
“Lepaskan aku!”
SRIIING
“Hoseki hitam membuatmu lupa dengan kewajibanmu sebagai seorang pengajar. Kau hampir saja membunuh semua muridmu untuk kepuasanmu, tuan.”
“Diam! Mereka bukan urusanku!”
Orang itu berontak, namun Takai memegangi pemilik hoseki hitam itu dengan tongkatnya. Orang itu sudah terkena titik segel Seeji di sikutnya.
SEAL
“Fuin!”
SRIIIING
Mereka berhasil menyegelnya.
“Yap, bagus!”
“Ayo pergi, sebelum para muridnya menyadari keberadaan kita.”
Takai dan Seeji lalu pergi dari tempat itu. Sebuah rumah sederhana di pinggir hutan dengan beberapa alat panahan disana. Dimensi Seeji lalu menghilang.
“Untung saja kita tidak terlambat... jika dibiarkan, semua anak yang belajar disana akan habis dibantai....atau malah anak anak itu yang membantai orang lain karena menuruti perintah gurunya....”
“Aku mengira mereka akan dimanfaatkan gurunya untuk mencari harta itu...”
Seeji berpendapat, Takai lalu bertanya.
“Harta? harta apa yang kau maksud?”
“Selama ini, hoseki hitam menjanjikan suatu harta dengan jaminan kekuatan besar yang dimiliki black petals. Dan aku pikir itu hanya kebohongan hoseki hitam agar pemiliknya mengumpulkan lebih banyak kekuatan.”
“Harta ya....black petals selalu cerewet tentang harta di dalam tanah.....”
"Guru yang merupakan pemilik hoseki hitam itu merupakan seorang pengajar seni memanah, namun karena dia telah menjadi black petals, dia mencelakakan murid - muridnya dan hampir membunuh mereka."
“Apa yang akan terjadi pada murid - muridnya..?”
“Tidak perlu khawatir, di dalam kumpulan seni memanah itu, pemimpin diantara mereka tidak terkena pengaruh guru itu. Dia pasti bisa memimpin kelasnya agar ajaran guru itu tidak semakin mengikat mereka. Hampir saja anak - anak muridnya dia jadikan hoseki hitam...”
“Aku heran kenapa guru itu bisa menjadi ganas seperti itu...”
“Lagipula, dia kuberi pegangan.”
“Pegangan?”
“Sepercik kekuatan penyegelku. Dia akan mengeluarkan pengaruhnya, jadi dia tidak akan terpengaruh hoseki.”
“Baiklah.... selanjutnya... siapa yang akan kita hadapi?”
Seeji dan Takai sudah mengumpulkan cukup banyak pecahan permata. Kali ini, mereka sedang beristirahat.
Takai memperlihatkan peta kepada Seeji.
“Aku tidak merasakan tanda - tanda permata hitam di sekitar sini...”
“Menurut peta ini, kita... Tunggu! Kita saat ini dekat dengan....Seeji! Ayo!”
Takai baru menyadari ternyata mereka dekat dengan laut. Takai mengajak Seeji untuk melihatnya.
SYUUUSH
“I...ini...!?”
Seketika angin laut menerpanya. Seeji sangat terkesan melihat laut. Dia belum pernah melihatnya secara langsung. Saat itu pantai kosong dan hanya ada mereka berdua disana.
“Inikah... Laut?”
“Sudah lama juga aku tidak kesini....”
“Angin laut...dan juga ombak..."
Seeji mendekati ombak, tapi ombak itu malah membasahinya.
“Ahhahahaha! Ombak itu tidak menyukaimu!”
“Berisik ah.”
“Menyenangkan bukan? Semuanya terlihat dari sini....”
Takai melihat seseorang yang tenggelam.
“Seeji! Seseorang tenggelam!” Takai masuk ke air lalu menyelamatkannya.
“Tunggu...Takai, ada yang aneh...”
Seeji tiba tiba merasakan sesuatu. Seeji memastikannya dengan menggunakan dimensi level 3 lewat penglihatannya. Orang yang diselamatkan Takai ternyata memiliki permata hitam.
“Kau baik - baik saja kan?”
“Takai! Menjauh darinya!”
“Eh?”
Dugaan Seeji benar. Orang yang diselamatkan Takai tiba - tiba berlari menjauh dan terlihat seperti sedang mengendalikan ombak.
“Seeji, dia...!”
