
"*Untukmu sang pemilik cahaya...
Tak tau apakah kau akan menerima ini, namun...
Suatu kejadian telah menjadikanmu seperti sekarang*... "
Seeji tidak percaya membaca tulisan yang terbentuk dari sebuah cahaya di atas buku usang. Ia kemudian memberanikan diri dan membaca kelanjutannya.
"*Apa yang kau miliki...
Yang tak semua orang memilikinya...
Dari cahaya yang menjaga mereka selama ini...
Kelopak itu hinggap di telapak tanganmu...
Untuk mengubah apa yang seharusnya*... "
Seeji terhenyak membaca kalimat - kalimat itu, selain itu Seeji merasa buku itu menyerap sesuatu darinya.
"Jadi... "
Seeji mencoba mengendalikan emosinya yang tak beraturan, lalu sebuah permata berwarna biru bercahaya di depannya.
"Ke... Kelopak bunga...? "
Seeji berusaha menyentuhnya, lalu permata itu menghilang terserap ke dalam tangan Seeji.
"Eh..? Tadi.... Apa itu tadi...?!"
-------------------------------
"Sudah lama sekali.... sejak aku pertama melihatmu, hoseki biru."
Seeji menghilangkan bentuk Hoseki biru yang menyerupai kelopak bunga ditangannya.
"Aku tidak percaya berjalan di luar ruangan sempit itu..."
Seeji berjalan menyusuri bukit dan jalan setapak, pemandangan gunung dan perbukitan yang masih asri dengan langit bersih memanjakan matanya. Namun Pegunungan Aven adalah tempat yang sepi untuk gunung - gunung yang curam, Seeji harus berjalan seharian agar sampai di perbatasan dimana ada orang lain berlalu - lalang disana.
“Pemandangan yang indah tidak banyak orang yang menyadarinya..”
Hawa pagi cepat berlalu, setelah cukup lama berjalan Seeji semakin jauh dari pegunungan.
Seeji lalu duduk diatas batu untuk istirahat dan membuka sebuah buku berukuran tebal dari tas miliknya, kemudian menuliskan sesuatu di buku lain bersampul cokelat. Jurnal pribadinya.
'Hoseki hitam... Terakhir kali saat aku mencoba keluar dari ruanganku, aku hampir diculik oleh seseorang... dan disaat itulah, aku pertama kali melihat hoseki hitam dalam tubuh manusia... hoseki selain milikku....
'Hoseki biru milikku membuatku memiliki kemampuan.... tapi... Apa yang dilakukan hoseki hitam pada manusia? Apa sama saja?'
"Huh?"
Lamunannya buyar saat Seeji mendengar suara yang cukup keras.
BRRAAAK!!
"Hei! Nenek tua! Apa yang kau lakukan? Kau bisa menghancurkan barang - barangku!"
"Maaf...."
"Kau pikir dengan kata maaf akan menyelesaikan semuanya? Sekarang barangku banyak yang jatuh!"
"Maafkan aku... "
Nenek itu membawa gulungan kain yang ia jatuhkan sebelumnya. Gulungan kain itu lepas dari tangannya dan terlindas gerobak pedagang itu. Karena ukurannya yang besar, gerobaknya terguncang sehingga barang milik pedagang itu berjatuhan.
"Aah... tidak...! Lihat! Kau telah memecahkan gelas pialaku! Sebaiknya kau tahu cara menggantinya!"
Pria itu menodongkan gelas pecah itu kearahnya, nenek tidak berdaya itu hanya memohon ampun dan minta maaf.
"Berikan aku uang yang kau miliki!"
"Tidak...!"
PTAAK!
Tiba - tiba sebutir kerikil mendarat di kepala bundar pria itu.
"Hah? Siapa itu?"
"Oh... maaf tuan, apa aku menganggumu?"
Seorang gadis turun dari batu besar yang didudukinya.
"Perkenalkan... namaku Seeji Utsuki... Yoroshiku Onegaishimasu...."
Seeji memperkenalkan diri sambil tersenyum sinis ke arahnya.
"Apa? Aku tidak pernah melihatmu... selain itu... namamu aneh sekali!"
"Jangan aneh, tuan.... aku seorang pengembara.... juga..."
SEETTS!
Tanpa ia sadari Seeji sudah mengambil sesuatu yang berharga dari sakunya.
"Seorang pencuri yang handal..."
"Hei! Kembalikan dompetku!"
Seeji dengan cepat menghindarinya.
"Tapi... kau ini seorang pria yang tidak tahu sopan santun ya... memalak seorang nenek yang bahkan tidak sengaja menabrak gerobakmu..."
"Kau tidak lihat? Dia membuat gelasku pecah!"
"Bukankah kau sendiri yang mengendarai gerobak terlalu dekat dengannya? Jalan berukuran lima meter ini masih kurang luas untuk gerobak kecilmu? Seharusnya kau yang minta maaf padanya... kau membuatnya kesulitan berjalan."
"Aah! Berisik! Kembalikan saja dompetku!"
"Kau harus melepaskan dia dulu, tuan. Kau tahu dia telah meminta maaf."
"Dia harus mengganti barangku dulu!"
"Kaulah yang bersalah.... tapi kalau kau tidak mau melepaskannya biar aku saja yang melepaskan barang - barangmu..."
Seeji melempar dompet pria itu ke arah kereta kuda, dan kuda itu langsung bergerak cepat karena dompet itu memacu bokong kuda itu.
"Kereta kudaku! Awas kau!!"
Pria itu pergi mengejar gerobak yang didorong oleh kuda tanpa pengendara itu.
"Akhirnya dia pergi..."
"Tidak... aku tidak punya apapun! Jangan sakiti aku!"
Seeji mengulurkan tangannya dan membantu nenek itu berdiri.
"Aku berbohong, aku hanya seorang pengembara. Tenang saja."
"Kau menolongku? Terimakasih nona..."
Nenek itu tiba - tiba menatap mata Seeji dengan ekspresi yang berbeda.
“Ada apa?”
“Tidak... tidak... bukan apa apa...”
“Anda tampak kesulitan. Mau saya bantu membawakan itu?”
Seeji melihat beberapa gulung benang dan gulungan kain dalam jumlah besar yang dibawa nenek itu.
“Bolehkah?”
“Tentu.”
Seeji lalu membawakannya. Setelah itu mereka saling berbicara sambil berjalan melewati perbatasan daerah pegunungan dan kota.
“Kemana kau akan pergi, nona?”
“Saya hanya pergi mencari tempat - tempat baru....”
“Kau tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu baku... tidak apa - apa...”
“Ehm... baiklah."
“Kau pernah pergi ke Kota Kristal?"
"Eh? Kota Kristal?"
"Ya... aku tinggal dan bekerja disana..."
"Aku... hanya baru menyusuri pegunungan Aven."
"Benarkah? Pegunungan itu cukup sepi... ikutlah denganku pergi ke sana."
"Aku menerima tawaranmu."
