
'Beberapa waktu lalu.. ada rumor yang mengatakan kalau ada dokter dengan kemampuan luar biasa bersembunyi di hutan, para korban penyiksaan yang dibuang ke hutan dapat sembuh dan keluar dari hutan untuk memberitahukan para penjahat itu. Tapi keberadaannya dirahasiakan dari khalayak umum dan menyebut dirinya sebagai 'Heal - san...''
DRRAP DRAP!
“Jangan biarkan dia lari!”
“Hosh...hosh...”
Seseorang bertudung hijau tua berlari hingga terengah - engah karena dikerjar beberapa pengawal kastil.
"Huh? Ada apa itu?"
Di perjalanan, Seeji dan Kyusin melihat seseorang yang bertudung hitam seperti di kejar pengawal kerajaan.
“Heal - san! Kenapa dia di kota?!!”
“Dimana?”
“Dia dikejar seseorang!”
BRRUUK!
Seeji bertubrukan dengan heal san yang berusaha melarikan diri. Perawakan tubuhnya kecil dan cukup lincah menghindari kerumunan orang - orang.
SRRIIING
Seeji merasakan hoseki birunya bereaksi saat bertubrukan tadi.
‘Hoseki?’
Seeji lalu teleport di tengah pengawal dan orang – orang yang bertubrukan sehingga tak ada yang melihatnya.
“Hh...aku akan tertangkap lagi...”
“Hei! Dia ada diantara 2 bangunan itu!”
Para pengawal hampir menemukannya. Mereka semakin dekat dengan persembunyiannya.
‘Gawat!’
SRIIIIING
Seeji membuat dimensi level 2 sehingga heal - san masuk kedalam dimensinya. Pengawal kastil itu tidak menemukannya di balik dinding tersebut.
“Dia tidak ada disini!”
Seeji membuat dimensi dengan luas yang lebih kecil. Heal – san terkejut karena suasana yang tadinya ramai menjadi sepi.
“Apa ini?”
Seeji lalu menghampirinya.
“Siapa kau?”
“Aku hanya pengembara yang mencari pertolongan.”
Seeji lalu menunjukan tangannya yang sengaja dia lukai sebelumnya.
“Eh?”
“Kau bisa mengobatinya kan?”
Heal - san lalu mengobatinya dengan cara menyentuh tangan Seeji dan menyalurkan kekuatannya. Cahaya kuning bersinar dan perlahan – lahan lukanya menghilang.
“Kau... kenapa kau... terlihat berbeda?”
Seeji tidak menjawabnya. Dia lalu membalikkan tangannya dan memberikan sedikit kekuatannya pada Heal – san.
SRIIING!
"Apa?!"
“Jika kau ingin tahu lebih banyak tentang kekuatan permata ini, temui aku.”
“Permata?”
Seeji lalu meninggalkan Heal – san dan berbelok di ujung gang sempit itu.
“Tunggu!”
Heal – san berusaha mengejarnya, namun Seeji sudah pergi dan dimensinya menghilang. Suasana kota kembali seperti semula.
Kyusin mencari Seeji yang tiba – tiba menghilang. Seeji pun kembali.
“Seeji, kemana saja dirimu?”
“A...aku...tersesat diantara kerumunan orang tadi.”
“Ah, Seeji!”
“Takai, tepat waktu. Aku sedang mencarimu.”
“Kau sudah bangun rupanya! Kyusin, terima kasih! Kau sudah menjaganya selama aku pergi. Tidurnya lama kan?”
“Ya, aku tidak menyangka kalau Seeji - san itu…”
“Oi”
“Hanya bercanda!”
Mereka berbicara berbarengan. Mengalihkan pembicaraan sebelum Seeji memandangnya sinis.
“Darimana saja kau?”
“Aku tadinya....”
‘Sial, aku tidak bisa bilang mencari meja untuk makan di luar bukan?’