“Dia mengendalikan ombak.”
Dia mengangkat ombak itu setinggi 5 meter dan melepaskannya ke hadapan Seeji dan Takai. Mereka tenggelam.
BYUUUUUR!
“Sudah kuduga kau adalah Seeji si pelayan yang menyajikan pertarungan, tapi aku tidak akan menerima pelayananmu itu, sayang sekali!”
“Sial! Aku tertipu!”
--‘Kalau begini.... kita akan hanyut terbawa arus... aku tidak punya pilihan...’
SRIIIIIING
Rambut dan mata Seeji bercahaya dalam gelapnya lautan.
‘Seeji..!’
“FIRST DIMENSIONS...KAI!”
Seeji menggunakan dimensi level 1 agar Takai dan orang yang mengendalikan ombak itu masuk ke dimensinya. Dia berhasil, air lautpun menghilang karena dimensi yang dibuat Seeji.
Mereka selamat. Namun membuat dimensi level 1 lebih menguras tenaga dari dimensi biasanya.
“Ch...selalu saja begini!..”
Seeji berlari mendekati orang itu agar luas dimensinya tidak terlalu besar. Dimensi Seeji berbentuk ruang kosong dengan beberapa kotak besar di sekelilingnya. Seeji bersembunyi di salah satu kotak itu.
“Kau menghilangkan lautku!”
“Hei! Penipu! Sebaiknya kau tetap diam dan biarkan Seeji menyegel kekuatanmu!”
“Sayang sekali tapi aku tidak bisa mengikutimu begitu saja. Mengendalikan ombak adalah keahlianku, jadi aku selalu membawa air untuk jaga - jaga,”
Pengendali ombak itu menggunakan air yang dibawanya dan merubahnya menjadi senjata berbentuk cakar. Takai dan orang itu akhirnya bertarung. Seeji masih terengah setelah tenggelam di lautan lepas. Biasanya seeji menjadi pusat dari dimensinya, tapi dia memindahkan pusatnya menjadi di salah satu sudut sisi dimensi.
“Seeji! Dimana kau!”
Seeji dan Takai terpisah, Takai tidak tahu keberadaannya.
“Dia pasti sudah hanyut terbawa lautku!”
“Berisik! Kau tidak tau apa - apa tentangnya! Jika dia membuat dimensinya ini berarti dia masih hidup!”
“Oh, itu berarti aku tidak perlu meladenimu lagi..”
Orang itu mendorong Takai dengan serangan yang kuat dan menjatuhkannya kemudian mencari Seeji.
"Dasar! Takai bodoh!!"
Seeji sadar orang itu mendekatinya. Seeji lalu teleport dan memindahkan pusatnya ke tengah.
SYUUUTS
“Seeji!”
“Dasar bodoh!! Kenapa kau memberitahukan aku kepadanya!”
“Eeh?! Aku 'kan...!”
“Kau ini... Benar - Benar...”
“Seeji, dia sedang mencarimu kali ini...”
“Aku tahu! Bagaimana jika kau gantikan aku sementara aku mengumpulkan kekuatanku untuk menyegelnya?!”
“Apa?! Menggantikanmu?”
“Oh...kalian disana...”
“Takai!”
Dengan cepat orang itu membuat puluhan tombak tajam yang mengarah pada mereka.
“Kau minggir saja pengganggu!”
Tangannya mengarahkan tombak itu ke arah mereka.
SYUUUTS!
“TAKKAN KUBIARKAN!”
Takai menyerang semua tombak itu dan mengeluarkan Tongkatnya. Tapi salah satu tombaknya memukul kepalanya. Takai lalu terjatuh.
“TAKAI!”
“Battle waiter, sebaiknya kau berhenti sebelum apa yang kau lakukan sia - sia!”
“Ch....”
“AYO BERTARUNG!"
DAAK!
Mereka masih beradu senjata, Seeji mengandalkan pisaunya.
TRAAANG!
“Apa - apaan kau! Air laut bukanlah senjata!”
“Aku hanya menggunakan apa yang ada didepanku...”
“....Hm... Mungkin aku bisa mencobanya sekarang...”
TEPP
“Battle waiter, ada apa? Kau terus mundur seperti itu?”
SRIIIING
Seeji menghilangkan senjatanya.
“Ohh...kau sudah menyerah ya?”
“Hm, kau tidak lupa dengan dimensi buatanku ini kan?”
