Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 5. PEMBALASAN DENDAM DARA


__ADS_3

Sudut bibir atas sebelah kanan Dara terangkat tinggi. Ke dua manik mata madunya tampak menajam melihat cibiran Mark padanya. Beberapa kali hati kecil nya meminta untuk bersabar pada adik pria Mafia Dragon itu. Harus nya yang terhidang di atas meja milik nya adalah beef steak. Malah berubah menjadi salad. Isinya daun-daunan hijau semua dengan di beri sentuhan saus mayones.


"Wah! Dia pikir aku kambing apa?" decak Dara sepelan mungkin.


Manik mata madu Dara melirik Alex dan Mark tengah memotong daging sapi terbaik dengan saus barbeque.


Glek!


Air liur di telan kasar kala hampir meleleh di sudut bibir nya. Aroma daging sapi menggoda Indra penciuman nya. Awas saja si Alex. Dara akan membalas perbuatannya nanti. Tunggu saja!


"Kau tidak makan?" suara bariton Alex mengalun.


"Ah?"


"Kau tidak makan?" Alex kembali mengulang pertanyaan yang sama.


Dara terkekeh di buat-buat. Kepalanya mengangguk cepat. Mark tersenyum penuh kemenangan ke arah Dara kala gadis mungil berkaca mata itu menusuk sayur selada dengan garpu. Memasukan nya ke dalam mulutnya. Dengan mata penuh keangkuhan tak ingin kalah Dara menguyah sayur di dalam mulutnya.


Senyum sarkas terlihat di wajah Mark. Bibirnya bergerak tampa suara. Dari pergerakan mulutnya, Dara dapat menangkap kata domba di bibir Mark.


Dara mengepalkan ke dua tangan nya. Alex makan dengan khidmat. Tidak memperhatikan dua orang yang tengah beradu tatapan dengan tajam. Untung saja tidak ada laser di ke dua mata masing-masing. Jika ada, sudah pasti tubuh ke duanya sudah tercabik-cabik.


Tangan besar Alex meraih gelas kaca kristal. Menyesap pelan red wine di gelasnya.


...***...


Tubuh mungil itu tampak bolak balik bak setrikaan kusut. Bibir tipis itu di poutkan. Otak cerdik itu tampak di peras. Begini-gini, Dara adalah murid berprestasi di sekolah nya. Dari SD sampai SMA. Sayangnya saja dia tidak berasal dari keluarga kaya. Dan anak yatim-piatu. Jika saja orang tua masih ada. Sudah pasti ia akan hidup jauh lebih baik dari pada sekarang dengan otak cerdasnya. Sayang seribu kali sayang, Dara tidak memiliki ke beruntung seperti itu.


Kreat!!!


Pintu berderit cukup keras. Gerakan tubuh Dara yang tadinya mondar-mandir langsung terhenti. Ke dua matanya membulat sempurna, saat tubuh atletis Alex masuk ke dalam kamar. Kepalanya mendadak bleng karena kehadiran Alex.


"Sudah berapa hari dengan hari ini?" Alex bertanya di sela langkah kakinya mendekati pinggiran ranjang. Duduk dengan angkuh.


"Apanya?" Dara membodoh seketika.


Alex menatap tajam Dara. Gadis mungil itu beberapa kali membenahi kaca mata yang merosot. Ke dua kelopak matanya berkedip cepat. Dara tidak mengerti apa yang di maksud oleh Alex.


Hap!


Bruk!


Alex menyentuh pergelangan tangan Dara. Dan menyentaknya hingga jatuh ke atas pangkuan Alex. Jantung nya bertalu-talu, ke dua mata sipit itu membesar karena ulah Alex. Senyum iblis terbit di bibir seksi pria mafia satu ini.


"Bukankah kau bilang ingin membuat aku jatuh cinta padamu, huh?"


Ah. Dara Margaretha baru ingat. Alasan dirinya tetap bertahan hidup. Dengan penuh keterpaksaan Dara menarik ke dua sudut bibirnya ke atas. Melengkung membentuk senyuman. Bahkan ke dua mata terlihat menghilang begitu saja.


