
“H....hiks...”
“Maafkan aku Seeji, aku tidak bisa berada di sampingmu. Tapi, aku akan selalu melindungimu dan menyayangimu dari jauh..”
“Jangan tinggalkan aku.....”
---------
“Jadi begitu…. tanpa sengaja aku membawa Seeji bertemu dengan pengasuhnya dulu… aku tidak menyangka”
Takai meluruskan apa yang terjadi sambil melipat kedua tangannya.
“Kau mungkin sudah lupa dengan namaku, Seji.”
“Ya, memang. Tapi dulu aku selalu menyebutmu...”
“Rii – chan, ya kan?”
“Ah…benar.”
“Namaku Yuuri, saat ini aku hanya mengurus penginapan...”
Yuuri memperkenalkan diri, rambutnya berwarna cokelat dan usianya kurang lebih hampir berkepala empat.
“Yuuri – san,”
“Seeji Utsuki, benar? Tapi aku lebih senang memanggilmu Seji.”
“Yuuri – san, dia Takai. Dia menemaniku sejauh ini..”
“Selamat siang, Yuuri - san! Senang bertemu denganmu!”
Takai memperkenalkan diri dengan senyuman khasnya.
“Selamat siang, Takai. Aku cukup tekejut saat Takai membawamu dalam keadaan tertidur. Saat itu aku belum menyadari kalau kau adalah Seji.”
“Yuuri – san, dia memang tukang tidur… apa sejak kecil dia selalu seperti itu?”
"Takai...!
“Hmm.. tidak juga…”
JDAAAK!!
Seeji menginjak kaki Takai, yang menandakan kalau dia tersinggung.
“A...Addaw....!”
“Oh, aku baru ingat! Aku masih menyimpan foto Seeji saat dia kecil. Bagaimana jika kita melihatnya?”
“Foto?”
“Ya, tunggu sebentar. Biar kuambil dulu.”
Yuuri – san lalu pergi untuk mengambilnya.
“Dia terlihat bahagia bertemu denganmu, Seeji”
“Saat aku berumur 7 tahun, dia tidak menemuiku lagi. Menurutku dia sama saja dengan orang - orang yang takut denganku”
“Kupikir dia bukan orang yang seperti itu, bahkan dia sampai menyimpan fotomu.”
“Entahlah… aku tidak tahu.”
Yuuri – san lalu datang membawa buku berisi album foto.
“Aku membuat semua foto dan catatan tentangmu dalam satu buku. Mungkin... sekarang waktu yang tepat untuk memperlihatkannya padamu..”
Yuuri memperlihatkannya sambil tersenyum. Mereka lalu melihatnya. Ada banyak foto Seeji saat dia kecil. Seeji terlihat gembira seperti anak biasanya.
“Ternyata saat kecil kau sangat lucu ya, tapi saat besar...”
“Apa?” Seeji memperlihatkan tatapan sinisnya.
“W…wah…. Tatapan seperti biasa…”
Mereka lalu membuka lembar selanjutnya.
“Ahahahaha! Kau belepotan sekali!” mereka melihat foto Seeji yang sedang belepotan karena eskrim yang dimakannya.
“Seji memang menyukai es krim, apalagi rasa cokelat..”
Seeji hanya bungkam karena merasa malu, ditertawakan oleh Takai yang terbahak - bahak seperti itu.
“Oh, pantas saja kau tidak menolak saat aku memaksamu menerima es krim dariku... jadi waktu itu aku memberikanmu rasa yang tepat ya?”
Takai ingat saat dia memberikan es krim cokelat padanya waktu musim panas.
“Berisik ah! Kau sendiri yang memberikannya!” Seeji tersinggung.
“Ternyata kau masih ingat… bagaimana dengan hari.....”
“?”
“Sudahlah, jangan dibahas.”
“Seeji! Lagi - lagi kau bersikap seperti itu!”
Mereka kemudian melihat foto Seeji yang sedang membaca ataupun melamun dengan raut wajah yang kosong. Dan wajah Seeji yang seperti itu ada lebih dari satu.
“Seeji, kenapa semakin lama, raut wajahmu semakin berbeda dalam foto ini? Semakin lama…. semakin terlihat sedih.”