“Apa?”
SRIIIIIING
Dinding dimensi bercahaya, lalu berputar 90 derajat.
SYUUUTS
GREEB!
__ADS_1
“Aku menahanmu kali ini...”
Takai tiba - tiba menahan gerakannya dari belakang
“Kau, bagaimana kau bisa ada dibelakangku?! Bukankah...”
Takai mengunci orang itu dengan tekniknya.
“Aku memutar dimensiku 90 derajat, dan melepas pusat dimensiku di permukaan. Kau berada di permukaan pusat dimensi sehingga kau tidak berpindah sama sekali.”
“M..mustahil!”
“Aku ada di depanmu tadi kan? Kali ini aku ada di sebelahmu. Dan Takai yang ada di belakangmu, jadi ada di sebelahmu lalu menyerangmu saat dimensi diputar.”
“Seeji? Kau sudah siap kan!?”
DHOOR! DHOOR!!
"!!"
Takai lalu melepas orang itu. Seketika Seeji menembak dada orang itu dengan kedua pistolnya.
"Seeji...!"
SEAL
“Fuin!”
SRIIIIING
Akhirnya mereka berhasil menyegelnya.
Takai membaringkan orang itu ke pinggir laut dan Seeji langsung terbaring dipasir.
“Untung saja..”
“Jika kau tidak memberi tau orang itu tentang aku.... Aku pasti bisa..hh..menyegelnya dengan mudah..” Seeji masih kelelahan.
“Ya, aku salah soal itu. Maap...”
“Kenapa kau tidak menyamar menjadi aku tadi? Maksudku menggantikanku adalah kau berubah menjadi diriku sementara aku mengumpulkan tenaga!”
“Iya iya! Aku salah...."
"Tapi untungnya dia tidak sulit dikalahkan..."
Takai teringat dengan Seeji yang menembaki orang itu di depannya tanpa ampun.
"Setelah kau menembaknya seperti itu, lukanya pukuh saat hoseki hitam lepas dari tubuhnya...."
"Kenapa? Kau terkejut ya..."
"A...aku...!!"
"Selama perjalanan ini kau tidak pernah melihatku menyerang black petals seperti itu ya..."
Takai terdiam memperhatikan Seeji yang menutup matanya dengan matanya.
"Seeji.."
"Jangan kau pikirkan. Akulah yang melakukannya. Kau tidak ada hubungannya dengan itu."
"Selain itu...Dimensimu itu... Buatanmu ya?”
“Ukurannya sebesar ruanganku dulu.”
“Eh? Itu berarti ruanganmu sangat luas!”
“Untuk ruang latihannya, memang luas. Kotak yang ada di dimensiku itu sisa pembuatan dimensi yang gagal.”
“Ha....merepotkan pastinya...ya?”
“Kekuatan ini... memang merepotkan. Tapi asal kau tahu, aku bisa membuat sebuah batu biasa menjadi kalung yang cantik yang akhirnya kuberikan pada adikku...”
“Kalung?”
“Seperti, kalungku ini... tunggu, kalungku! Kalungku tidak ada!”
Seeji sontak berdiri saat menyadari kalungnya hilang. Dia lalu berlari ke arah laut dan mencarinya.
“Seeji! Jangan pergi ke laut pada waktu seperti ini!”
BYUUUUR!
“Sial! dia terlalu keras kepala!”
Seeji lalu berenang mencari kalungnya. Kalungnya terkait di salah satu batu karang.
“Aku menemukannya!”
Ombak yang kuat dari laut membuat Seeji kehilangan keseimbangan.
‘Celaka, air pasang!’
Tangan Seeji terlepas dari pegangan batu karang dan terbawa hanyut ke tengah laut.
‘Sial! Bagaimana ini? Aku tidak bisa bernapas!’
GLUK!
--“Ne.. One - sama...”
--“Ada apa Reeji?”
--“Laut itu...seperti apa?”
--“Ombak dan angin laut, lalu... Mungkin... yah... Begitulah. “
--“Kita bisa melihat matahari terbit atau terbenam di laut bukan? Aku ingin melihatnya...”
--“Hm..”
--“Onee - sama, ingin melihatnya?”
--“Mungkin, aku lebih ingin melihat ombak yang bergulung..”
--"Tapi, air juga bisa berbahaya loh...”
--"Tadi... Onee - sama bilang begitu kan?”
