
“Sebaiknya kalian tunggu di luar kastil, kami akan mengurus masalah kerajaan ini sendiri."
“Baiklah...Rou...”
Rou mengantar Seeji dan Takai keluar kastil. Rou memegang pundak Takai, dia lalu telepati dengannya.
‘Rou?’
‘Sudah kuduga kekuatanmu berkurang saat tertusuk senjata hoseki hitam tadi.’
‘Maaf merepotkanmu Rou, aku tidak tahu hosekiku tidak bisa kugunakan tadi saat melawan para pengawal... selain itu kau melihat hoseki hitam pada Seeji kan?’
‘Aku hanya merasakannya sedikit...Seeji, dia baik - baik saja kan?’
‘Aku yakin dia baik - baik saja. Apa ada masalah?’
‘Dia memaksakan dirinya untuk keluar dari penjara, juga memenuhi janjinya dengan puteri. Aku mengerti sekarang.'
‘Apa yang kau mengerti?’
‘Dia... punya janji dengan seseorang yang tidak bisa dia tepati... selain itu dia tidak mau terkurung dalam penjara... dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.'
‘Yah... dia punya adik laki - laki, dan dia pernah cerita padaku kalau dia punya janji dengannya...’
‘Jadi, dia adiknya.... bagaimana dengan penjara...?’
‘Aku tidak tahu... waktu itu dia bilang ayahnya yang memenjarakannya...’
“Apa...?”
“Kalian berdua, apa yang kalian lakukan?”
“Se...Seeji..!”
“Seeji, pintu keluar ada di depan sana..”
“Hm....?”
Seeji lalu berjalan di depan mereka.
‘Dia pasti merasa kalau kita sedang membicarakannya.'
‘Hah...hampir saja..’
‘Battle Waiter itu sebutannya?’
‘Yah, selama 2 tahun dia mencari hoseki hitam, dan setengah tahun yag lalu dia terluka didepan rumahku karena Kuroseki.’
‘Begitu....’
‘...?’
‘Jadi kau belum tahu ya? Tentang Battle Waiter...’
‘Tau apa?’
‘Dan aku yakin kau masih tidak ingat.’
‘Ingat apa?’
Rou mendahului Takai.
‘Kenapa semua orang termasuk Rou yang baru kukenal selalu mencoba mengingatkanku sesuatu?’
‘Dasar payah’
‘R..Rou. .!’
-------
Mereka sampai di luar kastil. Suasana masih sejuk hawa pagi.
“Di luar sini... sangat sejuk”
“Seeji, Takai, kalian berdua pasti dipanggil kesini lagi. Jadi jangan pergi terlalu jauh.”
“Heh, tukang ngatur!”
Seeji melihat kota dari atas bukit. Kastil memang berada di atas.
“Hhm, pemandangan yang indah..”
Mereka berdiam di belakang kastil.
“Tak bisa kupercaya...”
“Apanya?”
“Kita jadi berurusan dengan pemerintahan..”
“Seeji, mungkin itu akan mempermudah kita...”
“Benarkah?”
“Yah... kurang lebih begitu..”
“Pangeran... dan puteri... kerajaan...”
“Sudahlah, sebaiknya kau istirahatkan dulu pikiran dan fisikmu...”
“Tapi aku ingin melatih dimensiku"
“Eh?”
“Dimensiku tadi diambil alih oleh Kuroseki kan? Aku tidak mau kemampuanku diambil alih orang lain.”
Seeji meninggalkan Takai.
’Aku akan memberikan kemampuan biologiku untukmu, dan kau juga ajari aku tentang teknik fisikamu!’
“Kenapa aku jadi ingat dengannya?”
Takai lalu menghampiri Seeji. Dia sedang membuat dimensi secara perlahan. Takai melihat mata Seeji berubah biru.
’Kau bahkan sudah melihat mataku kan?’
“Hmh... Sayang sekali aku menyianyiakannya...”
SRIIIING!
“Dimensiku lebih tipis dari biasanya...”
“Seeji?”
'Apa yang terjadi? hoseki milikku tidak seperti terakhir kali, apa karena aku meningkatkan kemampuanku dengan hoseki hitam? Tapi itu membuatku hampir membunuh pangeran.....'
“Takai, aku ingin melihat senjata barumu.”
“Eh? Senjata baruku?”
“Rou bilang saat kau memusnahkan Nikki, senjatamu menjadi lain kan?”
“Eh?”
“Jau pasti sudah meningkatkan senjatamu ke versi ke - 2.”
“Versi 2? memangnya bisa berapa versi?”
“Bisa sampai 3... Tapi mungkin juga bisa lebih.”
Takai mengeluarkan tongkatnya.
“Bagaimana caraku mengubahnya?”
“Kau lupa?”
“Ngh....”
“Coba gunakan tongkatmu untuk memotong pohon itu.”
Seeji menunjuk ke pohon yang berukuran sedang.
“Baiklah!!”
BRRAAAK!
“Bagaimana?”
“Bukan rantingnya, tapi pohonnya”
“Eh?”
“Ayo.”