Mereka berdua hanya terdiam.
Saat itu Seeji mulai bertanya - tanya kenapa dia harus dikurung dan tidak diizinkan keluar, dan kenapa orang orang takut padanya
“Seji.... aku tidak bermaksud untuk memotretmu dengan ekspresi seperti itu.... maaf...”
“Yuuri san... aku...” Seeji mencoba mengingat
“Tidak apa - apa Seeji.... aku mengerti…”
Takai tiba - tiba memperbaiki posisi duduknya dan memejamkan matanya.
“Apa yang kau mengerti, Takai?”
“Yah… mau bagaimanapun juga kau menggemaskan sekali di foto ini…. seandainya aku bisa mencubitmu….”
“Hei, apa kau bermaksud mengejekku?”
“Aku bermaksud menghiburmu tahu!”
“Hm… perhatian sekali… apa jangan - jangan kau itu pacarnya Seeji?”
“Itu tidak benar.” Seeji menolak sambil memalingkan muka.
“Eeeeh!! bukan begitu!”
Takai menolaknya dengan cepat lalu menjelaskannya.
“Aku bertemu dengannya sekitar setengah tahun yang lalu. Aku mengikuti perjalanannya karena ada sesuatu yang harus kami cari.”
“Takai, jangan menjelaskan terlalu banyak--”
“Hoseki, benar?”
Mereka lantas terkejut. Yuuri tahu sesuatu tentang hoseki.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku pernah melihatnya dalam diri Seji.”
“Melihat di dalam diriku?”
“Waktu seji berumur 7 tahun, aku melihat permata biru keluar dari tubuhnya. Sama halnya ketika ibumu baru melahirkanmu.”
“Ibuku?”
“Ya. Ibumu adalah teman baikku sejak kecil, Dia adalah wanita yang sangat enerjik dan menyenangkan.... bolehkah aku menceritakannya pada kalian?”
“Men...ceritakan.....?”
Seeji merasa aneh jika mengingat tentang ibunya. Tak ada sedikitpun memori mengenai ibunya.
“Maaf tapi kami tidak bisa buang buang waktu. Aku perlu informasi tentang hoseki."
“Seeji....” Takai memandangnya sejenak, Seeji mencoba melupakannya dan memprioritaskan tujuannya.
“Kalau begitu.....”
“Tidak, ceritakan saja semuanya. Waktu kita masih banyak kok!”
Takai merangkul Seeji. Reflek tangan Seeji menyingkirkannya.
“Takai..!”
“Tidak apa - apa, Seeji... Aku tidak keberatan.....” Takai berbicara dengan nada menggoda Seeji.
“Dasar tukang ikut campur.” Ucap Seeji pelan. Takai malah nyengir.
“Kau juga sudah mendengar masa laluku bukan? Sekarang giliranku!”
“Itu gak ada hubungannya tau!” Seeji mulai emosi.
“Tak usah malu... aku tahu kau juga ingin tau...”
“Ngomong lagi aku lilit mulutmu itu!” Seeji membalas Takai dengan pandangan iblisnya.
“Jadi.... bagaimana? Yuuri san? Seeji emang gengsian... ceritakan saja...” Yuuri - san hanya tertawa kecil melihat mereka berdua.
“Kh....!!” Seeji menahan emosi, dicuekin.
“Seeji, kau cantik dan tangguh seperti ibumu, tapi matamu lebih mirip ayahmu.”
“Yuuri - san...”
“Rinji, itulah nama ibumu...”
flashback
“Yurii!!! Lebih jauh!!”
“Tapi..ini...”
“Tidak apa... lebih jauh lagi!!”
“Sudah cukup?”
“Ya, berhenti disitu! Sekarang.... 1.. 2... Lepas!!”
“Hait! Eh... ehhh!!” Yuuri terjatuh kebelakang”
“Yuri!! Aaahh!!” Rinji terjatuh menuruni bukit.
“Rin, kau baik - baik saja?”
“Aw...aw...ah! Layangannya tersangkut!” Ternyata mereka sedang menerbangkan layang - layang di dekat bukit, dan layang - layang mereka tersangkut di sebuah pohon.