“A..aku.. mau beli makanan untukmu..”
“Itu yang kau sebut sesuatu?”
“Tapi...”
“Tapi apa?”
“Aku tidak menemukan toko..”
“Takai – san, Disebelahmu ada toko tuh.”
Takai tercekat, dia lalu melihat ke segala sisi dan mencari alasan.
“A...a..ah! Benar juga! Aku baru saja mau masuk! Tapi...”
“Apa la--ehh!” Takai membawa Seeji menjauh dan berbisik.
“Apa maksudmu membuat dimensi? Aku bisa saja tiba – tiba menghilang tau!”
“Ahh... soal itu kita bicarakan nanti saja..”
“Baiklah…ayo masuk!”
“Tidak perlu. Aku tidak lapar.”
Dan setelah Seeji mengatakan itu perutnya berbunyi.
“Ahahahahahaha!!” Takai menertawakannya hingga dia memegangi perutnya, dan Kyusin hanya menahan tawanya.
“Berisik ah! Ayo!”
'Padahal sebelumnya...aku tidak pernah merasa begitu lapar...'
“A-ano.. Seeji – san, Takai – san aku harus pergi.”
“Hm? Kau tidak akan ikut makan bersama kami? Sekalian saja makan siang.”
“Tidak, aku harus ke tempat Himeji san, aku sudah berjanji untuk membantunya..”
“Oh, Himeji – san, kalau begitu titip salam dariku.”
“Serahkan padaku! Sampai nanti!”
“Sekali lagi terima kasih Kyusin!!”
Takai melambai padanya, Kyusin lalu meninggalkan mereka.
“Anaknya himeji san dulu memiliki hoseki hitam. Dan himeji san sudah tau kalau aku memiliki permata biru."
“Apa?”
“Tapi dia tidak terkejut dengan itu, dia bilang dia pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.”
“Hmm….itu berarti hoseki pernah tersebar disini sebelumnya...”
“Kita akan mencari tahu soal itu.”
“Ngomong - ngomong... Kyusin itu perempuan kan?”
“Memangnya kenapa...?”
“It-itu berarti... Saat aku membawanya...”
JDDAAAK!!
Seeji tiba - tiba memukul Takai di daerah selangkangannya.
“Auch..! Seeji! Kita di kerumunan umum tau!”
“Sudahlah, ayo masuk. Mesum."
__ADS_1
Mereka lalu masuk ke dalam toko.
“Rasanya tempat ini tidak asing...”
“Hm? De javu?”
Seeji melihat ke langit - langit toko dan dindingnya.
“Oh...tempat ini...”
“Seeji? Ada apa?”
"Karena kita menyewa penginapan dan ada di kota, kita tidak akan memasak di atas api unggun kan?"
"Lalu?"
“Takai, apa kau akan memasak?”
“Eh? Bukannya kau yang akan memasaknya?”
“Aku?”
“Ya, siapa lagi?!”
“Bagaimana kau tahu aku bisa memasak? Setahuku aku belum pernah bilang.”
“Aku... hanya merasa... kau pernah memasak sesuatu yang lezat... Itu saja...”
“...”
“Seeji?”
Seeji berbalik
“Kalau begitu kau yang membawa barangnya"
“Eeh?!”
Seeji lalu memilih beberapa bahan di toko sederhana itu.
“Apa memasak tidak akan merepotkan? Kurasa makan diluar tidak masalah...” Takai berpendapat sambil membawakan barang yang dipilih Seeji.
“Kalau makan di tempat umum, itu akan membuat kecurigaan pada pelanggan lain karena kita adalah pengembara.”
“Heeh...”
Mereka lalu menuju tempat pembayaran.
“Ini kembaliannya."
Seeji lalu menerima koin kembalian. Penjaga toko tiba - tiba memperhatikannya.
“Maaf, apa... Aku pernah melihatmu sebelumnya?”
Seeji menatap kasir itu. Dia terkejut.
