Main Course Of The Battle

Main Course Of The Battle
[UNREVISION] PART 4 : JOIN


__ADS_3

“Nee...Onee...sama....”


“!!”


“Onee - sama!”


“Reeji?”


“Apa yang onee - sama pikirkan? Kita kan sedang bermain”


“Ber...main....”


“Ayo! Onee - sama!”


--‘Bermain...seperti dulu....ya, tidak perlu ada yang dirisaukan, semua baik baik saja...’


SRIIIING


“Hoseki merah...? Takai?”


Seeji menggapai permata merah itu, lalu dia terbangun. Seeji terbangun saat pagi berikutnya.


--"Rupanya....mimpi...."


“Sudah bangun? Lama sekali.”


“Kau..Takai?”


“Kau lupa lagi ya?”


“Tidak....aku hanya....”


"Kau tertidur dari sore sampai pagi. Apa kau memang biasa tidur selama itu?”


“Benarkah? Aku tidak tau aku tidur selama itu,” Seeji terlihat malu ”Memang terdengar aneh, tapi aku selalu tidur cukup lama setelah banyak menggunakan kekuatanku.”


--‘Dia...tidak menyadarinya kan?’


Takai sebenarnya menyentuh pipi Seeji secara diam - diam, dia pura pura tidak melakukannya saat Seeji terbangun.


--‘Dia sangat menggemaskan saat tidur...’


“Seeji?”


“Eh...apa?”


“E….etto…..ka... Kapan kita latihan lagi..?”


“Tunggu di halaman belakang, aku akan menyusul."


"Huh? Kau yakin? Bagaimana kondisimu?"


"Aku baik - baik saja, pergilah"


Takai lalu meninggalkan ruangan Seeji. Seeji terdiam sejenak mendengar suara kicau burung dari luar.


“Mungkin sama seperti waktu itu."


--'Tinggal sedikit lagi!’--


Saat itu Seeji tengah belajar mengenai cara menyegel, dia menggunakan botol kaca yang didalamnya berisi air sebagai objek. Dia harus mengambil air didalamnya dengan kekuatannya, dan botol itu tertutup rapat.


--’Fuin!’--


SRIIIING


PRAAANG!


--’Akh!’--


Pecahan kaca melukai tubuhnya. Botol kaca itu tidak kuat menahan kekuatan seeji.


--’Aku...tidak boleh menyerah!’--


Berulang kali dia melakukannya, hanya ada pecahan kaca yang terlempar, pecahan kaca itu bahkan mengenai tangannya dengan goresan yang besar. Dia hanya mencabut kaca itu dan menutup lukanya.


--’Sekali lagi..... FUIN!’--


SRIIIING


Akhirnya dia berhasil. Namun dia tetap merasa kesakitan karena lukanya.


BRUUUK


--’Aku berhasil....Reeji...aku....hah.....’


Seeji hanya menangis dan berharap pertolongan.


--’Siapapun... tolong aku... ini... sakit....”


Seeji lalu tertidur untuk melupakan rasa sakitnya. Membiarkan lukanya menipis dan pecahan kaca pada tubuhnya terlepas dengan sendirinya.


Tanpa ia sadari cahaya matahari yang terselip di jendela ruang bawah tanah membuatnya terbangun.


"Eh...? Apa ini sudah pagi?"


Badannya tidak berdaya dan kurus, juga sisa darah yang telah mengering dan pecahan kaca. Itulah yang dilihat Seeji saat dia bercermin. Saat dia melihat tanaman miliknya, sudah layu dan kering.


"3 hari? 4 hari? Tidak... seminggu... aku pingsan..."


Kekuatan seeji selalu meningkat saat dia tertidur seperti itu. Karena itulah bekas lukanya bisa pulih, setelah Seeji membuka perbannya dan melihat bekas lukanya.


'Latihan Takai sudah cukup, aku harus menyelesaikannya.'


Seeji lalu menuju halaman belakang, dan dia tidak melihat Takai disana.


"Dimana dia? Huh?"


Takai tengah berlari mengitari hutan. Seeji terkejut melihatnya.


"Dia itu..."


Seeji mengambil kayu runcing yang merupakan senjata black petals kemarin.