--“Terserah lah...haha...”
Seeji teringat dengan Reeji.
‘Saat - saat yang bodoh...’
"Seeji!"
Suara teriakan Takai di dalam air dilihat Seeji, lalu dia melihat tangannya menariknya keluar.
Takai berhasil menyelamatkannya dan membawa Seeji ke tepian.
“Kau ini merepotkan sekali! Sudah tahu tidak bisa berenang, malah pergi ke laut saat pasang!!”
“Aku tidak pernah menyentuh laut kau tahu.”
“Kau benar - benar aneh....”
“Laut memang menyeramkan, tapi tetap saja menyenangkan, haha...”
“Oh, matahari terbenam!"
“Eh?”
Seeji berbalik. Saat dia melihatnya, awan merah dan langit jingga menghiasi laut.
“Indah sekali, aku ingin Reeji melihat ini."
“Reeji?”
“Oh, dia adikku. Sebut saja begitu."
Seeji berjalan mendahului Takai dan duduk di pesisir laut untuk melihat matahari itu.
Takai tiba - tiba teringat dengan kata - kata Seeji sambil memperhatikannya
--“Semua yang kulihat hanya yang kubaca dibalik setiap lembar buku. Tentu aku tidak tau bagaimana rasanya memiliki seorang ayah atau ibu yang sesungguhnya.”--
‘Tidak merasakan orang tua... Tapi ternyata kau punya adik...’
"Lagi - lagi kau memperhatikanku.”
Takai terkejut Seeji bicara padanya yang masih berdiri.
“Ahh, ngg... Seeji, aku pernah menceritakan masa laluku padamu kan?”
Takai lalu mendekati Seeji dan duduk di sampingnya.
“Kau pasti ingin mengetahui masalaluku.”
“Heeh...sudah kuduga kau akan mengetahui pertanyaanku.”
Mereka lalu mengobrol sambil menikmati langit senja. Sebenarnya Seeji dan Takai berada di teluk yang bernama teluk terakhir.
“Saat umurku 7 tahun aku sudah dikurung di dalam ruanganku itu, aku tidak tahu siapa ibu atau ayahku, dan satu satunya orang yang kukenal saat itu hanya adik laki - lakiku, Reeji.”
"Bagaimana dia bisa bertemu denganmu?”
“Dia mengetuk ngetuk jendela dan berkata ‘Onee - chan' layaknya anak kecil yang pengen tau...”
“Heeh...”
“Yah, meskipun aku sedang berlatih, aku selalu mencoba untuk menyapanya walau sebentar...”
“Dan kau belajar tentang kekuatanmu itu didalam ruangan?”
“Terkadang aku menggunakan kekuatan teleportku untuk belajar dimensi di luar, tapi aku takut ada orang yang melihatku.”
“Seeji....”
“Kadang aku menemani Reeji bermain, saat dia sedang sendiri. Aku baru ingat, sebentar lagi Reeji ulang tahun.”
“Ulang tahun?”
“Ya, sebelumnya aku memberikannya kalung yang mirip dengan kalungku ini, kalung ini juga dia berikan saat aku berulangtahun.”
“Aku tidak tahu anak kecil tertarik dengan kalung..”
“Ah... aku hanya menemukan apa yang bisa kuberikan padanya... seperti yang kukatakan tadi, aku hanya memungut sebuah batu, dan aku menyalurkan kekuatanku ke batu itu agar bisa lebih cantik...”
“Wah...keren...!”
“Dia bilang akan terus menyimpannya sampai aku bertemu dengannya lagi. Akupun mengatakan hal yang sama saat dia memberikannya padaku.”
“Pantas saja kau berani melompat ke laut saat pasang, tadi…."
"Dia memang belum tentu adik kandungku tapi..."
"Jadi, kau ingin memberinya sesuatu tahun ini?”
“Entahlah, aku bahkan tidak tahu bisa menemuinya atau tidak..."
Takai terdiam. Seeji lalu menyimpan kalungnya di balik bajunya.
"Saat aku meninggalkannya, umurnya masih 10 tahun. Berarti, sekarang umurnya sudah 12...”
‘Berarti... 2 tahun dia lewati ...seorang diri...?’
“Seeji... aku selalu penasaran...”
“Ya?”
“Apa yang kau lakukan selama waktu itu?”
Seeji agak terhenyak mendengar pertanyaan Takai. Dia lalu memandang langit yang mulai gelap dan menjawabnya.
