Main Course Of The Battle

Main Course Of The Battle
[UNREVISION] PART 14 : PRINCE


__ADS_3

“Haaaah.... sudah larut malam.... apa yang Seeji dan Heal - san lakukan? Hm?”


Takai. dalam perjalanan pulang setelah mengantar Yuki kembali kepada ibunya. Takai. terhenti karena melihat ke arah kalung miliknya.


“Kalung ini... bersinar? Kenapa?”


Sinar dari kalung itu sama dengan warna permata Seeji.


“Apa dia pernah menyalurkan kekuatannya pada kalung ini? Seeji.... dimana dia.....”


Takai.. terkejut saat melihat topi milik Seeji tergeletak di tanah.


“Ini, topi milik Seeji! Apa yang terjadi padanya?”


---------


BRRUUK


Pengawal kerajaan menjatuhkan Seeji dan Hiru di depan pangeran yang duduk di singgasana Raja.


“Kami berhasil menangkap mereka.”


Seeji dan Hiru tertangkap oleh pengawal kerajaan.


“Pengawal kami menemukan banyak orang - orang yang hilang tergeletak pingsan di sebuah sekolah. Dan kami juga melihat kalian keluar dari sekolah itu beberapa saat kemudian, kalian pasti terlibat bukan? Apalagi dengan kekuatan yang kalian miliki saat ini.”


“Yang mulia...”


“Penjaga sekolah itu bahkan memberi tahu kami bahwa sebelumnya dia melihat seorang anak kecil datang sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.”


“Yang mulia! Ada kesalahpahaman disini!”


“Jangan mengelak! Hiru, kau sudah melakukan kejahatan yang tak dapat diampuni. Sebagai hukuman, kau harus dihukum mati.”


“Dihukum ....mati?”


“Sudah berapa kali, kau kabur dari penjara ini? Dan juga, berapa banyak orang yang kau buat tidak berdaya?”


“Tidak...berdaya?” Seeji terkejut mendengar perkataan pangeran


“Yang mulia! Aku tidak pernah...”


“Tak ada yang perlu dijelaskan lagi.”


“Pangeran....”


“sedangkan kau.... gadis berambut biru.... aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, siapa kau? Dan apa yang kau lakukan bersama dengan penjahat ini?”


“Yang mulia, namaku Seeji Utsuki. Aku hanyalah seorang pengembara, dan aku mencoba menghilangkan kesalahpahaman ini...”


“Kesalahpahaman? Aku tidak akan salah dalam menilai, kau juga sama dengan Hiru ya kan? Kau sempat mencoba untuk menghajarku dengan kekuatan misterius tadi.”


“Saya mencoba untuk menolongmu, yang mulia”


“Berisik! Kau yang hanya seorang penjahat! Jangan mencoba untuk bertingkah seolah menolong orang lain!”


“Lalu bagaimana denganmu? Yang mulia, kau bahkan tidak menganggapnya sebagai adikku sendiri! Kau bertingkah seolah kau yang paling benar!”


Seeji berdiri dan mencoba melepaskan diri. Dia mencoba untuk menyegel hoseki hitam dari pangeran namun pengawal masih menahan gerakannya.


‘Sudah kuduga, dia adalah pemilik hoseki hitam. Tapi hoseki miliknya agak berbeda, seperti yang ada pada yuki tadi. Apa dia Kuroseki?’


“Hei, nona, apa kau tau bagaimana rasanya berada di dalam penjara? Pasti tidak enak bukan?”


“Kh....”


“Kau pasti tidak mau berada di bawah sana... jadi sebaiknya jaga tingkah lakumu...”


ZRAAATS!


Tali yang mengikat Seeji terlepas, Seeji teleport ke belakang pangeran dan mencoba untuk menembak pangeran dengan peluru segel agar Seeji bisa langsung menyegelnya. Tapi seseorang mendorong dan menahan tangannya dari belakang.