"Jika keahliannya bela diri..."


SRIIIIING


-----------------


DAAKK


Seeji menahan serangan Takai dengan tangannya, mereka tengah berlatih bertarung jarak dekat.


"Gerakanmu semakin bagus..."


"Kau pun bisa menandingiku, Seeji!"


SYUUUTS


Takai menggunakan kakinya untuk membuat Seeji terjatuh, Seeji menghindarinya dan lalu menghentikannya.


“Cukup, tanganmu sudah lebih lihai sekarang.”


“Aku tidak pernah merasa begitu bersemangat!”


"Waktu itu, kau bilang kau pencari kayu bakar?"


"Ya...aku selalu membantu ibuku mencarikan apa yang dibutuhkannya di hutan... Oh ya! Orang yang menyerangmu itu, aku pernah melihatnya hampir memotong tangannya sendiri dengan kapak!"


"Yah...pasti hoseki hitam menguasainya saat dia putus asa."


"Eh?"


"Kemampuan mengendalikan emosi juga penting untuk petals, agar energi yang dikeluarkan bisa dikendalikan dengan stabil."


"Ehm...kau benar..."


Takai meregangkan kedua tangannya.


"Takai, kau tahu? Setelah kupikir lagi, kemampuan dari hoseki hitam adalah mengendalikan sesuatu dengan kemampuannya."


"Benarkah?"


"Musubime si penjahit handal mengendalikan pekerjanya, dan pengembara itu mengendalikan binatang... tapi..."


"Apakah black petals kemarin mengendalikan pohon sebagai penebang pohon?"


"Entahlah... apakah dia dikendalikan kuroseki untuk menyerangku...."


"Itu bisa saja terjadi, Seeji..."


“Mungkin aku sudah dapat menyimpulkan, kekuatanmu yaitu pelindung dan bela diri. Kupikir kau cocok dengan senjata jarak dekat.”


"Eh? Senjata?"


"Untuk berjaga - jaga jika seseorang seperti waktu itu menyerangmu. Kau biasa menggunakan kapak?"


"Tentu saja! Memangnya aku menebang pohon menggunakan apa?"


"Kau bisa saja hanya mengambil batang kecil dengan pisau kayu..."


"Hem... iya juga sih..."


"Ambil ini.”


Seeji melempar sebuah kayu berukuran panjang pada Takai.


“Ini 'kan tongkat kayu biasa!?”


“Kayu ini kuat, aku sendiri yang membuatnya. Kau sering menebang kayu kan? Tapi kayu ini berbeda."


Bentuknya seukuran tombak dengan ujungnya yang sedikit lebih besar. Yang membedakan kayu ini adalah warnanya yang sedikit lebih hitam dan tekstur yang lebih padat.


"Hm? Ini bukan kayu jati ataupun sejenisnya kan? Terlihat kuat tapi tidak begitu berat..."


"Itu berat tau."


"Masa?"


"Kurasa kau tidak akan kesulitan jika.. "


"Ini bagus sekali! Aku menyukainya, terima kasih Seeji!"


Seeji terkejut Takai malah berterima kasih padanya.


"Eh? Kenapa?"


"Salurkan kekuatanmu ke kayu itu dan kayu itu akan jadi milikmu.”


“Baiklah... lalu?”


“Kau akan melihat perkembangannya. Kau percaya, senjata penembakku ini awalnya hanya pistol dari kayu?”

__ADS_1


“Eh?”


“Pisauku juga awalnya hanya tongkat besi yang kupatahkan jadi dua.”


“EEH?!”


“Semakin lama, benda itu akan menyatu dengan kekuatanmu jika kau sering menyalurkan hoseki pada benda itu. Dan tidak lama kemudian benda itu akan bertransformasi sesuai dengan kegunaannya. Karena aku memiliki dimensi, aku bisa menyimpan senjataku disana dan memunculkannya kapanpun kumau. Seperti ini.” Seeji lalu menunjukkannya.


“Oh...hebat..”


"Tapi ada pula senjata yang dibuat secara mendadak, seperti peluru dalam pistolku atau pelindungmu."


"Eh? Berarti kau membuat pelurumu ketika kau mengarahkannya?"