SRIIING
“Ayo terbelah!”
BRAAAAK!
“Hah...hah...”
“Lihat senjatamu”
“Eh?”
“Ternyata memang benar”
“Wah! Ini keren sekali!”
Takai memutar nunchakunya.
“Senjatamu bisa membesar dan memanjang ya? Coba lemparkan salah satu ujung nunchaku itu."
SRIIIIING
Seeji menangkap salah satu ujungnya.
“Wah, rantainya memanjang...”
“Coba gunakan lagi senjatamu untuk mencincang dahan pohon itu”
“Akan kucoba...!”
BRAAAK
“Bagaimana..... hebat kan... hah..?”
“Hmh... masih ada yang kurang”
“Apalagi yang kurang?! Aku sudah membelah memotong dan mencincang pohon itu!! Kau ingin aku menjadikan pohon itu serbuk?!”
Takai kesal dan mengangkat dahan pohon besar dengan tangannya.
“Hanya caramu mengayun saja yang perlu peningkatan. Bagaimana kalau sekarang giliranku?”
“Eh?”
“Aku juga ingin mencoba senjata baruku...”
Seeji mengeluarkan kedua pistolnya.
“Takai, bantu aku membuat target.”
“Eeh?! Maksudmu kau ingin aku jadi targetmu?!”
“Bukan itu, tapi ini.”
Seeji memberikan tinta dan kuas pada Takai dari dalam tasnya.
“Tinta merah?”
“Kau buat titik target di pohon itu dengan tinta ini”
“Oh... baiklah, kupikir kau ingin menjadikanku targetmu ....”
“Seperti itu pun tidak masalah...”
“Seeji!”
Takai lalu menuju ke arah pohon dan membuat sasaran.
“Begini?”
“Jangan terlalu besar, setitik saja, ditengahnya!”
“Eh....begini?”
“Itu cukup. Takai, menjauh dari sana”
Seeji menggunakan 2 pistolnya menembak ke target yang berbeda. Pohon yang ditembaknya berlubang cukup besar.
“Satu lagi,”
Seeji menembak ke ranting pohon yang cukup besar, dan ranting itu patah.
“Seperti biasa, Seeji...”
“Kali ini, aku akan menggunakan yang satu lagi...”
Dia menyatukan senjatanya seperti terakhir kali dan Takai melihatnya. Seeji menjauh dari target. Jarak sekitar 200 M.
“Seeji! Jangan terlalu jauh!”
“Jangan mendekati target, Takai!”
SRIIING!
Seeji mengarahkan senjatanya lalu bersiap untuk menembak.
DHORR!!
'Kecepatan pelurunya cukup bagus...'
DRAAAK!
Peluru Seeji tepat sasaran dan membuat pohon tersebut hampir tumbang.
“Hebat...”
“Untunglah yuki tidak terkena sepenuhnya peluru itu..”
Seeji tiba - tiba ada di belakang Takai
“Seeji! Jangan mendadak teleport begitu!”
“Aku tidak tahu daya serangnya cukup besar. Aku baru menemukan cara ini.”
“Bahaya banget... “
SRIIING
Senjata dan dimensi Seeji tiba - tiba hilang.
“Ada apa Seeji?”
“Tidak, aku hanya...”
HYUUUNG
“Seeji!”
Saat Takai berbalik Seeji oleng dan hampir terjatuh. Takai menahan tubuhnya.
“Seeji, sebaiknya kau istirahat dulu!”
“Heh... baiklah terserah...”
Mereka berteduh di bawah pohon.
“Yap, menurutku ini lebih baik...”
“Hm..”
Angin menghembuskan debu ke arah Takai
“Aah!”
“Takai?”
“Mataku.. Kemasukan debu..”
’Takai! Dibawah meja masih banyak debunya!'
“Hah... kenapa jadi teringat orang itu...”
“Siapa?”
“Ehm...hatsukoi ku...”
“Hatsu...koi? Apa itu?”
“Ketika kau tiba - tiba jatuh cinta pada orang yang pertama kau temui...”
“Gak pernah denger tuh”
“Heh? Pasti pernah kan? Semua orang pasti mengalaminya! Kau pasti pernah suka pada seseorang kan...?”
“Mungkin itu bukan hatsukoi...”
“Coba ceritakan....”
“Waktu umurku baru 12 tahun, Aku sering melihat seseorang dengan teman - temannya bermain bola di dekat rumahku. Aku selalu memperhatikan salah satu anak dari mereka, dia bermain dengan baik. Anak itu juga membuatku berusaha keras untuk melatih kekuatanku dan secepatnya keluar dari ruangan itu.”
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Suatu hari, salah satu dari mereka memecahkan kaca jendelaku dengan tendangan mereka.”
“Eeeh?!”
“Teman - temannya memintanya untuk mengambil bolanya di ruanganku. Dan setelah kejadian itu mereka tidak pernah datang lagi ke tempatku.”
“Saat itu apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak tahu. Adikku yang menceritakannya padaku.”
“Seeji...”
“Selain itu kenapa kita membicarakan hal ini? Kau bilang aku butuh istirahat kan....”