“Padahal, kau sudah kuancam... kau malah melawan...”


Saat Seeji melihat ke belakang, orang yang memeganginya adalah orang yang tidak asing. Tidak lain adalah Kuroseki.


“Kuroseki!”


“Heh, sepertinya kau belum menyerah juga...”


Kuroseki memegang bagian belakang leher Seeji dan menyerang langsung permata miliknya, sehingga Seeji kehilangan sebagian kekuatannya.


“AAAHH!!”


“Kau masih jauh dariku, jadi jangan coba untuk melawan...”


“Pengawal, bawa dia ke penjara bersama dengan pengkhianat itu. Sedangkan kau.... Hiru, aku akan memenggalmu di depan semua orang besok pagi...”


“Nii....sama...”


“Hiru, kau akan...baik - baik saja...


"Seeji - san..."


"Aku... janji...!”


"!!"


Para pengawal itu menyeret Seeji dan melemparnya ke dalam sel penjara.


“Ukh..sial....”


“jau tertangkap juga.... Seeji"


Seeji melihat Rou penuh luka lecet dan lebam. Dia tidak memakai kacamata seperti sebelumnya.


“R....Rou....”


“Mereka menangkapku dan menganggapku sebagai pengkhianat. Mereka bahkan sempat menyiksaku. Memangnya tidak cukup memecatku ya? Pangeran juga memiliki hoseki hitam benar?”


“Yah...ukh ...” Seeji masih merasa sakit karena serangan Kuroseki tadi.


“Pangeran mencoba memenjarakan semua pemilik hoseki.”


“Kita harus keluar, Hiru akan dipenggal”


“Apa?”


“Jika aku bisa teleport, dan membawamu keluar dari sini...”


“Kau pikir aku akan membiarkanmu dipenjara begitu saja? Battle waiter...”


Kuroseki berdiri di sebelah kanan sel.


“Kau...”


“Kau memang sudah terbiasa keluar masuk penjara ya..... penjara ini sudah kualiri dengan kekuatanku, jadi kekuatan kalian akan tertahan dan tidak akan bisa bertambah. Singkatnya.. Kalian tidak akan bisa keluar dari sini...”


“Kau!”


Seeji mencoba menyerangnya, tapi Kuroseki langsung menghempasnya dengan angin dingin berwarna hitam dari tangannya.


“Seeji!”


“Sudah kubilang, yang kau lakukan itu.... sia - sia...”


“Hah.... kau... egh....”


Kuroseki berdiri di depan Seeji.


“Battle waiter, jiwamu sangat bergantung pada permata milikmu, dan jika permatamu itu kehilangan kekuatannya, maka akan berdampak pada dirimu juga...”


"Apa maksudmu...?"


"Ibumu.... dia menjadikannya hoseki... sehingga ia mati sia - sia..."


Rou yang mendengar ucapan Kuroseki terkejut.


'Apa...? Hoseki Seeji... adalah... jiwanya...?'


“Jadi, yang kau.... lakukan tadi....”


“Heh, itu adalah cara termudah untuk menyiksamu...” dia lalu kembali ke sebelah kanan sel. Berdiri dan melipat tangannya.


"Menyenangkan sekali dapat pergi kemanapun dengan leluasa..."


Seeji tiba - tiba tersungkur ke lantai yang terbuat dari batu itu.


“Seeji, bertahanlah!”

__ADS_1


“Kita... harus keluar.... Pangeran yang tidak tahu diri itu harus.... ukh...”


“Seeji....”


“Aku sudah berjanji pada Hiru, kalau dia akan baik - baik saja..... aku tidak boleh mengingkari janjiku lagi....”


Rou memegang pundak Seeji dan mengalirkan sedikit kekuatannya.


‘Rou...’


‘Seeji, salah satu kemampuanku adalah telepati. Sebaiknya kita berbicara lewat telepati saja’


‘Hhn..begitu’


‘Satu - satunya jalan keluar adalah berharap Takai dapat mengeluarkan kita.’