"Untunglah kau mengerti. Kekuatan kita terbagi 2 macam. Ada kekuatan yang disalurkan secara langsung dan tidak langsung. Kekuatan yang disalurkan secara langsung contohnya fuin, dan kemampuan pelindungmu. Kekuatan yang disalurkan secara tidak langsung contohnya dengan menggunakan senjata”


“Engh... teori yang panjang... benar -benar… tidak bisa dipercaya.”


“Tapi itu benar. Aku bisa memiliki dua senjata, tapi aku tidak tau apa bisa lebih dari itu.“


“Hmm...iya..iya ngerti...” Takai mengangguk paham.


"Kalau kau mau kau bisa mencari senjata lain..."


"Ah...kupikir satu juga cukup... siapa tau bisa bertransformasi menjadi senjata yang hebat setelah sering kugunakan..."


“Kelihatannya kau lebih mengerti jika kujelaskan daripada membacanya sendiri.”


“Membaca buku milikmu itu tidak mudah, kalimatnya sedikit dan tidak dijelaskan secara rinci…”


“Aku sudah menuliskan catatan di buku itu ya kan?”


“Memang sih tapi tulisanmu juga jelek, jadi tidak terbaca.”


“Apa?!”


Seeji tersinggung dengan kritikan jelas itu.


“Hanya bercanda…. baiklah, selanjutnya apa?” Takai memilih mencari aman dan mengalihkan pembicaraan.


“Kau punya dua permata, harusnya kau punya satu kemampuan lagi." Seeji membuka buku miliknya.


“Apa satu lagi?”


"Sama halnya denganku. Karena aku memiliki 2 permata, kemampuanku memiliki jumlah lebih banyak, fuin, teleport, senjata jarak dekat dan jauh. Berarti kau pun pasti masih punya setidaknya satu lagi..."


Seeji membuka halaman buku yang sempat disalurkan hoseki milik Takai.


“Ketika ingatan akan seseorang dalam pikiran, merubahmu menjadi orang lain...?”


“Haah?”


“Entahlah yang tertulis disini seperti itu.”


“Ehhh….sudah kubilang kan, sulit dimengerti.”


“Benar juga....”


“Jadi, bagaimana?"


"Apa kau merasa yakin dengan kemampuanmu? Takai?"


"Huh..? Te..tentu saja aku harus yakin!!"


“Apa kau ingin bertarung denganku?”


“Bertarung?”


“Di sekolah, saat akan lulus kau pasti melakukan ujian kelulusan dulu iya kan?”


"Ya, benar."


“Aku akan menganggapmu lulus kalau kau sudah dapat mengalahkanku."


“!!”


“Bagaimana?”


Seeji bertanya dengan ekspresi serius. Takai lalu terdiam sejenak.


“Baiklah!”


Akhirnya ia mengencangkan ikat kepalanya dan menjawab dengan lantang. Seeji lalu berhadapan dengan takai.


“Aku akan menggunakan gaya bertarungku seperti sedang melawan pemilik permata hitam, jadi persiapkan dirimu.”


“Baik! Aku siap.”


Seeji lalu bertekuk lutut


--"Eh? Dia tidak langsung menyerang? Kenapa..."


“Tuanku, saya adalah battle waiter. Saya menyajikan pertarungan yang pasti akan memuaskan untukmu. Maukah anda menerimanya?”


Seeji memperlihatkan senyuman menantangnya pada Takai. Kata - kata yang sopan namun menggertak.


--"Seeji terlihat berbeda, apa dia Seeji yang kukenal?" Dalam batin Takai


“Tentu saja, dengan senang hati.”


“Baiklah saya akan langsung ke hidangan pembuka.”


Seeji menggunakan kemampuan teleportnya dan menembak takai dengan pistolnya saat ia ada di belakangnya. Takai menangkis peluru seeji dengan tongkat kayu miliknya, dia menggunakannya seperti perisai. Mereka melakukannya berulang kali sampai akhirnya Takai lengah dan Seeji tepat ada di depannya mengacungkan pistolnya.


Seeji mengganti pistolnya dengan 2 pisau di tangannya. Seeji menggunakan tipe jarak dekat.


