
DHOOOR!!
Seeji menembakkan pistolnya keatas. Membuat Takai agak memberi jarak.
“Kalau begitu, apakah aku masih bisa disebut penolong jika, aku membunuhmu disini?”
DEEGG!
Tatapan dengan keinginan membunuh sangat tinggi, Takai terhenyak melihat mata biru yang bercahaya itu menjadi mengerikan.
“Seeji, jangan disini! Seseorang bisa melihat kita!”
“Ada apa Takai, kau takut? Baiklah, aku akan membuat dimensi. Tapi..... dimensi yang menyenangkan untuk bertarung...”
SRIIIIIING
Seeji menggunakan dimensi baru miliknya, yaitu padang es.
SYUUUUSH.
Angin dingin langsung menerpa mereka. Suasana musim panas menghilang seketika.
“Ini....”
“Ini dimensi baruku, bagaimana menurutmu?”
Seeji langsung menembakkan peluru panasnya. Takai langsung menghindarinya dan mengeluarkan tongkatnya.
"Keluarkan hosekimu...! Dan buat aku puas!! Red Petals!!"
Mereka bertarung dalam dimensi Seeji yang dingin dan membeku itu, seperti hatinya saat ini.
“Seeji!”
“Kenapa hah? Takai? Kau ingin mengalahkanku kan..?”
Kuroseki sedang mencari waktu yang tepat untuk merubah permata Seeji menjadi hitam lewat kebencian dalam hati Seeji.
“Gelap... semakin gelap...”
Dimensi itu menjadi gelap, dan udara semakin dingin berhembus.
"Hoseki merah! Aku mohon padamu...!"
Takai berusaha meningkatkan suhu tubuhnya dengan pelindung hoseki merah. Seeji tetap mengayunkan pisahnya pada Takai tanpa celah sedikitpun.
"Kau tidak bisa terus seperti ini Seeji! Ingatlah apa tujuanmu bertarung!"
"Tak ada lagi yang harus dituju! Semuanya musnah!"
"Berhentilah Seeji!!"
PYAAAS!!
Takai mengayunkan Tingkatnya hingga membuat Seeji terpontang - panting diantara es yang dingin.
"Meski adikmu sudah tiada, dan tempatmu untuk pulang sudah sirna.... tapi kau masih bisa percaya dengan masa depan!! Semuanya akan baik - baik saja!"
"Tak ada artinya lagi!!"
Seeji menembak Takai dengan pistolnya, puluhan peluru ditembakkan secara bersamaan. Dengan cekatan Takai menghindarinya dan membelah angin untuk menghempaskan Seeji.
“Seeji... aku mohon...“
Seeji terengah - engah tubuhnya bergetar karena suhu tubuhnya menurun. Takai dapat terjaga karena pelindungnya.
“Aku belum memutuskan siapa pemenangnya…”
“Kalau begini terus kau bisa membeku… Seeji, kau tidak bisa menyiksa dirimu sendiri...”
"Be...risik...!
SRIIING
Dimensinya menghilang.
"Akhirnya..."
Takai lalu mendekati Seeji yang masih terduduk di tanah, menahan tubuhnya dengan tangannya.
KRRAAK!
“!!”
‘Ada...yang retak...’
“Ukh!”
"Ayo... Seeji.."
KITS!!
Seeji tersenyum kejam dengan matanya yang menyala. Takai lengah, Seeji mengayunkan pisaunya, Takai segera menahannya dengan tangannya.
“Cih..aku tertipu...! Tunggu...?! Itu..."
"Kau tidak bisa kemanapun!!"
"Jangan! Seeji! Berhenti!!” Takai menggelengkan kepalanya karena sesuatu di belakangnya dan berusaha menahan Seeji.
“Tidak, sebelum kau berhenti.”
“Bukan! Ada seseorang yang…”
Seeji terus menyerang hingga membuat Takai terjatuh.
"Kau tamat kali ini!"
Seeji berdiri di depannya dengan pisau di tangannya.
"Seeji! Jangan!!"