-----------------
“Ah.... akhirnya bisa duduk juga..”
Takai meluruskan kakinya setelah berjalan di hari yang panas.
“Untung toko tadi tidak begitu ramai...”
Seeji lalu melepas jas luarnya dan mengikat rambutnya. Takai terkejut.
“Eh..!? Apa yang…”
“Apa? Aku harus memasaknya, ya kan?”
“Tidak, aku hanya… agak...”
“Bukankah kau yang memintaku memasak tadi? Kalau tidak mau masak saja sendiri."
“Eh...bukan begitu...”
Seeji memandang sinis Takai. Takai merasa tidak enak dan menelan ludahnya.
“waktu itu bukankah aku pernah membuatkanmu--”
“Membuatkan apa?”
“Ah sudahlah. sepertinya kau masih belum ingat. Jangan kaget dengan rasanya ya.”
“??”
Seeji mulai memasak dan Takai memperhatikannya dari jauh.
“Aku hampir tidak ingat kalau kau punya rambut panjang.”
“Oh, sejak tadi kau memperhatikanku ya?”
CRAAK!
“hegh!”
Takai terkejut karena Seeji memotong dengan suara yang keras. Tapi tangannya cepat memotong semua bahan.
‘Apa yang membuatnya marah? Apa aku melupakan sesuatu?’ dalam batin Takai dua bertanya - tanya.
JYUUSSSH!
Suara kompor juga pisau masih beradu. Seeji benar - benar lihai memakai pisau dan mengolah makanan.
‘Dia memasak seperti sedang bertarung.... rasanya banyak sekali suara disana... apa yang dimasaknya?’
Takai melamun. Dan tanpa ia sadari Seeji sudah kedepannya membawa nampan.
“Ya, sudah siap.”
“Cepat sekali!”
Takai memperhatikan masakan yang dibuatnya. Tiba - tiba dia melihat sesuatu yang aneh mengambang di atas sup kari itu.
“Ini....telunjuk tangan?!”
“Bagaimana? Aku memanfaatkan mayat yang kutemukan di dapur... pilih yang mana? Jantung, atau hati?”
“Ap...apa?!”
“Silakan dinikmati....tuan... atau mau kusuapi? Ayo buka mulutmu tuan... aah...”
Seeji berekspresi mengerikan dengan senyum yang sama mengerikannya.
“TIDAK!”
“Takai?”
“Eh?”
Takai rupanya hanya berimajinasi, terbayang sesuatu yang tidak - tidak di benaknya
“S...Seeji...”
“Kau tidak akan makan? Aku sudah siap sejak tadi.”
“T...tentu! Aku akan makan! Tentu saja! Aku sangat lapar!”
“Hm?”
Takai lalu duduk satu meja dengan Seeji. Dengan santai Seeji sudah melahap nasinya sejak tadi.
‘Seeji... tidak akan menyajikan telunjuk tangan kan..?’
“Selamat makan...eh?”
Takai melihat 2 onigiri dan satu sup tersaji di depannya. Ditata dengan sangat rapi, dan aromanya menggugah selera.
“Tampilannya, cantik dan sederhana sekali... Belum terlihat ada yang aneh.”
“Aneh?”
“T-tidak... bukan apa - apa!”
“Waktu itu kau menyajikan onigiri saat aku makan bersama ibumu. Sebagai gantinya, aku buatkan yang sama.”
“Selamat... makan...”
Takai menyuapkan sesendok sup dan onigiri ke mulutnya.
“!!”
-----Selesai makan-----
“Aku tidak tahu kau bisa membuat masakan selezat tadi...”
“Benarkah?”
“Sup nya sangat lembut dan isian onigirinya juga gurih”
“Hm...baguslah.”
Takai menyadari sesuatu. Tiba - tiba dia merasa ingat sesuatu.
"Eh?”
“Apa?”