"Bohong! Dia bukan Seeji kan? Dia sangat berbeda dan, sangat kuat.” Dalam batin Takai


Seeji terus mendorong Takai dan menyerangnya, ekspresinya tidak menunjukan kesulitan sedikitpun dengan matanya yang tetap fokus pada target. Takai lalu memutuskan untuk bersembunyi sejenak.


“Percuma saja bersembunyi, tongkat kayumu memiliki sedikit kekuatanku, aku merasakannya.”


‘Ch...apa yang harus kulakukan...’


Seeji terlihat sangat serius ingin membunuhnya. Takai lalu mengingat setiap penjelasan Seeji tentang kekuatannya.


“Kau disana...!”


TRAAK


“Apa?!”


Seeji hanya melihat tongkat kayunya saja, Takai sebenarnya sengaja meninggalkan tongkat kayunya untuk mengecoh Seeji.


“Di belakang!”


“!!”


Takai lalu menyerang Seeji dari belakang dan Seeji terdorong cukup jauh. Takai tidak menggunakan senjata apapun, dia hanya mengandalkan kemampuan beladirinya.


“Bagaimana? Battle waiter? Kemampuanku belum seberapa sih...”


“Apa...!?”


DAAAAK!


Takai melepaskan pukulannya ke arah tangan Seeji. Seeji terkejut melihat Takai. Saking terkejutnya Seeji lengah dan dia terhempas cukup jauh.


“Hhah...hah..”


“Seeji?”


“Ahahahaha!....tidak bisa dipercaya..!!”


Seeji tertawa, dia tertawa cukup keras.


“Apa, yang lucu? Heh? Kenapa tanganku terlihat kecil? Suarakupun terdengar aneh...”


“Maksud dari buku itu ternyata ini ya? sepertinya saat bersembunyi kau memikirkan aku...”


Seeji menyeka air matanya karena tertawa.


“Maksud, dari? Eh? EEEHH!!”


Takai melihat ke kaca jendela rumahnya, dia berubah menjadi Seeji. Bahkan pakaian dan rambutnya berubah, yang tidak berubah hanya jiwa dan kemampuannya saja.


“Tapi pertarungan belum selesai.”


-----------------------


Latihan selesai, pertarungan dimenangkan oleh Seeji.


“Cara bertarungmu cukup aneh….”


Tubuhnya kotor dengan tanah, Takai masih terbaring ditanah setelah diajari secara beruntun oleh Seeji.


“Selama ini orang orang yang memiliki hoseki hitam lebih tua dan jauh umurnya dariku. Hoseki hitam ada di tubuh orang dewasa karena anak - anak cenderung memiliki fisik lemah. Jadi aku tetap menerapkan rasa hormatku pada orang yang lebih tua. Aku tidak bermaksud membunuhnya, tapi aku membunuh hoseki hitam yang ada pada dirinya.”


“Maksudmu menyegel kan?”


“Yah…seperti itulah. Agak sulit melakukannya karena khawatir orang itu akan terbunuh juga, tapi hoseki hitam akan menyembuhkan seluruh luka saat lepas dari pemilik aslinya karena menjadi hoseki putih, dan pemiliknya akan tidak sadarkan diri selama beberapa jam.”


“Aku mengerti...”


“Setelah orang itu kehilangan hoseki, dia tidak akan ingat apapun tentang hoseki ataupun aku. Dia hanya ingat saat sebelum hoseki menguasai dirinya. Itupun tergantung seberapa dalamnya ingatan tersebut.”


“Menghapus ingatan...”


“Hoseki hitam biasanya memanfaatkan kebencian dalam hati seseorang lalu mengembangkannya."


SYUUSH


Seeji menghilangkan dimensi yang dibuatnya.


"Pernah, ketika saat itu... setelah black petals kusegel, dia bunuh diri."


“Ehh! Tapi..."


"Dia... memintaku membunuhnya, tapi...."


"Kau tidak akan melakukannya kan?"


"Karena ia tidak akan punya tujuan lagi setelah hoseki itu hilang..."


--'Begitu...'


--'Lalu bagaimana denganku?'


Takai berpikir dalam benaknya.


"Itulah sebab hoseki hitam tidak berguna sama sekali."