Seeji tersenyum menyanggupinya.
“Hm, kau gadis yang cantik...”
"Aku merasa tersanjung."
“Namaku Himeji. Sebenarnya aku adalah pemilik butik di Kota Kristal. Aku kekurangan bahan, jadi aku pergi ke industri tekstil untuk mengambilnya.”
“Begitu...bukankah industri tekstil....”
“Ya... tempat itu memang agak jauh... apa kau bisa menjahit?”
“A-aku cukup bisa menjahit dan membuat pola...”
“Lalu... maukah kau bekerja di tempatku?” Himeji tiba - tiba menawarkan suatu pekerjaan pada Seeji.
“Beker-ja?”
“Aku janji akan membayarmu sebisaku! Kau bisa membantuku kan?!”
“Himeji - san...”
--------------------------
Mereka lalu sampai di butik Himeji, tapi butik itu sangat berantakan dengan robekan kain dimana - mana, bahkan jendela pun pecah.
Sekarang Seeji tahu kenapa Himeji bersikeras memintanya membantunya.
“Himeji - san.... apa yang terjadi dengan butikmu?”
“Para pekerjaku berontak dan berhenti secara tiba -tiba...”
“Himeji - san...”
“Sebenarnya aku mendapat pesanan 30 baju terusan penari tradisi untuk perayaan penobatan pangeran di kerajaan ini. Baju terusan penari tradisi memiliki desain yang rumit...
"Namun saat 10 baju tersisa, tiba tiba semua pekerja pergi termasuk anakku... Desain baju dan beberapa gulung kain pun menghilang. Dan parahnya 14 pakaian yang sudah jadi robek tak karuan..... Padahal perayaannya tinggal 3 hari lagi.....”
“Himeji -san!”
Seeji terkejut karena Himeji hampir terjatuh. Wajah tuanya terlihat pucat karena berbagai masalah yang menimpanya. Seeji lalu membantunya duduk di kursi.
“Butik milikku memang sudah dipercaya oleh kerajaan. Tapi Jika aku tidak menyelesaikannya sebelum hari perayaan, tempatku ini akan digusur.... Jika tempat ini hancur, dimana aku akan berteduh?”
Seeji merasa ada yang aneh dengan masalah yang dialami Himeji. Dia lalu melihat pecahan kaca dengan beberapa lubang sebesar jarum dan bercak darah di sekeliling lubangnya.
“Pasti terjadi sesuatu yang tidak biasa disini...”
“Seeji?”
“Himeji - san, aku akan membantumu sebisaku..”
“Benarkah..?"
Seeji mengangguk pelan.
“Terima kasih! Seeji!”
Seeji lalu menyimpan tasnya dan merapikan ruang kerja secepat mungkin. Dia mengambil beberapa robekan kain dan mencoba untuk memanfaatkannya.
“Himeji - san, boleh aku pinjam beberapa kertas desain?”
“Tentu.”
Himeji lalu memberikan kertas desain pada Seeji. Dia langsung mengambil pena dari tasnya.
“Kita bisa memanfaatkan kain - kain yang rusak ini untuk model baju yang lebih abstrak namun tidak merubah seluruh desain aslinya, apa tidak masalah?”
Seeji membuat model baju secepat yang dia bisa.
“Seeji, desainmu bagus! Apa kau punya bakat menjadi perancang?”
“Tidak, aku hanya.. “
Seeji teringat dengan pakaiannya yang dia modifikasi sendiri. Baju usang yang ditemukannya saat menelusuri ruangannya.
“Terima kasih Seeji, kau mau membantuku..”
“Tidak masalah. Ada sesuatu yang ingin kucari, bolehkah aku pergi keluar?”
Sebelum membuat bajunya, Seeji keluar toko untuk mencari petunjuk tentang perginya para pekerja.
'Tujuanku adalah menghetikan kekuatan gelap hoseki hitam, kenapa aku malah membantu nenek seperti himeji san? Tapi ada sesuatu yang aneh dengan apa yang dialami Himeji - san ini ....
'Hoseki hitam datang saat manusia memiliki hati yang gelap. Apakah maksud dari kalimat yang tertulis di buku itu adalah ketika manusia memiliki suatu masalah sehingga menggelapkan hatinya?'
Tiba - tiba Seeji bertubrukan dengan seseorang. Tangannya penuh dengan bekas luka jahitan dan wajahnya sangat panik.
“Maaf?”
“Mati... aku akan mati....”
“Ada apa?”
“Kalau begini terus aku akan mati... yang lainnya akan mati.... aku juga akan mati...”
Luka jahitan pada tangannya sangat tidak biasa. Bahkan lukanya seperti kain yang diobras. Tangannya bergetar memegangi kedua sikutnya.
“Bisa kau katakan padaku apa yang terjadi?”
“Dia... dia menyuruh kami terus bekerja tanpa istirahat.... jika kami melawan dia akan menjahit tangan kami sampai kami tidak begerak.... kalau begini terus semuanya akan mati! Bahkan aku kabur dengan rasa sakit yang luar biasa...!”
CTTTIIK!
Seeji menenangkan orang itu dengan memercikkan sedikit kekuatannya lewat cetikkan jari.
“Eh?”
Seeji memegang bekas luka di tangannya dan mengusapnya perlahan dengan kekuatannya.
“Kau sudah tenang? Bisa ceritakan darimana asal luka ini?”
Orang itu menunduk dan menjelaskan dengan rinci bahwa dia adalah salah satu pegawai kerja paksa dari orang yang merupakan anak dari Himeji, Musubime.
“Kau tenangkan dirimu, pergilah temui Himeji - san dan bantu dia, aku akan menolongmu.”
Seeji tersenyum memandangi orang itu. Orang itu terkejut.
“Namamu?”
“A... aku... Kyusin...”
“Baiklah, sekarang pergilah.”
Seeji berlari dan mendekati bangunan besar yang ditunjuk oleh Kyusin tadi. Dia mendengar suara teriakan. Nampaknya para pekerja seperti sedang disiksa oleh seseorang.
“Tempat ini...”
Seeji memeriksa butik itu dengan menggunakan kemampuan dimensinya. Ia memejamkan matanya dan memusatkan energi pada wilayah sekitarnya, sehingga Seeji mampu melihat keberadaan hoseki dalam dimensi yang dilihatnya.
Orang yang menyiksa para pekerja itu memiliki pecahan hoseki hitam.
'Jadi... begitu.... dia pemilik hoseki hitam... tak kusangka ketidaksengajaan ini membawaku padanya.'
Orang itu terus memarahi para pekerjanya. Aura yang dirasakan Seeji pada orang itu sangat berbeda.
ZRRAATS!
'Apa..?!'
Seeji terkejut ketika dia melihat orang yang memarahi pekerja itu mengeluarkan benang merah dari tangan pekerjanya, dan kelihatannya pekerja itu tidak menyadari kalau benang merah yang terlihat seperti darah itu keluar dari tangannya.
