
Kita manusia, hidup dan bertahan di dunia ini.
Tapi, bagaimana jika kita tidak bisa mengatasi apa yang terjadi?
Tentu kita berjuang mengatasinya meskipun itu mustahil.
Dan ketika kita memiliki tekad dan hati yang kuat untuk mengatasinya, semua akan terselesaikan.
Pernahkah kalian memimpikan sebuah kekuatan luar biasa?
Kita memilikinya, tapi kita tidak mengetahuinya....
“Kakak...”
“Reeji, ada apa?”
“Anu... Kak, aku ingin bicara dengan kakak lebih lama lagi...”
Anak laki - laki yang berdiri di balik jendela ruanganku ini bernama Reeji. Kami mungkin bukan saudara kandung, tapi dia selalu menganggapku kakaknya. Sejak ia menemukan ruanganku, dia selalu datang kemari dan mengajakku bermain dan mengobrol. Akhirnya kami menjadi dekat. Meskipun dia hanya mengintip dan berbicara padaku dari balik jendela.
“Ng... Kak, tahu tidak kenapa musim selalu berganti?”
“Itu Karena Revolusi dari matahari, Reeji.”
“Nggak ngerti... Kak…”
“Anggap saja mereka sedang bermain bersama nyonya bumi dan tuan bulan kemudian saling bergantian tempat satu sama lainnya.”
“Hahahaha… kakak bisa saja…!”
Aku tersenyum melihatnya tertawa. Hanya dia yang berani bicara padaku meski aku terkurung di dalam ruangan ini. Ya, aku terkurung dalam ruangan tanpa pintu keluar. Dengan tempat yang terhindar dari kontak luar karena terhalang pohon dan perbukitan di Pegunungan Aven utara ini. Saat ini, salju sudah menutupi sebagian perbukitan.
“Kakak?” Reeji melihatku tiba – tiba berdiri.
“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Ini belum terlambat.”
SYUUTS!
Sinar berwarna biru bercahaya di tubuhku, kemudian aku mengendalikannya untuk menembus ruang. Aku berpindah tempat ke depan Reeji berdiri sekarang dengan durasi waktu yang sangat singkat, atau disebut dengan
teleportasi. Itulah salah satu kekuatan yang kumiliki dari permata dalam legenda -yang sebenarnya adalah nyata- berwarna biru. Hoseki, itulah nama untuk permata semacam ini.
Kenapa aku tidak keluar dari ruanganku sejak lama jika aku punya kemampuan Teleportasi? Tentu ada alasan tertentu.
Dan kenapa aku bisa memiliki Hoseki dalam tubuhku? Sebenarnya kata yang lebih tepat untuk pertanyaan itu adalah ‘untuk apa’ bukan ‘kenapa’...
“Kakak…”
“Berikan surat ini pada orangtuamu. Aku yakin mereka juga tahu dengan keberadaanku.”
Dia sering datang kesini, jadi dia tidak terkejut melihatku teleportasi karena dia sudah tahu tentang Hoseki yang kumiliki. Reeji menerima surat itu dengan wajah sedih.
“Reeji?”
“Kakak benar - benar akan pergi? Kupikir Kakak akan tetap disini dan mengajakku bermain...”
“Kita sudah membahas ini berkali – kali ‘kan, Reeji? Sejak awal seharusnya kita tidak pernah bertemu, dan seharusnya aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun karena dikurung di tempat ini. Kau tahu kemampuan yang aku miliki ini kan? Bukankah ini aneh?”
“Tidak! Kupikir itu sangat keren!”
“Kau masih kecil Reeji… Kau belum paham sebuah kekuatan yang hebat bisa menjadi sangat berbahaya.”
“Kalau begitu, izinkan aku ikut! Aku tidak mau pulang ke rumah!”
“Tidak, Reeji. Aku ingin kau tetap aman disini dan menungguku kembali. Aku tidak ingin kau terluka.”
“Kakak berarti sudah tidak mau menemaniku lagi ya…” Reeji menahan tangis dengan sedikit menggigit
__ADS_1
bibirnya
“Bukan begitu… Reeji, kau tahu tentang kemampuanku pun itu sudah sangat berbahaya.”
“Tapi itu memang karena aku ingin tahu ‘kan, kak? Kakak tidak harus pergi kan… Aku juga tidak mau kakak terluka dan sendirian disana… kakak pasti akan kesepian…”
Aku memandanginya cukup lama. Satu – satunya anak kecil yang pernah kutemui kini berusaha menghentikan aku
pergi dengan tatapannya yang masih polos. Apa dia juga tidak punya teman di sekitar tempat tinggalnya? Dia juga mungkin tinggal di tempat yang terisolasi dari orang lain di sekitar sini sehingga merasa kesepian tanpaku. Aku menghela nafas di tengah udara yang mulaidingin.
“Baiklah, Reeji. Ini untuk terakhir kalinya.”
Aku memegang tangan Reeji dan teleportasi ke suatu lapangan kosong di tengah hutan. Dia sudah terbiasa kubawa teleportasi karena seringkali memaksaku untuk membawanya ke suatu tempat.
“Eh? Kenapa kita kesini?”
“Aku tidak akan mudah terluka, Reeji. Biar Kuperlihatkan hasil Latihanku di dalam sana.”
Aku mengeluarkan dua pistol dari dalam tasku. Pohon berukuran sedang yang berdiri disana menjadi sasaranku.