“Entahlah... aku tiba - tiba teringat saja...”
“Hm...”
“Aku pun pernah mengalaminya...”
“Cinta pertama tidak selalu berhasil, karena mereka mengalaminya tanpa sepengetahuan yang lebih jauh sebelumnya. Selain itu, kebanyakan hanya melihatnya dan berawal dari tampilan saja. kau kurang beruntung...“
“Cinta pertama dan jatuh cinta pandangan pertama itu beda tau!”
“Hah, terserah...”
“Saat itu aku masih di tingkat 8 akademi, dan dia adalah seksi kebersihan di organisasi kelasku. Aku selalu bermain main saat piket, jadi dia selalu memarahiku. Tapi justru karena itu dia jadi orang yang...”
Seeji tertidur.
“Heeh? Dia tidur? Oh ya kita memang tidak tidur kemarin sih... karena para hantu itu haha...”
Takai memejamkan matanya. hembusan angin pagi yang masih sejuk membuatnya mengantuk.
‘Aku tidak berpikir akan membiarkan dia membenciku. Tapi... Mau bagaimana lagi itu sudah berlalu.’
flashback
CTRAAAK
“Takai! berhenti memutar dan memainkan sapu! Cepat piket!”
“Sebentar! Lihat! zombie ini tidak berhenti menyerang!”
“Kau tidak bisa kubiarkan hidup manusia!!” Temannya Takai bernama Jio berpura - pura menjadi zombie.
“Takai! Ayolah! Kelas ini masih berdebu!”
“Serangan dadakan!”
Jio menghindar dari Takai dan tanpa sadar dia mengenai orang lain
“Ah...ano....”
Orang itu adalah ketua Siswa tingkat menengah. Dia menatap Takai dengan tatapan yang sangar. Sapunya mengenai wajah dan kacamatanya yang membuatnya menjadi kotor. Ketua osis itu seperti harimau yang siap memakan mangsanya, Takai berpikiran seperti itu.
“Maap!!”
Takai kabur dan langsung melompat dari jendela lantai dua.
“Aka - chan! Kau tidak boleh lari! Kau belum selesai piket!!”
“Jio! Aku serahkan padamu!”
“Takai!”
Tapi Ketua siswa itu hanya memberikan catatan kepada Kishimaru, seksi kebersihan kelas.
“Aku benar - benar minta maaf! Ketua!”
“Tidak apa, siapa anak itu?”
“Dia Takai akari....”
“Takai... aku akan mengingat namanya.”
Ketua itu lalu keluar kelas.
“Dasar, si Takai itu... dia pasti dalam masalah....”
“Hah... dia memang seperti itu, maklumi saja ya, Kishimaru...”
“Kau pun sama saja, Jio! Kenapa malah meladeninya!?”
“Dia memang menyenangkan diajak bermain... aku kabur juga ya!”
“Jio!”
Jio kabur dan keluar dari kelas.
“Lagi - lagi harus aku yang membereskan semuanya, hm?”
Kishimaru melihat buku milik Takai.
“Dia menjatuhkan bukunya, aku akan mengembalikannya dan menghajarnya nanti!”
__ADS_1
Takai sampai di rumahnya.
“Kaa- san, aku pulang...”
“Takai, selamat datang. Kau pulang cepat? Bukannya kau ada piket hari ini?”
“Ahh... itu.... yah, aku mau cepat pulang untuk belajar, ujian yang menentukan siswa terbaik, kan sebentar lagi...”
“Berarti kau harus kembali ke sekolah kan? Ada guru yang menawarkan les untukmu...”
“Oh ya, aku lupa soal itu.”
“Sebaiknya kau makan siang dulu, dan istirahat. Untung sekolahnya tidak terlalu jauh...”
“Wah, aku tidak sabar dengan masakan ibu hari ini....”
Setelah itu Takai kembali ke sekolah. Dia melihat Kishimaru baru pulang.
“Aah! Kishi - chan! Gimana piketnya? Seru!?”
“Seru gimana.... cape tau...”
“Sampai nanti!”
“Aah, Takai!”
Takai sudah masuk ke sekolah.
“Aku lupa dengan bukunya...”
--Esoknya--
“Baiklah, kalian akan mendapatkan latihan dadakan hari ini."
Guru Ilmu Alam itu memberikan soal yang belum dipelajari sebelumnya.
“Apa!?” tentu semua murid terkejut.
“Tapi pak, kami bahkan belum mempelajari materi ini..”
Para murid banyak yang protes bahkan hingga memukul mukul meja kayu itu.
“Makanya, dengan menjawab soal latihan ini kalian akan mempelajarinya....”
“Eeh.... kalau nilanya jelek pasti memalukan....”
“Kalian lupa? Peserta dari penghargaan siswa terbaik ka ada disini kan?” Salah satu murid mengingatkan.
“Aah! Benar juga! Takai, ajari kami!”
“Eh? Tunggu sebentar...”
“Takai, sekalian saja untuk latihanmu, selamat mengerjakan.”
Guru itu lalu pergi keluar kelas dan membiarkan mereka semua.