Seeji lalu menatap Takai yang masih duduk ditanah.

__ADS_1


“Mungkin, hanya ini yang bisa kuajarkan padamu, Takai.”


"Seeji?"


"Untung saja lukaku cepat tertutup, jadi aku bisa melanjutkan perjalananku.”


“Eh...? Kau akan pergi? Kau yakin?"


Takai terlihat cemas, sepertinya dia tidak ingin Seeji pergi.


“Seeji!”


“Hm? Ada apa?”


"Kau yakin lukamu baik - baik saja? Kau bilang serangannya hampir menembusmu bukan?"


"Apa kau tidak menyadarinya? beberapa detik yang lalu kau baru saja melihatku bertarung."


"Tapi...itu terlalu cepat..."


"Aku blue petals, hosekiku bisa membantu recovery fisikku lebih cepat."


"Be...begitu..."


"Lalu?"


"Tidak... hanya saja... yah... kau sangat... Hebat, dalam bertarung..”


“Jadi?”


“Perjalananmu itu berbahaya, kau bisa saja menyiksa dirimu sendiri atau melukai orang lain. Apa kau tidak masalah dengan itu?”


“Masalah?"


“Dan kau melakukan semuanya sendiri... benar kan?!”


“Tenang saja, aku akan pergi besok pagi jadi kau tidak akan terganggu.”


“Eh..! Bukan begitu...“


Seeji mendekati lawan bicaranya.


“Katakan.”


“I..itu"


Dia memandang Takai, lalu membuka dimensi level 1.


"Ini dimensi dimana aku mengumpulkan hoseki hitam."


Takai berdiri lalu melihat hoseki hitam yang mengelilingi hoseki biru dengan cahaya putih. Jumlahnya puluhan. Ia tercekat.


"Berapa pertarungan yang kau lewati...Seeji?"


"Aku hanya ingin menghentikan semuanya agar tidak bertambah."


Takai terhenyak. Seeji lalu menghilangkan dimensinya dan memasuki rumah Takai.


'Apa yang harus kulakukan sekarang...'


------


Malam pun tiba. Seeji masih menyiapkan perlengkapannya dan Ibunya Takai menghampirinya.


“Seeji, kau tetap pergi?” Ibunya Takai menemuinya.


“Yah, begitulah.”


“Aku yakin Takai ingin kau tetap bersamanya. Maukah Kau membawa Takai bersamamu?”


“Membawa Takai?”


“Takai menjadi berbeda saat bersamamu. Dia jadi banyak bicara dan tidak menghabiskan waktu di dalam rumah lagi. Dia seperti kembali saat sebelum ayahnya tiada.


“Saat Takai kehilangan ayahnya dan menyadari kekuatannya, dia menjadi sangat berbeda. Tapi dia kembali menjadi dulu lagi setelah menyelamatkanmu. Bagaimana? Kau ingin membawanya?”


Seeji agak khawatir dengan tawaran ibunya Takai dihadapannya itu. Tapi, Seeji memang berniat membawa Takai bersamanya.


“Bagaimana dengan konsekuensinya?”


“?”


“Apa yang akan terjadi pada Takai kedepannya..”


“Seeji, kau tahu? Setiap orang tumbuh dan berkembang dengan perubahan di sekitar mereka. Jika Takai tetap berada disini, takkan ada yang berubah dalam dirinya..”


“Kau benar...”


"Jadi bagaimana?”


“Awalnya aku memang berniat minta izin padamu untuk membawanya.”


“Tentu saja aku mengizinkannya, sejak dia lulus akademi pendidikan umum, dia hanya membantuku bekerja di klinik sebagai pesuruh, tanpa pernah mendekati ruang rawat, apalagi ruang operasi... padahal pegawai yang dulu bekerja di rumah sakit masih membantuku."


“Dia pasti mengalami trauma.”


“Kau benar. Aku tidak menyangka dia bisa membawamu yang terluka parah dan bersimpuh darah seperti waktu itu. Saat kau sudah kuobati, dia masih gemetar karena darahmu yang ada ditangannya.”


“Eh?”


“Aku pun tidak tahu... Kenapa dia bersikeras menolongmu waktu itu..”


“Aku yakin trauma itu akan hilang seiring waktu.”


