Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 19. AKU TAK INGIN TERLUKA


__ADS_3

"Apa yang membuat matamu itu tidak berhenti memandangi wajahku?" suara bariton itu terdengar keras.


Dara mengulas senyum di bibir merahnya."Aku hanya ingin melihat wajah tampan pria yang aku cintai apakah tidak boleh?"


Alex mengangkat wajah nya. Menatap Dara yang tengah memangku ke dua telapak tangan ke ke dua sisi wajahnya. Ia menatap Alex dengan garis bibir yang di tarik ke atas.


"Apakah kau begitu mencintai aku?" Alex bertanya dengan nada tak yakin.


Dara mengangguk kuat."Ya, aku sangat mencintaimu. Sungguh sangat," jawab Dara dengan nada penuh kesungguhan.


Senyum geli di bibir Alex tampak tercetak. Alex meletakan dokumen keuangan Dragon di atas meja. Dengan memberikan kode melaluinya jari telunjuk nya. Dara bangkit dari sofa melangkah cepat menuju meja kerja pria itu. Ia berdiri dengan wajah lugu.


"Sini duduk!" Seru Alex menepuk paha kerasnya.


Dara terlihat malu-malu kucing duduk menyamping di dada bidang Alex. Mengeleng kan wajah nya ke bahu kekar Alex. Aroma mint bercampur keringat menguar begitu saja memasuki paru-paru Dara. Gadis culun itu sangat merasa senang bisa seperti ini. Apakah hubungan mereka sudah ada kemajuan? Dara merasa ada peningkatan di hubungan dirinya dan Alex.


"Apakah perasaanmu tidak berubah jika suatu saat kau melihat sisi diriku yang menakutkan, Dara?" ujar Alex dengan nada berat.


"Bukankah aku sudah melihat sisi paling menakutkan dari dirimu, Lex?"


Alex mengangguk kecil. Dara Margaretha memang telah melihat sisi kelam dari dirinya. Namun sepertinya ini masih Sangat jauh. Masih ada beberapa sisi yang belum gadis culun ini lihat dengan jelas. Tangan Alex bergerak memeluk pinggang Dara. Kepala Dara terangkat, ia tersenyum lucu.


"Apakah itu masih kurang?" tanya Dara dengan nada pelan.


Manik mata indah Alex di tatap dengan intens. Netra hijau tajam itu terlihat begitu dalam. Seakan ada banyak teka-teki di dalamnya.


"Seperti nya begitu," balas Alex pada akhirnya.


Dara menunduk. Ia tidak terlalu kuat untuk tetap menatap netra elang milik Alex. Ia takut terbenam terlalu dalam dan terperosok semakin jauh sampai ke dasar. Hingga perasaan nya tidak bisa di kendalikan. Jujur saja, Dara masih ingat logikanya lebih kuat dari pada hati. Karena ia tak ingin dirinya dan hatinya yang terluka paling banyak dari pada pria ini.


"Kalau begitu. Jangan di perlihatkan sisi itu terlalu banyak. Aku juga manusia biasa. Aku juga takut terluka, Alex!" suara yang Dara keluarkan begitu pelan dan dalam.

__ADS_1


"Kau takut?"


"Ya. Aku takut terluka terlalu dalam. Kalau boleh, bisakah aku memintamu untuk tidak melukai aku. Setidaknya, hargai perasaanku. Perasaan wanita yang mencintaimu. Dengan tulus," ujar Dara dengan begitu jujurnya.


Wah! Dara Margaretha memang gadis culun yang menarik. Dia dengan mudahnya berkata jujur. Sangat jujur. Alex termenung seakan berpikir keras dengan apa yang di katakan oleh Dara. Mencoba menelaah perkataan Dara.


"Aku akan membantumu lepas dari penyimpangan seksual yang kamu alami. Sebagai pertimbangan nya. Ini kali pertama aku jatuh cinta. Karena selama dua puluh tiga tahun aku hidup. Aku bahkan tidak pernah memikirkan seorang pria. Ataupun berhubungan dengan pria. Aku ingin pengalaman pertamaku mencintai tidak akan menggoreskan luka," ujar Dara berterus terang.


Jari telunjuk nya terlihat bergerak menyentuh dada bidang Alex. Membuat pola bulat di dada Alex. Senyum terbentuk di bibir Alex Felton.


"Kalau begitu akan aku usahakan," balas Alex pelan.


Dara mengangkat pandangan nya. Dan tersenyum cerah. Ia berusaha keras membatu Alex dan pria ini harus menempati janjinya. Untuk tidak melukai hatinya. Semoga saja Mafia kejam ini tidak mengingkari perkataan nya.