“elEntahlah, aku seperti pernah merasakan situasi ini sebelumnya” Takai mengusap kepalanya.
__ADS_1
“De javu...kah?”
“Eh?”
Seeji memandang hening Takai.
"A-apa sih? Dari tadi kau memandangku seperti itu!”
“Sudahlah, meskipun kau mengingatnya tidak akan ada gunanya.”
Seeji lalu mengambil tasnya dan membaca buku hoseki miliknya.
“Memangnya aku melupakan apa sih?” Takai bergumam sendiri.
Seeji menutup wajahnya dengan buku. Dia masih terbayang ketika Takai menciumnya ketika Takai sakit. Tapi Takai tidak mengingat hal itu dan membuat Seeji malah salah tingkah.
’Kenapa aku malah terbayang waktu itu..?! Dia benar benar menyentuh mulutku?! Tidak mungkin...!’
“Ooh, ya. Seeji, siapa kasir toko tadi? Kau mengenalinya?”
“Ee..eh? Apa..?”
“Kasir tadi...apa kau mengenalinya? Kelihatannya dia memandangimu sampai kau menjauhi toko...”
“....”
“Seeji?”
“Banyak sekali pertanyaan keluar dari mulutmu hari ini, Takai"
“Apa salah bertanya?”
Seeji menutup bukunya.
“Dulu, toko itu adalah tempat makan. Tapi, hoseki hitam menguasai kepala koki di restoran kecil itu. Aku menyusup ke dalamnya menjadi salah satu pegawai disana. Kasir tadi, adalah orang yang menyadari keanehan pada kepala koki. Tapi aku mengunci ingatan mereka tentang aku.”
“Hm... menyusup ke dalam restoran... pantas saja bisa masak...”
“Hubungan yang kujalin dengan mereka...terpaksa kusegel. Jadi tidak ada gunanya. Aku tetap orang asing bagi mereka.”
“?”
'Kita bersulang untuk pegawai baru yang membawa perubahan bagi tempat ini!'
'Aku tidak usah.'
'Oh, ayolah.. Suji - chan!'
'tidak usah! Aku hanya pelayan!'
'Bersulang!'
“Seeji?”
“Jangan bertanya dulu. Takai.”
Seeji membuka bukunya.
“Kekuatan dari setiap generasi orang - orang terpilih, semakin lama semakin menipis... berawal dari 7 permata yang semakin berkurang, dan sebuah kebencian yang bersatu. Usaha mereka hampir sia - sia saat sedikit demi sedikit dari mereka kehilangan kekuatannya…”
“Apa yang kau baca Seeji?”
“Buku ini… tadi kau bilang hoseki pernah tersebar disini sebelumnya kan?”
“Ya, jadi?”
“Mungkin kita harus mencari tahu soal itu…. seperti bertanya pada seseorang yang lama tinggal disini atau mencari sejarah dan legenda yang berhubungan dengan hoseki.”
"Itu membuatku kembali mengingat kehidupan sekolah."
"Apa yang kau ingat tentang sejarah pulau ini Takai?"
"Aku tidak suka pelajaran sejarah... tapi aku ingat kalau sebelumnya Kerajaan ini pernah jadi tempat penyiksaan hingga merdeka setelah para budak memerdekakan diri mereka lewat perang yang dahsyat."
"Perang ya... tapi kau harus tetap tahu asal dari hoseki sebenarnya..."
"Benarkah...? Kau tahu?"
“Aku belum mempelajarinya lebih dalam. Aku hanya bisa menggambarkan beberapa dasarnya saja..”
“Dasarnya?”
“Hoseki ada 7 warna, masing -masing dari mereka memiliki kemampuan yang berbeda - beda seperti kau dan aku. Tapi dari yang kubaca barusan, sepertinya jumlah mereka semakin lama semakin berkurang, dan penyegel pun hanya ada satu di setiap generasi.”
“Generasi?”