Takai segera berdiri dan menghindar, namun Seeji berhasil mengayunkan pisaunya dan menembus pelindung Takai. Tangannya tergores.
“S-Seeji...”
--‘Tidak... bukan ini.... yang kuinginkan.... terlalu gelap... selamatkan aku!’--
“Seeji! Semua ini bukanlah keinginanku!!”
“Bagaimana..? Apa kekuatan itu melindungimu? Ataukah menyiksamu?”
DEGG!
Senyumannya tidak lagi terlihat menawan seperti yang Takai lihat dulu. Benar - benar seperti pembunuh.
‘Seeji... senyumanmu itu... Apa keadaan hatimu saat ini?’
“Hm...sepertinya kali ini tidak akan gagal...”
Kuroseki menantikan Seeji untuk menguasai hosekinya. Tangannya lalu mengarah pada Seeji yang hampir membunuh Takai.
SRIIIING
“Kita akhiri saja disini... Takai Akari!”
Tangannya terangkat, tiba - tiba dibelakangnya seseorang menahan tangannya.
“SEEJI – SAN!”
“Tidak! Menjauh!”
“Dasar pengganggu!!”
SYAATS!
Tanpa sengaja Seeji menyayat tangan Kyusin, pekerja di butik Himeji yang pernah ditolongnya.
“Kau....!! Kyusin?!” Seeji sontak terkejut
“See..ji..” Kyusin menahan rasa sakit dari luka seukuran jengkal itu. Pisau itu menyayat dadanya hingga dagingnya terlihat.
“Tidak.... Takai…..? A-apa yang…aku…”
Seeji melihat kedua telapak tangannya. Pisahnya lalu terjatuh.
'Dia....'
Kyusin berlumuran darah. Takai menahan Kyusin yang hampir terjatuh.
“Bertahanlah!”
Seeji menunduk. Dia nampak ketakutan. Seeji berlari dan meninggalkan mereka berdua.
“Seeji! Kau baik - baik saja? Bagaimana ini...” Takai mencemaskannya. Wajah Kyusin mulai terlihat pucat.
“Tidak apa - apa, ada seseorang yang bisa menolongku. Tapi bisakah kau bawa aku kesana?”
"Dimana? Rumah sakit?"
"Tidak...."
Kyusin bilang, seseorang yang bernama ‘Heal – san” bisa menyembuhkannya.
--------
"Baiklah, aku akan mencari Seeji."
Takai kemudian berlari mencari Seeji, setelah mengantar Kyusin ke sebuah gubuk tua di tengah hutan.
“Tidak...tidak!!! Aku tidak melakukan apapun!”
Seeji menutup kedua mata dan telinganya, mencoba melupakan kenangan lama yang tersirat kembali sambil berlari tak tentu arah.
'Apa yang kau lakukan padaku!? Manusia kejam!!'
'Kau tak harus melakukan ini! Aku tak melakukan apapun!! Jangan mendekat!!'
'Kenapa kau menghabisi kami?! Apakah emosimu diluar kendali?!
'Kau telah membunuhnya.... Battle Waiter...'
'DASAR PEMBUNUH!!'
Bukannya menghilang, bayangan dan suara suara itu malah makin jelas dipikirannya.
__ADS_1
“TIDAAK! AKU TIDAK MAU!!"
Hoseki Seeji kembali lepas kendali dan meruntuhkan tanah yang diinjaknya, sebelum Seeji benar benar terjatuh, Takai sempat menahannya.
“Seeji! Tenanglah!”
Seeji melirik ke arah Takai, tatapan Seeji penuh kegelisahan.
'Apa yang membuat perasaanmu tak karuan begitu? Seeji?'
Seeji menghindari Takai dan kembali berlari. Takai lalu mengejarnya.
“Seeji.”
“Jangan mendekat!”
Seeji masih terlihat panik. Takai tetap mendekatinya.
“KUBILANG JANGAN MENDEKAT!”
DHOOORR!
Pelurunya hampir mengenai Takai dan Takai hanya terdiam melihat Seeji yang pelurunya meleset itu.
“!!”
"Aku tahu tembakanmu akan meleset, Seeji."
