Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 37. PESONA YANG TIDAK DI SADARI


__ADS_3

Beberapa kali mulut Dara menguap lebar. Dua jam lagi ia akan masuk ke dalam kelas lagi. Angin yang berhembus di taman membelai wajahnya. Penuh godaan untuk ia terlelap. Rerumputan bergoyang-goyang berdesir kala saling bersentuhan.


"Hoam!" Dara menguap lebar dengan telapak tangan mengatup mulutnya.


Tidak ada siapa-siapa di taman kampus. Mengingat teman-temannya lebih memilih keluar gedung Fakultas dari pada tetap di sana sembari menunggu waktu berlalu.


"Kau terus mengusap dari tadi. Ini aku belikan es kopi untukmu!" Seru Niko sembari menempelkan cup kopi dingin ke arah pipi kanan Dara.


Gadis berkaca mata itu terperanjat. Kala dingin es menyentuh pipinya. Niko terkekeh kecil melihat tingkah Dara. Gadis culun itu menerimanya, tak luput bibirnya mengucapkan kata terima kasih pada pria yang kini mengambil tempat di samping tempat duduknya.


"Aku pikir kau ikut dengan mereka ke Mall," ucap Dara membuka pembicaraan.


Niko Wu menyesap perlahan-lahan es kopi miliknya." Maunya sih, begitu. Tapi kasihan kamu sendiri di sini. Aku ini orangnya baik dan tidak tega dengan gadis manis sepertimu menunggu sendiri di sini. Karena itulah aku memutuskan untuk membeli es kopi di luar saja, Menemanimu di sini," jawab Niko terdengar cukup dapat di percaya.


Kepala Dara mengangguk pelan. Ia menyesap es kopi miliknya dengan perlahan. Rasa manis dan dingin dari kopi membuat ia merasa lebih segar. Setidaknya ia dapat menghilangkan kantuk yang sedari tadi menyerangnya. Berusaha menggodanya untuk terlelap di hari yang panas dan sedikit berangin.


"Oh, iya. Kita akan mendapatkan pembagian kelompok untuk minggu oleh Mr.Geral. Kau sudah menentukan kelompokmu, Niko?" tanya Dara. Setelah menyegarkan dirinya dengan minuman berkafein itu.


"Belum aku masih belum menentukan kelompok yang akan aku bentuk. Kau sendiri bagaimana?"


"Sama. Aku juga tidak tau kelompok mana yang akan aku pilih. Atau memutuskan untuk membuat kelompok sendiri."


Niko menoleh ke samping. Hembusan angin menerbangkan rambut hitam legam sebahu yang lurus itu. Membuat wajah gadis culun itu sesekali tampak dengan jelas. Meskipun kaca mata membingkai wajah gadis ini. Tidak menampik ia terlihat manis di mata Niko Wu. Pria ini tersenyum lebar melihat kebiasaan Dara Margaretha yang mengembung kan pipinya. Terlihat sangat imut di mata Niko.


"Kalau begitu kenapa kita tidak buat kelompok saja. Kau dan aku, kita hanya tinggal menambahkan tiga orang lagi. Bukankah itu sempurna?"


Dara merotasikan ke dua matanya malas." Aku tau kenapa kau memilih aku di sisimu, tuan muda Wu!" decak Dara, "kau hanya ingin mendapatkan nilai bagus. Karena itu kau memilih bergabung dengan kelompokku. Kau tau dengan jelas kehebatan dari seorang Dara Margaretha, bukan?" sambungnya terdengar cukup narsis.


Niko terkekeh pelan. "Ya ya ya! Tentu saja begitu. Anak kutu buku sepertimu akan sangat menguntungkan. Jadi, karena itulah aku tentu saja memilihmu dan memihak kamu," ujar Niko dengan senyum ramah.


Seperti biasanya. Niko tidak pernah memperlihatkan gelagat aneh di depan Dara. Pria tampan ini selalu memperlihatkan senyum ramah dan tingkah normalnya. Tidak sedikitpun ia memperlihatkan belangnya.


"Kau terlalu jujur, bung!" balas Dara terkekeh kecil.


"Tentu saja. Karena kejujuran akan mengantarkan kita pada hal yang baik."

__ADS_1


"Contoh nya?"


"Ya, contohnya seperti kamu. Bertemu denganmu adalah hal terbaik yang pernah aku dapat kan."


"Cih! Jangan berubah menjadi buaya darat, Niko. Kau tidak cocok dengan kata-kata aneh begitu." Dara mencemooh Niko.


"Benarkah?"


Kepala Dara mengangguk cepat."Ya, tentu saja."


Ke duanya tertawa setelah nya. Ah, tolong katakan pada siapapun itu. Gadis culun ini cukup membuat Niko kesulitan saat ini. Harusnya dia mengawasi gadis culun ini. Mengorek informasi dari Dara Margaretha. Dengan senyum ramahnya, Ia berusaha membuat Dara nyaman padanya. Tapi anehnya, dirinyalah yang di buat nyaman oleh si gadis culun. Anggap saja ia sekarang senjata makan tuan.