“Heh... guru yang gak mau repot... baiklah! Aku akan memberitahukan teknik rahasiaku!”
Semua anak lelaki sibuk diskusi dengan Takai. Sedangkan para anak perempuan mencoba memecahkan soalnya sendiri.
“Si Takai itu, sombong banget sih.”
“Kishimaru, kau tahu caranya kan?” Teman sebangku Kishimaru bertanya padanya.
Kishimaru tanpa sadar memperhatikan Takai yang sedang menerangkan soal.
“Kishimaru?”
“Ah, ya?”
“Kau mendengarku?”
“Yah, aku cukup tahu pola soalnya...”
“Hmm.. “
“Keren...”
“Hm?”
“Ah..tidak, bukan apa apa...”
“Hey, kalian para siswi, kalian bisa menjawab soalnya tidak?” Para lelaki memeremehkan para siswi.
“Berisik, kalian pikir kami tidak bisa memecahkannya?”
“Memangnya kalian bisa apa? Kalian tidak punya andalan...”
“Kalian juga sama saja, hanya mengandalkan orang lain! Seharusnya kalian bisa memikirkan sendiri jawabannya ya kan?!”
“Ah, sudahlah, tidak perlu ribut. Sebaiknya kita selesaikan saja persoalan ini...” Takai mencoba mengurangi keributan para siswa laki - laki dan perempuan
“Aku akan memberi kalian semua apa yang ku bisa untuk soal ini, sisanya kalian selesaikan saja, tapi, yang nilainya paling kecil harus mentraktir nilai orang yang lebih besar, bagaimana?”
“Wah! Ide yang cemerlang Takai!”
“Yah, itu tidak masalah sih..”
“Baiklah, kita mulai saja...”
[penilaian]
“Ah...sepertinya aku kurang beruntung...” Takai kecewa dengan nilainya
“Takai, kau harus membaca soalnya dengan teliti... kalau tidak kau tidak bisa ikut penilaian umum kalau begitu...”
“Baik pak,..”
“Wah! Kishimaru, aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan Takai! Hanya ada beberapa kesalahan saja di kertasmu itu!”
“Tapi aku harus mendapat nilai yang sempurna ..”
“Kishi! Jangan sombong dulu! Ini hanya latihan, jadi sebaiknya kau berhati - hati!”
“Takai! Nilaimu yang paling kecil kan?”
“Ah...itu...”
“Kau membalikan unsur senyawa dan unsur campuran, tentu saja salah” Kishimaru mengambil kertas latihan Takai.
“Hei!”
“Wah, hasil dari fotosintesis saja masih terbalik...”
“Kishi - chan!”
“Yah, aku menunggu traktiranmu pulang sekolah...aka - chan”
----Usai sekolah-----
Kishimaru masuk ke kelasnya. Dia baru dari kantor memberikan laporan. Dia melihat Takai masih menulis dengan serius.
“Ta...kai...”
“Ah...! Kishi chan!”
“Eeh!”
“Aku harus segera latihan untuk besok, jadi langsung saja...”
“Besok?”
“Ya, penilaiannya dimulai besok."
“Hmmm...”
“Mau bagaimana pun, aku harus memenangkannya! Meskipun aku memang tidak suka membaca, aku harus melakukannya!”
“Kenapa antusias sekali..?”
“Ayahku dan aku akan pergi memancing bersama saat dia ada waktu senggang di ulangtahunku besok, jika aku telah menjadi yang terbaik!”
“Heh, hanya memancing ikan kan ..”
“Aku dan ayahku memang tidak ahli dalam memancing, dan terkadang kail pancingnya selalu menyangkut di ranting pohon..”
“Heh? Nyangkut?”
“Tapi disitu bagian kami berdua tertawa melihatnya, hahaha...”
Kishimaru baru pertama kali melihat Takai tertawa dengan wajah yang menyenangkan.
“Jadi... kau harus belajar ya kan? Lupakan saja... traktiran itu. Aku harus pu...”
“Aah... tunggu dulu.... cobalah ini!”
“Nasi kepal?”
“Aku memang rencana pulang telat, jadi sengaja membawa bekal, tapi kebanyakan... bagaimana jika ini untuk traktirnya?”
“Eh, jadi aku hanya bagian penghabisan ya kan?”
“Sekalian saja..”
Kishimaru duduk di depan Takai dan mencoba bekalnya.
“Ini enak, aku yakin bukan kau yang membuatnya...”
“Yah, memang bukan ak... Eeeh!! Kenapa kau berpikiran begitu .?”
“Kau pasti tidak bisa memasak...”
“Bisa kok...”
“Masak apa? Air?”
“Aah... sudahlah... Kalau saja buku milikku tidak hilang, aku pasti bisa menjawab semua soal tadi dengan mudah.....”
“Buku.... ah, aku mencoba mengembalikannya padamu waktu itu.. Ini"
“Ah! Aku mencari buku ini kemana mana! Pantas saja kau bisa menjawab semua soal tadi.... ini curang namanya!”