"Kejam... benang itu darah?"
Dia menarik - narik benang itu hingga membuat pekerja itu berteriak keras, lalu membuat simpul dan mengikatnya. Tangan mereka lalu bergerak mengikuti segala perintahnya.
'Itulah kerja paksa yang dibuatnya.... hoseki hitam membuatnya mengendalikan orang - orang itu seperti mesin.'
Pekerja itu terjatuh dan darah terciprat secara mendadak dari tangannya yang tersimpul itu.
'Bagaimana aku harus memulainya...?'
Seeji lalu kembali ke butik Himeji.
“A... ano.... Seeji - san... aku sangat kagum dengan semua desainmu! Bisakah kita langsung mengerjakannya?”
“Kyusin... kau baik - baik saja?”
“Aku akan mengabaikan lukaku dan membantu sebisaku!”
“Sebaiknya kau tutup lukamu dulu...”
Himeji lalu datang membawa plester dan perban, lalu menutup luka di tangan Kyusin.
“Sebaiknya segera kita selesaikan.”
Mereka langsung mengerjakan baju terusannya bersama kyusin.
“Seeji.... matamu indah seperti permata...”
---------------
Dua hari telah berlalu. Baru sepuluh baju yang telah dibuat, Seeji berusaha untuk tetap bekerja bahkan saat malam tiba.
“Seeji, sebaiknya kau istirahat dulu...”
“Tidak apa, aku belum lelah...”
'Aku tidak bisa... mendekati hoseki hitam begitu saja... pasti akan ada pertarungan dan disaat itulah aku harus memikirkan strategi...'
Seeji sedang memikirkan bagaimana dia akan melawan pemilik hoseki hitam sambil menjahit. Kekuatannya terbilang aneh, mengikat tangan orang lain dengan benang dan menjadikannya budak.
“Untunglah kau mudah mengerti cara menggunakan mesin jahit, Seeji...”
“Tidak masalah.”
Seeji menjawab singkat pujian Himeji. Mesin berukuran dua kali empat meter itu terbilang sulit digunakan, namun Seeji mampu menguasai mesin jahit itu dalam waktu singkat.
SRRRRETS!
“Eh!”
Mesin jahit dengan meja kayu dan roda besi itu berhenti secara tiba - tiba. Seeji lalu memastikannya.
“Seeji?”
“Benangnya habis.”
“Habis? Masih ada stok benang di belakang, tenang saja. Jarum tidak akan bergerak tanpa benang.”
Seeji menyadari sesuatu.
“Begitu.... sekarang aku mengerti...”
“Seeji?”
Seeji segera membereskan pekerjaannya dan beranjak keluar.
“Himeji - san, aku akan keluar sebentar...”
__ADS_1
Seeji mencoba mencari tahu apa yang dilakukan pemilik hoseki hitam itu. Saat seeji melihatnya, para pekerja masih bekerja, padahal sudah pukul 11 malam.
“Hei! Kau tidak membuat pola dengan benar! Ulang!”
“T-tapi ini sudah kelima kalinya...”
“Berisik! Aku ingin semua selesai sebelum besok!”
ZRRRAAATS!
Orang itu mengeluarkan jarum yang dikendalikannya dengan benang merah diujung tangannya. Dia lalu mengarahkannya ke arah tangan pekerjanya.
SYYUUTS!
Seeji dengan segera memotong benang itu dari jauh dengan pisaunya yang menajamkan angin. Jarum yang menuju ke arah pekerja orang itu berjatuhan.
“Siapa itu!”
Seeji langsung bersembunyi dibalik atap ventilasi, dia mengintip keadaan dari atas.
'Seperti dugaanku. Memotong benangnya lebih mudah daripada menangkis ratusan jarumnya. apa aku harus membuat dimensi sekarang?'
Para pekerja benar - benar tidak bisa berbuat apapun. Mereka hanya menuruti apa yang diperintahkan. Jika menolak, ratusan jarum akan menyakiti mereka.
“Jangan hanya diam saja! Cepat kerja!”
Di tangan para pekerja butik itu, ada semacam ikatan yang mengikat tangan mereka, jadi mereka tidak bisa pergi karena ikatan itu terus ada pada mereka. Apalagi pintu terkunci rapat.
'Apa yang akan dilakukannya? Huh....?'
Seeji menyadari ada yang janggal. Saat jam menunjukan pukul 12, para pekerja langsung bernapas lega karena ikatan pada tangannya terlepas untuk sementara.
“Musubime - kun.... namanya memang aneh, tapi awalnya dia adalah pria yang baik...”
“Ya, dasar si Teiru itu, darimana dia dapat kekuatan itu? Tiba - tiba mengendalikan tangan kita, bahkan sampai melukai... Apa dia seorang penyihir hitam?’
“Kenapa Musubime - san mencoba membuat toko ibunya sendiri hancur..? Dengan cara memaksa kita dan menghancurkan hasil kerja kita....”
“Aku... sangat lemas...”
Tiba - tiba salah satu dari mereka terhuyung di kursinya.
“Hei, bertahanlah! Jika kau pingsan, Musubime akan membuat simpul ditanganmu!”
“Maaf, aku tidak sanggup....”
Saat orang itu hampir terjatuh, Seeji langsung teleport dan menahan tubuhnya. Para pekerja yang ada disana terkejut melihatnya muncul secara tiba - tiba.
“Kau!!?”
“Minumlah.”
Seeji memberikan air kepada orang yang hampir pingsan itu. Air itu cukup untuk semua orang yang bekerja paksa di situ.
“Siapa kau? Dan kenapa kau muncul tiba - tiba seperti itu?”
“Keberadaanku ada untuk mengatasi orang - orang seperti dia.”
"Uhuk!! Ah...?"
Orang yang pingsan tadi kembali membuka matanya, setelah Seeji meminumkan air di botol itu padanya.
"Kau sudah siuman?"
Seeji melihat sekeliling tempat itu dan melihat sesuatu yang menarik.
“Begitu.... kalian juga minumlah air ini.”
“Hei kau....”
Musubime yang berada di ruangan sebelah itu merasa ada yang aneh dengan obrolan para pekerjanya.
“Kenapa mereka ribut sekali?!” Teiru memegang gagang pintu dan beranjak pergi ke ruang kerja. Seeji langsung teleport dibelakangnya.
“Orang - orang sepertimu.... pemilik Hoseki hitam.... Musubime Teiru”
ZYYYAATS
Orang itu mencoba menyerang Seeji, tapi Seeji langsung teleport dan menghilang.
“Apa - apaan tadi itu? Apa ada orang lain yang memiliki kekuatan?”
Aura hitam tiba - tiba menyelubungi pendengaran dan penglihatannya. Seketika rasa khawatirnya hilang.
“Hahaha.... tidak peduli.... Tidak boleh ada yang menghalangi rencanaku... harta rahasia tanah ini akan kudapatkan.... dengan mengumpulkan mereka sebagai pekerja pekerjaku, aku akan mendapat kuncinya setelah menghancurkan toko milik Himeji...tunggu...”
