Main Course Of The Battle

Main Course Of The Battle
[UNREVISION] PART 11 : CLUE


__ADS_3

“Jangan lupakan hal yang berharga. Yuuri - san, orang lain membutuhkanmu. Seseorang yang lebih penting bagimu.”


“Lalu... Apa yang akan kau lakukan pada Seeji?”


“Untuk sementara ini, aku akan mengurungnya. Aku tidak bisa membiarkan kekuatan hoseki berkeliaran. Ini hanya jadi rahasia kita saja.”


“Kenapa... kenapa kau tidak menemaninya sebagai ayahnya?”


“Jaga dirimu, Yuuri - san. Terima kasih"


-----------


“Kagiri pergi begitu saja. Dan melarangku untuk kembali menemuimu."


"Jadi... Seeji memiliki... tiga permata...?"


Takai tidak percaya, bahkan dengan satu permata saja kekuatannya luar biasa.


"Hanya dengan menyentuhnya saja... membuatku sangat terkejut, apalagi kau yang memilikinya... itu membuatku sangat khawatir...”


“Hoseki itu tiba - tiba keluar.....saat aku tengah tertidur.... ternyata memang saat kesadaranku menurun hosekiku bisa meningkat.”


“Hei!! Seeji.....! Kau tidak merasa terkejut dengan apa yang dialami ibumu...? Juga...” Takai bertanya pada Seeji tapi Seeji langsung memotong ucapannya.


“Jadi.... begitu. ternyata aku salah sangka.”


“Seji..”


'Hati akan selalu terhubung'


'Kalimat itu sudah tidak asing kudengar dari orang lain. Tapi aku tetap saja tidak mengerti meskipun Yuuri menceritakan segalanya tentang orangtuaku....


Apalagi ayahku. Aku tidak mengerti. Tapi, Yuuri tidaklah berusaha meninggalkan aku.'


“Kupikir kau pergi secara tiba - tiba karena kau juga takut dengan kekuatanku seperti orang lain. Disitulah aku mulai tidak mau mempercayai siapapun."


"Seji... maafkan aku..."


"Ternyata aku telah salah."


"Eh?"


"Terima kasih telah merawatku selama 7 tahun itu. Aku mengerti semua kenangan lama itu bukanlah kebohongan. Entah apa yang akan terjadi jika ibuku tidak memiliki teman sebaik dirimu.”


“Seji..”


“Sejujurnya, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah mendengar kalau ibuku terbunuh karena hoseki. Apa aku harus sedih... atau entahlah... Aku tidak pernah tau sebelumnya. Apa yang terjadi pada ibuku, memang mengejutkan.”


Seeji mengeluarkan buku hosekinya. Yuuri terkejut saat mencium aroma dari buku yang nampak tua itu.


“Seeji.... aroma dari buku itu... mirip dengan sapu tangan ayahmu...”


“Kau masih mengingatnya? Yuuri - san?”


“Aroma yang khas namun sangat menenangkan...”


“Saat aku menyentuhnya, kekuatanku terhempas ke dalam buku ini. Ketika kulihat isinya, ada beberapa rincian tentang hoseki milikku. Semua itu pasti karena serbuk daun itu yang menempel pada buku ini.”


“Seeji...”


“Ibuku membantuku mengendalikan hoseki, lewat buku ini. Meskipun tulisan yang ditulis oleh cahaya itu membingungkan, tiba - tiba saja aku menemukan sesuatu di bagian belakang buku."


Seeji mengusap bukunya. Dan membuka lembar paling belakang.


"Kurasa... Ini tulisan ibuku”


‘Terkadang kita harus mempercayai hal yang mustahil ~^O^~’


Seeji tersenyum getir.


Melihat Seeji, Yuuri merasa sedih. dia hampir menangis. Takai yang melihatnya pun terkejut.


“Yuuri....san?”


“Aku senang... meskipun kau sudah terkurung lama sekali di dalam ruanganmu, kau masih bisa berkembang dengan baik.... Rin, meskipun aku menang, tapi putrimu sangat hebat....”


“Yuuri - san, sudahlah jangan menangis"


“Namun putriku malah....”


“Putrimu?”


“Ah...tidak, tidak apa apa....”


“Yuuri - san...?”


“Putriku....Yuki. Dia menghilang.”


“Menghilang?”


Seeji tiba - tiba teringat Reeji, keberadaannya masih belum diketahui.