“Ayo! Kita ambil!”
“Ahh...tunggu! Rin...”
Rinji memanjat pohon untuk mengambil layangannya.
“Rin, sudahlah. Itu berbahaya...”
“Tidak apa - apa.... Aku melihatnya! Hup! Eh?”
Rinji melihat daun yang berbeda dengan daun lainnya. Rinji mengambilnya, namun ranting yang menahannya patah dan Rinji jatuh dari pohon.
“Uuaaaa!”
“Rinjii!”
“Yah...layangannya rusak...”
“Rinji...kau tidak terluka lagi ya 'kan?”
“Yuri! Lihat!” Rinji menunjukkan daun yang diambilnya tadi. Ukurannya sebesar buku dan daunnya berwarna putih juga berkilauan.
“Uaah...cantik sekali..”
“Kau tidak memujiku kan?”
__ADS_1
“Ya... daun yang sedang kau pegang itu maksudku..”
“Ohhh.....”
“Ah! Aku baru ingat!”
“Apa yang baru ingat?”
“Pohon ini ‘kan, yang ada dalam buku cerita tentang legenda hoseki!”
“Eh? Ada ya?”
“Kau tau tentang legenda ini kan? Dalam cerita sebuah hoseki ajaib memberikan kekuatannya pada 7 orang anak dan menyelamatkan seluruh pulau dari orang jahat. Hoseki itu berasal dari sebuah bunga ajaib yang bijinya tertanam dan menjadi sebuah pohon. menurut legenda pohon itu memiliki daun ini.”
“Ohh!! Aku baru sadar! Katanya pohon ini juga melindungi pulau ini dari orang jahat bukan?”
“Ya, mereka bilang begitu. Tapi, legenda tetaplah sebuah cerita. Tak banyak yang mempercayai legenda ini. Meskipun begitu orang orang juga tidak bermaksud untuk menebang pohon ini untungnya...”
“Wah! Kalau legenda ini nyata, pasti seru ya kan!”
“Tapi menurutku akan lebih aman kalau semua tetap berjalan normal saja...”
“Hmmm...... aku akan menyimpan daun ini untuk penelitian sekaligus koleksiku..”
“Penelitian?”
“Ya! Aku selalu tkagum melihat permata, meskipun permata mainan yang selalu ada di warung...”
“Ahahaha....”
“Apalagi yang bisa bersinar dalam gelap. Kalau legenda hoseki itu memang ada, aku ingin meneliti dan mencari tahu tentang itu saat aku besar nanti”
“Ehh... Kau sudah berpikir sejauh itu?”
“Tentu saja! Masa depan harus dipikirkan sejak kecil! Biar nanti gak bingung milih jalan masa depan!”
“Rinjii....”
“Waahh!! Langitnya indah sekali! Apa di masa depan langitnya akan berbeda?”
“Langit tetap langit... tidak mungkin menjadi bumi...”
“Ah... Yuuri..... baiklah...! Bicara soal masa depan, ayo kita bertanding!”
“Bertanding? Lagi?”
"Siapa yang sampai kota lebih dulu dia yang menang!”Rinji lalu berlari menuruni bukit
“Rinji!! Kau tau kan, aku sangat buruk dalam adu cepat!”
--------
“ibumu itu orang yang ceria, dan dia suka bertanding dalam hal apapun..”
"Lalu... pohon itu dalam legenda dikatakan melindungi pulau..."
“Itu ada di belakang bukit dekat rumahmu, Seeji.”
“Oh...pohon itu ya... Tapi kurasa itu hanya pohon biasa...”
“Ibumu memang sangat antusias melihat daun berkilau di pohon itu waktu itu.”
"Pasti di dalam daun itu tersimpan sesuatu... apakah harta yang dimaksud ada diantara bukit hoseki? Dalam legenda bukit itu adalah tanda dari pertarungan... dan pohon itu adalah sisa dari bunga hoseki...."
"Seeji..?"
Takai bertanya pada Seeji yang menyimpulkan.
"Jika hoseki memanglah nyata, bisa jadi semua legenda yang dikatakan adalah nyata...."