__ADS_1
“Aku menjadi....battle waiter.”
SYUUUUSSSH
Angin laut menghembus mereka. Takai masih memperhatikan mata Seeji yang terlihat mengingat masa lalu.
"Takai....kau tahu....?"
"Hm? Kenapa?"
“Banyak.... yang telah terjadi... sudah banyak kejadian yang terjadi semenjak aku meninggalkan adikku... banyak sekali..." Ingatan lama terbayang di kepala Seeji. Seeji menguatkan tangannya sambil memeluk lutut.
"Bahkan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya...."
"Seeji..."
"Terkadang tersirat di benakku untuk kembali...”
“Kembali?”
“Menuju... masa sebelum itu... waktu yang membuatku nyaman. Tapi jika begitu, maka aku tidak akan sampai kemanapun...”
Seeji memandang langit senja dengan mata kosong.
"Kenapa kau berpikir begitu? Tidak ada salahnya kau melangkah ke tempat yang lebih jauh dari pada rumahmu, seperti halnya aku saat ini..."
"Ya, benar juga. Namun jika aku berjalan di dalam garis lingkaran, maka seiring jalannya semua akan kembali ke titik awal."
"Berarti, semuanya akan kembali seperti semula? Aku tidak begitu yakin..."
"Aku memang tengah berjalan dalam lingkaran saat ini. Semua hal yang terjadi..."
"Jadi, kau ingin pulang?"
Tiba - tiba Takai melontarkan pertanyaan.
"Eh? Aku tidak bermaksud begitu." Seeji menjawab dengan nada dinginnya.
"Kembali dan pulang tidak jauh berbeda kan? Kita bisa menuju rumahmu sambil mencari black petals yang lainnya. Kau juga sudah mengunjungi rumahku kan? Yah... bisa disebut mengunjungi sih..."
"Jadi kau ingin mengunjungi rumahku? Kau tidak keberatan dengan itu?"
"Tak ada pengaruh bagiku pergi ke mana saja, asalkan tujuannya tetap sama dan kita tidak terpisah..."
Seeji agak terkejut mendengar Takai tiba - tiba bicara begitu.
"Eeh!! Maksudku...! Bukan maksudku untuk...!"
Takai malah salah tingkah, Seeji lalu tertawa kecil melihatnya dan malah membuat wajah Takai makin memerah, dia tidak sadar berkata begitu.
"Yah...sudahlah.."
Seeji lalu berdiri. Langit teoah menjadi gelap dan bintang mulai terlihat.
“Sebaiknya kita segera menghangatkan diri.”
Mereka lalu membuat api unggun dan mengeringkan pakaian mereka.
"Pantai benar - benar gelap saat malam hari, tapi langit malam jadi terlihat lebih indah."
Seeji menghangatkan tangannya di dekat api unggun yang tengah dijaga oleh Takai.
"Biasanya menjelang musim panas ini, orang - orang akan bermain di dekat pantai dan menikmati matahari, tapi kita justru malah menikmati pantai saat malam hari...."
"Apa orang - orang melakukan itu saat musim berganti..?"
"Yah... untuk bersenang - senang... menghabiskan waktu untuk menikmatinya di air dan pasir... aku ingat saat aku dan teman - temanku bermain permainan membelah semangka di acara liburan...!"
DAAK!
Takai mengayunkan tangannya untuk menunjukkannya, tapi tanpa sengaja dia memukul kepala Seeji.
"Eeeh! Aku...!"
"...."
"Gak sengaja!"
"Membelah kepalamu lebih baik...!"
"Aku gak sengaja! Iya maap!!"
Seeji melempari Takai dengan ranting di sekitarnya untuk menghapus kekesalan ketidaksengajaan itu.
"Tapi... semua itu mengasyikkan... ayahku yang pertama mengajakku ke pantai waktu itu untuk memancing..."
"Hem... ya..."
Seeji terdiam, Takai lupa Seeji tak mengetahui tentang keberadaan orangtuanya.
'Apa yang kubicarakan....?' Takai berpikir dalam benaknya.
“Seeji, apa kau tidak penasaran tentang... siapa orangtuamu?”
“Tidak juga."
"Eeh! Maaf...aku tidak...."
"Sudahlah. Lupakan saja, aku hanya menjalankan hidupku. Tidak perlu berurusan dengan hal- hal seperti itu.”