Entah bagaimana permulaannya. Yang jelas Niko Wu hanya tau akhirnya saja. Ia sepertinya jatuh cinta pada gadis ini. Dia sendiri tidak mampu menyadarinya. Jika ia terperangkap dalam pesona gadis culun yang memiliki banyak pesona. Dan banyak sisi yang membuat Niko terpukau.


...***...


"Jika di perhatikan dengan seksama. Ini adalah tato yang di buat khusus oleh agen pembunuh rahasia, Bos!" seru Emma memperlihatkan gambar tato di layar ponsel miliknya yang baru ia dapat kan.


Alex Felton menerimanya. Manik mata hijau tajam itu menelisik dengan intens. Ia memperlihatkan dengan detail tato yang ada di layar. Sama. Tidak ada yang berbeda.


"Cari tau di mana markas mereka. Buat jebakan untuk tikus tanah itu. Sebisa mungkin mereka semua harus berkumpul satu tempat. Sebelum kita menyerangnya!" titah Alex dengan nada menyeramkan.


Raut wajahnya yang selalu dingin terlihat menyeringai. Sangat menakutkan. Emma Young merasa bulu tubuhnya berdiri seketika. Aura kelam yang ia keluarkan membuat wanita cantik ini merasakan kengerian yang mencengkram.


"Baik, Bos. Siap untuk di laksanakan. Kalau begitu aku undur diri, Bos!" ujarnya penuh hormat.


Alex mengangkat sebelah tangannya. Emma melangkah keluar dari ruangan Alex. Pria itu membalikkan kursinya. Menghadapi ke sisi lukisan besar yang tertutup kain putih. Seringai di bibirnya memudar kala tanpa sadar ia mengingat wanita itu. Wanita yang sepenuh hati ia cintai. Dan sepenuh hati pula ia benci. Perasaannya tidak mampu di gambarkan hanya dengan sebaris kalimat atau bahkan satu paragraf.


"Alex!" seruan keras dari suara serak terdengar sedikit manja membuat kursinya kembali menghadap ke arah pintu.


Pria itu melangkah lebar ke arah sang kakak. "Alex!" serunya sekali lagi.


"Ada apa?" tanya Alex melirik wajah aneh sang adik.


Pria tampan itu melangkah cepat ke arah sofa. Ia merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


"Aku lelah mengolah Mall yang besar itu," keluhnya.


"Lalu kau mau kerja apa?"


"Kerja apa bagusnya, ya?" Mark Felton malah balik bertanya.


Alex menghela napas. Mark Felton, adik bungsu nya ini memang sangatlah manja. Sulit menghadapi sikap manjanya ini, terlepas dari kepintaran otaknya.


"Kau mau menjadi Bos sebagai perdagangan pasar organ, huh!" Alex memberikan pekerjaan yang membuat Mark langsung menggelepar bangkit dari posisi nyamannya.


Ia duduk dengan menatap Alex dengan ekspresi wajah tak percaya.


"Kau gila, Lex?" teriaknya delapan oktaf,"aku tidak ingin bekerja di sana. Melihatnya saja aku hampir koma. Apa lagi menjadi Bos yang mengatur semuanya," sambungnya dengan sedikit melebih-lebihkan keadaannya.


Alex mengulas senyum menyebalkan di mata Mark.


"Kalau tidak mau di berikan perkejaan yang bersih. Hanya tersisa perkejaan yang kotor," balas Alex.


Mark memucat. Ke dua tangan bergerak menolak perkataan Alex.


"T——tidak. Tidak jadi, aku akan kembali ke sana." Mark berseru terbata-bata. Ia langsung berdiri dan setengah berlari menuju pintu keluar. Alex menggeleng kecil melihat tingkah si manja.


...***...


Hembusan napas menerpa puncak kepala Dara. Gadis yang baru terlelap dua jam yang lalu itu terganggu dengan pergerakan di perut datarnya. Ke dua matanya terbuka perlahan-lahan. Sebelum kembali tertutup. Ia menoleh sedikit ke belakang. Samar-samar ia menatap wajah tampan Alex di pelupuk mata.


Ke dua mata sipit itu langsung melebar kala ia sadari. Alex memeluk dirinya di atas ranjang. Dara mengulas senyum. Ia membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Hingga wajahnya menengadah. Menatap wajah tampan Alex.


"Kapan dia tidur di sini?" monolog Dara serak.


Ia tersenyum semakin lebar. Melihat pria ini mengeratkan pelukannya.


Dara berharap Alex akan segera sembuh dari penyakitnya. Dan bisa mencintainya dengan sempurna.


"Cepatlah sembuh dan menikahi aku," ujarnya lagi terdengar malu-malu.

__ADS_1


Sayangnya. Tidak ada jawaban dari Alex. Sepertinya pria ini benar-benar terlelap karena letih. Entah apa yang di kerjakan oleh Alex. Pria ini keluar dari tadi pagi. Dan sepertinya baru sampai di rumah besar.


__ADS_2