Takai lalu mendekati Seeji yang sedang terdiam di tepi bukit
“Sekali lagi...”
“Apa maumu...?”
“Bertarunglah denganku sekali lagi.”
Seeji terkejut. Takai serius menantangnya.
“Jika kau menang, maka aku akan pergi seperti kita tidak pernah bertemu. Tapi jika kau kalah, tolong dengarkan apa yang kukatakan. Untuk kali ini, jangan menggunakan senjata ataupun kekuatanmu. Hanya dengan tanganmu.”
“Apa... maksudmu?”
“Apa kau takut?”
Seeji terkejut melihat tangan Takai masih berdarah karena serangannya tadi
“Kau...tidak takut?
“Tanganku ini? Aku pun tidak mengerti.... Mungkin selama ini yang kutakutkan bukanlah darah, tapi kehilangan seseorang yang aku sayangi. Bukankah begitu? Seperti yang telah terjadi pada adikmu.”
“Berisik!! Kau tidak mengerti! Kau hanya orang asing yang masuk ke kehidupanku!” Seeji berdiri dan menghadap Takai dengan matanya yang gelisah.
“Apa bedanya denganku? Kau juga hanya orang asing di kehidupanku.”
Seeji terbelalak dengan tanggapan Takai. Mereka beradu pandang. Takai tau apa yang dirasakan Seeji lewat matanya.
“Lalu..... sampai saat ini, apa tidak ada seseorang yang kau sayangi? Kau hidup hanya dengan kepentinganmu sendiri? Seperti itu?”
“Lalu... apa maumu menemuiku...?”
“Aku ingin mengakhiri ini dengan pertarungan kita. Seeji.”
“Dasar keras kepala.”
Seeji lalu berdiri dan melepas jubahnya. Lalu mereka berhadapan, dan Takai berlutut.
“Nona, namaku Takai. Saya menyajikan pertarungan yang pasti akan memuaskan untukmu. Maukah anda menerimanya?”
Seeji terkejut melihat Takai menirunya dan ekspresinya tidak menunjukkan candaan yang biasa dilakukannya.
“T-tentu”
“Baiklah.” Takai lalu berdiri.
“Serang aku, Seeji.”
Seeji terdiam sejenak. Lalu mengepalkan tangannya dan menyerang Takai, dengan segera Takai menangkisnya.
“Terlalu lemah! Lebih kuat lagi!!”
Raut wajah Seeji terlihat kesal, dia memberikan pukulan pada Takai sekeras mungkin. Tapi pertahanan Takai lebih sulit ditembus.
“Apa hanya segini kemampuanmu? Lebih kuat lagi!!”
Mereka terus beradu pukulan, Takai hanya menangkis, menahan, dan membalikkan setiap pukulan dan tendangan yang dikerahkan Seeji.
Tanpa terasa, pertarungan terus berlanjut sampai hari menjelang malam. Seeji mulai kehabisan tenaga.
“Hah…hah…”
“bagaimana?.. masih… mau bertarung?”
“HEAAAAAH!!”
DAAK!!
Pukulan Seeji lebih kuat, dan Takai menahan pukulan Seeji dengan kedua tangannya. Telapak tangannya menggenggam tangan Seeji mengepal. Seeji lalu terdiam
“Tidak bisa.. tidak bisa lagi…”
Seeji menunduk. Dia menangis di depan Takai, dan Takai masih menahan tangannya.
“Aku tidak bisa, menolong seseorang lagi…”
“Seeji…”
“Aku yang tidak bisa melindungi adikku, apa bisa melindung orang lain?”
Takai mendekap dan mengelusnya, meski hatinya menjadi lebih tenang, Seeji menangis semakin keras. Perasaannya yang penuh kesedihan tidak lagi dipendam sendirian.
‘Kebenciannya menghilang. Aku harus cari cara lain...’
SYUUUTS
----------------------
Mereka lalu duduk di samping tebing. Hari semakin gelap di tengah terbenamnya matahari.
“Heeh… jadi kau tinggal di Pegunungan Aven ya?”
“..?”
