
Membunuh adalah perbuatan keji.
Tapi, bagaimana dengan membunuh sesuatu yang ada di dalam diri kita?
Apa ada bedanya? Ataukah sama saja?
----------------------------
Kerajaan Ameytyst, berdiri di atas pulau terpencil dan terbagi atas 5 wilayah yang dibedakan atas fungsinya. Daerah Ameytyst, adalah daerah milik kerajaan, digunakan untuk kepentingan militer dan kastil; Kota kristal, sebagai wilayah dari pusat kota kerajaan Ameytyst; Obsidis, pusat berdirinya pabrik dan industri; Carnerian, Dataran penghasil Sumber pangan dari buah dan sayur hingga beras; Terakhir daerah Azurite, tempat berkumpulnya para pencari hasil laut.
"Sungguh kerajaan yang begitu luas.... Kau telah memberikan informasi yang menarik."
Seeji menembakkan peluru segel pada targetnya. Seorang Black Petals yang mencari harta di tanah perbatasan Azurite dan Carnerian. Dia adalah penjelajah hutan, dan dengan hoseki hitam ia bisa mengendalikan binatang, seperti menjadikan burung sebagai matanya, dan binatang liar sebagai senjata.
"Harta itu hanyalah omong kosong. Kau telah tertipu oleh perasaan ambisi."
"Lalu untuk apa kekuatan ini hah?!"
Dia mengangkat tangannya dan mengendalikan sekelompok beruang hutan untuk menyerang Seeji.
"......."
Seeji menunjukkan wajah marah, lalu menghindari serangan makhluk ganas itu sambil menyelesaikan penyegelan.
"Sudah kubilang kau telah ditipu!!"
SEAL
"FUIN!!"
-------------------
TEPP TEPP
Langkah yang berat juga lambat dari seorang Blue petals, Seeji termenung sambil terus berjalan. Dengan menahan darah di tangannya karena terkaman hewan buas itu.
“Berapa lama... Aku berjalan?”
BRUUUK
Pada akhirnya Seeji memutuskan untuk duduk dan beristirahat sejenak sambil bersandar di sebuah pohon besar.
“Saat ini kau sudah mendekati bahaya, sebaiknya kau berhati hati....”
'Apa maksud dari perkataannya itu?'
Seeji melihat tangannya penuh dengan darah yang telah mengering, namun tak ada satupun luka yang masih terbuka.
‘Tidak kusangka.... aku telah melewati sepertiga dari pusat kota. Terkadang pemilik hoseki hitam bukan orang yang bisa kudekati begitu saja, aku harus menyamar sebagai pelayan ataupun pendamping seorang saudagar kaya... tapi...’
Seeji lebih sering menyamar sebagai pelayan atau asisten. Apalagi, dia selalu menyelipkan kata hidangan pada saat bertarung.
“Tanpa kusadari... aku sudah mendapat julukan... Battle... Waiter..”
Seseorang yang melayani pertarungan...
Seeji mengangkat tangannya ke arah matahari. Tangannya yang awalnya penuh luka bekas pertarungan sebelumnya telah pulih dengan sendirinya selama dia berjalan.
“Wajah yang lembut dengan bakat yang tidak disangka - sangka. Bagaimana dia menanggapi apapun yang ada didepannya...?”
Suara hutan yang tenang, membuat Seeji berpikir.
“Apakah... yang kulakukan selama ini salah? Hoseki hitam....”
SYUUTTS
Seeji terkejut dengan suara angin yang cepat.
“!!”
DRRAAAK!
Sesuatu berwarna hitam dan tajam menyerang Seeji dari belakang. Seeji sempat menghindar, dan benda itu telah melubangi pohon bekas senderan Seeji tadi.
“Apa itu?”
Seseorang mendekatinya dengan langkah kecil.
“Orang itu.... apa dia mengincarku?”
Seeji langsung menggunakan dimensi level 2, orang itu masuk ke dalam dimensi.
"Hosekinya... kenapa terlihat tidak jelas?"
Seeji melihat orang itu memiliki hoseki hitam yang tidak biasa. Orang itu bertudung dan tidak menampakkan wajahnya. Matanya ditutup oleh kain hitam.
“Apa....?”
SYUUTS!
Orang bertudung itu kembali menyerang Seeji. Meskipun dia menggunakan penutup mata, dia mampu menyerang Seeji tanpa kesulitan. Dia menyerang Seeji dengan sesuatu seperti akar yang berbahaya membentuk pisau sulur panjang berwarna hitam.
“Kau menginginkan kekuatanku?” Orang itu mulai bicara.
“Aku tidak bermaksud untuk memilikinya, aku bermaksud untuk memusnahkannya.”
"Energi bukan suatu hal yang mudah dilenyapkan."
"Apa?"
“Berhati – hatilah, waktu terus berjalan. Dan jika kau tidak menggunakannya dengan baik maka akan sia - sia.”
“Siapa kau?”
“Kau bisa menyebutku Kuroseki.”
“Kuroseki?”
“Ya. Kalau kau mau tahu, aku adalah wadah dari hoseki hitam yang selama ini kau segel.”
“Wadah?”
“Hoseki hitam berbeda dengan hoseki lainnya. Awalnya hoseki hitam hanya ada satu. Tapi hoseki hitam memecah dirinya dan berpencar ke tubuh orang lain. Karena mereka telah berpencar, kekuatan mereka akan berkembang dengan sendirinya.”
“Lalu, apakah kau yang membuat hoseki hitam berpencar dan memasuki orang orang?”
“Wadah membentuk air yang ada di dalamnya bukan? Kau pasti akan segera tahu, aku hanya sekedar mengecek kekuatanmu.”
“Jangan banyak bicara dan biarkan aku menyegelmu dengan tenang.”
“Cobalah... kalau kau bisa."
Seeji menembaknya langsung dengan peluru titik segel. Dia tidak melawan dan peluru yang Seeji arahkan lenyap begitu saja di depan Kuroseki.
"Hah? Kenapa?!"
"Apa kau tahu? Kalau hoseki hitam yang kau segel itu adalah jiwa orang - orang yang telah kubunuh sebelumnya?”
“!!”
Seeji terkejut mendengarnya.
'Berarti... dia adalah pembunuh.'
“Ketika hoseki dimiliki seseorang, dan orang itu telah membunuh orang lain dengan kekuatan hoseki miliknya, maka jiwa orang yang dibunuhnya itu dapat diubahnya menjadi pecahan hoseki yang lain.”