“Ya, aku tidak tahu... sebelumnya tidak terjadi apapun... tapi dia tiba - tiba bertingkah aneh sampai akhirnya dia tidak pulang kerumah.” Yuuri memberikan foto Yuki pada Seeji dan Takai.


“Seeji, anak ini rasanya tidak asing....”


“Hmmh....kau benar. Sepertinya aku pernah melihatnya... tapi dimana....”


“Yuki memiliki kemampuan melihat alam lain sejak dia kecil. Apa dia ada masalah dengan itu...”


“Melihat alam lain?”


“Ya, dia bisa...melihat hantu...”


“H-hantu!!??” Takai terkejut mendengarnya


“Memangnya ada apa dengan hantu?”


“Ah.... bukan... aku... cuma kaget...”


“Terkadang dia juga bisa berkomunikasi dengan mereka...”


“Cukup....menyeramkan...ya kan?”


“Apakah itu penyebab dari hoseki hitam...”


“Hoseki hitam? Apa selama ini Seji mencari itu?”


“Ya..ada apa dengan itu?”


“Dalam legenda, orang jahat yang mengambil alih pulau memiliki hoseki hitam. Dan kalau aku tidak salah... mereka mencari sesuatu yang akan meningkatkan mereka...."


"Yaitu kebencian."


"Seeji, Takai, 'Sesuatu yang berwarna hitam... dapat merusak segala sesuatu yang indah di dalamnya... jika tidak berada dalam tempat yang tepat...' Itu adalah kalimat lama yang selalu disampaikan orang tua. Seperti halnya legenda itu."


“Sudah kuduga, ternyata pulau ini memang misterius. Takai, kita harus mencari tahu...”


Seeji hendak pergi. Takai mencegahnya dengan memegang tangannya.


“Takai!”


“Yuuri - san, bagaimana dengan ayahnya Seeji? Kemana dia pergi sekarang? Harus ada alasan dia diperlakukan seperti itu...!”


“Maaf Takai, aku kurang tahu soal itu..”


Seeji memandangi mata Yuuri yang terlihat menyembunyikan sesuatu.


“Yuuri - san...”


“Tapi putraku, dia..”


Dari arah pintu, seseorang datang dengan pakaian prajurit.


“Ibu, aku berangkat.”


“Rou, kau harus pergi lagi?”


“Aku hanya ingin memastikan saja....”


Rou yang mengenakan kacamata persegi panjang dan bening itu menyadari ada seseorang di depan ibunya, Seeji dan Takai.


“Ibu, mereka siapa?”


“Oh, kau ingat dengan anak perempuan yang pernah ibu rawat? Dia disana, namanya Seeji.”


Yuuri memperkenalkan Seeji pada Rou. Seeji hanya menganggukkan kepalanya.


“Seeji Utsuki, benar? Kau pasti tahu tentangku dari Ibuku.”


“Salam kenal.”


“Dan..kau?”


Matanya menatap sinis Takai di sebelah Seeji.


“Aku...Takai akari...”


Tanpa tanggapan, Rou langsung menuju pintu keluar di depannya.


‘Apa - apaan orang ini? Menyebalkan!’


“Aku pamit.”


Rou lalu meninggalkan mereka. Takai masih mendengus karena sikap Roh yang lebih acuh dari Seeji.


"Maaf, Seeji... dia sempat mendapat pekerjaan di kastil kerajaan. Tapi tiba - tiba dia dikeluarkan... mungkin Rou masih terpikirkan soal itu..."


“Yuuri - san, Bolehkah aku menyimpan foto ini?”


----------


“Hah.... untung saja.... Awalnya kita menemui Yuuri - san untuk bilang kalau kita tidak bisa membayar penginapan kan? Tapi kita malah jadi dapat informasi....”


Seeji berjalan mendahului Takai tanpa mempedulikannya.


“Takai. Berhentilah ikut campur urusanku”


“Ikut campur?”


“Aku hanya mencari tahu tentang hoseki. Untuk apa kau bertanya tentang Orangtuaku??”


“Aku hanya mencari tahu apa yang terjadi! Siapa tahu... dia bisa memberi kita petunjuk bukan.... Apa itu salah?”


“Kau mencampuri urusan pribadiku, tidak ada gunanya bagimu melakukan itu.”


“Seeji, kita mencoba mencari kebenaran disini.... dan lagi... kau sejak kecil.... Memiliki tiga hoseki?”