“Oh ya... kalau kupikir - pikir Seeji bukanlah orang yang enerjik dan ceria seperti itu..”
JDDAAK!
“Uadaw....!!"
Seeji lagi - lagi menginjak kaki Takai, bahkan lebih keras.
“Setelah itu, apa yang terjadi, Yuuri san?”
-----------
Yuuri tengah menghadiri pesta pernikahan Rinji, dengan seorang prajurit.
"Yuuri!! Kau datang!!"
Dia memeluk Yuuri yang menggendong seorang anak laki - laki.
“Waah...dia lucu sekali...laki - laki ya?”
“Ya, seperti itulah... tapi dia putra angkatku...”
"Benarkah?"
“Waktu itu suamiku sedang bekerja, dan tiba - tiba dia mendengar tangisan. Tangisan itu berasal dari anak ini. Saat itu dia memang ingin memiliki anak, jadi aku dan dia sepakat mengangkatnya sebagai anak . Aku akan merawatnya sebagaimana anakku sendiri...”
“Kau memang hebat, Yuu.... semoga kau dan seluruh keluargamu bisa berbahagia....”
“Tentu... aku juga berharap kau juga akan bahagia bersama keluarga barumu...”
Rinji tersenyum dan memeluk erat Yuuri
“Terima kasih kau tetap menjadi sahabatku... hingga sekarang...”
“Rinji..”
“Yah...meskipun aku mengaku aku memang bawel, cerewet, sembrono, dan.... sebagainya, aku senang kau tetap bersamaku...”
“Tidak apa... aku juga senang punya sahabat yang sangat bersemangat sepertimu...”
“Hm? Benarkah?”
“Tentu! Kau sudah berapa kali terluka atau lecet setiap bermain waktu dulu ya 'kan?”
“Ehh! Yuuri, kau masih ingat!!”
“Tentu saja!"
"Oh ya, siapa namanya?”
“Rou.... Rou - chan... wah.. dia tersenyum!"
"Kau tahu Yuu! Sebenarnya sejak lama aku sudah merencanakan nama..!”
“Nama?”
“Ya! Kalau perempuan, namanya Seeji... tapi kalau laki - laki... namanya reeji..”
“Tapi... kau baru saja menikah kan...?
"Itu adalah nama serapan yang kurasa paling bagus!"
“Hm..? Serapan?”
“Ya, itu serapan bahasa luar yang jarang diketahui banyak orang bukan? Seeji (sage) dan Reeji (rage)”
"Kau memang berbeda dari orang lain..."
Mereka saling tertawa, lalu Rinji menengadah melihat awan putih di langit yang cerah.
“Hari yang cerah.... Yuuri......”
“Seperti biasa kau selalu melihat langit siang ataupun malam...”
“Jika langit menurunkan kekuatannya untuk kita menyelesaikan masalah, apa kita bisa menggunakannya dengan baik?”
“Eh? Rinji?”
“Ah...bukan apa - apa...! Aku tidak sabar apa yang akan terjadi selanjutnya...”
--------
“Kupikir saat itu, Rinji sudah memulai penelitiannya... dia masih menyembunyikannya dariku..”
“Dia sudah mengetahui fakta bahwa Hoseki adalah kekuatan yang diincar banyak orang....”
Yuuri terdiam Seeji lalu melontarkan pertanyaan.
“Lalu...apa hoseki muncul saat aku lahir? Darimana datangnya itu?”
-------
3 tahun kemudian...
“Okaa - san,”
“Ada apa...Rou - chan?”
“Ada yang aneh...”
“Aneh?”
“Dari sana...”
mereka melihat sesuatu yang bersinar di belakang bukit.
“Bukankah... Itu arah rumah Rin...”
Yuuri merasakan firasat buruk. Dia mencemaskan Rinji.
“Apa yang terjadi? Rou, ibu ingin keluar sebentar. Bisakah kau tunggu?”
Yuuri lalu berlari menuju ke rumah Rinji.
‘Apa ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?’
PRAAAANG!!
Saat Rinji sampai, salah satu jendela rumah Rinji pecah dan memancarkan sinar biru.
“Rin!”