"Apa?!"
'Itukah yang terjadi... pada-?'
Seeji melihat tangannya. Dia teringat ketika tangannya berlumuran darah memegang pisau.
“Apa yang kau lakukan itu tidak ada artinya!” Seeji menyangkal.
“Bagaimana denganmu? Apakah yang kau lakukan selama ini ada artinya?”
“!?”
“Bagaimana dengan orang yang telah kau bunuh sebelumnya?”
“Apa?! Aku tidak-..!”
“Kematian datang karena mereka tidak punya alasan lain untuk hidup. Tidakkah kau mengerti?”
“Kau....!”
Seeji kembali berusaha menyerangnya dengan pisau.
“Baiklah kita hentikan saja omong kosong ini.”
JRAASH!
“Ap...”
“Aku menyebut benda hitam ini black scar, karena kau mendapat luka besar dari benda ini kan?”
Seeji tidak menyadari kalau dia telah tertusuk dari belakang oleh black scar-nya kuroseki. Dia mulai kesulitan bernapas dan darah keluar dari mulutnya.
“AKH!!”
“Kau pikir semua yang kau lakukan ini tidak sia - sia? Baiklah, Terus cari mereka.”
Kuroseki membanting Seeji dan melepaskan black scar miliknya.
'Kurasa.... dia merobek paru - paru dan beberapa pembuluh darahku...'
“Uhk...!”
Darah segar keluar dari mulut Seeji. Kuroseki hanya tersenyum dingin dan berbicara dengan tenang sekaligus tajam.
“Kita pasti bertemu lagi, Battle Waiter.” Kuroseki lalu menghilang.
“Sial…!”
BRUUK
Seeji terjatuh dan mulai merasakan darah mengalir keluar dari lukanya.
'Aku.... akan mati disini? Tidak, aku mungkin akan pingsan dan membiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Tapi aku akan kehabisan darah jika lukanya sebesar ini...’
Seeji gemetar dan berusaha bangkit, namun dia tidak bisa.
BRRUUK
’Dasar payah! Bergeraklah tubuhku! Sial!’
Saat dimensinya hampir hilang, seseorang datang mendekatinya. Orang itu berteriak padanya dan seperti berusaha membangunkannya, namun Seeji sudah tidak punya kekuatan lagi untuk bangun.
“Bertahanlah!”
---------
Sempat terdengar keheningan di pendengaran Seeji. Seeji tidak merasakan apapun, tenggelam dalam lamunannya hingga dia sadar ada di tempat yang aneh.
‘*Dimana aku?’
‘Onee - sama...’
‘Reeji.’
‘Onee - sama*...!’
Seeji berbalik dan melihat adiknya terkurung dalam sebuah permata.
‘*Reeji! Apa yang terjadi padamu?!’
‘Aku... tidak ingin.... Onee - sama... terluka....’
‘Aku akan segera mengeluarkanmu*!’
KRRAAAAK
‘*Onee..sama...’
‘Reej*...’
PRRAAAANG!
Permata yang mengurung Reeji retak dan pecah. Reeji menghilang bersama serpihan permata itu.
“Apa.... apa yang.... hh....”
SRRIIIING
Seeji hampir kehilangan emosinya, kekuatan permata biru meluap dan saat hampir tidak terkendali dia terbangun.
“!!”
Seeji terengah - engah. Dia sadar itu hanya mimpi.
“Ini....”
“Kau sudah sadar?”
Seeji sadar ia berada di atas tempat tidur. Orang yang menyelamatkannya adalah orang yang menghampirinya tadi. Dan sekarang dia duduk disamping tempat tidur Seeji.
“Kau....”
“Namaku Takai, apa ada masalah?”
“Kau yang... menyelamatkanku?”
“Ya, aku yang membawamu ke sini. Bukannya berterima kasih kau malah lupa dengan orang yang menyelamatkanmu.”
“Kenapa kau menyelamatkanku?”
“?”
’Jangan selamatkan aku! Biarkan aku mati terbunuh, itu pantas untukku sebagai seorang......’
“Apa salah aku menolong orang yang sekarat dan terbaring di tengah hutan?”
“Ah?”
“Tidak ‘kan...”
“Benar.... kah?”
"Aku hanya sedang mengumpulkan kayu bakar, dan tiba - tiba saja, aku melihatmu terkapar di tengah hutan. Mana bisa seseorang kubiarkan tidak sadarkan diri di tengah hutan dengan hewan buas yang bisa memakannya kapan saja? Benar 'kan?"
Seeji terdiam. Akhirnya dia sadar kalau seseorang telah menyelamatkannya.
“Hei, kau masih setengah sadar ya?”
“Ehm, kalau begitu, teri.. ma.. ka..” Seeji nampak terkejut. Seeji sadar pakaiannya berbeda dari sebelumnya.
“Hm? Ada apa?”
“Bukan kau kan...?” Seeji memandang Takai curiga. Dia tampaknya memikirkan sesuatu yang aneh.
“Jangan berpikir yang aneh - aneh! Tenang saja, yang mengobatimu itu ibuku, bukan aku, jika memang aku yang mengobatimu kenapa? Kau tidak pernah mendengar tentang dokter laki - laki?”
“Aku ragu kau bisa mengobati orang lain.”
“Kau meremehkanku! Berterimakasihlah aku menyelamatkan nyawamu!”
Setelah itu ibunya Takai datang, dia lalu memeriksakan keadaan Seeji.
“Untunglah Takai datang menyelamatkanmu. Kalau tidak, kau pasti sudah kehabisan darah.... beristirahatlah”
Ibunya Takai lalu pergi setelah memeriksakan keadaan Seeji.
“Hmmh...” Takai memperhatikan mata Seeji .
“Ada apa dengan tatapanmu itu?”
“Tidak, hanya saja matamu...”
‘Mataku.... ada apa dengan mataku...?’
“S.. seperti... permata.”
JTAAK!
“Jangan menggodaku seperti itu." Seeji menjitaknya.
“Apa salahnya memuji?! Dan kau malah memukulku!” Takai terlihat kesal.
“Sebenarnya bukan itu yang ingin kutanyakan.”
Takai bertanya pada Seeji tentang suasana aneh saat dia ada di dekat Seeji yang sebenarnya adalah dimensi. Saat berada dalam dimensi level 2 suasananya menjadi berbeda dari aslinya dan orang yang tidak memiliki permata menghilang. Takai memasukinya.