“hei, kau yang meninggalkan buku ini di kelas, daripada hilang aku bawa saja!” Kishimaru mengambil kembali bukunya.
“Aku butuh buku itu...”
TEPP
Tangan mereka bersentuhan di atas buku.
“Eeh...”
BRUUUK!
Kishimaru jatuh dari kursi.
“Kau ini...pake jatuh segala.”
“Kamu sendiri pake ngedorong meja! Aku jadi jatuh kan!”
“Ya, ya aku salah...”
SREET
Takai memasangkan plester ke Sikut Kishimaru yang lecet.
“Kalau begini ya tidak akan masalah"
“Takai...”
“Kishimaru, tolong...”
“Ada...apa?”
Ruang kelas lengang sejenak. Kishimaru terheran dengan permintaan Takai.
“Takai, ada apa?”
“Ajarkan aku tentang biologi!”
“Eh? biologi?”
“Saat belajar biologi kau harus banyak membaca ya kan? Aku paling tidak suka membaca, jadi tolong ajari aku!”
“Hah.. kupikir mau bilang apa..”
“Ng..bagaimana?”
“Ya... aku tidak keberatan..”
“Benarkah?”
“Aku akan memberikan kemampuan biologiku untukmu, dan kau juga ajari aku tentang teknik fisikamu!"
“Terimakasih! Niri!”
“Takai!”
“Ah, maaf, aku memanggilmu dengan nama depanmu...”
“Tidak apa... tapi lainkali panggil saja dengan nama belakangku.... rasanya nama depanku agak mirip dengan onigiri ini..”
“Niri...onirigi..”
“Takai! Kau salah mengeja!”
“Eh? Benarkah?”
“Sudahlah, ayo langsung saja...”
“Baik!”
Mereka berdua lalu belajar bersama. Kishimaru mengajarkan beberapa trik untuk mengingat istilah dengan mudah.
“Bagaimana? Mengerti?”
“Ya, aku mengerti”
Kishimaru selalu memandang Takai yang tengah serius belajar.
“Kenapa, wajahmu terlihat sangat tampan...”
“Kishimaru?”
“Ah! Takai! Kau harus segera les dengan guru ipa ya kan...?”
“Ah! Kau benar!” Takai mengambil satu nasi kepal.
“Sisanya kau bawa saja ya! Terimakasih banyak, Kishimaru!”
“Takai!”
“Akan kubayar hutangku nanti!”
Takai lalu pergi.
“Dia meninggalkan bukunya lagi...”
---Esoknya----
Takai tidak ada di kelas. Dia dispensasi seharian.
Sekolah telah usai, beberapa murid mulai membereskan perlengkapan mereka.
Kishimaru merasa ada yang aneh semenjak bertemu dengan Takai kemarin.
‘Kenapa aku jadi berdebar begini..'
“Ah...onigirinya masih terbayang...”
“Kishimaru...”
“Eh? Ya?”
“Kau terlihat berbeda..”
“Benarkah? Apanya...?”
“sikapmu.. agak...”
“Oh ya, penilaian umum itu beres hari ini ya kan? Aku khawatir apa dia bisa menjalani tes seluruh mata pelajaran dengan mudah....”
“Ada apa? Kau ingin bertemu dengan Takai?”
“Ya... eh... tidak... ah.. begitulah..”
“Kau terlihat seperti orang yang sedang kasmaran...”
Kishimaru agak mematung dengan pertanyaan teman sebangkunya itu.
“Nne...apa kau tahu kenapa kita memikirkan seseorang ...?”
“Karena.... kita... menyayanginya?”
“Menyayanginya... eh?”
Tiba - tiba Kishimaru melihat sinar merah menyala dari arah rumah sakit tempat ayah Takai bekerja.
“Apa itu?”
Ketua siswa tiba - tiba masuk ke kelas Kishimaru.
“Kishimaru! Apa Takai disini!?”
“Dia sedang dispensasi...”
“Cahaya itu..”
Dia melihat ke arah rumah sakit.
PRAAANG!
Salah satu jendela rumah sakit itu pecah.
“Pasti ada sesuatu...”
Ketua siswa meninggalkan mereka
“Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk...”
“Kishimaru...”
---------------
Esoknya mereka diberitahu ada sesuatu yang terjadi pada Takai, ayahnya telah tewas karena kejadian di rumah sakit kemarin. namun sisi baiknya Takai memenangkan penilaian umum tingkat menengah itu.
“Tangan kanannya terluka dan dia tidak bisa sekolah hari ini."
“Tidak...”
“Kishimaru....”
“Ternyata firasatku kemarin benar...” Dia melihat buku milik Takai yang ditinggalnya. Kishimaru juga menulis beberapa materi yang diajarkan saat Takai tidak ada.
“Takai...”
Sudah tiga hari Takai tidak masuk sekolah. Jio mengajak Kishimaru dan yang lainnya untuk menjenguk Takai.
“Menjenguk, Takai?”
“Ya, semoga saja dia baik - baik saja...”
"Aku akan ikut, aku harus mengembalikan buku miliknya.”
“Bolehkah aku ikut dengan kalian?”