“Aku tinggal di dekat Azurite dan dataran rendah, jadi jarang melihat gunung dengan jarak sedekat ini.”
Seeji hanya terdiam. Sambil memeluk lututnya dia tidak dapat menanggapi Takai.
“Oh ya, kau menjatuhkan ini.” Takai memberikan kalung Seeji yang dijatuhkannya.
“Kalungku!”
“Kau bilang benda itu sangat berharga untukmu, jadi aku memungutnya.”
“Aku sungguh ceroboh…”
“Aku… bertemu dengan Reeji dalam mimpiku.”
“Apa...? Kau bertemu dengannya?”
“Dia sepertinya mengkhawatirkanmu. Dia memberitahu padaku apa yang kau lakukan dan dimana kau berada. Jadi… begitulah”
“Begitu… dia memang mudah khawatir dengan apapun… dia mudah panik, cengeng, dan…. anak yang menyenangkan..”
“….”
“Aku melihat ingatannya saat aku menyentuh permata di kalungnya, yang terjepit diantara bangunan rumahku. Aku sangat terkejut, dia melemparkan kalungnya dan kehilangan napasnya saat tercekik... orang itu mengincar hoseki... yang ada di kalungku..."
"Kau sengaja menyimpannya di kalungnya?"
"Untuk berjaga - jaga... tapi siapa sangka... malah kalungku yang... membuatnya seperti itu... aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya... meski sudah tidak lagi bisa membuka matanya... setidaknya aku bisa melihatnya..."
"......"
"Tidak ada yang tersisa disana... bahkan setelah kekuatanku menghancurkan puing bangunan itu.... tidak ada apapun... Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu...”
Seeji merendengkan kedua kalungnya. Permata yang ada pada kalung Seeji berbalik warna dengan kalung Reeji. Begitu pula ornamen kayu berbentuk dua segitiga yang mengelilinginya
"Aku bahkan tidak dapat ada disana saat... dia mempercayaiku..."
“Seeji…”
“Aku selalu membayangkan, saat aku bertemu dengannya kembali, aku akan menceritakan perjalananku padanya, memperlihatkan kemampuanku dan kemudian membuatnya kagum, mengenalkanmu... orang yang berjuang bersamaku... kemudian, dia akan tersenyum dan berkata, salam kenal.. namaku Reeji... adiknya Seeji Nee - sama... dan kemudian, mencari barang untuk dibawa pulang tamu.... sangat aneh...dasar...”
Seeji tersenyum kecil di tengah kesedihannya sambil membayangkan adiknya yang kini entah dimana. Takai ingat tentang apa yang dikatakan Seeji pada ibunya waktu malam itu.
'Apa ada seseorang yang kau sayangi atau seseorang yang selalu kau pikirkan?'
'Yah...aku hanya menyayangi 1 orang selama ini, yaitu adikku. Aku meninggalkannya saat usianya 10 tahun. Sekarang umurnya pasti 12 tahun..'
'bagaimana dengan orang tuamu?'
Ternyata Takai menguping permbicaraan mereka di balik kamar.
'Seeji tidak menjawab... apakah dia memang...'
Takai akhirnya mengerti. Dia hanya seorang diri sekarang.
“Hanya dia.... seseorang yang selama ini ada di benakku.... apakah dia baik - baik saja, setelah aku pergi…. Apa yang dilakukannya… dan....”
Kata - kata Seeji terhenti. Dia menahan tangisnya.
“Apakah dia selalu berharap kalau aku akan menyelamatkannya... saat dia dalam bahaya dan terus menungguku, mengharapkan kehadiranku... sampai… dia berakhir seperti itu...”
“…..”
“Tapi… aku… tidak datang… apalagi dia baru saja melewati hari ulangtahunnya... hari spesial bagi anak kecil sepertinya.”
Seeji merasa kesal dengan dirinya sendiri. Lalu menutup wajahnya dengan kedua lututnya.
“Kau tidak perlu terus menyalahkan dirimu. Itu bukan salahmu.”
“!?”