“Ya, hoseki seperti berpindah masa dan semakin lama kekuatannya semakin menipis atau bahkan menghilang. Penyegel hoseki hitam juga berbeda setiap generasi. Misalkan generasi sebelumnya penyegel adalah pemilik permata hijau maka generasi selanjutnya adalah pemilik permata biru muda.”
“Apa maksudmu 7 warna itu warna pelangi? Seperti dalam dongeng...”
"Hoseki kan.. hanya legenda bukan? Tapi semua itu ada di depan mata kita...”
Takai terhenyak. Berusaha mempercayai kembali legenda yang terdengar konyol itu.
“Karena itu kita harus mencari tahu lebih banyak lagi dan mengandalkan berbagai hipotesis….”
Seeji menuliskan coretan kecil di bukunya ”Maksud dari generasi disini adalah orang orang terpilih”.
“Bagaimana dengan hoseki hitam?”
Seeji terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Takai yang kesekian kalinya.
“Apa kau ingat dengan Kuroseki?”
“Kuroseki?”
’Waktu itu... Ingatannya mungkin kacau. Jadi dia juga tidak ingat dengan Kuroseki...’
“Dia orang yang mengincarku dan melukaiku waktu itu.”
“Apa?!”
“Hanya ada sedikit kalimat yang menuju ke Kuroseki dalam buku ini, yaitu ‘sebuah kebencian yang bersatu.’ Aku pernah menjelaskan beberapa hal tentang Kuroseki berdasarkan pengalamanku kan?”
“Begitu… itu berarti Kuroseki memang bukan lawan yang bisa diajak kompromi!”
“Tadi kau bertanya kenapa aku membuat dimensi kan? Takai?”
“Oh, ya...”
“Aku bertemu dengan seseorang yang sepertinya memiliki hoseki. Seseorang yang menyebut dirinya dengan sebutan Heal - san”
“Benarkah?”
“Itu sebabnya aku membuat dimensi tadi... kau pernah melihatnya kan?”
“Tidak, aku hanya mengantar Kyusin sampai depan. Tapi rasanya aku pernah melihatnya...”
Seeji lalu membereskan barang barangnya dan memasukkannya ke dimensi. Cara praktis.
“Sudahlah, ayo pergi.”
Mereka lalu pergi dan menuju keluar penginapan.
“Tunggu, kau sudah membayar penginapan ini bukan?”
“Eeh… soal itu…. oh! Aku 'kan membawamu yang sedang tertidur, jadi aku belum…”
“Heh… sepertinya kita dalam masalah…”
Mereka tidak punya cukup uang untuk membayarnya. Seeji tidak memperhitungkan itu sebelumnya.
“Masalah?”
”Mau bagaimana lagi… yang kulakukan saat situasi ini adalah meminta pekerjaan untuk melunasinya.”
Mereka lalu bertemu dengan pemilik penginapan di dekat pintu keluar.
“Maaf, kami…”
“Ya? Eh? Kamu!!”
Pemilik penginapan itu terkejut saat berbalik melihat Seeji.
“Ada....apa?”
“Kamu Seji kan?”
'Apa...? Dia tahu namaku? Kenapa?'
“Ya, aku Seeji... meskipun pengucapannya agak berbeda..."
“Oh...! Aku tidak percaya! Kau sudah besar!”
Pemilik penginapan itu tiba - tiba memeluk Seeji. Seeji tentu terkejut.
“Maaf… kenapa... anda mengenalku…?”
“Kamu tidak mengenalku Seji?”
“A..aku….”
Seeji merasa dia pernah melihatnya, dia ingat saat kecil dia pernah mendapat pengasuh sampai dia berumur tujuh tahun.
“Jangan - jangan…. kau…”
"Hari yang cerah… Seji. Langitnya bersinar sangat indah...” Kata - kata yang sering diucapkannya saat bersama Seeji.
“Tidak mungkin…”
__ADS_1