kau sembuh. Kau harus menjadikan aku wanita——ah, tidak. Gadis! Ya, aku harus menjadi gadis satu-satunya yang akan kau nikahi. Karena aku adalah obat bagimu. Dan yang bisa menyembuhkan kamu. Ingat jangan pernah ingkar


janji——"


Hap!


Tubuh Dara di tarik masuk ke dalam pelukan Alex Felton. Ia semakin tersenyum lebar kala pelukan Alex begitu erat pada nya. Telapak tangan Dara menepuk-nepuk pelan punggung belakang Alex.


"Aku bisa sembuh?" ujar Alex masih tidak percaya.


Kepala Dara mengganguk pelan di dalam pelukan Alex. Ke dua sudut bibir Alex terangkat ke atas. Ia tersenyum begitu lebat saat ini. Sudah lama ia ingin terbebas dari belenggu menakutkan itu. Pada akhirnya, ia akan bisa mendapatkan nya.


Kebahagiaan nya membuncah dilam dadanya. Beruntung nya ia bisa bertemu dengan Dara Margaretha. Perempuan mungil yang ada di dalam pelukan nya ini.


...***...

__ADS_1


Tessa melangkah pelan mendekati Jenni yang terlihat melamun duduk di atas bangku taman. Langkah kaki milik Tessa terangkat ringan menuju Jenni. Ia baru kembali dari apartemen lama. Ia kembali ke sana membersihkan apartemen yang sudah berdebu dan tidak terurus. Ini sudah saatnya ia kembali ke sana. Tempat yang penuh kenangan kebahagiaan.


Sebelah tangannya terangkat. Ingin menyentuh sebelah bahu Jenni. Namun berhenti di awang-awang kala manik matanya jatuh menatap sebuah gambar. Pria yang terlihat tersenyum di balik bingkai foto.


Flashback on


"Ini minumannya!" Tessa berujar ceria sembari meletakkan dua gelas minuman jus jeruk di atas meja.


Zain Lewis tersenyum hangat. Ia meraih gelas yang ada di atas meja. Menyesapnya perlahan-lahan, Tessa duduk di samping nya. Melakukan hal yang sama.


"Kapan Alex akan ke sini?" tanya Alan melirik Tessa di sampai tubuh nya.


Zain meletakan kembali gelas di atas meja di tempat semula. Tessa mengangkat ke dua sisi bahunya acuh. Bibir merah merekah itu di poutkan pertama kesal.


"Dia selalu saja tidak bisa di tebak. Kau tau bukan perkerjaan nya yang banyaknya itu selalu mengalihkan perhatian nya dari aku. Jujur saja, Zain.


Aku berpikir apakah sahabatmu itu benar-benar mencintai aku atau tidak," keluh Tessa.


Zain mengeleng kecil."Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Tessa. Jelas-jelas tentu saja ia mencintai kamu. Alex bukan tipe pria yang mau menjalin hubungan jika bukan dengan wanita yang benar-benar ia sukai," ulas Zain.


Tuk!


"Benarkah?"


"Ya tentu saja."


"Tapi dia bahkan tidak pernah menyentuhku."


Kerutan di dahi Zain terlihat."Maksudmu?"


"Kami hanya sekedar berciuman. Hanya sebatas itu tidak lebih."


"Hah?" Zain tercengang mendengar nya.


"Apakah aku tidak cantik dan tidak menarik, Zain?" ucap Tessa pelan,"tolong jawab jujur."


Zain terkekeh kecil."Kau tentu saja cantik cantik Tessa."


"Kau bohong."

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak bohong kok!"


Tessa kembali menghela napas berat. Tepukan di bahu Tessa terasa.


"Jangan berpikir demikian. Kau benar-benar cantik. Terbukti banyak orang yang terpesona dengan kecantikanmu."


Tessa mengulas senyum. Entah dari mana ide gila yang terbesit di pikiran Tessa. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Zain. Hingga bibir merah ranum milik nya langsung menyambar bibir tebal milik Zain. Pria itu membeku. Pergerakan lembut itu berubah menggebu. Kala telapak tangan Zain di bawa pada paha Tessa. Ke duanya larut dalam buayaan napsu.


Plop!


Benang saliva terjalin kala bibir mereka berpisah. Napas Tessa me memburu. Begitu pula dengan Zain. Tidak ada pria di dunia ini yang sanggup menolak kenikmatan dunia.


"Tessa! Kita tidak boleh begini!" ujar Zain masih sedikit waras.


Tessa tidak menerima penolakan Zain. Ia berpikir jika Zain saja bisa menolaknya bagaimana dengan Alex. Wanita itu kembali melayangkan bibir nya pada bibir tebal Zain. Kala bisikan setan menyatu dengan kenikmatan yang tidak bisa manusia tolak. Ke duanya lupa daratan. Lupa akan status yang masing-masing miliki.


Flashback off


Tangan Tessa di turunankan dengan perlahan. Rasa bersalah menelusup di dalam hatinya. Tapi apa boleh buat. Semuanya sudah berlalu. Yang terpenting saat ini. Zain Lewis tidak di sini.


...***...


...Bruk!!...


Buku-buku yang bawa Dara jatuh berhamburan di lantai. Dengan cepat ia memungut buku paket itu. Dari kejauhan langkah lebar di ambil. Tubuh pria itu ikut membungkuk. Ikut memungut buku yang berserakan.


"Terima kasih!" Seru Dara masih melakukan kegiatan nya.


"Mau di bawa kemana semua buku ini?"


Dara menghentikan kegiatan nya. Ia menoleh menatap dosen muda di depannya ini.


"Ini mau di bawa pulang untuk di baca!" jawab Dara setenang mungkin.


Kepala Juan mengangguk kecil. Mereka berdua serentak berdiri.


"Tapi kenapa semuanya tentang penumpang seksual?"


Dara mengulas senyum tipis."Karena penasaran." Dara menjawab asal.

__ADS_1


Dahi Juan berlipat. Dokter muda sekaligus Dosen muda ini merasa tidak seperti itu. Ke dua manik matanya menatap ke arah Dara. Gadis culun ini tidak mengendari tatapan dari Juan.


__ADS_2