‘Takai?’


‘Jika dia mengambil kacamataku yang tertinggal di sekolah, aku bisa telepati dengannya dan memberi tahu lokasi kita. Aku sempat mengalirkan kekuatanku ke kacamataku, agar aku bisa melihat permata orang lain...’


‘J-jadi, itu sebabnya kau memandangku waktu itu...’


‘Yah... aku sering melihat hoseki hitam di dalam orang orang yang berlakuan di luar batas. Dan tiba - tiba aku melihat kalian. Sebelumnya aku memang melihat Yuki memilikinya, tapi yuki menghilang sebelum aku mengatakannya.’


‘Kau selalu mencarinya kan? Dan itu sebabnya kau mengikutiku dan Takai....’


‘Begitulah...’


‘Takai... apa dia akan datang?’


Sementara itu Takai pergi ke sekolah Reason dan mencari mereka.


“Tak ada siapapun disini....”


Dia menuju lantai paling atas dan melihat kacamata milik Rou


“Ini punya Rou 'kan?”


‘Takai! Untunglah kau menemukan kacamataku!”


“Hah! Siapa itu?!!”


‘Ini aku, Rou.’


“Rou! Kau berubah menjadi kacamata?”


Rou menepuk jidatnya. Dapat darimana dia teori seperti itu.


‘Dasar! Bukan itu! Aku dan Seeji terkurung di penjara kastil! Kau harus kemari!’


“Penjara kastil? Kau dan Seeji ada disana?”


‘Pagi nanti pangeran akan memenggal Hiru’


“Apa? Memenggal?”


‘Cepat pergi ke kastil dan temukan kami!’


“Baiklah! Tapi bagaimana kau bisa berbicara denganku? Aku tidak berkhayal kan?”


‘Kau memegang kacamata milikku, di dalam kacamataku masih teralir kekuatanku. Salah satu kemampuanku adalah telepati kan? Jadi aku bisa berkomunikasi denganmu. Sebaiknya kau cepat.’


“Hah....dasar tukang nyuruh!”


‘Seeji, untunglah. Takai. akan segera datang.... Seeji?’


Seeji melamun. Dia masih merasa lemas karena kekuatannya tidak bertambah seperti biasanya. Seeji teringat saat dia dipenjara dulu.


“Seeji, kau baik - baik saja? Eeh....!!” Rou memegang tangan Seeji dan dia melihat masa lalu yang sedang terbayang di benaknya.


’Tidak! Keluarkan aku dari sini! Aku tidak bisa berdiam sendirian disini! Keluarkan aku!’


'Seeji....'


‘Aku..... aku tidak akan, terkurung dalam penjara lagi. Mau seperti apa pun penjaranya, aku tidak mau....’


Rou terdiam. Dia tak dapat melakukan apapun.


‘Aku takkan terperangkap lagi. Aku akan keluar!’


DRAP DRAP!


‘Seeji, aku tidak bisa membiarkannya terkurung lagi.... Seeji akan tersiksa jika berada dalam penjara lagi! Tunggu... lagi?”


“Rou, bilang pada Takai. untuk langsung menyelamatkan Hiru”


Seeji berusaha berdiri dengan kedua tangannya yang terikat rantai.


“Apa yang akan kau lakukan?”


Dia memegang pundak Rou dan memberikan sedikit kekuatannya.


‘Seeji!’


Dia lalu berjalan ke arah jeruji besi, lalu memusatkan kekuatannya ke tangannya untuk memukul jeruji besi sel.


JRAAAK!


“Heh, masih mau melawan juga?”


“Janji... aku telah berjanji untuk melindunginya....”


“....”


GRAAAK!


Seeji masih bersikeras menghancurkan jeruji besi itu, hingga tangannya memerah dan terluka.