“Kau... melihatnya?” Tentu Seeji terkejut.
“Sudah kuduga kau ada hubungannya dengan itu! Tolong jelaskan!”
‘Apa dia orang biasa yang masuk ke dimensiku? Tapi kupikir itu tidak mungkin karena tidak pernah ada orang biasa yang memasuki dimensi...’
“Kau dengar tidak? Hei!”
‘Ataukah dia adalah salah satu pemilik pecahan hoseki hitam? Tapi tidak mungkin pemilik pecahan hoseki hitam menolongku jika memang mengincar nyawaku seperti Kuroseki....’
“Hei? Kau baik - baik saja?”
Takai melambaikan tangannya pada Seeji yang melamun. Seeji menatapnya, lalu membalas Takai.
“Seperti... ini?”
SRRIIIING
Seeji memperlihatkankan dimensinya pada Takai dan membuat takai masuk ke dimensi level 2.
“Ini....!”
SYUUTS
Seeji langsung menodongkan pistolnya pada Takai.
“Kau! Apa yang kau...”
DHOOOR!
Seeji lalu menembaknya. Namun sesuatu seperti pelindung melindungi Takai, warnanya merah.
“I.. itu..”
Ternyata Takai bukan pemilik pecahan hoseki hitam, melainkan pemilik hoseki merah.
“Ternyata seperti itu. Aku mengerti.”
Takai terkejut melihat peluru yang dihindarinya ada di tangannya tanpa luka sedikitpun. Ada sinar berwarna merah yang melindungi tangannya.
“Apa....?”
“Tentu saja kau mampu masuk kedalam dimensi level 2 ku, karena kau memiliki permata.”
“Permata...?”
“Kau pemilik permata merah.”
Seeji memperlihatkan permata birunya pada takai. Takai yang masih tidak tahu apapun tentu terkejut melihat hoseki berwarna biru bersinar diatas tangan Seeji dengan bentuk bagaikan kelopak bunga yang indah.
’*Hoseki memiliki warna layaknya pelangi, mereka mengikuti kemana hoseki hitam pergi, dan hanya ada beberapa dari mereka yang akan bertahan pada suatu periode.’
'Itulah yang buku itu katakan. Buku yang membantuku mengendalikan kemampuanku, buku yang kutemukan bersamaan dengan ruang bawah tanah. Hoseki hitam menyusuri waktu dan datang di masa kini, dan hoseki berwarna mengikuti perginya hoseki hitam.
'Dan itu artinya, pemilik hoseki berwarna sepertiku tidak hanya aku saja, karena dijelaskan ada 7 warna bagai pelangi dalam hoseki.
'Tapi belum tentu semua hoseki itu akan sampai pada periode saat ini, periode dimana hoseki biru adalah penyegel*.'
“Itu....”
“Keluarkan permatamu.”
“Apa!? Aku..tidak..”
“Haah, kau ini...”
Seeji menarik tangan Takai lalu menyentuhnya.
'Tangannya agak kasar, kelihatannya dia tidak asing dengan alat berat.'
Seeji lalu menyalurkan sedikit kekuatannya.
“Hh.... hh....” Seeji bernapas pelan.
SRIIIING
Takai merasa sangat tenang saat kekuatan Seeji ada di tangannya. Entah kenapa dia terus memandangi Seeji saat cahaya mulai berputar di tangannya. Permata merah pun keluar dari tangannya.
“Ini... apa ini...?”
“Hoseki. Karena inilah kau bisa masuk dimensiku dan bertahan dari peluruku tadi.”
“Dimensi? Maksudmu... suasana aneh ini ..?”
“Lokasinya memang tidak berpindah, tapi sekarang tempat kita berbeda dengan tempat ibumu berada sekarang. Kekuatan ini pasti sudah lama ada padamu. Tapi kau tidak pernah menyadarinya?”
“Eh?”
“Biasanya hoseki akan aktif pada beberapa saat tertentu. kau benar benar tidak tahu apapun tentang kekuatan legenda ini?”
“Aku...”
DEGH
“Kh..!”
Sesuatu yang mengerikan tersirat di benaknya, Takai langsung mengepalkan tangannya dan hoseki menghilang.
“Bagaimana caramu mengendalikannya?” Takai bertanya pada Seeji.
“Belajar sendiri.”
"Gak mungkin!”
“Memang seperti itu.”
Takai terdiam sejenak.
“Apa aku.... bisa mempercayaimu..?”
__ADS_1
Seeji melirik Takai yang kelihatannya masih tidak percaya dengan apa yang ada ditangannya tadi.
“Soal apa?”
“Kekuatan ini.... apa aku bisa menggunakannya untuk... mencegah orang lain terluka...”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Apa yang kau lakukan dengan kekuatan ini? Kau tidak menggunakannya untuk sesuatu yang buruk bukan?”
Seeji agak terkejut mendengar perkataan Takai. Mengingat dia baru saja berbicara tentang kematian dengan kuroseki.
'Kau ingin menjadi target, atau mencari target?'
Teringat sebuah kalimat di benaknya, Seeji mengalihkan pandangannya dari Takai.
“Aku hanya tidak ingin kekuatan lain yang lebih buruk mempengaruhi banyak orang. Aku mencoba menghentikannya sebisaku, dengan kekuatan ini.”
Seeji lalu memandang Takai dengan tatapan khasnya.
“Apa itu cukup?”
Mendengar jawaban Seeji, Takai menarik napas agak keras.
“Kalau begitu...”
Takai lalu membungkuk.
“Ajari aku!”
Seeji terkejut melihat Takai tiba - tiba menunduk.
“Aku tidak mau kekuatan ini sampai menyakiti orang lain, setidaknya... Aku bisa menggunakan dan mengendalikannya....”
Seeji terdiam sejenak.
‘*Dia...
'Hoseki merah belum pernah ia gunakan sebelumnya tapi*...'
Seeji lalu memberikan buku tentang permata miliknya kepada Takai.
BRUUG!
“Egh, buku...apa ini!? Berat!”
“Aku belajar lewat buku itu. Salurkan kekuatanmu ke buku itu dengan cara membayangkannya. Pelajarilah sampai aku sembuh.” Seeji lalu kembali berbaring.
“Hei! Tunggu dulu! Bukankah buku ini terlalu tebal! Dan kau belum memberitahuku namamu...” Takai terkejut melihat Seeji sudah tertidur.