SRET
Dia menuliskan sesuatu di atas buku memonya.
“Himeji akan kugunakan sebagai kuncinya... setelah dia dalam kesengsaraan... Haha... aku akan menjadi orang terkaya di kota ini....”
SYUUSH
“Seperti yang dikatakan... semua tidak mudah jika ada yang menghalangi.... ya 'kan? Hoseki hitam...”
'Kau ingin memiliki kekuatan? Biarkan aku berada dalam tubuhmu dan carilah kekuatan dari orang - orang disekitarmu...'
Sebuah suara yang didengar Musubime ketika mendapat hoseki hitam.
-------
“Apa kita bisa tepat waktu sampai pagi nanti?” Kyusin agak cemas.
“Jangan khawatir, Kyusin.”
Pukul 3 pagi. Tinggal beberapa baju lagi yang harus mereka buat, dan perayaan dimulai pukul 9.
“Seeji, aku tidak yakin kita akan tepat waktu. Kau tidak perlu memaksakan dirimu...”
“Tidak apa, Himeji - san. Mereka akan datang.”
“Himeji - san!!”
Dari arah pintu para pekerja dari butik Teiru datang ke butik Himeji - san.
“Semuanya...!”
“Asimura - san...... tolong maafkan kami.... kami dipaksa untuk kerja tanpa istirahat....”
“Tidak apa, sebaiknya kalian rawat tangan kalian dulu...!”
Himeji terkejut melihat tangan mereka berdarah.
“Tidak, kami akan membantu!”
“Kalian! Tutup dulu luka kalian kenapa...”
Kyusin membawakan mereka beberapa plester dan perban.
“Kyusin, kau baik - baik saja? Aku sangat terkejut karena kau memaksa kabur dengan mencabut paksa ikatan itu...”
“Yah, memang sakit, tapi Seeji - san menolongku”
“Seeji?”
Kyusin lalu menunjuknya, mereka menoleh ke arah Seeji yang sedang menjahit.
“Kau orang yang tadi malam bukan?”
“Aku disini sejak kemarin.”
“Tidak, aku melihatmu membawakan kami air, dan setelah meminum itu, ikatan kami menjadi longgar dan kami bisa kabur dari tempat menyedihkan itu!”
“Sebaiknya kita segera menyelesaikannya."
----------------------
Perayaan dimulai. Perayaan itu adalah acara penobatan pangeran kerajaan yang berumur ke -17. Diadakan pawai di daerah kota dengan berbagai pertunjukan dan atraksi, salah satunya adalah penari beriringan yang mengikuti pawai dengan kreasi baju berwarna dan menghiasi langkah para bangsawan yang melewati jalanan. Pakaian itulah yang dipesankan pada butik Himeji.
Semuanya berjalan lancar. 6 pakaian yang tidak dirobek dibuat untuk penari tengah 10 orang dengan kombinasi warna biru, ungu, dan merah muda menjadi penari depan, dan 14 orang dengan kombinasi warna hijau , jingga dan merah menjadi penari latar dan pembawa bendera. Para penari benar benar terlihat penuh warna sehingga acara semakin meriah.
“Untunglah semua lancar...”
Para pekerja lega dengan hasilnya. Mereka menonton perayaan di balai kota.
“Mataku.... hitam ya?”
“Warna matamu memang hitam Jusin..”
“Hei, namaku Kyusin tau!”
“Hah... terserah... aku tidak tahu bagaimana Seeji bisa mengantarkan semua pesanan menuju kerajaan dalam waktu secepat itu.... jarak kita dengan kastil kalau berjalan sekitar satu jam..”
Seeji melirik ke arah jendela dan melihat ketika puteri, raja juga ratu tersenyum bahagia ketika pangeran berdiri di paling depan dan mengangkat pedangnya.
“Mereka keluarga yang bahagia sebagai golongan bangsawan, Seeji...”
“Ya.”
Seeji sedang berada di dalam butik bersama Himeji ketika para pekerja menikmati perayaan.
“Nama golongan keluarga kerajaan Ameytyst, sang raja, Geiford, sang ratu Kaguya, sang pangeran Leo, dan sang putri Hilne.”
"Aku baru mendengar nama mereka.”
“Benarkah? Nama mereka memang sulit untuk disebut... karena 'orang luar' sempat berperan bagi kerajaan ini.”
"Orang luar?"
"Yah... sebenarnya itu adalah ungkapan bagi orang yang tidak memiliki kepentingan di kerajaan... tapi sebutan itu juga berlaku untuk penggunaan bahasa - bahasa yang asing atau jarang digunakan masyarakat...."
“Perayaan ini pun sangat meriah...”
“Pangeran Riyou masih seumur denganmu lho, Seeji. Cobalah untuk keluar dan perlihatkan paras cantikmu...”
“Himeji - san....! Eh? Bukankah Himeji - san barusan bilang namanya pangeran Leo?”
“Ya, dia tidak mau orang yang kesulitan menyebut namanya menyebutnya Rio... Jadi, dia membuat panggilan yang lebih mudah dengan nama pangeran Riyou...”
“Heh... sepertinya dia punya karakter yang unik...”
"Aku tidak percaya para pekerjaku kembali di waktu yang tepat... apa kau melakukan sesuatu?"
"Aku hanya..."
".....?"
Air yang Seeji berikan teraliri oleh hosekinya. Dengan begitu segel pengikat pada mereka dapat dilepas
“Seeji, aku benar - benar berterimakasih padamu...”
“Tidak masalah bagiku, Himeji - san”
Himeji yang duduk didekatnya tiba - tiba memandangi matanya.
“Himeji -san?”
"Kau benar - benar misterius, Seeji..."
Seeji terdiam, mencoba mengalihkan matanya perlahan.
“Dari matamu... apa kau... memiliki..”
BRRRAAK!
Tiba - tiba anaknya Himeji datang sambil membanting pintu. Dia terlihat kesal karena rencananya menghancurkan toko gagal.
“Sudah kuduga kaulah masalahnya! Siapa kau!? Dan kenapa kau mengambil semua pekerjaku?!”
“Teiru!” Himeji terkejut melihat putranya.
“Mereka bukanlah pekerjamu, Musubime - san. Kau hanya memaksa mereka bekerja.”
“Jangan mengaturku! Siapapun mereka itu tidak penting! Kau membuat semua rencanaku berantakan!!”
“Tidak ada gunanya kau terus memperkerjakan mereka bukan? Aku yakin awalnya kau juga salah satu pekerja yang sama dengan mereka..” Seeji mencoba mengintimidasi.
“Kau...!”
“Saat jam 12, para pekerja diperbolehkan istirahat dan ikatan dari kekuatanmu akan terlepas untuk sementara sehingga aku mampu mengeluarkan mereka hanya dengan sedikit hosekiku. Ikatan itu terlepas karena nuranimu sebagai pekerja masih ada...”
