
POV Alexa
__ADS_1
Hari ini dimana aku pulang dari rumah sakit kak Devan selalu menemaniku dan tak meninggalkanku barang sedikitpun aku bahagia dengan perlakuan kak Devan menurutku itu sangat manis tapi aku juga harus menelan Pill pahit karena ternyata kecelakaan itu disengaja oleh kakak kandungku sendiri hancur perasaan ini mendapati kakak ku sangat membenciku bagaimana aku menjelaskan nya bahwa pernikahanku tidak semata-mata untuk mainan dan aku mulai nyaman dengan pernikahan ini rasa yang tak pernah aku temui sebelumnya tapi aku juga tidak mau berbahagia diatas penderita kak Karin aku tau perasaannya kak Karin dia hancur dia sedih bahkan mentalnya tidak mampu untuk menopang ini semua
__ADS_1
, andai saat itu kak Karin mendengarkan kata ayah mungkin dia tidak akan seperti ini tapi nasi sudah menjadi bubur dan waktu tidak akan bisa terulang kembali , "hayo mikirin apa " ucap Vania yang ikut bersamaku pulang kerumah kak Devan " gak ada sayang ku " ucapku kepada Vania yang dia malah tertawa ngakak Vania gadis yang bar-bar menurutku saat bertemu dengan ku Vania seperti gadis broken home ya dia kehilangan arah hidupnya ayahnya meninggal disaat usianya berajak ke 14thn dan 2thn kemudian bundhanya menikah lagi karena faktor ekonomi mungkin saat itu Vania gadis sederhana berpenampilan urakan terkesan nakal tapi aku tahu dia orang yang baik dan dari situlah aku mulai mendekatinya memberikan inovasi yang membuatnya bangkit dan menerima kehidupan nya Vania mulai meninggalkan dunia hitamnya dan hidup normal seperti remaja umumnya dan yang membuatnya benar-benar bangkit adalah aku yang menolongnya saat akan dibunuh seseorang salah satu musuh dari papah tirinya kebetulan saat itu aku tidak sengaja lewat gang kecil dimana Vania hampir dilecehkan dan hampir dibunuh andai aku terlambat sedikit saja entah jadinya seperti apa tapi setelah kejadian itu Vania mulai belajar bela diri sampai detik ini dia terus berlatih meningkatkan kemampuan nya agar bisa melindungi orang-orang disekitar nya termasuk aku , aku dan Vania hanya berdiam diri dan sampai aku berucap yang membuat Vania heran sekaligus kesal " Van apa keputusan ku salah dengan menerima pernikahan ini " ucapku kepada Vania yang duduk disebelahku kita memutuskan untuk duduk dibelakang rumah yang dekat kolam renang dan juga taman kecil " maksudnya Loe nyesel gitu " ucap Vania mengeyitkan dahinya " enggak bukan itu maksudku, aku tidak bisa melihat kak Karin terluka " ucapku menunduk dalam Vania menghela nafasnya " Loe gak salah xa dia aja yang terlalu egois dan mementingkan dirinya sendiri, Loe pikir saat ini kak Devan sangat mencintaimu apa loe juga gak kasian sama dia yang berjuang hingga titik ini itu pasti sangat berat untuk dia lalui xa " ucap Vania tegas benar apa yang diakatan Vania kak Devan pasti berat menjalin pernikahan ini dengan gadis SMA yang menurutnya labil dan kekanak-kanakan tapi dia dengan sabar memahaminya tanpa protes sedikitpun padaku" Loe harus nyakin dengan pernikahan ini mungkin ini jalan takdir yang Tuhan berikan padamu untuk membuat mu selalu bahagia " ucap Vania lagi dan aku segera menghabur kepelukannya " Loe bener Van gak seharusnya gue egois gue juga harus memikirkan perasaan kak Devan yang sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan gue " ucapku terisak dipelukan Vania " udah ya sekarang Loe harus senyum dan gak boleh sedih lagi " ucap Vania mengusap air mataku dan kita sama-sama tersenyum dan tidak lama mama Rani memangil kita berdua untuk ketempat makan dan mamah Rani menuju lantai atas menuju kamar ku dan kak Devan untuk memanggil kak Devan aku segera menyusulnya tapi seketika aku mematung mendengar curhatan kak Devan kepada mamanya kebetulan pintu kamar tidak ditutup jadi aku bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan
__ADS_1