“Gadis aneh..”
SRAAAK
'*Benarkah dia Red Petals?
'Apa dia akan menerima hoseki begitu saja?
'Seseorang yang telah dipilih oleh hoseki berwarna untuk melanjutkan pertarungannya dengan hoseki hitam. Ditakdirkan sebagai petals, petarung dengan kekuatan hoseki dalam legenda*....
'Itukah tujuan kami sebagai petals yang telah terpilih? Tapi kenapa?'
Seeji memikirkan banyak hal selama tertidur. Dan saat Seeji terbangun, Seeji melihat Takai tertidur di sebelah tempat tidurnya.
“Hei.”
“Oh... kau sudah bangun...”
“Kau sudah mempelajari buku itu?”
“Eh, itu... ng...”
Takai memang membuka buku itu, tapi sebenarnya dia hanya membalik setiap lembarnya saja. Takai juga belum menyalurkan kekuatannya ke buku itu.
“Belum ya?”
“Yah sebenarnya belum...”
“Aku menyuruhmu membacanya, bukan tertidur diatasnya.”
“Yah, terserahlah... Eh? Sudah jam makan malam?!”
“Makan malam?”
“Ya... Ikutlah makan bersama kami, kau pasti harus makan kan...”
Seeji agak terheran dengan ajakan Takai.
’*Kapan terakhir aku makan...?’
’Aku tidak ingat karena aku hanya meningkatkan kemampuan hosekiku meskipun tanpa asupan makanan*....’
Mereka lalu masuk ke dapur dimana ibunya Takai sudah menunggu di meja makan.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Lumayan... tapi aku masih belum bisa banyak bergerak...”
Takai menuntun Seeji ke arah meja makan.
“Kau tidak akan menyesal makan bersama kami, masakan ibuku adalah yang paling enak!”
“Takai, sebaiknya kau segera makan juga”
"Ah, baiklah.. Ittadakimasu!”
“Ng... ittadaki... masu...” Seeji mulai makan.
“Bagaimana?”
“Ini...sangat lezat...”
“Terutama onigirinya!”
“Takai, terima...”
“Oh ya, aku belum mengetahui namamu. Siapa namamu?” Ibunya memotong pembicaraan Seeji.
“A... aku...” Seeji agak ragu.
“Hm?”
‘*Aku dikenal dengan julukan Battle Waiter... tapi...
'Tidak, aku tidak perlu mencemaskan itu... aku*...’
“Aku... Seeji Utsuki.... anda bisa memanggilku Seeji...”
“Hm, serapan bahasa luar?”
“Benarkah?”
“Sage, kau tahu?”
“O..oh...”
“Kalau begitu, Seeji, disebelahkananmu itu anakku, Takai Akari dan aku ibunya..”
“Ng.... salam... ken....”
“Kau pasti gugup didepan orang keren ini kan?”
Seeji memandang tajam Takai.
“Eh... ano...”
“Salam kenal. Akari.”
“Tidak, panggil saja aku Takai.”
“Takai...”
“Takai, jangan membuatnya canggung begitu...” Ibunya Takai menegur.
“Eh, aku kan hanya bersikap normal...”
Takai mengambil kecap. Tapi yang dia ambil adalah kecap bumbu wasabi.
“Selain itu aku jarang sekali melihat seorang gadis seperti dia..”
Takai tanpa sadar menuangkannya terlalu banyak.
HAP
“Bwaaah! Pedas!! Air!!!”
“Takai, kau ceroboh sekali....”
“Ibu! Jangan menertawakanku!”
“Seeji, tolong bawakan air di sebelahmu.”
Seeji menuangkannya ke dalam gelas.
“Ini.”
“Berikan!”
Takai meminumnya dengan cepat sampai tegukan terakhirnya.
“Pedes... banget....”
“Yang kau ambil adalah bumbu pedas, bukan kecap manis... hahahaha...”
“Ibu! Jangan buat aku malu di depan orang lain....”
Seeji tersenyum kecil melihat mereka. Dia merasakan sesuatu yang berbeda saat dia sedang makan bersama Takai dan ibunya dibandingkan makan sendiri seperti yang dulu sering dia lakukan di ruangannya.
'Ya... dulu aku sendirian... dan apakah setelah sekian lama yang aku lewati itu aku tetap sendirian?'
-------
“Takai, tadi itu menyenangkan sekali.”
“Hm? Itu hanya makan malam kan?”
“Aku tidak pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya.”
Seeji tersenyum tenang sambil melihat ke luar jendela. Tanpa sadar Takai memandanginya.
“Hei, kau melamun.”
“Ap-apa!?” Takai terkejut Seeji membuyarkan pandangannya.
“Kau mau latihan? Sebaiknya besok pagi saja.”
“B-baiklah kalau begitu..”
“Ada apa dengan gaya bicaramu itu?”
“Tidak ada apa - apa kok! Selamat malam!”
Takai menutup pintu kamar rawat Seeji. Seeji masih terdiam memandang bulan yang sedang cerah di langit malam.
------
DRAP DRAAP!
“IBU! seseorang membutuhkan pertolongan!”
Takai lalu membawa Seeji ke ruang operasi darurat.
“Hh..hah....”
Takai masih merasa lemas. Darah Seeji masih membekas ditangannya. Tangannya bergetar hebat.
“T... tou... san...”
‘Takai.... kau....’
Takai terbayang sosok ayahnya yang tanpa dia sadari terbunuh di depannya.
‘Tidak!’
SRIIING
‘Eh? Cahaya biru? Cahaya ini selalu muncul di mimpiku... dari mana kau?’
SRIIIING!
Takai melihat bayangan Seeji. Cahaya biru semakin terang dan dia lalu merasakan hoseki merah di tubuhnya.
“Apa aku bisa menggunakan kekuatan ini?”
“Hei kau....”
“Huh...?”
“Hei, bangun! Kau bilang kau mau latihan!”
“!!”
Takai terkejut melihat Seeji yang membangunkannya.
‘Mimpi?’
“Takai?”
”Hei kau! Jangan masuk ke kamar orang seenaknya!”
“Aku sudah minta izin pada ibumu. Sebaiknya kau cepat.”
Seeji dan Takai memutuskan untuk berlatih di halaman belakang rumah Takai. Halaman belakang rumahnya hutan yang cukup luas.
"Klinikmu cukup terpencil dari keramaian ya..."
"Ehm ya... itu...."