Seeji lalu berdiri dan menatap Teiru.
“Kau mencoba untuk menghancurkan butik ini bukan? Kau mencoba mencuri pesanan Himeji - san agar butiknya digusur... dengan jumlah target yang sama seperti yang kulihat kemarin malam.”
“Tukang ikut campur!! Dengan menyingkirkannya maka takkan ada yang menghalangiku!!”
Himeji terkejut dengan perkataan kasar putranya, Seeji tentu tidak dapat membiarkannya.
"Teiru...."
Himeji menangis, Seeji menatapnya kesal
“Kau mau melenyapkannya... orang sebaik beliau yang selalu menyayangimu... apa kau benar - benar kehilangan dirimu Musubime?!"
Seeji bergerak teleport ke depannya dengan wajah yang penuh rasa kesal, tangannya mengepal kuat dan memukulnya hingga terbanting di pintu.
"Eh...?"
"Kau berkata sombong begitu.... tapi kau mengikat para pekerjamu seperti seekor keledai yang menarik gerobak. Dasar atasan yang payah!!”
Seeji mengintimidasinya, hoseki hitam akan terlihat dan memudahkan Seeji untuk menyegelnya. Seeji melepas amarahnya dalam pukulan itu.
'Aura hoseki hitam mulai keluar...'
“Berhenti mengataiku seperti itu!”
Seeji mencoba menahan tangannya yang bergerak ke arah Himeji, tapi hoseki hitam yang meningkat membuatnya menjatuhkan Seeji dengan mudah.
"Himeji - san! Bahaya!"
Teiru lalu menggunakan kekuatannya untuk mengikat Himeji. Hoseki memanipulasi keahliannya dan membuat dia dapat menjahit apapun termasuk lengan para pekerjanya dengan darah sehingga mampu mengendalikan pekerjanya melakukan apa yang dia minta.
“Kini, kau bisa mengikat apapun layaknya benang dan mengendalikannya?”
Hoseki hitam yang berhasil merasuki jiwanya membuat sifatnya menjadi berbeda. Seeji sudah menduga semua itu.
SRRIIIING!
Seeji memunculkan hoseki biru di tangannya lalu mengeluarkan pisau dari hoseki itu.
SYYYAATS!
Seeji lalu memotong benang merah itu dan melepaskan ikatan Himeji. Seeji berdiri di depan Himeji dan melindunginya.
“Himeji - san, kau baik - baik saja?”
Himeji terkejut melihat Seeji. Tiba - Tiba tersirat memori lama di benaknya.
"D...dia..."
"Himeji, kau diamlah disana."
'...Sosok yang melindungiku waktu itu...'
“Menggunakan kemampuan itu hanya demi menggapai keinginan pribadi? Sungguh bodoh."
SRIIIIING!
“C-cahaya apa ini?!”
Cahaya biru bersinar mengelilingi Teiru dan Seeji.
“Tuan, mari kita selesaikan dengan pertarungan...”
Seeji menggunakan kemampuan dimensi level 2 sehingga dia dan anaknya Himeji masuk kedalam dimensi.
“DIMENSIONS!!”
----------------------
Dimensi yang Seeji buat memiliki tampilan yang sama dengan dunia nyata, namun warna pada dimensinya cenderung lebih pucat.
“Ternyata, ada orang lain yang memiliki kekuatan... berani sekali kau muncul dan menantangku!”
“Kekuatan yang ada padamu adalah hoseki hitam, Tuan. Itu bukanlah kekuatan yang kau butuhkan.”
“Berisik! Tempat ini bukan tempat yang asli kan?! Apa maksudmu membawaku kesini?!”
“Sekarang pertarungan bisa dimulai.”
Seeji menatap Musubime Teiru dengan mata birunya yang bersinar sehingga teiru tersentak.
DUKK...
Seeji berlutut dan berbicara layaknya seorang yang berhormat pada raja. Teiru hanya diam karena tatapan Seeji yang membuatnya terpaku.
“Tuan, namaku Seeji Utsuki... akan menghilangkan kegelapanmu dengan cahaya hoseki...”
Seeji menatap tajam dengan senyuman yang terkesan menantang.
“Kita mulai dengan pembukanya? Tuan?”
Kekuatan Seeji mulai keluar saat Seeji bangkit dari posisi berlututnya, lalu mengeluarkan pistol dari balik lengannya.
“Ja-jangan bermain - main kau ya!!”
Teiru menyerang, dan Seeji segera menghindari serangan itu. Dia lalu menembak dengan pistolnya, memotong lagi benang itu dengan pelurunya yang cepat.
“Kau tidak mengerti? Kau tidak bisa menjadikan hal yang kau sukai sebagai sesuatu untuk melukai orang lain....”
“Hentikan omong kosongmu itu! Sebaiknya kau keluarkan aku dari tempat ini agar aku bisa melanjutkan rencanaku!”
Seeji mengeluarkan 2 pisau dari balik kakinya dan melemparnya ke arah teiru. Pisau itu melesat cepat sehingga menarik baju teiru dan tertancap ke dinding.
“Maafkan aku, Tuan. Sebaiknya anda tidak melawan.”
“Berhenti memanggilku Tuan! Apa maksudmu bersikap sopan tapi kau berusaha membunuhku!?!"
Seeji agak terkejut ketika mendengar itu dari Teiru.
'Tenang saja gadis kecil...aku tidak akan membunuhmu...aku hanya menginginkan sesuatu yang kau punya....dan aku bisa menggunakannya ataupun menghancurkannya sekalian!!'
'Ingatan yang bodoh...'
“Tidak, aku hanya ingin.... membunuh sesuatu dalam dirimu.”
“!!”
“Aku mencari orang yang membutuhkan pemurnian untuk mereka yang kotor sepertimu dan kurasa kau sangat membutuhkannya.”
“Apa?! Kau menyebutku kotor?!”
“Lebih tepatnya... termakan kegelapan!”
Seeji lalu teleport ke arah Teiru, dia kembali menggertaknya dengan matanya yang tajam dan bersinar. Kakinya lalu menendang pisau yang menancap ke bajunya Teiru di dinding.
“Kita bisa lanjutkan ke bagian utama, Tuan... Kekuatan itu...”
Seeji langsung menggunakan kedua pisaunya dan menyerang langsung Teiru yang masih berusaha berdiri.
“Seharusnya tidak ada dalam dirimu...!!”
Teiru segera melindungi dirinya dengan membuat benang dan menggunakannya untuk mengikat pisau yang mengarah padanya.
ZRRATS!
“Tidak secepat itu....”
Seeji menghempaskan hosekinya sehingga benang yang mengikat pisaunya itu terpotong kecil.
“Kh....”
Teiru menggeram kesal. Hoseki hitam mulai membuatnya haus akan kekuatan.
Seeji kembali mengayunkan kedua pisaunya dan mendesak Teiru. Teiru membuat pelindung dari hoseki hitam, dengan menyimpul udara tebasan Seeji dihalaunya.