Seeji menunduk dan memasukkan tangannya di saku jas berwarna hitam itu.


"Sejak awal, hoseki mencari pemilik yang cocok dengan kekuatannya. Sebagaimana hoseki hitam memasuki tubuh orang - orang dengan hati penuh kebencian, hoseki berwarna memasuki tubuh orang yang tepilih untuk menggunakannya."


"Itulah sebab hoseki ada pada kita..."


"Tapi sayang sekali... ya? Hoseki itu merenggut nyawa orang - orang yang tidak bersalah. Ibuku sangat malang, harus menemui ajalnya karena hoseki yang tak dapat dikendalikan."


"Seeji! Kenapa kau berkata begitu?!"


"Aku tetap saja tidak mengenalnya. Setidaknya aku lebih lega karena ada orang yang menginginkan agar aku tetap hidup."


Takai terdiam. Ia bahkan kehilangan ayahnya dan kini harus meninggalkan ibunya. Karena hoseki merah.


“Yang kutahu, saat ini aku hanya punya dua hoseki. Mungkin itu alasannya dia mengurungku. Dia juga takut denganku.”


“Aku yakin ayahmu pasti punya alasan yang jelas mengurungmu...”


“Jika orang yang memenjarakanku adalah ayah kandungku, bukankah itu terlalu kejam?”


“Penjara?”


Seeji berbalik memandang Takai. Pandangannya seperti berkata ‘Kau tidak perlu tahu.’ membuat Takai terdiam.


'Jika dia mengetahui lebih jauh... tentang masa laluku....’


Seeji berpikir dalam batinnya. Lalu teringat sebuah kalimat yang selalu membuatnya memalingkan wajah untuk melupakannya.

__ADS_1


'Kau ingin menjadi target? Atau mencari target?'


'Semuanya.... telah berlalu...'


“Masa lalu biarlah tetap berada di belakang. Kau bilang kita tidak bisa melihat ke dua arah sekaligus bukan?”


“Apa maksudmu.... apa aku pernah berkata begitu?”


’Mungkin ada bagusnya dia melupakan kejadian di hari itu.’


Seeji kembali berjalan mendahuluinya.


“Seeji... Apa aku melupakan sesuatu?”


SYUUUSH!


Angin kencang tiba - tiba berhembus, foto Yuli yang dipegang Seeji tiba - tiba lepas dan terbawa oleh angin.


“Takai! Fotonya!!”


“Eeh?! Angin membawa fotonya?!”


Takai lalu berlari dan berusaha mengambilnya. Dia terhenti saat foto itu tersangkut di atas pohon taman kota.


"Kenapa harus tersangkut di sana...?"


“Akan kuambil!”


Takai dengan lihai memanjat dari dahan ke dahan dan meraih fotonya.


MEAAW!!


Tiba - tiba seekor kucing hitam lewat di depan mereka. Seeji langsung terpesona dengan mata kucing yang bulat dan menggemaskan itu.


“I-Imut banget...!”


“Seeji! Bantu aku! Jangan memainkan kucing di saat seperti ini...O-oi!”


“Apa kau tersesat? Wah... bulumu halus sekali....”


Seeji mengelus kucing itu, dan kucing hitam itupun mengelus - elus tangan Seeji yang menghampirinya. Takai diabaikan.


“Oi!! Seeji!”


Kucing itu lalu memanjat pohon dan menghampiri Takai.


‘Ehm... anak perempuan yang manis...’


“Eeh?”


Kucing itu tiba - tiba menggeram dan memperlihatkan taringnya.


“Eeh!? Ini kucing ngajak berantem yak?!”


Tanpa ancang - ancang kucing itu mencakar hidungnya hingga Takai kehilangan keseimbangan.


“Aaww! Sakit tau!!”


BRRUUK.


Takai terjatuh dari pohon sambil memegangi punggungnya. Foto juga beberapa buah di pohon apel itu berjatuhan.


“Ad..duh...”


“Hm... hujan buah." Seeji mengambil apel yang berjatuhan tanpa mengkhawatirkan Takai.


“Bukannya ditolongin malah makan apel!”


Takai lalu mengambil fotonya dan melihatnya sambil membersihkan daun dari kepala dan bajunya.


“Dia kan...”


'Makasih... paman...'


“Oh! Seeji! Dia anak yang kita temui saat menuju bukit timur!”


“Apa? Benarkah...?”


"Ya... tidak salah lagi... aku ingat dengan tatapan anak itu yang agak aneh... sama kaya kakaknya..”