"Sudahlah, ayo mulai."
Seeji masih belum bisa bergerak dengan leluasa. Jadi dia hanya duduk dan memperhatikan takai.
“Baiklah... pertama aku akan mengajarimu cara menyalurkan kekuatan pada sebuah benda.”
Seeji memberikan buku tentang permata miliknya kepada Takai.
“Salurkan kesitu. Siapa tahu akan ada deskripsi kekuatanmu yang muncul di buku itu.”
“Sebenarnya ini buku apa? Ini bukan buku biasa kan?!”
“Baiklah, sebut saja buku itu jewel’s book, kau hanya perlu menyalurkan kekuatanmu ke buku itu dan ada kemungkinan penjelasan tentang kemampuanmu muncul disana.”
“Eh? Je...je..apa?”
“Sudahlah, tidak perlu banyak tanya, lakukan."
“Apa... aku bisa melakukannya?” Takai merasa ragu.
“Bayangkan saja.”
“Tapi...”
“Lakukan! Berapa kali aku harus mengatakannya?!” Seeji memaksa Takai untuk melakukannya.
Takai mulai berkonsentrasi sambil memejamkan mata. Beberapa menit kemudian.....
Tak ada yang terjadi.
“Akh! Aku tidak bisa melakukannya!”
“Cobalah terus, kalau kau ragu kau tak akan bisa.”
“Hah.....hmmmhh.............” Takai mencoba melakukannya lagi.
"Tidak perlu bersuara seperti itu."
“Akh! Kenapa susah sekali!” Takai menjatuhkan dirinya ke tanah.
Seeji lalu mencoba melempari Takai dengan batu kecil.
TUKK
“Cepat berdiri atau... aku akan menembakmu."
Takai terkejut melihat Seeji menatapnya seperti iblis dengan senyuman merendahkannya.
“Tiba - tiba iblis ngamuk di siang hari...”
“Apa...?”
“Eehh! Ya! ya!”
Takai lalu berdiri dan melanjutkan latihannya. Seeji terus menerus melemparinya dengan batu kecil.
“Berhentilah melempariku dengan batu!”
“Tapi kau tidak merasa sakit kan? Karena pelindungmu itu”
“Tapi itu mengganggu konsentrasiku tau!”
BRAAKK
Takai menjatuhkan bukunya. Tiba - tiba bukunya bersinar putih, dan setelah dilihat ternyata isinya bertambah dengan beberapa penjelasan mengenai permata milik Takai.
"Eeh??"
“Sudah kubilang kau pasti bisa. Lanjut ke latihan selanjutnya.”
“Aku tidak tau ternyata caranya sangat mudah!”
“Terserah katamu.”
Selanjutnya Seeji mengajari Takai untuk memecahkan kekuatannya. Seeji mengambil dua gelas air dan memberikan segelas kepada Takai.
“Untuk apa ini?”
“Kupikir ini tidak rumit. Perhatikan, akan kuberi contoh"
Seeji menyalurkan kekuatannya ke gelas dan menghempaskannya sehingga air di dalam gelas tersebut mengalir keluar. Takai kagum melihatnya.
"Hoseki memiliki kepekaan terhadap air."
“Waah... kau mengendalikan air... biarkan aku mencobanya!”
“Sebaiknya kau pakai gelas plastik dulu, aku tidak ingin pecahan kaca yang berhamburan kemana mana.”
Takai mencobanya namun yang terjadi malah gelasnya yang terlempar.
SYYUTS
“EH?!”
“Sudah kubilang kan? Berjuanglah, aku akan membaca buku yang baru saja kau jatuhkan.”
Sudah sekian kali Takai mencoba namun hasilnya tetap gagal. Gelas itu terlempar ke berbagai arah sampai hampir mengenai Seeji.
“Baiklah, jujur saja ini tidak mudah.”
“Kalau kau mengenaiku dengan gelas itu...” Tatapan sinis Seeji dengan aura menyeramkan memperhatikan Takai.
“Ba… baiklah, aku akan berhati - hati...”
Tiba - tiba ibunya Takai datang. Dia bilang Seeji harus memeriksakan kembali keadaannya.
“Baiklah, kita istirahat dulu.”
Ibunya Takai lalu mengobati kembali bekas luka di punggung Seeji.
“Jadi, bagaimana kau bisa terluka seperti ini?”
“Eh?”
“Setidaknya izinkan aku mengetahui sebabnya...”
“Hanya…. kecelakaan…”
“Kau pasti menyembunyikan sesuatu, tidak perlu sungkan untuk membicarakannya.”
“Baiklah, sebenarnya ada hubungannya juga dengan Takai.”
“Kau tahu sesuatu?”
“Takai adalah pemilik permata merah. Red petals”
“Hoseki?”
“Anda tahu tentang itu?”
“Aku pernah mendengarnya.... jadi itu nyata?”
“Takai memiliki dua permata, itu berarti dia pernah membunuh seseorang, benar?” Seeji teringat dengan kata - kata Kuroseki waktu itu.
“Ketika hoseki dimiliki seseorang, dan orang itu telah membunuh orang lain dengan kekuatan hoseki miliknya, maka jiwa orang yang dibunuhnya itu dapat diubahnya menjadi pecahan hoseki yang lain.”
BRRAK!
“Bagaimana kau tahu!” Takai yang berbeda ruangan dengannya tiba - tiba masuk dan berteriak.
“Sepertinya kau juga penasaran.” Seeji memperlihatkan senyuman sinisnya pada Takai.
Seeji lalu menceritakan beberapa hal tentang pertarungan hoseki, dan beberapa kejadian yang dia alami.
“Tanpa kusadari, black petals aneh menyerangku dan... beginilah jadinya....”
“Takai....”
Ibunya Takai memanggil Takai yang terlihat cemas. Seeji seperti membongkar rahasianya.
“Maafkan ibu takai, ibu tidak ingin kau mengingat tentang kejadian itu... jadi ibu selalu menutupinya...”
"Ibu.... memang sudah tahu ya..."
__ADS_1
"Ibu tahu itu bukan keinginanmu, Takai...."
Ibunya sudah mengetahui kalau Takai pernah membunuh seseorang, saat umur tujuh tahun Takai melukai tangan ibunya sehingga membuat bekas luka yang cukup besar. Dan pada umur empat belas Takai tanpa sengaja membunuh ayahnya.
“Aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan itu...” Takai terlihat kacau.