__ADS_1
"Kau benar - benar mengunakan kekuatan ini...."
Seeji menyerangnya lebih cepat, tidak hanya dengan pisaunya dia mengkombinasikannya dengan pukulan. Pelindung udara itu tidak mampu menahan semua serangannya.
“Kenapa.... aku hanya menginginkan harta didalam tanah ini agar aku bisa menggunakannya semauku, tidak perlu ada aturan dari orang lain lagi!!”
“Apa? Harta?”
“Kekuatanku selalu membisikkan kekuatan yang bisa kuperoleh dari harta itu... dengan memilikinya tidak akan ada yang mengatur segala tingkahku!!”
"Itu sebabnya kau ingin membunuh ibumu sendiri?!"
“Dialah satu - satunya penghalangku...! Aku akan lepas dari ikatannya selamanya!"
Teiru menggunakan darahnya sendiri untuk menyerang Seeji, darahnya membentuk ujung setajam jarum dan memutari Seeji. Tanpa waktu lama Seeji memotong setiap benangnya dengan pisau dan kekuatan teleportnya.
'Ikatan... maksudnya hubungan darah kalian...?'
"Tidak hanya itu! Aku akan menggunakannya sebagai tumbal pembuka kunci harta!! Tapi sepertinya aku akan memulainya darimu, hoseki biru!”
'Kunci harta? Apa....'
ZRRRAAATS!
Jarum yang diarahkan Teiru menembus setiap syaraf gerak di tangan Seeji, dan sebagian besar menembus tangan kanannya.
“AAAKKH....! Apa?!”
“Aku mengikatmu dengan ikatanku kali ini, jadi sebaiknya kau bekerja untukku!”
“Sial! Aku lengah....”
“Hanya karena aku juga seorang pekerja.... bukan berarti aku terus mengikuti perintah bukan?! Aku diperlakukan layaknya seorang pesuruh oleh ibuku sendiri... Itu semua membuatku muak!”
“Musubime - san...”
Aliran hoseki hitamnya dapat dirasakan Seeji. Perasaan Musubime saat itu.
‘*Apa yang kau lakukan? Kau membuat semua kerja keras para pekerja sia - sia! Kau sangat ceroboh dalam bekerja!’
‘Ibu, itu tidak sengaja! Aku menyesal...’
‘Kau membuat kami harus membongkar 20 baju terusan! Apa kau pikir ini hal yang mudah?! Kau tahu apa yang mereka akan lakukan jika kita tidak menyelesaikan ini?!'
‘Kalau kita bekerja sama semua pasti mudah bukan?’
‘Teiru! Perayaan tinggal sebentar lagi! Kau bahkan tidak lebih baik dari semua pekerjaku!'
'Ibu-!!'
'Kalau kau pikir semua ini mudah, kerjakanlah sendiri*!’
"Mereka pun sama saja...!"
'*Ternyata dia anak yang tidak dapat diandalkan ya...? Bakat itu hanya atas nama ibunya saja...'
'Padahal ibunya orang yang sangat berbakat... hingga bisa dipercaya oleh pihak kerajaan....'
'Gara - gara dia pemilik tanah yang kikir itu datang dengan ancaman penggusuran.... bukankah lebih baik dia pergi saja? Tidak berguna*.'
'...... aku akan mengerjakannya sendiri...!
“Musubime - san, kau tidak berpikir kalau ibumu bekerja keras untukmu?”
“?!”
“Dia ingin kau bisa memiliki tempat usahamu sendiri karena kelihaian tanganmu. Meskipun dengan biaya yang mahal, dia ingin bisa mendapat imbalan uang itu untukmu, tidakkah kau berpikir!?”
Seeji melepas benang yang bersimpuh darah itu dengan pisau hosekinya. Dia memancarkannya dari tubuhnya sehingga ikatan itu bisa lepas. Puluhan luka sebesar jarum tertinggal di tangannya.
“!!!”
‘Teiru, dia selalu ingin membuka butik miliknya sendiri.... Tapi semua itu butuh biaya, jadi aku ingin bisa membantunya setelah dia terus membantuku selama ini.'
“Apa..?”
Teiru tidak percaya dengan kata - kata ibunya yang disampaikan Seeji.
“Ibumu menyayangimu, Teiru. Apa Ikatan yang telah kau jalin dengan ibumu ingin kau putuskan demi kekuatanmu? Apa kau masih tidak mengerti?”
“Diam! Semuanya sudah berbeda dari sebelumnya! Kita selesaikan saja ini!”
Teiru mengendalikan semua jarum dan benang yang ada di ruangan itu dan mengarahkannya pada Seeji.
“Masih mencoba untuk mempertahankannya...”
Seeji menghempas semua serangannya dengan 2 pisaunya, dia mengayunkannya sambil berputar.
“Tidak berguna!!!”
Teiru memusatkan hoseki hitam yang ada padanya lalu mengeluarkan pisau dengan bentuk yang aneh di tangannya.
"Terima ini! Hoseki biru!"
Teiru berlari ke arahnya dan menggunakan Pisau itu. Gerakannya tiba - tiba sulit terbaca saat menggunakan pisau itu. Seperti sebuah bayangan.
”Apa ini? Gerakannya agak beda....”
Teiru terus menyerang Seeji dengan pisau itu, Seeji hanya berusaha menghindar karena tidak punya kesempatan menyerang.
“Sepertinya yang dikatakannya benar... Senjata ini akan mengalahkanmu dengan mudah! Aku bahkan tidak kesulitan menggunakan benda ini!!”
"Ch... semakin sulit saja..."
Teiru bergerak cepat, tanpa dia sadari pisau itu menusuk tangan Seeji yang terkena serangan Teiru sebelumnya.
'Tidak..! Eh...?'
Anehnya tidak ada darah atau luka yang terlihat setelah pisau itu, Seeji lalu mengambil jarak dan mencabut pisau yang menancap di tangannya.
”Aku tidak terluka...tapi, tenagaku seperti terkuras...”
“Oohh... seranganku berefek besar ternyata? Kalau begitu biar kuakhiri saja!!”
Dia memusatkan tenaganya lalu memunculkan kembali pisau yang sama ditangannya itu lalu melemparnya ke arah kepala Seeji.
“Haha!! Kau sudah pasti akan mati dengan itu!!”
TRAAAK
Pisau milik Teiru menabrak dinding. Meleset.
“APA?!!”
DHOOR! DHOOR!
Seeji ternyata teleport ke belakang pria itu lalu melukai ke 2 telapak tangan Teiru dengan pistolnya. Sekaligus menanamkan titik segel pada serangannya tadi.
“Akh!”
“Maafkan aku, Musubime - san, meskipun kau menginginkan kekuatan, kau tidak boleh melupakan jati dirimu...”
“Brengsek!!”
SRRIIIING
‘Ibu senang kau terus bekerja keras dan membantu ibu. Teiru, ibu akan mendukungmu untuk kesuksesanmu ....ibu menyayangimu...’