Saat dia masuk kedalam rumah, dia melihat Kagiri, seorang prajurit yang merupakan suami Rinji keluar membawa Seeji kecil, berlumuran darah dan menangis.
“Kagiri - san...”
“Maaf, Yuuri - san....”
“Dimana Rin?”
Kagiri hanya melirik ke ruangan di sebelahnya. Saat Yuuri melihatnya, bercak darah dimana - mana dan melihat Rinji tertutup kain putih yang berubah merah karena darah. Tentu Yuuri terkejut.
“Apa yang terjadi.... Rin......” Yuuri terduduk lemas.
Seeji tidak terluka, darah yang ada di badannya itu adalah darahnya Rinji.
“Setelah....aku selesai bertugas dari Azurite, aku pulang secepatnya setelah melihat sinar biru dari sini. Tapi aku terlambat, dan dia baru saja melahirkan anak ini. Seeji Utsuki"
“Rin..... anakmu... telah lahir.... dia cantik sepertimu.... kau harus melihatnya... Rinji....!!.”
Yuuri tentu sangat sedih melihat sahabatnya seperti itu. Yuuri lalu menggendong Seeji dan memeluknya sambil menangis.
--------------
“Sejak saat itu aku selalu datang untuk merawatmu”
“Seeji...”
"Apa seseorang membunuhnya...? Ataukah..."
"Tidak ada siapapun... hanya kau..."
"Berarti hoseki biru yang melakukannya."
"Apa?!"
Takai terkejut. Seeji hanya diam tidak berekspresi.
“Apa yang terjadi selama kau merawatku? Yuuri san? Lalu... kenapa kau tiba tiba menghilang?”
“Masalahnya bermula ketika kau berumur 7 tahun... disitulah aku menyadari... kenyataan tentang legenda itu ...”
-----
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Seji..!"
“Terima kasih...Rii - chan”
“Hm...kau sudah tumbuh besar...Seji...”
"Rii - chan, bisakah aku keluar dan mencari teman untuk datang ke pesta ulang tahunku?"
"Eh?"
"Pesta seharusnya meriah kan? Seperti dalam cerita ini, mereka berpesta dan menyambut kembalinya tuan puteri..." Seeji menunjukkan buku cerita yang paling digemarinya berjudul 'Rapunzel'
“Seji... asalkan tuan puterinya bahagia.... pesta tidak perlu terlalu meriah...” Yuuri tersenyum pada Seeji sambil mengelus elus rambutnya.
"Bagaimana jika aku memang sedang dimanfaatkan seperti Rapunsel? Apa Aku sengaja dikurung untuk membuat seseorang abadi seperti dalam cerita ini?"
"Tentu tidak, tidak ada yang abadi di dunia ini..... selain itu, kenapa Seji menyukai cerita rapunzel?”
“Aku juga tidak tahu, Rii - chan... aku hanya merasa kagum saja, Rapunzel adalah seorang puteri yang diculik oleh penyihir... lalu dia mencari tahu jati dirinya dan kabur dengan seorang pencuri. Tapi aku senang akhirnya dia bertemu dengan orang tua aslinya dan bahagia bersama mimpinya yang baru.....”
"Hmm...."
“Kekuatan yang ada di rambutnya juga sangat luar biasa....! Dia bisa menyembuhkan luka, bisa bersinar, juga bergelantung di pohon dengan rambutnya yang panjang!!”
“Seji....”
‘Yuuri! Disini!’
Yuuri mengingat Rinji yang dulu sering bermain dengannya dan bergelantungan di pohon.
“Dia berani kabur dari...... menara tempat tinggalnya...... meskipun ibunya melarangnya... Bagaimana denganku? Yang saat ini hanya berada di dalam rumah dan tidak boleh keluar....”
“Seji...”
“Orang - orang yang ada dirumah ini... Para pelayan dan pembantu bahkan tak ada yang pernah melirik padaku... hanya Rii - chan saja yang bersamaku... aku hanya ingin punya teman...”
Seeji mulai sedih. Yuuri lalu mengusap air matanya.
“Jangan khawatir. Kau hanya butuh waktu untuk tetap berada disini. Seji, ayo tiup lilinnya dan buat permohonan, lihat.... Angka 7 nya akan meleleh..."