“Aku juga memiliki 2 permata, selain itu aku tidak mengenal kedua orang tuaku. Ada kemungkinan aku yang membunuh mereka.”
“Kau! Apa kau tidak pernah merasa bersalah dengan yang kau lakukan itu! Jika benar kau yang membunuh orangtuamu, tidakkah kau merasa sedih! Mereka itu orangtuamu tau!”
Takai marah dan memegang kerah baju seeji. Tanpa sadar Takai mengeluarkan aura merah dari permatanya.
“Takai...” Ibunya mencoba menghentikannya, namun Seeji melarangnya.
“Karena itu, sebaiknya kau kendalikan emosimu agar tak ada seorangpun yang terluka!”
Seeji mendorong dan menjatuhkan Takai. Takai terkejut melihat Seeji berekspresi serius seperti itu.
“Ceritakan yang kau tahu.”
Takai lalu menceritakan semuanya. Ayahnya adalah seorang pemilik rumah sakit terbesar di pusat kota Kristal. Takai tidak begitu ingat bagaimana caranya membunuh ayahnya.
Yang ia ingat, dia melihat darah berceceran di tangannya dan ayahnya yang berada di depannya dengan berlumuran darah. Hal itu membuatnya trauma dan membuatnya takut dengan darah.
Rumah sakit akhirnya kehilangan pemilik dan dijual. Ibunya lalu membuat klinik yang jauh dari pusat kota dan berada di sebuah desa diantara dareah Carnerian dan Azurite dimana mereka berdiam sekarang. Dia tidak ingin membahas lagi tentang kematian ayahnya. Takai kemudian melanjutkan pendidikannya di akademi kecil di Carnerian. Takai tidak begitu banyak berkomunikasi meskipun dia anak yang pandai. Dia menghalang pandangannya dengan sengaja memanjangkan rambut depannya. Dia tidak ingat siapa teman atau orang lain yang mengenalnya. Dia hampir tidak mau keluar rumah.
Takai hampir menangis karena mengingat kembali kejadian terburuknya.
“Kh....”
“Maaf, tapi aku tidak percaya kau bisa mengurung diri hanya karena itu.”
“Apa?!”
“Kau seharusnya senang, kau masih memiliki ibu, masih bisa bersekolah dan mencari teman. Semua yang kulihat hanya yang kubaca dibalik setiap lembar buku. Tentu aku tidak tau bagaimana rasanya memiliki seorang ayah atau ibu ataupun seorang teman yang sesungguhnya.”
“Kau...”
“Selain itu kau memiliki kebebasan untuk melihat dunia luar. Dunia itu luas, tidakkah kau berniat keluar dan mempelajarinya satu persatu?”
“Kau pasti tidak mengerti! Selama bertahun tahun aku merenungi nasibku dan terjebak didalamnya! Apa salahku? Kenapa hal ini terjadi padaku? Kenapa aku harus membunuh orang yang paling kusayangi?” Takai mulai berbicara tidak jelas.
“Takai...” Ibunya mulai cemas
“Kenapa harus seperti ini...siapa saja tolong jelaskan padaku... kenapa kekuatan ini ada padaku dan membuatku menyakiti orang lain....”
“Takai, sudahlah,” Ibunya mencoba mendekat namun Seeji mencegahnya.
'Rupanya ia takut dengan kekuatannya sendiri....'
“KENAPA! KENAPA SEMUA HARUS BERLUMURAN DARAH!? KENAPA SEMUANYA MENJADI MERAH!? KENAPA!? SESEORANG TOLONG AKU!”
Aura Takai mulai berubah, seakan dia mampu menghabisi siapapun. Matanya berubah merah bersamaan dengan warna rambutnya yang semakin menyala.
SYUUTTSS
Tiba - tiba Seeji ada di belakang Takai, dia menggunakan kemampuan teleportnya. Seeji lalu menepuk punggung Takai dan tiba - tiba Takai sadar apa yang dilakukannya.
“Aku...”
“Kau menyia - nyiakan air matamu untuk hal yang tidak perlu. Kalau kau laki - laki harusnya kau lebih kuat dariku.”
Seeji lalu keluar dan kembali ke halaman belakang rumah.
‘Kupikir.... latihan itu akan membantumu. Kekuatan itu telah membuatmu melukai orang lain.... Apa ketika kau menggunakannya kau selalu mengingat kejadian buruk itu?
'Dan lagi... hosekimu yang memiliki kekuatan besar dengan 2 permata tertahan karena emosimu... yang tidak bisa menerimanya... menjadi tidak terkendali.’
Seeji memikirkan apa yang terjadi pada Takai.
'Apakah aku salah jika membangkitkan kemampuannya?'
Takai lalu teringat ayahnya.
‘*Dengarlah, Takai! kau harus menjadi orang yang mampu menolong orang lain! Jangan sia - siakan air matamu karena air mata seorang lelaki sejati akan datang saat ia telah berjuang sekuat yang dia bisa!’
‘Ayah, kalau terlalu banyak bicara, umpan ikan itu akan habis!’
‘Itu tidak ada hubungannya Takai Akari!’
‘Tapi kupikir aku benar, lihat pancingan ayah!’
‘Ah, kau benar.... ahahahaha*!!’
“Waktu itu... saat kami memancing di laut...”
"Takai..."
Ibunya mendekatinya, Takai langsung memeluk erat ibunya.
"Maaf... maafkan aku... ibu..."
"Kau tidak perlu minta maaf... semua memang harus terjadi..."
"Jika aku memang memiliki kemampuan karena permata ini... seperti yang Seeji bilang.... Apa yang harus kulakukan?"
BRRRAAAK!
“!!”
Mereka mendengar suara dari halaman belakang, tempat Seeji pergi tadi.
"Ibu...! Tunggu... ini dimensi?!"
Ibunya Takai menghilang, saat Takai menyadari, Seeji ternyata telah membuat dimensi.
Takai lalu bergegas keluar dan melihat Seeji sudah berhadapan dengan seseorang.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Seeji mulai bertanya pada orang yang menyerangnya.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu, kau menginginkan kekuatan ini bukan?!”
“Sudah kubilang aku hanya ingin memusnahkanya!”
Seeji menembak orang itu dengan pistolnya. Namun Pelurunya meleset, orang itu menghalangi pelurunya dengan kayu yang dia bawa sebelumnya.
“Sudah kuduga... batang kayu..."