“Ketua siswa! Tentu saja, tapi kenapa?”
“Aku harus bicara dengannya.”
Mereka lalu pergi ke rumah Takai.
“Jadi.... rumahnya disini....”
“Katanya dekat, tapi harus berjalan setengah kilometer...”
“Segini masih dekat, Kishimaru... permisi...”
Pintu rumah itu lalu terbuka.
“Kalian, teman - temannya Takai?” Ibunya Takai menghampiri mereka.
“Ya, kami boleh menjenguknya?”
“Tentu. Semoga saja, dia mau keluar melihat teman - temannya datang.”
"Keluar?”
Mereka lalu memasuki rumah Takai.
“Maaf, rumahnya agak berantakan..”
“Dimana, Takai?”
“Dia di dalam kamarnya. Sejak kemarin dia tidak mau keluar...”
“Eh?”
Mereka berada di depan ruangan Takai.
“Takai, teman - temanmu datang...”
“Takai, kau baik baik saja?”
“Tidak ada jawaban...”
“Takai di dalam sini kan?”
CREEK!
“Pintunya terkunci”
“Oi, kau baik - baik saja kan?” Jio bertanya padanya.
“Pergilah, tidak perlu menjengukku"
“Takai? Kau ada didalam kan?”
“Takai! Kau tidak mau di dalam sana selamanya kan? setidaknya kau keluar dan temui kami!”
“Menjauh dariku!”
__ADS_1
BRRAAK
Takai melempar sesuatu ke pintu
“Takai....”
Kishimaru sangat terkejut mendengar Takai seperti itu.
“Maaf, Takai mungkin sedang tidak bisa diganggu...”
“Tante....”
“Saat itu, dia baru saja kembali dari penilaian umum, dan langsung menuju ke rumah sakit untuk menemui ayahnya. Tapi, saat kembali aku mendengar kabar bahwa ayahnya telah tewas dan dia sempat koma....”
’Ayah!!!’
’Takai! Syukurlah kau sudah sadar!’
’Ibu, ayah dimana?’
’I..itu...’
’Ibu, apa yang terjadi padaku, dan dimana ayah?’
’Ayahmu...telah...’
’Eh...?’
Takai terdiam sejenak. Dia memperhatikan tangannya yang terluka.
’Luka...’
Takai menggerakkan tangannya. Tiba - tiba darah keluar karena jaitannya terbuka. Ia langsung berteriak.
“Mungkin... dia masih terpukul..”
“Kami... ikut sedih...”
“Boleh aku menemui Takai sekali lagi?”
“Kishimaru...”
“Kishimaru, aku ikut”
Ketua siswa ikut bicara.
“Silakan, maaf kalau Takai mengejutkan kalian..”
Mereka kembali ke ruangan Takai.
TOK TOK
“Hei, aka - chan, kau di dalam sana ya kan?”
“Apa yang kau mau..?”
“Aku, ingin mengembalikan buku milikmu..”
Hening sejenak. Tiba tiba terdengar suara kunci dari dalam. Takai Lalu membuka pintu ruangannya dan menatap Kishimaru.
“!!”
Kishimaru terkejut melihat Takai yang dikenalnya berubah drastis. Takai lalu mengambil bukunya. Terlihat di matanya ada setumpuk kesedihan juga penyesalan.
“Takai! Keluar dan temui kami! Kau punya hutang denganku kan? Temui saja mereka dan kuanggap semua lunas!”
“Diam kau, berisik."
Takai mencoba menutup kembali pintu ruangannya, tapi ketua siswa menahannya.
“Takai Akari.... kau pasti tidak tahu apa yang kau lakukan ya kan?”
“Mau apa kau...”
“Aku telah mendengar kabar tentang apa yang terjadi di rumah sakit. Kau pasti...”
“Berisik! Jangan ingatkan aku tentang itu!”
BRAAK
Takai menjatuhkan ketua siswa dan hampir memukulnya. Kishimaru melihat mata Takai berubah menjadi merah menyala.
'Matanya.... seperti sinar yang kulihat di rumah sakit...'
“Takai!”
Saat Takai tersadar apa yang dilakukannya, matanya kembali normal.
“Hah...!”
Takai langsung masuk ke ruangannya dan mengunci diri.
“Ketua! Kau baik baik saja?”
“Aku baik - baik saja...”
“Ketua...”
“Tolong rahasiakan ini dari semuanya,”
“Tante?”
“Sebenarnya, Takai menyangka kalau dia telah membunuh ayahnya...”
“Apa!?”
“Tapi dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Kami menganggap tragedi ini hanya kecelakaan... meski begitu, Takai selalu terbayang dengan ayahnya yang mati dihadapannya..”
“Takai...”
“Padahal dia sangat mengharapkan untuk menghabiskan waktu dengan ayahnya...”
“Semoga dia baik - baik saja....”
“Ternyata.... dia juga..”
“Rou..san?”
---------
“Apa yang dilakukan Takai? Dia sudah seminggu tidak masuk...”
“Dia pasti butuh waktu... Kishimaru? Kau baik - baik saja kan?”
“Padahal harusnya aku bilang padanya waktu itu...”