“Kemampuan melihat alam lain.... apa jangan - jangan hoseki hitam ada pada anak ini?”


“Itu mustahil! Usianya terlalu kecil!”


“Benar juga.....aku pernah bilang kan, kalau pemilik hoseki hitam umurnya bisa setara atau lebih tua dariku.”


“Kalau begitu... apa penyebabnya?”


“Mungkin kita bisa dapat petunjuk dengan mencari anak ini. “


“Kau yakin?”


“Entah kenapa aku merasa kalau dia memiliki hoseki hitam.... anak ini masih usia sekolah bukan?”


Sebuah layangan yang ikut jatuh tadi diambil oleh anak - anak kecil yang sedang main di dekat mereka. Mereka lalu menghampiri Takai.


“Bapak! Terima kasih telah menjatuhkan layangannya! Kami kesulitan mengambilnya sejak tadi..”


‘Bapak?! Bahkan lebih parah daripada panggilan paman kemarin!!’


Takai langsung diam membatu karena ucapan polos anak - anak itu.


“Layangan itu... Itu milik kalian ya? Baguslah Takai. Kau membantu anak - anak ini.”


Takai syok karena dua kali dipanggil dengan sebutan 'tua' oleh anak - anak yang baru ditemuinya.


“Kalian, apa kalian tahu anak ini?”


“itu... Obake - chan kan?”


“Obake?”


“Kami memanggilnya begitu karena dia selalu bilang melihat hantu!!”


"Apa?"


“Begitu... apa kalian pernah melihatnya?” Seeji kembali bertanya pada mereka.


"Aku! Aku melihatnya datang ke sekolah saat menjelang malam! Aku tidak tahu dia mau apa karena sudah disuruh pulang oleh ibuku!"


"Lalu, sekolahnya ada dimana?"


“Sekolahnya ada di akademi pengetahuan umum tingkat awal bernama Riisson!”


"Rison...? Ah.. maksud kalian mungkin Reason 'kan? Aku tahu! Itu sekolahku dulu!"


“Itu berarti kita tahu dimana tempatnya, baiklah. Terima kasih informasinya, ini hadiah untuk kalian.”


Seeji lalu melempar masing - masing apel pada mereka.


"Kenapa mereka bilang paman atau bahkan bapak padaku...? Umurku kan belum setua itu...."


"Kau memang sudah terlihat seperti orang pengangguran."


"Apa?! Tapi mereka bilang onee sama padamu kan? Memangnya usiamu berapa?


“Aku? Kurasa.... sembilan belas..”


“Sembilan belas? Aku tidak tahu kau lebih muda dariku!”


“Memangnya kau berapa?”


“Dua puluh... menjelang dua satu.... oke?”


“Oh."


"Hanya 'oh' saja?!"


"Tapi sayang sekali... aku tidak berniat memanggilmu dengan sebutan Kakak. Takai.”


“Kalau begitu aku bisa memanggilmu Adik kecil!” Takai menutup mata Seeji dengan topinya


“Hei! Apa yang kau lakukan!”


Takai tertawa, mencoba mempermainkan Seeji.


“Jadi, kau tahu 'kan dimana sekolahnya itu?”


“Sekolahnya ada di sebelah barat Kota ini."


"Kita akan mendapatkan petunjuk kalau kita kesana. Ayo.”


“Apa?! Seeji! Kau ingin pergi ke sekolah kosong di senja hari begini?”


“Tidak masalah bukan?”


“Seeji! Sesuatu yang disebut ‘hantu’ itu biasa datang pada waktu seperti ini....”


"Sebenarnya aku ingin bertanya tadi, hantu itu apa sih?"


Takai yang tadinya mengomel dan menolak ajakan Seeji langsung bungkam.


"Apa? Jangan bilang kau tidak tahu...?"


"Aku hanya pernah membacanya."


"Yah... itu..."


“Hmm..kau takut ?”


“Apa? Takut?? Tentu saja tidak! Aku hanya khawatir...”


“Kalau begitu ayo."


Seeji lagi - lagi meninggalkannya.


“Seeji! Tunggu!”


“Sekalian saja kita mencari tahu tentang Yuki dari orang - orang sekitar. Mereka bisa saja pernah melihat Yuki”


“Dasar kau in....”


ZETS


“!!”


Takai langsung berbalik, merasa ada yang bergerak mengikuti mereka.


“Ada apa Takai?”