'Ibu...maafkan aku...'
“Nah.... hoseki hitam, sebaiknya kau pergi darinya!”
SEAL
“FUIN!”
Lingkaran cahaya keluar dari titik segel Teiru lalu mengikatnya. Seeji menghadapkan tangannya ke arah Teiru dengan hoseki birunya yang menarik hoseki hitam. Kemudian terlihat percikan hoseki itu berubah wujud menjadi putih.
Seeji sempat merasakan perasaan Teiru sebelum selesai menyegelnya. Dalam kilauan cahaya yang membutakan mata.
'Apa yang telah kulakukan? Kenapa aku berambisi seperti itu sedangkan aku mengabaikan orang - orang terdekatku?!!'
'Jangan khawatir. Pengaruh itu telah hilang darimu.'
'Apa?!'
'Semua hal tentang ini akan hilang dari ingatanmu. Tapi satu, ingatlah hal yang berharga bagimu sehingga kau takkan menyesal.'
Seeji berhasil mengalahkan teiru. Dia hampir terdesak saat tangannya terluka karena jarum kendali miliknya.
‘Apakah hoseki hitam menjanjikan suatu harta kepada pemiliknya...?’
SRRIIING
Hoseki hitam milik Teiru kini ada ditangan Seeji dengan ukuran sebesar kelingking. Seeji lalu melemparnya ke atas dan menghilang ketika cahaya biru hosekinya melewatinya.
‘Setidaknya dia masih ingat jati dirinya sebagai seorang anak meskipun dia melupakan jati dirinya sebagai pekerja yang gigih dan rajin.’
Seeji masih memandangi Teiru yang pingsan karena efek fuin Seeji. Cahaya putih muncul setelah hoseki hitam keluar dari tubuh teiru, itulah hoseki putih yang dikatakan memperbaiki pemilik hoseki hitam. Luka yang disebabkan hoseki menghilang sedikit demi sedikit di tubuh Teiru.
"Baiklah, aku mengerti maksud dari memperbaiki di buku itu. untunglah aku bisa mengatasinya.”
SRIIING!
Mereka lalu keluar dari dimensi dan kembali berada di butik Himeji.
“Ternyata Seeji - san adalah salah satu pemilik ya..?”
Himeji melihat mereka muncul begitu saja karena keluar dari dimensi.
‘Himeji - san! Aku lupa tentang dimensiku!’
Himeji terpisah dengannya saat Seeji bersama Teiru masuk ke dalam dimensi. Seeji dan Teiru menghilang di depan Himeji yang masih tersungkur di lantai.
Seeji tidak punya pilihan lain selain menjelaskan semuanya.
--------------
“Jadi begitu... Seeji...”
“Maafkan aku, Himeji - san... Musubime - san akan tertidur untuk sementara waktu, dia tidak akan ingat tentang kejadian ini.”
'Ingatan pemilik hoseki hitam pasti akan terkunci oleh hoseki putih, seakan semuanya tak pernah terjadI, pikirannya pun disegel oleh fuinku tadi. Itulah efek dari hoseki putih.'
Seeji berpikir dalam benaknya tentang cahaya putih dan akibat dari penyegelan hoseki hitam.
“Tidak apa - apa Seeji, kau tidak perlu minta maaf, tidak kusangka putraku bisa mengalami hal ini.... aku pernah melihat sesuatu seperti ini saat aku masih seumurmu dulu.”
“Benarkah?”
“Ya. Kekuatan itu meningkatkan kemampuan, bakat, emosi, juga panca indra seseorang hingga di luar batas. Kemampuan Musubime memang hanya menjahit, tanpa mesin pun, dia bisa membuat baju. Kau tahu? Dia pernah menjahit tangannya yang tersayat sepanjang 5 cm loh...
"Tapi jika dia menjahit tangan para pekerja hingga terluka, itu berbahaya..... apa yang akan terjadi jika seseorang berkemampuan luar biasa memiliki kekuatan ini...”
“Himeji - san, tanganmu baik - baik saja?”
“Ya, aku baik baik saja. Tapi tanganmu pun terluka, Seeji. Sebaiknya kau obati dulu lukamu. Pakaianmu juga robek, mau aku betulkan?”
“Ehm, tentu.”
“Masuklah ke kamarku, Seeji.”
Himeji lalu mengobati Seeji dan menjahit lengan pakaiannya yang sobek.
'Hoseki putih muncul hanya untuk 'memperbaiki' pemilik hoseki hitam..'
“Kalau tidak salah... hoseki itu adalah legenda kan? Jadi itu nyata ya...?”
Himeji bercerita sambil menjahit baju milik Seeji. Seeji hanya terdiam.
“Kau pasti baru memulai perjalananmu.... Apa tidak ada seseorang yang menemanimu? Gadis secantik dirimu tidak bisa keluar seorang diri....”
Seeji ingat ketika Reeji memintanya untuk membawanya.
“Aku tidak mau melibatkan orang lain...”
“Begitukah? Kau tidak perlu khawatir, setiap warna akan saling melengkapi satu sama lain... kau tau kalau warna di dunia ini tidak hanya satu kan? Warna lain akan saling berdampingan seperti halnya pelangi...”
“Maksudmu, Himeji - san... Masih ada pemilik hoseki berwarna seperti aku?”
“Aku berpikir begitu Seeji.... hoseki berwarna akan lebih kuat jika mereka berdampingan.... Kalau aku tidak salah, nama pemilik hoseki disebut petals, benar?”
“Bagaimana...Himeji - san tahu tentang...”
“Itu mudah... legenda hoseki sudah turun temurun diceritakan generasi di setiap keluarga, tapi tidak banyak yang memperdulikannya...”
’Aku hanya mengetahui... apa yang ada di dalam buku itu... Tapi tidak ada penerangan tentang petals... itu berarti aku adalah salah satu dari petals?’
“Bisakah.... kau memberitahuku lebih banyak.... Himeji - san...?”
“Maaf Seeji, aku sudah terlalu tua untuk mengingat kejadian lama itu... sudah sekitar setengah abad yang lalu.... tapi aku mungkin bisa menceritakan tentang cerita legenda itu....”
Mereka saling berbicara hingga baju milik Seeji selesai.
“Bagaimana menurutmu? Seeji?”
Himeji menunjukkan hasil jaitannya yang mengganti lengan tangannya dengan lengan pendek.
“Itu bagus.”
"Ini buatanmu?"
"Eh?"
"Aku hanya pernah merasa melihat pakaian ini... dari modelnya, agak mirip dengan baju khusus upacara minum teh..."
“Baiklah, aku akan memakainya.”
“Tapi diluar baru musim dingin, kau pasti tidak bisa keluar dengan pakaian yang pendek.”
“Tidak masalah bagiku."
“Tidak, biarkan aku menolongmu kali ini.”
Himeji menuju lemari bajunya dan mengambil sesuatu.
“Coba pakailah.”