Orang itu adalah penebang pohon yang memiliki pecahan hoseki hitam. Seeji dirugikan karena disekelilingnya banyak pohon yang menjadi salah satu keahlian orang itu.
‘Aku tidak bisa membawanya ke dimensi level 1 buatanku, aku tidak punya cukup tenaga. Menyerangnya pun akan sulit... Lukaku belum pulih benar...’
Seeji hanya menangkis dan menghindari serangan orang itu. Takai mencoba mendekatinya, namun Seeji melarangnya.
“Seeji!”
“Bodoh! Jangan kesini! Kau akan terluka!”
“!!”
Takai tiba - tiba teringat masa lalunya saat mendengar kata - kata Seeji yang mirip dengan yang dikatakan ayahnya.
-------------
"Ayah...! Eh...?"
Saat hendak mengetuk pintu, Takai terhenti karena suara orang asing di ruangan ayahnya.
"Putramu adalah pemilik hoseki dalam legenda! Dia punya banyak kelebihan, kita bisa memanfaatkannya untuk mencari harta terpendam tanah pulau ini!"
"Apa? Pemilik hoseki dalam legenda?" Takai bertanya - tanya tentang pembicaraan di dalam ruangan itu.
"Apa kau gila? Dua legenda itu tidaklah nyata! Sekarang adalah masa menuju perkembangan teknologi, dan bukan waktunya untuk mencari hal - hal yang belum tentu keberadaannya seperti itu!!"
"Aku sudah mengawasinya sejak lama, dan tanda bahwa Takai adalah pemilik hoseki sudah jelas! Tidak ada anak yang bisa bertahan dari pelatihan keras yang kubuat selain dia!"
"Eh... apa..?"
"Apa?! Apa yang kau lakukan pada putraku?!"
"Takai bisa menghalau serangan toya dengan pisau tajam tanpa luka lecet sedikitpun.... Dan satu hal yang paling jelas.... ketika aku menjatuhkannya ke dalam api panas, dia tidak mendapatkan luka bakar sedikitpun!"
"Jadi... semua itu..."
"Kita bisa manfaatkan dia untuk percobaan berbahaya!"
BRRRAAK!
"Ayah!!"
Takai akhirnya masuk ke ruangan ayahnya, dan ketika itu ayahnya telah diserang oleh orang yang berbincang dengannya tadi.
"Kau kan...?!"
"Bodoh! Jangan kesini! Kau akan terluka!!"
Orang itu lalu melepas suntikan yang dia gunakan untuk menyerang ayahnya Takai sebelumnya, lalu menuju ke arah Takai.
"Kesempatan!"
Suntikan itu telak menembus dada kirinya, Ayahnya Takai tak dapat menghentikannya karena suntikan dari orang itu yang membuatnya kesakitan.
"Lihatlah sendiri kemampuannya!"
Sama halnya dengan ayahnya, Takai merasakan tubuhnya mulai terasa sakit, seakan ditusuk ribuan jarum dari dalam. Orang itu mengira Takai akan menghilangkan pengaruh obat itu dengan kemampuannya, namun dugaannya salah. Takai menjadi tidak terkendali.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAH!"
Kekuatan hoseki merah meluap - luap, rambut dan matanya berubah warna menjadi merah menyala. Hembusan angin yang kuat datang dari sinar berwarna merah dan menghempas seluruh benda di ruangan itu.
"Luar biasa bukan!! Dia adalah seorang pemilik...!"
Orang itu kegirangan dengan ulahnya, saat dia hendak mendekati Takai, hoseki merah aktif dan mendorongnya menembus kaca. Dia sukses jatuh dari lantai 3 rumah sakit itu.
"Takai... bertahanlah!"
Ayahnya mencoba menghentikan hoseki itu dengan memanggil namanya, namun Takai telah kehilangan kesadarannya dan menghancurkan apapun di depannya. Tapi ayahnya tidak menyerah dan mencoba menyadarkannya dengan pukulan.
"Takai!!"
JRRAAAASH!
Pukulannya menyentuh belakang leher Takai, karena Takai lebih dulu menembus dadanya dengan pukulannya yang dipenuhi energi hoseki merah.
"Hh... Ta..... kai...."
"!!!"
Sentuhan kecil itu membuatnya sadar, tapi saat Takai membuka mata, bercak darah telah memenuhi seluruh tubuh ayahnya didepannya.
"Kau...."
Ayahnya mengatakan sesuatu, tapi Takai tidak memperhatikan karena merasakan darah ayahnya tengah mengalir di tangannya.
SRRAATS
Ketika Takai menarik dan melihat tangannya, hanya terlihat warna merah darah dan kematian ayahnya oleh tangannya sendiri.
Teriakkannya kemudian memenuhi ruangan penuh darah itu.
-----------
“Aku....ingat...”
Takai mencoba mendekati Seeji. Tapi dia teringat traumanya lagi.
DEGG
‘Aku... tidak bisa membiarkan Seeji bertarung sendiri...’
BRRRAAAK!
“Ahk!!”
Orang itu memukul Seeji tepat di bekas lukanya sampai Seeji terjatuh. Seeji kesakitan dan orang itu mencoba menusukkan tombak kayu runcingnya pada Seeji. Seeji lengah, dia tidak dapat menghindar.
“S... sial! Hh...”
‘Aku tidak ingin.... kejadian itu terulang lagi.’
“Jangan pikir kau bisa mengambil kekuatan luar biasa ini dengan seenaknya.... dan inilah akibatnya, kau harus mati dengan sia - sia...”
“Kau tidak mengerti! H..hh... kekuatan itu berbahaya!”
“Aku tidak peduli! MATI KAU! BATTLE WAITER!!”
DAKK!
Takai menahan kayu runcing itu dengan tangannya.
“Takai...”
“MENJAUH DARINYA KAKEK TUA!”
Takai merebut senjata kayunya dan mendorong orang itu cukup jauh, Takai terus menyerangnya dengan pukulan dan tendangan tanpa henti, ditambah dengan mengayunkan senjata kayu itu padanya.
"Tidak mungkin! Siapa orang ini?!"
Saat orang itu lengah Takai siap memberikan serangan terakhirnya, tapi Seeji menghentikannya.
“Sudah... cukup... Takai."
“!!”
SRIIING!
Lingkaran segel berhasil mengikat black petals itu.
“Apa?!”
“Saat terjatuh tadi, aku menyayat pisauku untuk memberi titik segel. Kau tidak menyadarinya?”