“Bagaimana denganmu? Apa ada sesuatu yang selalu mengganggu pikiranmu?”


Seeji terhenyak.


--'Kau ingin menjadi target, atau membunuh target?'


--"Tidak, dia tidak akan kembali. Aku tidak perlu cemas."


“Tidak juga. Dalam pikiranku hanya ada tujuan untuk melepaskan hoseki hitam dari orang - orang. Aku tidak berpikir untuk melakukan hal lain.”


“Apa ada seseorang yang kau sayangi atau seseorang yang selalu kau pikirkan?”


Seeji terdiam mendengar pertanyaan ibunya Takai.


--"Nee - sama!"


--"Sejauh ini aku hanya berjalan sendirian...Reeji.."


“Yah...aku hanya menyayangi adikku. Aku meninggalkannya saat usianya 10 tahun."


“Bagaimana dengan orang tuamu?”


Seeji terdiam. Nampak jelas ia tidak tahu apapun tentang hal itu.


"Maaf, aku telah menanyakan hal yang tidak seharusnya..."


Ibunya takai merasa bersalah telah bertanya. Dia tampak merasa kasihan dengan Seeji.


“Seeji... aku yakin kau akan tahu. Mereka pasti pernah sayang padamu, maka kau harus menyayangi mereka.”


“Bagaimana caranya? Aku bahkan tak pernah bertemu mereka.”


“Hati akan selalu terhubung. Tenang saja.”


Kata - kata seorang ibu tunggal ini membuat Seeji sedikit tersenyum.


“Kuharap kau benar.”


--"Aku bahkan tidak pernah berpikir tentang orangtuaku..."--


--------


Pagipun tiba, Seeji sudah siap untuk pergi dan berpamitan kepada ibunya takai.


CKLAK!


Tiba - tiba Takai datang dengan pakaian berompinya yang sudah siap dan tongkat kayunya yang terbungkus kain.


“Ah, Takai, kau sudah siap rupanya.”


“Ibu? Sudah tau aku akan pergi?”


“Tentu saja, aku kan ibumu...!"


“Eehh!?”


“Mau tidak mau kau harus ikut denganku, kau kan belum lulus tes.” Seeji memandang Takai dengan Senyuman merendahkannya


“See...ji!”


“Seeji, tolong jaga dia ya, meskipun dia agak keras kepala.”


“Ibu!”


“Baiklah, aku pamit.” Seeji lalu menuju pintu depan dan mengenakan sepatunya.


“Seeji, tunggu!”


“Tunggu sebentar, Takai” Ibunya memanggilnya.


“Ya?”


Ibunya mendekatinya dan memegang pundaknya.


“Takai, Semenjak ayahmu pergi, kau hampir kehilangan dirimu, dan membiarkannya hilang begitu saja....tapi kini Ibu yakin Seeji akan membantumu menjadi dirimu yang sesungguhnya. Jaga dia. Dan jaga dirimu juga.”


“Apa ibu yakin akan baik - baik saja?”


“Masih banyak orang yang membantu ibu, ibu yakin akan baik baik saja.”


“Kaa – san.” Mereka berpelukan. Seeji hanya memperhatikan dari luar dan tersenyum hening.


“Hati – hati Takai!”


“Baik! ittekimasu!!”


“Ittekimasu.” Mereka berpamitan pergi.


--Aku Seeji Utsuki. Aku adalah pemilik permata biru berkekuatan penyegel untuk menghentikan hoseki hitam yang menjadi bencana.


--Dan sekarang, disampingku seseorang yang bernama Takai Akari, memiliki hoseki merah dengan kekuatan yang tidak sedikit sebagai seorang penyerang.


“Hei, kenapa kau memandangiku seperti itu?"


“Tidak, bukan apa - apa.”


--"Dia bilang, dia ingin bisa melindungi seseorang dengan kekuatannya yang dulu membuatnya memiliki luka yang besar. Apa dia bisa melakukannya?"


Dari kejauhan, sosok bertudung itu memperhatikan dua orang petals.

__ADS_1


“Sekarang, ada dua orang. Mungkin aku bisa memulai percobaanku. Battle waiter, tunggu saja.”


__ADS_2