"Ayo Dara berpikir. Bagaimana cara menghadapi pria gila ini. Ah! Jadi gadis nakal," hanya hati kecil Dara yang mampu berbicara.


Dengan cepat Dara memutar otaknya. Jari jemari tangannya membuat lingkaran kecil di balik kaus hitam Alex. Pria berwajah dingin itu hanya diam tidak banyak reaksi yang di tujukan oleh nya pada aktivitas yang tengah Dara lakukan. Senyum nyaris aneh di perlihatkan oleh Dara.


"Aku hampir saja lupa karena terlalu nyaman saat berada di dekatmu!" Dusta Dara sembari menjatuhkan sisi wajahnya pada dada bidang nan keras milik Alex.

__ADS_1


Bunyi detak jantung stabil terdengar jelas oleh Indra pendengarannya. Berbanding terbalik dengan detak jantung Dara yang berlomba-lomba berdetak kencang. Sebisa mungkin ia melawan rasa takut yang bersemayam di dalam dirinya.


Pola bulat yang di torehkan di dada bidang Alex tak berhenti bergerak. Alex melingkar kan tangan di pinggang Dara. Gadis ini sempat menegang sesaat. Sebelum rileks kembali.


"Benarkah?" tanya Alex dengan mata menyelidik.


"Ya," jawab Dara.


Kepala Dara mengangguk pelan. Bibir Alex tersungging membentuk senyuman maut penuh godaan.


"Kau tau bukan, jika ingin membuatku jatuh cinta. Aku harus melihat bagaimana kemampuanmu melayaniku, di atas ranjang!" bisik Alex dengan nada berat. Hembusan napas hangat menggelitik leher jenjang Dara.


Oh my God!


Dara mati kutu. Usapan di paha nya benar-benar tidak dapat di hindari. Senyuman maut benar-benar memukau. Gadis Indonesia ini kehilangan kesadarannya. Hanya karena usapan handal dari seorang Alex Felton. Siapa yang mengatakan jika Alex Felton tidak ahli di atas ranjang. Mereka tentunya salah besar. Melihat bagaimana pria ini memberikan rangsangan hebat pada tubuh nya.


...Cups!...


Cukup sudah. Tubuh Dara benar-benar mematung karena kecupan kecil yang di layangkan oleh Alex pada lehernya.


Senyum iblis tercetak di sela kegiatan Alex. Entah kenapa pria ini sangat ingin bermain dengan gadis mungil ini.


"Hem!!!!!"


Dara terlonjak. Bahkan bangkit dari posisi menyamping duduk di paha Alex. Entah sejak kapan Mark sudah berdiri di ambang pintu yang masih terbuka. Tangannya berlipat di dada dengan menilik ke dua manusia yang melakukan hal berbau seksual. Dara salah tingkah pada Mark karena tertangkap basah bermesraan dengan Alex. Ralat, yang tengah di sentuh ringan oleh Alex.


Beda Dara maka lain lagi dengan Alex. Pria itu membalas tatapan sang adik dengan pandangan dingin milik nya. Manik mata indah nan tajam itu melirik Dara yang kini membelakangi dirinya.


Mark menghela napas kasar."Bukankah kau berjanji akan bermain snorkeling bersamaku hari ini, Lex!" kesal Mark dengan wajah manja.


Mulai lagi. Adiknya ini benar-benar menyusahkan.


"Kau bisa bermain snorkeling bersama Tom atau Emma, Mark. Kenapa kau suka sekali menganggu kesenanganku!" balas Alex dengan nada serak.


Mark melepaskan ke dua tangan yang sempat di lipat. Melirik gadis berbadan mungil itu. Senyum aneh terbit di wajah tampan itu. Mark melangkah masuk semakin ke dalam.


"Aku bawa mainanmu ke pantai ya, Lex?"


Alex tidak menjawab. Ia melirik Dara yang langsung membalikkan tubuhnya.


"Ogah!" tukas Dara cepat,"aku nggak mau ikut adikmu, tuan Alex. Dia tidak akan membiarkan aku bermain di pantai," sambung Dara.


Dahi Alex berlipat dalam memperhatikan adiknya dan gadis Asia ini. Terlihat aneh, seakan ada permusuhan tersembunyi tanpa sebab oleh ke duanya.