“Tidak... ayo”


Mereka lalu berjalan menuju arah sekolah Yuki sambil bertanya pada orang sekitar apakah mereka melihat Yuki. Namun tidak banyak yang mengetahui tentang itu dan hanya menggelengkan kepalanya.


“Hah... hari mulai gelap...”


“Akhir - akhir ini banyak kasus orang hilang pada waktu senja seperti ini, mereka bilang begitu."


“Tapi mereka tidak mengenal Yuki, meskipun Yuki menghilang..... Hhah... aku tidak menyangka akan merepotkan mencari anak kecil seperti dia... apalagi dia masih tingkat tiga! Eeh? kita sudah sampai!”


“Sampai?”


Mereka berada di depan sekolahnya. Sekolahnya sangat terlihat angker karena suasana malam. Takai bahkan tidak mengenalnya lagi.


“Te...Tempat apaan nih....?”


“Ini... sekolahnya kan? Maksudmu akademi Reason itu? Aku belum pernah ke sekolah sebelumnya...”


“APA? Tapi... Kau tidak terlihat bodoh sama sekali...!”


"Siapa yang bodoh hah??!!"


"Aaahh!! Iya iya! Seeji..."


“Aku belajar bersama Yuuri san sampai dia tidak merawatku lagi. Selanjutnya aku belajar dan membaca sendiri.”

__ADS_1


Takai berpikir tentang masa lalu Seeji yang Yuuri ceritakan tadi


‘Seeji.... dia pasti mengalami masa yang sulit....’ Takai tidak sadar memperhatikan Seeji lagi.


“Apa yang kau lihat?”


“Aaahh....ehmmm.... Oh ya! Se...Seeji! Mungkin kita harus kembali besok pagi saja...”


Takai mencari alasan dan berniat kabur, tapi Seeji memegangi kerah leher Takai sebelum pergi.


“Tidak, kita sudah sejauh ini. Ayo”


Takai akhirnya dipaksa masuk. Mereka lalu menerobos pagar besi setinggi dua meter yang tidak dijaga sama sekali.


“Aneh, tidak ada penjaga sekolah disini. Sekolah ini masih berfungsi kan?”


“Penjaga sekolah?”


“Ya, biasanya penjaga sekolah selalu menjaga selama 12 jam pada malam hari. Ini aneh....”


“Mungkin...”


“Mungkin saja, dia ditangkap oleh Tahanan bayangan itu.....”


"Hah? Tahanan bayangan?"


"Ada hawar yang mengatakan kalau sekolah ini dulunya adalah penjara... dan para arwah yang tidak tenang masih bergentayangan saat tidak ada orang disekolah seperti sekarang ini....."


“Bodo ah. Itu hanya karangan orang iseng aja.”


“Tapi, apapun bisa terjadi kan?!!”


"Siapa?!"


SRIIIING!


Seeji merasakan sesuatu seperti datang. Dia membuat dimensi secepat mungkin.


“Takai! Hati - hati!”


“!!”


Tak ada apapun yang datang


“Aneh... padahal aku merasakan sesuatu...”


“Seeji! Jangan menakutiku!”


“Oh.. jadi kau memang takut ya?”


“Tidak! aku tidak takut!”


“Hmm... benarkah..?”


“Tidak! Aku bilang aku tidak takut! Kalau tidak percaya, Aku akan masuk lebih dulu!”


“Silakan, masuk saja.”


BRAAK!


Dengan kakinya Takai menendang pintu masuk gedung utama dan masuk tanpa ragu. Meski tetap saja dia takut.


“Dasar emosional. “


“Hah?”


“Kau membanting pintu. Untung kacanya tidak pecah.”


“Sudahlah, ayo lihat lebih jauh!!”


“Kita hanya melihat. Tidak perlu sangat berambisi.”


Malam sudah tiba. Mereka melewati lorong sekolah dan mengamati setiap kelas. Saat ini Mereka berada di lantai dua.


“Tak ada apapun disini.”


Seeji terdiam melihat ruangan kelas.


“Seeji?”


“Meja... dan kursi... juga papan tulis.. Jadi ruangan kelas seperti ini ya? Tempat mereka belajar bersama...”


Seeji mengelus meja kayu yang panjang itu perlahan, ada tulisan di sana


‘Sekolah sangat menyenangkan!’


“Begitukah?”


“Hah.... sekolah saat malam hari memang berbeda.... Seeji, kau punya senter lagi?”