"Aku harap.... aku bisa keluar dan memiliki banyak teman juga menyelamatkan banyak orang"
Fuuhhh!
Seeji lalu meniup lilinnya sambil membacakan keinginannya. Yuuri bingung dengan keinginan Seeji.
"Permohonan yang menarik, tapi... menyelamatkan banyak orang?"
"Benar! Kalau saja aku memiliki sebuah kekuatan, aku ingin menyelamatkan banyak orang dengan kekuatan itu! Seperti Rapunzel!"
Seeji berdiri dan berputar - putar membayangkan kekuatan di dalam dirinya.
"Kekuatan yang seperti apa?"
"Kekuatan yang menghilangkan kesedihan!"
Yuuri tersenyum kecil, Seeji masih berkhayal memimpikan kekuatannya.
‘Dia memang masih anak - anak... tapi pikirannya untuk menyelamatkan orang lain.... dia mirip denganmu Rinji...’
"Seji... setiap orang harus mengalami kesedihan dan kebahagiaan. mungkin tak ada kekuatan seperti itu, tapi ada kekuatan untuk mengatasi kesedihan"
"Kekuatan apa itu?"
Seeji lalu memperhatikan Seeji dengan mata berbinar - binar.
"Kekuatan dari hati masing masing... untuk menjadi lebih kuat.... dan membuat orang lain bahagia"
"Jangan khawatir Rii - chan! Aku pasti akan memiliki hati yang kuat untuk mengatasi kesedihan dan kebencian!"
"Seji...."
Raut wajah Seeji yang tadinya bersemangat langsung berubah.
"Jangan khawatir... kau pasti akan segera keluar dari sini..." Yuuri lalu memeluk Seeji.
"Aku juga.... ingin.... memeluk ibuku Rii - chan..."
"Tidak apa.... kau bisa memeluk Rii - chan, kamu tidak sendirian kok... lihat, hari yang cerah masih menunggu untuk bermain denganmu"
"Rii - chan... jangan menghilang dari mataku ya...”
Malam pun tiba. Seeji sudah tertidur, dan Yuuri masih disisinya menjaga Seeji sampai tertidur lelap.
"Bulan yang indah, Rin. Kuharap kau bisa bertemu dengan anakmu, dia merindukanmu."
Tiba - tiba Yuuri melihat sesuatu berwarna biru terang bersinar di atas Seeji yang terngah terlelap. Hoseki keluar dari tubuh Seeji.
"Apa ini?"
Yuuri yang takut benda itu menyakiti Seeji berusaha menyingkirkannya. Dia lalu menyentuhnya.
DEGG!
"D-dimana?"
Yuuri seakan berada di tengah peperangan. Dan di penglihatannya, dia tengah memegang pedang dan menebas seseorang di depannya.
CRAAT!
Darah merah terciprat ke arah wajahnya. Yuuri tentu terkejut.
‘Tenanglah, meskipun ini akan sakit’
Rinji mendengar suara. Tapi setelah itu dia merasakan sakit yang luar biasa menimpa tubuhnya, saat di penglihatannya tangannya mengeluarkan cahaya dan mengambil sesuatu dari orang yang ditebasnya tadi.
“Hhh....hhah....”
SRIIIIING!
Permata itu bersinar semakin menyilaukan, Yuuri kehabisan napas karena yang dialaminya setelah menyentuh permata itu. Tiba - tiba dari arah pintu datang seseorang.
“Yuuri!”
Kagiri segera menahan tubuh Yuuri yang kehilangan kesadarannya. Dia lalu menutup mulut dan hidung Yuuri menggunakan sapu tangan.
"Yuuri bernapas!!"
"Hh...Hah!"
Yuuri membuka matanya, dan melihat Kagiri di depannya dengan wajah khawatir.
TRAAAK!
Hoseki yang Yuuri sentuh terjatuh. Seeji tiba tiba menarik napas dan merasa kesakitan.
“Aghh....hah!”
"Seji...."
Yuuri berusaha bangkit dan menahan tubuhnya dengan tangannya.
“Yuuri - san, kau baik - baik saja?”
“K...Kagiri...san... Seji...”