DHOOOR! DHOOOR!!
Dengan mengumpulkan kekuatanku di ujung pistol, aku menarik pelatuknya dan kedua senapanku menembakkan peluru. Ranting pohon berhamburan saat arah tembakanku mengenai dahan besarnya. Ini adalah salah satu kemampuan yang dimiliki hoseki biruku, peluru. Aku menanamkan kekuatanku pada peluru kosong sehingga lebih cepat dan kuat.
Mungkin, keahlian menembakku masih terbatas, tapi aku cukup mahir menarik pelatuk ini ke sasaran yang tepat,
kemampuan menembak ini seperti sudah kumiliki dari dalam darahku.
“Hebat sekali Kak!”
“Kau sudah lihat 'kan? Kau tidak perlu khawatir.”
“Ya, aku sudah tidak khawatir lagi!”
Butiran - butiran kecil berwarna putih lalu turun di antara kami.
“Saat pertama salju turun, itulah ulang tahun Kakak! Ya kan?”
“Eh? Kenapa kamu menganggapnya begitu-”
“Ini! Untukmu!”
Reeji menunjukkan sesuatu dari tangannya, sebuahornamen kayu segi enam yang indah dengan permata di tengahnya.
“Kalung... permata... dari mana kau mendapatkannya?”
“Aku menemukannya dan membuatnya… kemudian ini dan itu... tidak apa 'kan?”
“Aku menyukainya... Reeji... ini sangat indah…”
Meskipun Aku tahu kalung ini bukanlah kalung permata asli, tapi aku senang dengan senyumanya yang ia berikan juga padaku.
“Kalung dari kakak juga masih aku simpan kok! Jadi aku juga memberikan kalung sebagai gantinya!”
Sebuah batu mengkilap yang terikat dengan tali dia tunjukkan padaku. Benda tidak asing yang kuberikan saat ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Aku memegangnya dan tertawa kecil, kenapa aku memberikan benda seperti itu kepada anak berumur 10 tahun?
“Reeji, benda ini....”
SRIIING...!
“Kubuat lebih cantik ya?”
Aku menggunakan kemampuan hoseki milikku untuk membentuk batu yang kupegang ke bentuk lain dengan pikiranku. Bentuknya sekarang hampir serupa dengan pemberiannya. Salah satu kemampuan Hoseki yang kumiliki.
“Kakak peniru!”
“Bukan begitu maksudku... Kita jadi samaan 'kan?”
__ADS_1
“Ah! Benar juga! jadi...”
Reeji tiba - tiba menunjukkan jari kelingking kecilnya padaku.
“Berjanjilah kita akan bertemu dan bermain lagi seperti sekarang!”
“Reeji...”
“Bagaimana?”
Aku memandang matanya yang berbinar penuh harap, lalu mendudukkan lututku ditanah supaya sejajar dengan
tinggi badannya.
“Baiklah, aku berjanji... kita akan bertemu dan bermain lagi seperti sekarang ini.”
Janji jari kelingking, itulah yang kami lakukan di belakang pohon raksasa legenda yang bersalju, Reeji dan aku saling mengaitkan kelingking.
Aku hanya berpikir ini hal yang kekanak - kanakan sekali bagiku yang berumur 17 tahun saat ini.
Tapi, aku merasakan perasaan bahagia yang tidak pernah kualami dari siapapun...
Hanya karena aku tidak pernah mengenal dan mempercayai siapapun selama hidupku dan terkurung di dalam sana seorang diri.
Dengan kekuatan misterius yang ada dalam tubuhku.... Aku akhirnya memutuskan...
“Kalung ini, akan menjadi penghubung kita. Jadi simpan terus ya?”
Reeji menggenggam kalungnya dengan kedua tangannya di dada. Perasaannya terlihat lebih senang.
“Kau benar, aku janji akan terus menyimpannya.”
Aku mengelus kepalanya. Reeji tersenyum gembira, membuatku membalas senyumnya tanpa sadar.
Dan aku tidak yakin apakah aku akan merasakan sesuatu seperti ini lagi nantinya.
"Kita akan bertemu lagi. Reeji.”
Aku berdiri lalu melirik padanya yang masih lebih pendek dari bahuku.
Sejujurnya aku memang tidak ingin meninggalkannya...
Tapi jika aku terus diam di dalam ruanganku selama 17 tahun itu, apa yang akan berubah dalam diriku? Aku bahkan tidak tahu kenapa kekuatan ini ada padaku.
Itu sebabnya, aku akan melangkah lebih jauh lagi.
“Reeji...”
"Ya?"
"Tetap rahasiakan kekuatanku dari siapapun."
"Ya! Aku mengerti!!"
"Baiklah... Aku pergi dulu!"
Dengan menggunakan hoseki, aku menteleportnya untuk pulang ke tempatnya. Dia melambai sebelum benar – benar hilang dari mataku.
Perjalananku akan dimulai.
Entah kemana arah yang akan aku pilih atau jalan yang akan kulewati.
Dan dengan hanya berbekal keteguhan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang timbul di kepalaku.
Juga suatu tanggung jawabdari kekuatan legenda ini, mendorongku untuk mencari tahu lebih jauh.
Tujuan dari pertarungan Hoseki.
__ADS_1
--MAIN COURSE OF THE BATTLE--