"Bawalah!" putus Alex kala matanya bersitatap dengan pandangan mata memelas dari Mark si manja.


Dara menyumpah serapah kakak beradik Felton satu ini di dalam hati. Lihatlah! Senyum sinis dan penuh kemenangan di wajah Mark membuat Dara semakin muak saja. Jika bukan karena sayang nyawa. Tentu saja, seorang Dara Margaretha akan membatah.


...***...


Terik matahari begitu panas di siang hari. Beberapa orang tampak berjemur di tepi pantai. Senang sekali ya, jika punya kulit putih. Terkena cahaya matahari pun hanya memerah. Sedangkan dirinya? Tentu saja kulit kuning langsat miliknya akan langsung menghitam.


"Ini!" Dara meletakan kasar minuman pesanan Mark.

__ADS_1


Pria itu tampak mempesona. Otot bisep yang begitu keras. Perut kotak-kotak terlihat begitu sempurna. Di sempurna dengan wajah tampannya. Beberapa wanita berambut pirang tak berhenti-henti menatap Mark Felton. Pria bermata hijau itu sangat hot. Kulit yang semua seputih susu berubah memerah karena terbakar sinar matahari.


Tanpa kata Mark menyesap minuman di bawa oleh Dara.


Cuih!!!


Mark meliur minumannya. Dara merotasikan ke dua matanya malas.


"Bukan minuman seperti ini yang aku mau," ujar Mark dengan nada cuek.


Wah! Dara benar-benar mau memberikan bogem mentah pada Mark Felton saat ini. Andai saja tidak ada pengawal yang di berikan oleh Alex. Sudah pasti ia akan melayangkan tinjunya.


"Terus?"


"Beli yang baru!" Mark membalas dengan senyuman menyeringai.


Dara menekan perasaan marahnya. Mencoba bersabar.


"Baiklah!" Jawabnya sebelum kembali melangkah meninggalkan Mark.


Gadis itu kembali membeli minuman dingin rasa berbeda. Manik matanya menelisik tokoh mini market itu tak jauh dari posisi nya berdiri. Anak buah Alex mengawasi dirinya. Mata madunya menemukan kepiting hidup di akuarium di samping tokoh.


Ah! Senyum iblis malah terbit di wajah Dara. Gadis ini bergegas melangkah setelah membayar. Ia diam-diam membeli satu kepiting dan kembali.


"Dimana Mark berada, Tom?" tanya Dara yang membawa dua bungkusan kecil tangannya.


"Di dalam ruangan ganti!" jawab Tom dengan nada biasa.


Kepala Dara mengangguk-angguk pelan. Gadis itu meletakan minuman pesanan Mark di atas meja.


"Mau kemana kau?" cegah Tom saat melihat Dara akan memasuki kamar mandi khusus di rumah kecil di pinggir pantai yang memang di peruntukan untuk pengunjung yang mandi membersihkan diri setelah berjemur atau bermain air laut.


"Mark bilang aku harus memberikan ini padanya secara langsung." Jawab Dara menggoyang kan pelan kantong plastik hitam itu.


Tom memberikan kode untuk membiarkan Dara masuk. Dara masuk mengendap-endap, terdengar samar pria itu bernyanyi. Di balik tirai pembatas Dara tersenyum setan. Ia kembali melangkah mendekati celana dalam Mark.


"Hihi! Rasakan pembalasanku. Mari kita buat milikmu menjadi lebih besar dari yang sebelumnya!" monolognya dengan senyum setan.


Dengan perlahan Dara menuang kepiting kecil ke dalam celana Mark. Dan keluar buru-buru kala gemericik air telah berhenti. Tom melirik Dara yang keluar dengan wajah tersenyum aneh.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Aaaaaakkkkkkkkhhhhhhh!!!


Tom dan yang lainya langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dara tertawa terpingkal-pingkal kala melihat Mark menarik ujung celana Hawaii nya ke atas dan meloncat-loncat.


"Ada apa Mark?" tanya Tom terlihat bingung karena Mark meloncat-loncat tak jelas.


Mark Felton tampak kepayahan karena ulah Dara.

__ADS_1


__ADS_2