“Aku sudah bilang padamu, jeruji besi ini sudah kulapisi dengan kekuatanku.”


“Diam kau....”


SRIIING!


Permatanya sudah kehabisan energi, Seeji akhirnya terengah - engah dan terdiam.


“Hah....hah....”


“Seeji! Percuma saja!” Rou menghentikannya dan memeganginya.


“Aku harus keluar!”


‘Jangan memaksakan diri! Takai. akan segera datang! Jika kau terus seperti itu, kau tidak akan bisa menyegel!’


Pada akhirnya Seeji kehilangan kesadarannya. Energinya semakin lemah. Biasanya energinya bertambah seiring waktu karena menyerapnya dari luar, tapi jeruji hitam itu menghalanginya.


“Seeji!”


Seeji terjatuh. Dia tak sanggup berdiri lagi.


“Janji...” Kuroseki bergumam tetap dalam posisi melipat tangan.


---------


“Akhirnya, aku sampai di kastil.... tapi, kastil ini cukup besar...”


Kastil kerajaan ameytyst, memiliki luas seperlima dari keseluruhan pulau, dan dibangun dengan menara - menara tinggi di setiap sisinya. Berwarna ungu muda dengan hiasan perak di ujung atapnya.


‘Takai.! Kau ada dimana? Cepatlah! Kondisi Seeji tidak bagus!’


“A-aku segera kesana! Kurasa aku ada di bagian selatan kastil...."


'Kau cari jalan untuk masuk ke dalam kastil lewat pintu kayu disana, itu pintu masuk untuk para pelayan...'


"Tapi... banyak penjaga yang mengawal kastil... apa yang harus kulakukan....”


‘Takai, kau bisa gunakan... kemampuan menyamarmu...’


‘Seeji!’


Seeji berbicara dengan Takai. lewat kemampuan Rou


‘W-waktu terus berlalu.... cepat..’


Telepati kembali berhenti. Takai melepas tangannya yang memegangi kacamata Rou disakunya.


‘Menyamar....’


SRIIING!

__ADS_1


Dengan kemampuannya, Takai mengingat kembali bentuk fisik dari orang yang akan ditirunya.


‘Baiklah aku siap!’


Takai menyusup ke dalam kastil lewat pintu yang ditunjukkan Rou. Takai menyamar menjadi Kuroseki. Dia menyembunyikan kacamata milik Rou di balik jubahnya.


‘Heh....idenya bagus juga...’


‘Apanya...’


‘Takai... dia berubah menjadi Kuroseki.’


‘Jangan sampai dia terlihat bodoh...’


Takai masih menyusuri lorong istana. Tiba - tiba dia kepergok sedang berkeliling di salah satu lorong.


“Hei! Siapa kau! Jangan berjalan jalan di lorong istana sembarangan!”


Dua orang pengawal istana menghentikannya.


‘Celaka! Kenapa sih kastil ini besar sekali...?’


Takai menunduk dan tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya, berniat kabur.


“Masih tidak menjawab? Kau tidak akan lolos!”


Pengawal itu mencoba menyerang Takai tapi dia seketika berhenti ketika Takai. menatapnya.


"Dia..!!"


Takai memandang pengawal itu dengan tatapan tajam.


'Ayo pergilah! Pergilah!'


“bodoh! Ma...maafkan kami!”


'Eh?'


Dua pengawal itu langsung membungkuk minta maaf. Takai masih keheranan.


‘Pasti karena aku dalam wujud Kuroseki, mereka takut padaku,. Tapi aku tidak memakai penutup mata kan? Seperti Kuroseki aslinya...’


“Kalian berdua...”


“Ma...maafkan kami! Kami akan lebih berhati hati!” Sambil menunduk mereka berdua meminta maaf pada Takai.


“Kalian tahu dimana penjara yang mengurung para pengkhianat?”


“Di.... di belakang ruang singgasana....”