“Hm? Bilang apa?”
“A...aku...”
Takai masuk kembali ke kelasnya.
“Ah! Takai!”
“Takai! Kau baik - baik saja kan?”
“Aku...baik..”
“Wajahmu mengatakan sebaliknya, Takai..”
“Jio, tolong bersikap biasa saja...”
Kelas dimulai saat guru masuk ke kelas. Kishimaru memperhatikan Takai yang duduk di depan kirinya.
“Aku.. Tidak boleh memberitahukannya pada orang lain....”
Tidak seperti biasanya, Takai tidak banyak bicara. Saat ditanya dia hanya menjawab seperlunya.
Saat jam istirahat, para siswa keluar dan hanya menyisakan Takai, Jio, juga Kishimaru.
“Takai, kau terlihat tidak baik, bagaimana jika kau ceritakan masalahmu? Mungkin akan meringankan sedikit bebanmu..” Jio berusaha membujuk Takai.
“Tidak perlu."
“Ini bukan kau yang dulu, Takai. Kau ingat kan?”
“Tidak”
“Aka - chan! Kau tidak bisa bersikap seperti itu...” Kishimaru ikut bicara.
“Berhenti memanggilku dengan sebutan seperti itu.”
“Takai..”
“Takai! Setidaknya kau tidak perlu menahan semua masalahmu sendiri kan? Kau membuat teman - temanmu khawatir! Kau tidak bisa terus menerus memikirkan ayahmu yang telah tiada, ya kan?”
“Berhenti membujukku seperti itu!”
Takai mendorong Jio dan memukulnya dan membuat Jio jatuh ke arah kursi. Kishimaru melihat mata Takai yang berubah warna lagi.
“Jio - kun! Takai...!”
“Hah...hah!”
Takai lalu keluar dari kelas.
“Takai! Maaf, Jio! Aku harus mengejarnya!”
Kishimaru mengejarnya.
“Hah...hah... Apa yang terjadi padaku....”
Takai melihat di cermin, matanya berubah warna, tapi semakin lama matanya kembali normal.
“Takai... aku...”
“Sebaiknya kau menjauh saja dariku, Kishimaru...”
“Takai...”
“Aku tidak mau melukai orang lain lagi... kau sudah melihat apa yang terjadi padaku kan?”
“Tapi...”
“Tolonglah, niri..”
“Aka...”
Saat usai sekolah, Takai mendapat bagian piket kelas, waktu itu dikelas hanya ada dia dan Kishimaru.
“Takai, mungkin sebaiknya kau segera pulang...”
Takai tidak menjawab.
“Aka...”
“Aku sudah bilang untuk menjauh saja dariku kan?”
“Setidaknya, cobalah untuk berbicara atau....” Kishimaru mendekati Takai yang berada di dekat meja guru.
“Aku selesai.”
“Takai..”
PRAANG
Sapu yang dipegang Kishimaru menyenggol vas yang berada di meja guru. Vas itu pecah mengenai tangan Kishimaru yang membuatnya berdarah.
“Kishimaru!”
“Aw....”
“Kau harusnya berhati - hati.....”
“Takai..”
“!!”
Saat Takai akan membersihkan pecahan vasnya, Takai terkejut melihat darah yang mengalir di tangan Kishimaru. Dia teringat kembali kejadian kemarin. Dia terjatuh.
“Tidak... menjauh.... menjauh!!”
“Takai!”
“Tidak! Aku tidak mau! Tidak!”
Kishimaru melihat rambut Takai berubah yang awalnya merah tua menjadi merah menyala.
“Takai! Tenanglah!”
Kishimaru menutup tangannya dengan sapu tangan miliknya, lalu mencoba menenangkan Takai.
“Takai....”
“Hah....Ni..ri... hah!!”
Takai sadar apa yang dilakukannya dan langsung keluar dari kelas.
“Takai!”
Kishimaru terkejut melihat kejadian tadi.
“Apa... yang lebih sakit... dari luka fisik....?”
Saat Kishimaru melihat Takai seperti tadi, Takai terlihat sangat kesakitan.
---------------
Waktu terus berlalu. akhirnya waktu pelepasan tingkat menengah tiba, tapi sikap Takai tidak berubah.
“Takai, dia terlihat seperti orang asing.”
“Dia memintaku untuk tidak mempedulikannya, tapi...”
“Jio.... aku tidak bisa berpisah darinya begitu saja...”
“Kishimaru...”
“Aku menyukainya....”
“Kishi...”
Kishimaru mencari Takai. Takai sedang diam di dekat pohon menatap langit dengan setelan jas perpisahannya.
“Takai...”
“Ada apa? Kishimaru."
“Takai.... kau akan tetap seperti itu...?”
“Apa yang kau inginkan dariku?”
“Takai.... kembalilah..”
“Kembali?”
“Maukah, kau kembali menjadi Takai... yang kusuka.....”
Takai melirik ke arah Kishimaru.
“Benar, aku menyukaimu sejak dulu! Takai! Jadi, tolong... kembali... aku menginginkan dirimu yang bisa tersenyum dan tertawa seperti dulu!”