“Tidak, aku cuma punya satu.”


“Sulit mencari petunjuk dalam keaadaan gelap begini. Kita nyalakan saklar lampunya, tidak apa - apa kan?”


Takai mencari saklar lampu dan menyalakannya. Tapi tidak ada yang terjadi, suasana tetap gelap.


“Eeh?”


“Listriknya pasti dimatikan.”


“Hhah.... sudah kuduga...”


“Pegang ini.”


Seeji memberikan senternya pada Takai dan mengeluarkan kaca berbentuk cembung yang kecil.


“Itu...apa?”


“Cermin. Aku dapat dari Yuuri - san tadi.” Seeji mengalirkan kekuatannya pada cermin itu sehingga cermin itu bersinar seperti senter.


“Wah...bisa seperti itu juga...”


“Tapi ini cukup menguras tenaga. Kau saja yang memakainya.” Seeji memberikan cerminnya pada Takai.


“Kalau cahayanya mulai redup, salurkan kekuatanmu ke cermin itu.”


“Apa tahan lama?”


“Sekitar 15 menit”


Takai memberikan senter pada Seeji dan Seeji mengarahkannya pada sudut kelas. Ada tengkorak tergeletak disana.


“Wuaahh!!”


“Seeji!”


Seeji terjatuh karena terkejut. Ternyata itu hanya rangka tengkorak buatan.


“Mengagetkan saja.”


“Ahh... sekarang kau takut ya?”


“Kau salah.”


KRIIIEETT!


Tiba - tiba ditengah keheningan mereka mendengar suara pintu terbuka.


“Apa itu?”


“Mungkin... cuma angin.”


“Takai, ayo berpencar, kita bisa semalaman mencari kalau terus begini.”


“Berpencar?”


“Periksa saja apakah ada orang di setiap ruangan. Kau ke bawah, dan aku ke atas”


Seeji berlari meninggalkan Takai.


“Dasar... dia memutuskan seenaknya....”


Mereka lalu berpencar, dan Seeji tiba - tiba merasakan hoseki hitam di lantai paling atas.


PIKK!


“Disana kau rupanya!”


Sementara itu, Takai mencari asal suara pintu tadi.


"Tidak - ada siapa siapa kok... "


TEEEPP!!


Seseorang memegang pundaknya secara tiba - tiba. Takai terkejut, ternyata orang itu adalah kakaknya Yuki.


“Bikin kaget saja! kupikir siapa.... ternyata itu kau, Rou”


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Aku dan Seeji sedang mencari adikmu..”


“Untuk apa kau melakukan itu?”


“Mau tau aja...”


“Pasti ada hubungannya dengan....”


SRIIIING!


Cermin yang dipegang Takai bersinar semakin terang.


“Pasti terjadi sesuatu!”


Takai berlari menuju ke tempat Seeji. Dan Rou mengikutinya dibelakangnya.


“Aku mengerti! Ternyata sejak tadi kau mengikuti kami ya 'kan?”


“Kau mencari adikku kan?!”


“Jangan mengikutiku! Ini bukanlah sesuatu yang bisa dilihat orang biasa....”


Takai sadar dia sudah melewati dimensi milik Seeji, dan Rou memasukinya.


“Apa?! Kau bisa memasuki dimensi? Apa kau hoseki hitam yang menyamar?! Jangan kira kau bisa menipuku!”


“Apa yang kau bicarakan?”


“AAAAAAHH!!”


Percakapan mereka terhenti saat mereka mendengar suara teriakan Seeji.


“Seeji!”


“Takai...lama tidak bertemu...”


“Kau...”


“Tidak ingat? Aku menghempaskanmu waktu itu..."


"Siapa...? Jangan - jangan.... kau Kuroseki...”


Kuroseki kembali tertawa di dalam jubah hitamnya. Takai merasa kesal dan ingin memukulnya yang ada lima meter darinya.


“Kelihatannya kau bukan orang yang bisa diajak bicara.... Seeji pasti dalam bahaya karena kau ya kan?!”


“Bagaimana ya ...”


Kuroseki melihat ke atas.


SRIIIING!


Tiba - tiba langit - langit dan lantai lorong sekolah bergerak - gerak setelah cahaya biru itu bersinar.


“Tunggu! Apa ini?!”

__ADS_1


Ruangan di sekitar mereka melebar dan berubah warna.


“Selamat datang di labirin yang menakutkan...”


__ADS_2