“Hampir saja... jika aku terlambat, jiwa Yuuri mungkin sudah diambil"
‘Getaran itu... yang tadi itu....’
Yuuri tak sadarkan diri.
“Yuuri! Bertahanlah!”
Yuuri kemudian terbangun setelah di
dia koma selama beberapa hari.
“Yuuri san! Kau sudah sadar?!”
“K...Kagiri - san?”
“Untunglah tidak terjadi sesuatu yang buruk.”
“Seeji... Seji! Bagaimana dengan dia?”
“Aku mengurungnya di ruangannya.”
“Apa? Mengurungnya? Dia sendirian disana?”
“Ya."
“Seji tidak bisa sendirian di dalam ruangan sebesar itu! Kau tidak bisa membiarkannya! Dia tidak punya teman atau siapapun! Setidaknya suruhlah seseorang untuk menemaninya!”
“Aku tidak bisa!”
“Kalau begitu, ijinkan aku bertemu dengannya...”
“Tidak bisa!”
“Kenapa?”
“Yuuri! Lihatlah dirimu! jiwamu hampir terserap oleh hoseki yang kau sentuh!”
“H...hoseki?!”
“Seeji memiliki kekuatan hoseki dalam tubuhnya.”
“Tidak mungkin... Bukankah itu hanya legenda?!”
“Lalu, jika itu memang legenda, apa yang kau sentuh waktu itu?!”
Kagiri membentaknya, Yuuri yang bersikeras tidak lagi dapat membalas kata - katanya. Kagiri lalu menperlihatkan hoseki pada Yuuri yang dibungkusnya dengan menggunakan sapu tangan. Berukuran sebesar kelingking, dan bersinar kecil.
“Inilah, hoseki biru milik Seeji”
"Tidak... mungkin..."
Yuuri benar - benar sulit mempercayainya, hingga terngiang kata - kata Rinji mengenai legenda.
‘Aku ingin mencari tahu tentang legenda hoseki! Pasti akan menyenangkan jika itu nyata!’
“Rinji...”
Airmata Yuuri kembali jatuh, saat mengingat sahabatnya tersenyum di benaknya.
“Sebelum dia meninggal, dia sempat mengatakan tentang hoseki padaku.”
"Apakah... Rinji..."
"Entah bagaimana... hoseki biru bisa ada bersama Seeji saat itu... dan aku menduga, hoseki-lah yang menyebabkan kematiannya."
"Jangan berpikir begitu! Kagiri...! Hoseki...."
"Dalam legenda, hoseki adalah senjata yang membuat para penjahat takluk, namun semua itu berubah saat disalahgunakan."
"Kagiri...san..."
“Saat aku datang, hoseki berwarna biru bersinar di depan wajahmu yang sangat kesakitan. Aku menghentikannya dengan membuatmu menghirup sapu tangan ini.”
“Sapu tangan?”
“Di saputanganku ada serbuk dari daun yang diteliti Rin... Daun yang Rinji simpan dalam penelitiannya, sepertinya dia merubah daun itu menjadi serbuk, dan kurawa serbuk daun ini bukanlah serbuk biasa. Aku sudah menduga ada yang janggal”
“Tapi... Seeji ingin aku selalu ada di matanya... aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja...”
“Apa kau lupa dengan Rou?”
“Eh?”
“Beberapa hari lalu dia dia diserang."
“Apa..?”
“Tapi, Untunglah dia bisa sembuh dalam waktu cepat. Meskipun benturan di kepalanya membuatnya rabun... Dia tidak kecewa sedikitpun meski kau tidak menjenguknya. Dia percaya padamu.”
“R..Rou..”
“Jangan lupakan hal yang berharga. Yuuri - san, orang lain membutuhkanmu. Seseorang yang lebih penting bagimu.”
“Lalu... Apa yang akan kau lakukan pada Seeji?”
“Untuk sementara ini, aku akan mengurungnya. Aku tidak bisa membiarkan kekuatan hoseki berkeliaran. Ini hanya jadi rahasia kita saja.”
__ADS_1
“Kenapa... kenapa kau tidak menemaninya sebagai ayahnya?”
“Jaga dirimu, Yuuri - san. Terima kasih"