
Senyum cerah terlihat, kala cahaya mentari yang mulai turun perlahan-lahan dari singgasana nya. Ombak bergulung dari tengah hingga membawa riak sampai ke bibir pantai. Hembusan angin pantai menerpa wajah ke duanya. Langit di atas sana terlihat kemerahan dengan beberapa burung berkicau berterbangan di atas permukaan air laut.
Beberapa pengunjung memilih mengabadikan momen sunset yang terlibat begitu indah. Cahaya sunset menghujam wajah Dara.
"Bukankah rasanya menyenangkan duduk di sini. Menatap matahari yang mulai terbenam?" Dara berseru sembari menoleh ke samping.
Alex Felton mengangguk kecil. Ke duanya duduk di atas hamparan pasir di bawah pohon nan rindang.
"Hem..." Dara berdehem kecil. Sebelum menggeser posisi nya semakin mendekati Alex.
Gadis culun ini tersenyum lucu kala tidak ada jarak di antara mereka. Pergerakan diam-diam itu ia lakukan. Sampai kepalanya di miringkan jatuh pada bahu Alex. Pria itu menoleh ke samping. Saat bahunya memberat. Ke dua pipi gadis itu merona. Ke dua bola matanya bergerak liar. Mengindari manik mata hijau tajam yang jelas-jelas kini menatap wajahnya.
"Hem!" dehem Dara,"ke——kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Dara berpura-pura bodoh.
Alex tersenyum tipis. Sangat tipis melihat tingkah kelinci manis tanpa rasa malu ini.
Buk!
Dara terkejut kala kepalanya malah jatuh pad dada bidang Alex kala pria itu bergerak cepat mengeset bahunya. Dengan tangan kiri di buka lebar.
Blush....
Wajah Dara langsung merah padam. Menjalar ke dua daun telinga nya. Detak jantung Alex Felton terdengar sangat jelas di pendengarannya. Berdebar beraturan. Aroma parfum maskulin dari tubuh Alex.
"Bilang saja jika ingin di peluk seperti ini!" Alex berseru dengan telapak tangan membenahi kaca mata Dara yang merosot karena tindakan nya yang tiba-tiba.
Bibir pink pucat di gigit pelan di bagian bawahnya. Sebelum pangkal hidung nya di usapan pelan di dada Alex. Tangannya bergerak melingkar di pinggang Alex.
"Kamu saja yang tidak peka," ucap Dara dengan nada suara malu-malu,"cewek itu nggak pernah mau terlalu jelas mengungkap sesuatu. Harusnya cowok yang mengerti melalui gerak bahasa tubuh!" sambung Dara.
Alex terkekeh pelan mendengar jawaban Dara yang tidak tau malu itu. Kepala nya sedikit menunduk, hanya untuk melihat raut wajah Dara yang memerah.
"Cowok itu mahluk kurang peka. Jadi, kalau bisa berterus terang saja," balas Alex terdengar begitu jujur.
Bug!
Gila saja. Telapak tangan Dara langsung melayangkan pukulan pada dada bidang nan keras itu tanpa rasa takut. Bibir nya di poutkan karena kesal.
"Kalau cewek terlalu jujur dalam berkata. Takut di bilang ini dan itu, yeah seperti itu!" ujar Dara terdengar ambigu di pendengaran Bos Mafia kejam satu ini.
__ADS_1
Terbukti dari sebelah alis mata yang tebal itu naik ke atas.
"Maksudnya?"
"Di bilang...ganjen!" balas Dara,"atau tidak di dukunin sampai gila saat terlalu jujur," sambungnya.
Dahi Alex berkerut dalam. Kata dukun ini membuat otak pintarnya di peras. Dara menggadahkan kepada nya melihat raut wajah aneh dari Alex. Ah! Ia lupa jika negara Eropa sangat jarang bersinggungan dengan hal mistis seperti itu.
"Jangan terlalu di pikir kan yang terakhir," ujar Dara lagi,"ayo main air!" Sambungnya sembari melepaskan tangannya yang sempat melingkar di pinggang Alex. Ia berdiri dengan menepuk-nepuk body belakang nya yang di tempeli oleh butiran pasir.
"Ayo!" Sekali lagi Dara berucap sembari mengulurkan tangannya pada Alex.