“Reeji itu seperti senjata untukmu. Saat kau kehilangan senjatamu, kau tidak tahu harus berbuat apa dan hanya menunggu musuh menghabisimu.”
“Takai..”
__ADS_1
“Tapi kau masih bisa bertarung dengan senjata seadanya, meskipun hanya sebuah pukulan yang tidak bertenaga, haha…”
“Berisik ah....” Seeji merasa tersinggung.
“Kau membiarkan hatimu kosong, dan itulah yang terjadi."
"Huh...."
"Kau pernah bilang padaku ‘sebaiknya kau kendalikan emosimu agar tak ada seorangpun yang terluka’, tapi, kau sendiri tidak bisa ternyata..hahaha…”
“Hei.. aku bukan tidak bisa, tapi aku gagal.... berhentilah menertawaiku, bodoh...” Seeji memukul pelan Takai. Makin merasa disindir oleh Pria dengan ikat kepala itu.
“Iya deh... Iya...”
“Lalu, apa yang harus kulakukan?”
“Ketika gelas yang ingin kau minum kosong, apa yang akan kau lakukan?”
“Mengisinya kembali?”
“Tepat!”
“Lalu, apa yang mengisi hati yang kosong?”
“Mungkin.... cinta?”
Takai memandangi Seeji dengan tatapan yang dalam. Tapi Seeji masih melihat awan merah yang menjelang hilang.
"Haha... cinta...? Padahal begitu sederhana..."
Seeji tersenyum, membuyarkan lamunan Takai.
“Takai, kau memang bodoh ya.... Gelas kosong bisa terisi dengan apa saja...tau...”
BRRUUUK
Seeji lalu berbaring ke tanah dengan kakinya yang masih di pinggir tebing itu. Dia lalu tersenyum. Takai lega melihat Seeji bisa tersenyum kembali.
“Ini berarti… aku sudah lulus tes kan?”
“Belum.” Seeji menjawab dengan nada dingin dan cueknya.
“Weh??!! Kenapa?”
“Pertarungan kita belum berakhir.”
“Tapi aku sudah mengalahkanmu!”
“Kita lihat saja nanti…” Seeji tersenyum sinis sambil melihat Takai yang melipat tangannya.
“Seeji....” Takai kecewa dengan jawaban Seeji.
Seeji tertawa kecil. Dia lalu melihat dua kalung di tangannya.
“Aku tidak bisa memakai dua kalung sekaligus, bagaimana jika kau memiliki salah satunya?”
“Tapi, itu kalung milik Reeji bukan?”
“Tidak apa, aku tidak bisa memakai benda yang sudah kuberikan pada orang lain. Aku yakin Reeji juga ingin kau mengenakannya, karena dia meminta tolong padamu kan?”
“Kalau begitu, terimakasih!”
“Justru... akulah... yang harus... ber.....”
“Seeji?”
Saat Takai melihat Seeji dia sudah terlelap. Seeji benar - benar kehabisan tenaga.
“T...tidur?”
Wajah Seeji saat tertidur seperti itu membuat Takai tersenyum geli.
“Mungkin kau tidak ingat kapan kau terakhir tidur, dasar...”
Angin malam yang semakin dingin menerpa mereka. Takai kembali memikirkan betapa beratnya bertarung seorang diri.
“Satu - satunya.... orang yang ada dalam benaknya.....”
--------------
‘Eeh... cahaya yang hangat....’
‘ji....’
‘?’
‘Seeji....’
'Kau...’
‘Aku akan selalu menjagamu....’
GRREB!
Seeji terkejut, saat dia terbangilun dari mimpi anehnya, dia memeluk seseorang.
“!!”
“Seeji - san?”
“Kyusin...”
Seeji terbangun di atas kasur dan melihat Kyusin disebelahnya. Reflek langsung melepas pukulannya tadi.
"Yang tadi itu....Kyusin..."
“Seeji - san, kau baik - baik saja? Apa mau istirahat lagi?”
“Tidak ..aku...baik...”
“Kau tahu, tadi Seeji - san bilang ‘ibu' loh...”
“A..aku?”