“Kishimaru... tidak perlu mengingat masa lalu. Yang sudah terlewat biarkan saja."
“Kau sendiri tau kan?! Lalu kenapa kau merubah sikapmu seakan kau orang asing bagi kami!? Masa lalu adalah masa lalu, jadi kau tidak perlu mengingat tentang kejadian itu!”
“Aku merubah sikapku, karena aku tidak bisa berada di sekitar kalian.”
Takai memalingkan wajahnya dari Kishimaru.
“Sesuatu yang mengerikan ada dalam diriku. Aku sendiri tidak paham, bagaimana aku menceritakannya pada kalian?”
“Takai...”
“Kau sudah tahu apa yang telah kulakukan kan? Kau bahkan melihatku yang tiba tiba berubah. Hal seperti itu bukanlah hal yang bisa ditemui manusia biasa.”
“Tidak! Takai...”
“Aku bisa saja membunuhmu!!"
Kishimaru agak terhentak ketika Takai bicara seperti itu, tapi dia tidak berhenti membujuknya.
“Kau tidak bisa... jangan bersikap seperti itu....! Sikapmu yang seperti ini dan menjauh dari yang lainnya, aku.... tidak menyukainya....”
“Kalau begitu, kau benci saja aku.”
“!!”
Pandangan mata Takai, berbeda dengan yang dilihat Kishimaru dulu.
Jauh berbeda.
Takai lalu pergi. Melihatnya pergi, Kishimaru menangis
“Tidak... Jangan pergi.....”
‘Luka yang lebih sakit dari luka fisik... Adalah..... Luka saat kehilangan.... sekarang aku mengerti... Takai... jika kau bertemu lagi denganku, jangan bersikap seperti itu, karena aku membencinya..’
--------
Takai sedang menyapu kelas. Dia sekarang sudah masuk Pendidikan tingkat atas, tapi dia masih jarang bicara dengan banyak orang termasuk teman - temannya.
TREK
Takai menyimpan sapunya dan memandang langit.
’Takai! Ayo adu sapu lagi!’
“Hmh..Jio”
’Takai! Ayo piket yang benar!’
“Aku...menolaknya...”
Takai teringat dengan Kishimaru. Kishimaru adalah hatsukoinya.
“Aku harus bagaimana... apa aku harus menghindar dari semua orang... sebenarnya kekuatan apa ini....”
Takai melihat ke arah jendela.
“Aku masih terlalu takut...”
“Kau masih tidak mau juga!?”
“Hm?”
Takai mendengar seseorang di luar jendela.
“Berikan kami uang lebih banyak!”
“Aku tidak punya apa - apa lagi...!”
“Jangan bohong! Tidak mungkin kau hanya punya uang seharga permen ini kan? cepat berikan!”
Sekelompok siswi tengah mem - bully seseorang dengan memalaknya sejumlah uang.
“Hei... kalian...” Takai memanggil mereka semua dari atas. Kelas Takai ada di lantai 2.
“Siapa itu!?”
“Apa yang kalian lakukan..”
“Kau tidak lihat? Jangan pura - pura bodoh!”
“Pura - pura bodoh?”
“Kau bermaksud mengganggu ya? Turun jika kau berani!”
“Yang pura - pura bodoh itu kalian, kalian sudah tau kalau dia tidak punya uang masih saja memalaknya...”
“Kau meledek kami? Jangan sembarangan! Kami kelas 3 tau!”
“Oh, maaf. Baiklah aku akan turun.”
Takai melompat dari lantai 2.
“K..kau pasti anak kelas 1 kan? Kelasmu ada di lantai 2.. katakan siapa namamu, untuk terakhir kali melihat kami, hahahahaha!!”
Salah satu dari mereka tertawa dengan kerasnya.
“Namaku Takai akari, maaf kalau aku sudah tidak sopan..”
Saat memperkenalkan diri Takai masih beranjak bangkit dan berdiri, seperti seseorang yang berlutut. Dia tersenyum merendahkan.
“Jangan memandang kami seperti itu!!”
Mereka mencoba memukul Takai dengan tongkat yang ada di dekat mereka. Tapi Takai menahan tongkat itu dan merebutnya. Takai lalu mengarahkannya ke arah mereka.
“Jadi? Bagaimana? Onee - sama...”
“Kau...”
TRAAK
Takai menjatuhkan tongkatnya di depan mereka.
“Penyiksaan terhadap orang lain itu dilarang disekolah..”
Mereka menatap Takai, seolah Takai membujuk mereka.
“Awas kau nanti!”
Mereka lalu kabur.
“Kau baik - baik saja?”
“Hm... seperti itu...” orang itu lalu berdiri.
“?”
“Takai Akari, kita pasti akan bertemu...”
“Apa yang...”
Orang itu berdiri dan mengarahkan tangannya ke arah Takai. Takai tidak melihat wajahnya, tapi dia melihat cahaya biru.
“Dia...menghilang?”
SYYUUUSH
'Siapa dia... dan cahaya biru tadi...
__ADS_1
flashback end