“?”
Seeji lalu mengenakan jas hitam panjang yang ditawarkan Himeji.
SYYUUUTS
“Cocok sekali."
Himeji tersenyum sambil menyampaikan pendapatnya.
“Benarkah?”
“Ya, kau benar - benar mirip dengannya...”
“Siapa?”
“Seseorang yang kukenal dulu. Blazer itu sudah lama kusimpan. terimalah, itu hadiah dariku...”
“Himeji - san... kupikir aku akan langsung pergi lagi.”
“Kau tidak akan lanjut bekerja?”
“Aku cukup senang bisa membantumu. Tapi setelah apa yang kudengar tadi darimu, Himeji - san, aku tidak bisa berdiam disini.”
“Kau bisa kemari kapan saja Seeji... tenang saja, rahasiamu aman padaku."
"Eh? Ini..."
"Aku merasa tidak enak padamu jika pergi dengan tangan kosong, jadi simpan uang saku dariku Seeji.. “
Seeji lalu menyentuh saku dari jas itu. Ada selembaran di dalamnya.
“Himeji - san....!” Seeji agak malu.
“Tidak perlu sungkan...”
“Terima kasih banyak, Himeji - san”
“Justru akulah yang harus berterima kasih Seeji, kau banyak membantuku. Berhati - hatilah...”
“Aku pamit, Himeji - san”
Seeji lalu keluar lewat pintu belakang pintu dan menutupnya. Dia melihat kyusin dan para pekerja yang baru saja kembali dari perayaan.
“Untunglah semuanya berjalan tanpa masalah...”
“Ya, kostum baju terusan itu bagus sekali!”
“Jaga dirimu, Kyusin" Seeji berbicara di belakang Kyusin saat melewatinya.
“Seeji - san?”
SYYUUUTS
Saat Kyusin berbalik, Seeji sudah menghilang dan teleportasi ke dalam dimensi miliknya. Dimensi level satu.
SRIIIING
Dimensi itu berukuran luas dan terdiri dari hamparan tanah quartz dan beberapa balok yang terapung diatasnya. Dia lalu masuk membuka buku tebal miliknya dan menulis informasi yang didapatnya.
‘Hoseki meningkatkan kemampuan khusus yang dimiliki seseorang.’
"Aku benar - benar ceroboh.... tapi untunglah Himeji - san mengerti..."
‘Ikatan yang rusak merupakan salah satu sebab hoseki hitam mampu memasuki tubuh seseorang secara perlahan.’
"Aku belum memahami apa yang terjadi di tanah ini..."
‘Pemilik hoseki disebut petals.'
Sesaat Seeji melihat hoseki hitam di salah satu bagian tersembunyi di dimensi itu. Tempatnya menampung hoseki yang disegelnya.
'Apa yang harus kulakukan dengan hoseki itu....? Aku hanya melepasnya dan tidak bisa memurnikannya secara total.... tapi lebih baik jika tidak digunakan sebagai kekuatan bagi orang lain.'
Seeji lalu keluar dari dimensinya dan beranjak pergi.
'Teiru pasti merasa kesal pada ibunya, lalu pada saat itu hoseki hitam memanfaatkannya. Kupikir itulah yang menyebabkan kekuatan hoseki hitam bisa berkembang di dalam tubuhnya.
'Apa maksudmu bersikap sopan padaku tapi kau berusaha membunuhku?!'
'Mau bagaimanapun...aku telah melukainya.
'Membunuh apa yang ada dalam diri seseorang....
'Saat menyegel teiru tadi, entah kenapa aku seperti pembunuh yang menghabisi targetnya. Tapi, jika hoseki hitam membuatku terlihat seperti pembunuh....
'Hoseki hitam, dari mana asalmu? Dan bagaimana caramu memasuki orang - orang putus asa itu?
'Dan kenapa orang yang memiliki hoseki hitam, atau kini bisa kusebut Black Petals... memiliki hati yang gelap?'
Seeji melirik bukit yang menjulang di belakang rumah - rumah bertingkat dua dari batu bata marmer. Bukit yang hijau dengan pohon yang paling besar berdiri di tengahnya, tempat dalam legenda yang diceritakan Himeji beberapa saat lalu
-------------------------------------------
Suatu ketika, bunga yang cantik bersinar diantara daerah pedesaan kering, dimana daerah itu dikuasai oleh orang yang haus akan harta dan memperkerjakan orang orang layaknya budak. Tujuh orang yang terpilih menemukannya dan menggunakannya untuk mengubah lahan kering tandus itu menjadi daerah yang subur. Mengatasi orang yang berkelakuan tidak berperikemanusiaan dan membebaskan mereka dari perintah. Dari tanah ke tanah, dari tempat ke tempat, mereka menyelesaikan masalah yang ada sehingga semua yang tinggal disana, yang awalnya hampir menghadapi kematian mendapatkan kebahagiaan. Ke -7 orang tersebut akhirnya terkenal dengan sebutan "Shining Petals".
Mereka berhasil menggunakan kemampuan bunga yang bersinar itu. Tujuh orang yang terpilih itu menggunakan setiap kelopak bunga dengan kemampuan yang berbeda pada setiap kelopaknya sehingga kelopak itu menjadi permata. Bagian tengah dari bunga itu mereka simpan sebagai tanda keberadaan.
Namun seseorang yang licik mengambil dan menyalahgunakan kemampuan dari komponen tengah itu, kekuatan yang awalnya murni akhirnya ternodai oleh kegelapan hati. Ingin merubah kembali tanah kebahagiaan itu menjadi sumber kekuatannya yang tak terbatas.
Tujuh orang pemilik kelopak bunga itu berjuang menghentikan perbuatan orang yang menggunakan bagian tengah bunga permata yang mereka jaga selama ini. Disaat mereka hampir bisa membawa kembali permata yang ternodai itu, dia melenyapkan dirinya juga permata yang lain sehingga 7 petals itu terbawa oleh arusnya.
Keberadaan mereka menghilang, namun cahaya mereka masih dirasakan oleh orang orang yang telah mendapatkan kebahagiaan dari mereka. Sebelumnya pengguna bagian tengah bunga menancapkan senjatanya ke tanah sehingga tanah bergerak dan membentuk suatu bukit sebagai tanda akan besarnya pertempuran kekuatan hoseki, sehingga bukit itu akhirnya disebut bukit hoseki. Dan senjata yang ditancapkannya itu berubah menjadi suatu pohon raksasa yang daunnya berkilauan.
Konon katanya, mereka akan bertemu kembali dalam pertempuran untuk menyelesaikan urusan mereka. Namun kilauan permata itu akan tetap membawa takdir yang akhirnya terbentuk pada pertempuran akhir mereka di bukit yang terbentuk oleh bunga hoseki.
-----------------------
Seseorang dibalik jubah hitam melihatnya dari jauh.
__ADS_1
“Hm, dia berhasil melakukannya, aku penasaran.... Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Seeji Utsuki...."