Seeji memasukkan kayu bakar ke dalam api unggun, Takai terdiam dengan kalimatnya tadi.
“Kalau kau mau, aku... bisa membantumu...”
Seeji meliriknya sinis, lalu menjawab dengan tegas.
“Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu lagi.”
“Hmmh, ternyata lelaki keren sepertiku ini bisa menjadi penolong juga...”
“Kau hanya lelaki payah yang memohon pada orang yang ditolongnya."
“Apa?!”
“Kalau kau bicara terlalu keras api ini akan padam karenamu.”
“Hei, itu tidak ada hubungannya tau!”
"Aku mencoba mengendalikan api ini dengan hoseki, tapi aku tidak melihat ada perubahan. Berbeda dengan air. Cobalah, Takai."
"Eeh? Aku mengalirkan hoseki ke api ini?"
"Kau kan punya kemampuan pelindung, jadi kau tidak akan terbakar."
"Bukan masalah terbakarnya..."
Takai mengarahkan tangannya ke arah api sambil mengalirkan hoseki di tangannya, tangannya bersinar merah.
PYYAAS!
"Apinya menghindari tanganku!"
"Lihat, apinya mengecil."
"Eeh! Jadi kau hanya menipuku?!"
"Aku 'kan hanya berasumsi. Lelaki payah."
"Apa?!"
“Lebih baik kau cari sesuatu untuk dibakar agar api ini tahan lama."
“Baiklah! Baik! Akan kutunjukkan kalau aku bukan lelaki payah!"
Takai melongos pergi, Seeji tersenyum sinis dari kejauhan.
"Lelaki payah? Siapa yang lelaki payah?! Dia belum tahu siapa.... eeh?"
Takai berhenti mengomel pada dirinya saat melihat sesuatu di hutan yang gelap itu.
"Eeh? Siapa itu?"
Tak ada siapapun. Hanya suara hewan malam yang Takai dengar.
"Kupikir tadi ada yang lewat.... ah, cuma perasanku saja..." Takai kembali mencari kayu bakar.
Saat Takai kembali, dia melihat Seeji tertidur dan bersandar ke pohon disebelahnya.
“Kau menyebutku lelaki payah? berarti aku bisa menyebutmu putri tidur!” Tentu saja Seeji tidak akan mendengarnya.
Takai lalu duduk di samping Seeji sambil menikmati api.
“Hah...hangat...”
SRET
“Seeji!”
Seeji hampir terjatuh dan Takai menahannya. Seeji tanpa sadar tertidur di pangkuannya Takai.
“H....hh...”
“Dasar….memangnya setiap tidur dia memimpikan apa?”
-------
Setiap tertidur, Seeji selalu bermimpi tentang Reeji setelah dia menggunakan cukup banyak kekuatannya. Dan terkadang dia tidak bisa bangun sendiri dari tidurnya jika seperti itu.
'Kenapa? Aku selalu melihatmu seperti ini...?'
“Onee - chan, cepat pulang ya!”
----
“Seeji!”
“!!”
“Mau tidur sampai kapan! Sekarang giliranku!”
Takai membangunkan Seeji untuk bergantian shift tidur.
“Oh, begitu...”
“Ah, kakiku kesemutan..,”
“Ja-jangan - jangan, sejak tadi, aku tidur di pangkuanmu?!”
“Hmh? Memangnya kenapa?”
“Kenapa…?”
“Kau hampir terjatuh tadi, jadi aku menahanmu agar tidak jatuh lagi…hehe..”
“Hal yang sangat bodoh! Cepat tidur sana!”
“Kenapa? Nyaman sekali tidur dipangkuanku ya kan?”
SYUUTSS
“!!”
Seeji melempar kerikil ke arah Takai, memang tidak mengenainya, tapi Takai terkejut. Seeji memalingkan mukanya sambil sedikit menggembungkan pipinya.
“Cih, marah tuh”
Takai lalu membaringkan tubuhnya.
“Bodoh...Takai...”
-----
MAIN COURSE OF THE BATTLE PART 4 : Sesuatu yang hangat.
"Kepulan asap apa ini?!"
__ADS_1
Takai berjalan ke arah asap itu, dan ia melihat Seeji menghilang di depan rumah yang sudah hancur dengan raut wajah yang berbeda. Seeji terlihat menangis dengan mata yang kosong.
"SEEJI!"