Kyusin mengangguk. Seeji hanya terdiam melihat tanggapan Kyusin.
“Apa Seeji - san merindukan ibumu?”
“Mana mungkin.... aku tidak pernah melihat wajahnya...”
“S...Seeji san...!”
Kyusin langsung mendekatinya.
“Ada apa?”
“Tidak... Seeji san harus tahu, meskipun fisik tidak pernah bertemu, hati akan selalu terhubung! Fisik itu berbeda dengan hati, Seeji - san... Hati itu akan lebih kuat...”
"Aku sudah sering mendengar itu. Luka fisik lebih mudah dipulihkan daripada luka hati."
"Itukah yang terjadi padamu?"
“Soal fisik.... bagaimana dengan lukamu..?”
"Aku baik, Seeji - san... tidak perlu mempermasalahkan soal itu, karena heal - san sudah mengobati lukaku dengan sempurna sampai hampir tidak terlihat bekasnya.” Kyusin meyakinkan Seeji sambil menepuk dadanya.
“Tapi ..aku melukaimu dengan luka yang cukup besar.....”
Seeji merasa ada yang aneh, orang yang menyembuhkan Kyusin pasti bukan orang biasa.
“Sudahlah.... Kyusin, maafkan aku... Aku kehilangan emosiku...”
“Aku menerima permintaan maafmu... Aku tahu kau punya beban yang lebih berat saat ini...”
“Bagaimana kabarmu? Setelah lama tidak bertemu...”
Seeji tahu Kyuusin tidak lupa dengan kejadian itu karena percikan hosekinya.
“Seperti yang kau lihat saat ini...”
“Bagaimana dengan yang lainnya?”
“Semuanya baik - baik saja... toko juga kembali berjalan... dan... kau tahu Seeji - san? Soal Musubime - kun...”
“Oh...anaknya Himeji - san..?”
“Dia tidak ingat dengan kejadian itu, sama halnya dengan yang lain... bahkan Himeji - san juga..."
"Itu untuk kebaikan mereka sendiri. Mereka tidak boleh ingat kejadian mengerikan itu. Aku sengaja membuatmu tetap mengingatnya agar kau bisa mencegah hal seperti itu terjadi lagi."
"Rupanya Seeji - san... terima kasih sudah percaya padaku."
"Kyusin.."
"Dan ternyata Seeji - san juga yang menyelamatkannya ya... Untung saja dia tidak terbawa hoseki hitam...”
Seeji terkejut Kyusin tau tentang hoseki hitam.
“Kyusin! Darimana kau tau?!”
“Eeeh? Takai san memberitahukan itu padaku....”
“Ooh...Takai ya...”
“Takai cerita banyak padaku... dan sebagai gantinya, aku memberitahu apa yang Seeji lakukan saat di butik bersamaku, memangnya...itu rahasia..?”
“Pertarunganku berada di dimensi lain. Jadi jika pertarungannya ada di belakang, maka informasinya juga harus tetap dibelakang.”
“Eehm! Aku akan merahasiakannya.”
‘Kupikir... Orang lain... Untunglah... dia orang yg kukenal.’
“Takai dimana? Dan ini dimana?”
“Takai - san membawamu kesini saat tidur, ini hanya penginapan di pinggir kota, dan saat ini Takai san sedang berada di kota mencari sesuatu.”
“Aneh sekali dia mencari sesuatu.”
Seeji lalu berdiri dan mengambil jasnya.
“Seeji san?”
“Kyusin, aku ingin ke kota, selain itu aku juga ingin bertemu dengan seseorang yang disebut 'Heal - san' itu.”
Seeji bermaksud pergi ke kota, Kyusin lalu menemani Seeji pergi ke sana.
__ADS_1
'Beberapa waktu lalu.. ada rumor yang mengatakan kalau ada dokter dengan kemampuan luar biasa bersembunyi di hutan, para korban penyiksaan yang dibuang ke hutan dapat sembuh dan keluar dari hutan untuk memberitahukan para penjahat itu. Tapi keberadaannya dirahasiakan dari khalayak umum dan menyebut dirinya sebagai 'Heal - san...''