...***...


"Kenapa kau minum di siang hari yang terik ini?" Juan bersuara.


"Kau tau di sini terasa begitu kosong." Jenni menunjuk dadanya."Aku terus menerus merindukan nya. Sangat..." lanjut nya dengan nada parau.


Juan menghela napas berat. Jenni saudara kembarnya ini terlihat begitu mencintai Zain.


"Lupakan dia, semua nya sudah terjadi. Takdir tidak bisa di kendalikan oleh manusia. Manusia itu wajar datang dan pergi. Kalau kau terlalu tengelam dalam dukamu. Sudah pasti kau akan semakin terpuruk, Jen!" nasehat Juan dengan lembut.


Ia berharap perempuan yang lahir lebih dahulu darinya ini akan bisa melepaskan semua duri yang ada di dalam dadanya. Jenni tertawa sinis.


"Kau belum pernah mencintai seseorang terlalu dalam Juan. Karena itu kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, rasa sakitku, dan kehampaan yang ada di dalam dadaku. Tau apa kau!" Jenni berkata dengan nada serak.


"Ya, aku memang tidak tau cara bagaimana rasa mencintai terlalu dalam. Yang pasti, jika aku berada di posisimu. Akan merelakan nya dan terus melanjutkan hidupku. Karena aku tau, dia pasti berharap kau juga bahagia tanpa dirinya. Pasti dia tersiksa melihat kau seperti itu," ujar Juan mencoba membuka pemikiran Jenni.


Wanita yang terlihat mabuk itu menghela napas frustasi. Berkata memang mudah. Tapi tidak dengan di lakukan.

__ADS_1


...***...


"Tom!" seru Mark mendekati Tom yang duduk di bangku bundar di belakang gudang penyimpanan senjata api.


Pria berkulit hitam itu mengangkat pandangan nya. Mark duduk di samping tubuh Tom.


"Ada apa tuan muda?" tanya Tom dengan nada sopan.


Mark terlihat meragu. Bibir nya terbuka lalu tertutup kembali.


"Itu..."


"Katakan saja tuan muda," potong Tom cepat.


"Soal Tessa, aku sudah sangat lama. Tidak mendengarkan tentang Tessa. Aku juga tidak berani bertanya pada Alex tentang hubungan asmara nya dengan Tessa. Sebenarnya apa yang membuat mereka berpisah?" pada akhirnya Mari Felton menanyai tentang ini juga.


"Ini bukan masalah yang bisa aku jelaskan dengan mudah pada tuan muda. Ada baiknya tuan muda Mark tidak membicarakan hal ini. Apa lah menyebutkan nama Tessa di depan Bos Alex. Karena itu akan membuat perasan Bos semakin buruk," ujar Tom dengan nada tegas.


Mark mengulum bibir nya dengan pelan. Seperti nya ia memang tidak akan pernah tau akan masalah Alex dan Tessa.


"Ya, baiklah..." Mark mengangguk kecil.


...***...


...Srak!...


Tirai di tarik ke samping. Alex menatap lukisan besar di dinding yang di tutup dengan tirai besar. Wajah cantik yang dengan senyum memukau. Alex menatap dalam wajah Tessa. Wanita itu adalah wanita yang berharga baginya. Bisa di bilang, ia sangat mencintai Tessa. Setelah Mark Felton ada nama Tessa Martin. Wanita itu membuat nya percaya diri pada banyak hal. Sayangnya! Dia malah menyakiti hatinya sangat dalam.


"Kau berharga bagiku. Tapi kenapa kau yang menyakiti aku dengan sangat dalam Tessa?" tanya Alex pada lukisan besar yang terlihat kusam itu.


Ke dua sisi rahang nya mengetat. Kala ingatannya melalang buana ke masa lalu. Bayangankan lelaki mana yang tidak terluka kala wanita yang ia cintai dan sangat ia percayai bercinta di atas ranjang apartemen yang ia belikan dengan sahabat nya sendiri! Bahkan bayangan Tessa dan Zain bercinta di atas ranjang nya masih terasa nyata.

__ADS_1


Padahal esok harinya adalah hari pernikahan Zain dengan Jenni. Alex merasa kepalanya ingin meledak saat itu. Namun ia menahan diri untuk tidak menghantam rahang tegas Zain yang mendesah keras di atas kenikmatan yang belum pernah ia rasakan atas tubuh kekasihnya.


__ADS_2