Takai lalu meninggalkan mereka. Dan setelah jauh, dia langsung menghela napas.


‘Hampir saja...’


Takai lega penyamarannya tidak terbongkar.


‘Sepertinya kemampuan meniruku kurang sempurna, aku hanya meniru penampilannya saja, juga merubah mata kananku. Tapi mereka tidak curiga? Ah, sudahlah.’


Kemampuan menyamar Takai. bergantung pada seperti apa orang yang dilihat dan ditiru Takai. Dia tidak melihat mata kiri Kuroseki, jadi mata kirinya tetap seperti matanya.


Dia sudah menemukan pintu masuk ke penjara. Saat dia akan masuk, pangeran datang.


“Kau disana rupanya, Kuroseki..”


Pangeran datang menghampiri Takai... Dia tidak tahu kalau Kuroseki di depannya itu adalah Takai.


“Apa yang kau inginkan?”


Takai mencoba menirukan gaya bicara Kuroseki.


“Bagaimana dengan para pengkhianat kita?”


“Pengkhianat?”


“Ya, para pemilik permata itu...”


“Mereka masih berada di dalam penjara.”


“Hm... tapi aku senang bisa bekerja sama denganmu, aku mendapat tahta dan kau mendapat apa yang kau inginkan.”


“Hm..hanya sebuah tahta”


‘Tahta?’


Takai bertanya dalam benaknya.


“Tapi, apa yang akan kau lakukan setelah permata yang kau ceritakan itu terkumpul?”


‘Terkumpul?’


“Aku akan mengumpulkannya terlebih dahulu, kau tidak perlu tahu lebih rinci.”


Takai mengarang alasan untuk menipu pangeran Riyou.


“Hmh...begitukah?”


“Aku harus memeriksa para tahanan, mereka bisa saja melarikan diri.”


“Aku tidak sabar untuk memenggal adikku nanti...”


'Huh... pangeran ini tidak punya hati...!'


“Dimana adikmu sekarang?”


“Dia... ada di dalam kamarnya untuk terakhir kalinya.”


Takai. memasuki ruangan itu. Dia lalu turun kebawah mencari Rou dan Seeji.


“Heh...penipu”


Takai. masuk ke dalam penjara lebih dalam. Ada seseorang yang dipenjara dan rasanya tidak asing bagi Takai.


“Hei, kau”


“???”


“Apa aku... pernah melihatmu?”


Takai lalu memperhatikannya.


‘Orang ini...!’


“A.... apa... kau... pernah melihatku...?”


‘T.... Tidak... dia... orang yang menyuntikkan obat itu padaku!’


Seketika Takai kembali ke wujud semula. Dia bergetar karena mengingat traumanya.


'Kenapa dia ada disini...?'


“Ternyata aku benar... tidak kusangka... berani sekali menipuku....”


“Kau...!!”


“Pangeran dari kerajaan ini.... Kuroseki tidak mungkin menanyakan dimana Hiru, karena dia sendiri yang memasukannya ke tempat ruang hukuman mati..”


“Gawat...”


“Kau ingin menyelamatkan para pemilik permata itu? Mereka ada dibalik ruangan ini. Tapi kau tidak akan bisa melewatinya dengan mudah...”


Pangeran mengangkat tangannya. Dia mencoba mengendalikan semua penjahat yang ada dipenjara saat itu untuk menyerang Takai. Termasuk orang yang menyuntikkan obat pada Takai dulu.


“Oh... kalau tidak salah... kau....”


“Menjauh!”


Takai tidak bisa berkonsentrasi.


“Kau membuang waktumu. Pagi akan segera tiba.” Kuroseki yang asli berbicara pada pangeran.


“Kau ada disini?”


“Aku merasakan energi lain.”


“Oh, kau benar. Kalau begitu kuserahkan padamu.”


Pangeran menghilang begitu saja. Dia teleport seperti Seeji.


"Red petals...?"

__ADS_1


__ADS_2