“Sialan kau!!”
Seeji lalu menyegel orang itu dengan kemampuan fuinnya.
“Manusia yang menginginkan kekuatan.... dan hoseki kegelapan yang mengambil cahayanya.....Terpisahlah!”
SEAL
“FUIN!”
SRIIIIIIING!
Hoseki hitam lalu tersegel. Seeji langsung terduduk lemas.
“Seeji!”
Takai segera menahan tubuh Seeji.
“Benar - benar.....”
“Seharusnya kau tidak memaksakan dirimu seperti itu!”
“Tapi kau jadi tahu kemampuanmu kan?”
“Eh?”
“Kau tidak menyadarinya? Yang barusan.”
“Jadi, tadi itu...”
“Kemampuan bertarung jarak dekatmu bagus juga.”
"....."
Takai lalu membawa Seeji ke dalam rumah. Dimensi Seeji menghilang, Ibunya Takai segera merawat Seeji di kamar rawat.
--------------
“Seeji, aku masih tidak percaya... bagaimana kau bisa mengendalikan kekuatanmu?"
Takai bertanya pada Seeji yang kini duduk di atas kasur sambil meminum air hangat yang diberikan Takai.
Seeji terdiam sejenak, dan dia menjawab dengan singkat.
“Membaca.”
“.....”
“Mau bagaimana lagi, Apa yang harus aku alami, harus aku jalani..."
“Ano... Seeji....”
Takai menceritakan kembali masa lalunya yang baru dia ingat itu.
“Jadi… begitu…”
“A..... aku...”
"Kau yakin tidak pernah menyadari kemampuanmu sebelumnya? Seharusnya saat umurmu cukup hoseki dan kemampuan itu sudah muncul..."
"Aku memang selalu merasa... memiliki kelebihan, tapi... aku mungkin tidak mau untuk tahu dan menyadarinya... dan lalu... permata ini... aku tidak menyangka ia melindungiku dari setiap serangan dalam latihan beladiri kerasku dulu..."
"Bela diri keras?"
"Sebelumnya, Seseorang pernah mengajarkanku beladiri, karena ia sering melihatku dikeroyok di luar gerbang sekolah, meskipun aku tidak merasa sakit dengan itu. Dia sedikit memaksa, dan aku pun menerimanya tanpa pikir panjang. Pelatihannya tidak main - main, tapi aku menikmatinya...."
"Lalu, apa yang terjadi dengannya?"
"Ternyata, dia hanya memanfaatkanku."
"Apa?"
"Dia yang ternyata mencoba memperalatku, menjadikanku sebagai senjatanya, karena dia tahu aku memiliki permata ini. Dan ternyata aku ingat dia orang yang menyuntikkan obat itu padaku, hingga aku lepas kendali dan... akhirnya.... aku mencoba melupakan itu semua..."
Seeji terdiam mendengar penjelasan Takai.
'Kau tidak lebih dari sumber kekuatanku! Maka sebaiknya kau tunduk dan patuh padaku!!'
Sebuah kalimat tersirat di benak Seeji. Seeji segera membuangnya dari pikirannya jauh - jauh.
"Cih..!"
"Ada apa?"
"Sebenarnya kau telah menjadi kuat setelah kematian ayahmu, Takai. Tapi mungkin kau salah mengartikannya."
Takai terdiam mendengar pendapat Seeji.
'Takai.... kau.... harus jadi lebih kuat dari ini....'
Dia lalu tersenyum, saat ingat dengan kata - kata terakhir ayahnya yang ia lupakan itu.
"Pada akhirnya kau membuatku mengingatnya kembali.... bahkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh kulupakan."
Seeji tertegun, lalu kembali bertanya padanya.
“Takai, kau masih sanggup untuk melanjutkan latihan?”
“Apa maksudmu..?”
“Kekuatan itu.... kau ingin mengendalikannya? Meskipun kau sudah melukai orang lain dengan kekuatan itu?”
Takai terdiam sejenak, lalu menjawab dengan yakin.
“Tentu saja! Aku harus menggunakan kekuatan ini untuk melindungi orang lain, pasti ada hal yang bisa kulakukan dengan adanya hoseki di tubuhku! Seperti katanya, aku harus jadi lebih kuat!”
“Melindungi?”
“Ya, seperti itu. Bagaimana bisa aku memilikinya tanpa menggunakannya? Tidak akan ada gunanya... kau bilang aku terpilih untuk memiliki ini kan?“
'*Takai.. hoseki ini...
'Sejujurnya aku sendiri masih tidak mengerti...
'Ah, sudahlah, setidaknya ia telah memiliki tekad*...'
'Hm... untunglah kau adalah orang yang kuat.” Seeji tersenyum hening.
“Seeji..”
"Aku menggunakan hoseki... untuk menyegel hoseki... hitam... lalu kau menggunakannya untuk melindungi orang lain..."
"Aku mengerti hoseki hitam itu berbahaya, kau bahkan terluka--"
"Cerita itu... mungkin... aku memahaminya... sangat..."
"Seeji?"
"Kau dimanfaatkan.... lalu kau ditinggalkan... dan bahkan membekas luka..."
Cara bicara Seeji menjadi pelan.
"Aku tidak tahu harus bagaimana... saat itu pun... aku hanya bisa berdiri... dan tak melakukan apapun..."
"Apa yang kau katakan, Seeji?"
Lalu kemudian, aku melihatmu yang tetap berjuang meski senjatamu... telah melukai dirimu sendiri... aku tidak menduga itu... terima ka--"
"Seeji!"
Seeji kehilangan kesadarannya karena kelelahan. Takai segera memperbaiki posisinya agar tertidur di atas kasur.
"Sudah berapa banyak.... yang kau alami? Seeji? Karena kemampuanmu itu...."
------------
"Semuanya hanyalah bagian dari senjataku! Kalian hanyalah makhluk lemah dan tidak berguna!"
Dia menyerangku, bahkan diantara genangan darah yang diinjaknya.
"Tidak..... tidak...!"
"Jangan menatapku seperti itu! Jawablah aku jika kau ingin hidup! Mendekatlah! BATTLE WAITER!!"
Orang itu... dia takkan kembali 'kan? Dia sudah mati 'kan? Apa aku yang membunuhnya?
Ya... saat ini aku bersama orang lain... Yang memiliki kemampuan... dan berhati baik...
__ADS_1
Tolonglah, jangan kembali.