Alex tersenyum miring. Ia menerima uluran tangan Dara. Menarik tangan Dara.
"Eh..."
Bruk!
Keseimbangan tubuh Dara runtuh kala Alex sengaja memberi beban seluruh tubuh nya pada Dara. Hingga tubuh Dara malah jatuh menimpa tubuh Alex. Hingga membuat kaca mata yang membingkai wajah Dara terbang jatuh ke pasir.
Pria itu tersenyum miring kala wajah polos itu tepat di depan wajahnya. Muka Dara benar-benar tidak bisa di tolong lagi. Benar-benar merah padam. Jantung nya berdebar keras. Hembusan napas beraroma mint menerpa wajah Dara.
"A——alex..." Dara tergagap karena merasa dadanya menepel pada dada keras Alex.
Dara bangkit dari posisi terjatuh dengan gerakan cepat. Alex terkekeh keras melihat wajah si kelinci manis terlihat malu bercampur kesal.
"Perlu di perbesar sepertinya," goda Alex.
Lubang di pipinya terbenam semakin dalam. Dara membungkuk meraih kaca matanya. Memasang cepat.
Hyat!!!
Bug!
Dara Margaretha langsung melayangkan pukulan keras pada tubuh Alex. Pria itu meringis dan mengindari dari Dara kala gadis culun itu melayangkan pukulan ke arahnya.
"Awas kau! Jangan lari!! Sini kau mulutmu juga harus di hajar karena berani-beraninya menghina aset milikku!!!"
Dara berteriak keras sembari mengejar Alex yang telah berlari kencang menghindar dari pukulan Dara. Alex mencibir Dara kala berhenti beberapa kali jauh di depan Dara. Napas gadis culun itu memburu mengejar Alex yang memiliki langkah lebar.
__ADS_1
Gelak tawa melambung kala Alex malah tersungkur karena berlari menghindar dari Dara. Seluruh pakaian nya basah.
Hahahaha!!!
"Rasakan itu!!" tawa Dara yang berhenti di depan Alex.
Alex mendelik sebelum tersenyum iblis.
"Jika aku basah. Maka kau juga harus basah!!!" seru Alex. Sebelum berdiri dari posisi terjengkang nya.
Kya!!!!!
Dara berlari pontang-panting kala Alex yang berbalik mengejarnya. Sayang sekali dengan durasi waktu singkat Dara langsung masuk ke dalam pelukan Alex. Pria itu memeluk erat dan menyeret tubuh mereka pada ombang yang mulai menuju bibir bantai.
"Alex!!! Lepas!!!" Dara meronta di kala mereka hampir di hantam ombak kecil.
"Tidak akan!!"
Byur!!
Tubuh Dara basah oleh air asin itu. Di tepian pantai, beberapa orang menatap ke duanya yang terlihat asik bermain air laut.
...***...
"Kau sudah sampai Alan?" seru Jenni kala pria gagah itu duduk di depannya.
Keduanya telah mengadakan pertemuan dari dua hari yang lalu. Sangat sulit menghubungi kakak dari pria yang ia cintai ini.
"Apa yang ingin kau katakan padaku. Sampai harus bertemu di sini?" tanya Alan sebelum matanya mengedar melirik sekeliling ruangan VIP restoran Jepang itu.
"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Jangan terlalu terburu-buru Alan," ujarnya.
Jenni menuangkan minuman di dalam gelas milik Alan. Terisi setengah gelas. Ia mendorong kecil gelas tersebut ke depan. Sebelum kembali mengisi gelas ke dua untuknya. Dahi Alan berlipat dalam saat melihat ada tiga gelas di atas meja.
"Apakah ada yang akan datang selain kita?" tanya Alan.
Kepala Jenni mengangguk pelan."Ya. Kau akan terkejut melihat siapa yang akan bergabung dengan kita."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya," balas Jenni,"sebentar lagi akan akan datang." Jenny melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bibir Alan terbuka. Namun terkatup kembali kala pintu ruangan terbuka. Ia menoleh ke arah ambang pintu. Ke dua pupil matanya melebar melihat siapa yang melangkah semakin masuk ke dalam ruangan. Ia menatap tidak percaya.