
“Nee - sama... ayo kita bermain lagi seperti dulu!”
--------
“Hei, Seeji..”
“Apa?”
“Aku tidak ingat kejadian kemarin…”
“Tidak ingat?”
“Yah… aku pikir aku sedang bermimpi… dan aku melihat cahaya biru….”
“Hm.”
“Ahh.. aku tidak ingat…. Apa aku sakit?”
“Kau baru saja sembuh bukan?”
“Aku…kemarin sakit?”
“Sudahlah, ayo.”
Mereka lalu meninggalkan penginapan.
‘Jadi… dia tidak ingat...’ dalam batin Seeji.
---------
Daerah industri Obsids. Tempat yang sepi dari penduduk saat sore karena hanya berdiri pabrik pabrik besar yang berkerja dari pagi hingga siang hari.
"Ini pertama kalinya aku melewati gerbang daerah Obsids..."
"Kita hanya akan melewatinya. Pegunungan Aven ada di depan sana. Kita sudah dekat.”
“Hm... benarkah?”
"Aku mulai merindukan bunga waterbloom yang menghiasi halaman di depan ruanganku. Reeji yang menajamnya saat itu."
"Apa? Bunga itu sangat langka-"
"Entah bagaimana dia memilikinya... tapi kami merawatnya sehingga semuanya berkembang... yang awalnya hanya satu benih menjadi puluhan..."
Seeji tersenyum saat bernostalgia. Sungguh menenangkan bagi Takai melihat senyuman dari gadis yang acuh seperti dia.
"Ayolah! Aku sudah tidak sabar!"
Seeji lalu berjalan maju. Saat Takai hendak mengikutinya seseorang menarik bajunya.
“Ano... maaf mengganggu...”
“Hm?”
Seorang anak perempuan berambut pendek menghentikan Takai. Tinggi anak itu tidak mencapai sikunya.
“Apa... paman punya kompas?”
‘Paman?!’ Takai tersinggung dengan panggilan tua itu.
“Ada... Tidak?”
“Dengar ya... anak kecil... aku tidak punya kompas, tapi aku bisa menunjukkan arah padamu... bagaimana?”
“Ah! Terima kasih! Pa...”
“Dan tolong jangan panggil aku paman.” Takai mencegahnya memanggilnya paman dengan senyuman 'sangat' ramah.
“Te-terima kasih! Jadi..arah mana?”
“B..barat... Sebelah barat pulau.... barat ya.... arah barat.... sebelah sana!”
Takai menunjuk dengan tangannya penuh percaya diri.
“Itu... bukankah selatan..?”
“Eh?”
“Arah barat kesana."
Seeji menunjukkan arah yang tepat. Takai langsung cengengesan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Pantas kau tidak ada di belakangku. Rupanya kau disini.”
Seeji melipat tangannya memandangi Takai. Anak kecil yang bertanya arah tadi mendekati Seeji.
“Terima kasih! Onee - sama!”
"Nee - sama...?"
‘Glek! Anak itu memanggil Seeji kakak sedangkan dia memanggilku paman?!’
"Apa yang anak kecil sepertimu lakukan disini...?"
"Aku.... mencari tempat pulang...."
"Apa...?"
"Setelah semua itu terbakar, aku harus mencari tempat tinggal baru..."
"Terbakar?!"
"Tentu saja Pegunungan Aven... siapa yang tahu...?"
"Apa?!"
"Semua yang ada disana hangus saat rumah itu meledak. Apa yang tersisa disana....?"
“Tidak mungkin…”
Seeji ingat dengan mimpinya ketika dia melihat Reeji menghilang bersama serpihan permata waktu itu. Dia lalu berlari dan mencoba memastikannya.
“Seeji! Tunggu! Eh?” Takai memandangi anak itu pergi, tatapannya terlihat aneh dan mulutnya menyeringai.
DRAP DRAP
Jaraknya masih jauh, namun Seeji berlari secepat mungkin. Gerakannya terhenti saat melihat abu berwarna hitam berserakan di dekat bukit - bukit kecil.
"Benar - benar terbakar... pepohonannya.... "
Seeji lalu melirik bukit hoseki yang dekat dengan rumahnya.
“Hhah....bukit hoseki baik - baik saja... Reeji..!”
Seeji menggunakan kemampuan teleportnya, dia tercekat saat dia sampai di depan rumahnya. Yang dikatakan anak itu benar, rumahnya sudah tidak berbentuk lagi. Puing bangunan berserakan dan menjadi berwarna abu karena terkena bekas terbakarnya kayu - kayu, yang dulunya adalah lantai ruangan Seeji.
“Bagaimana bisa...Tempat ini....”
Bunga waterbloom, yang dulunya menghiasi ruangannya kini hanya tinggal abu. Ruang bawah tanah yang dulu menjadi tempat Seeji berlatih, tak lagi berdiri kokoh. Buku - buku berantakan dan beberapa benda hangus terbakar.
“Jika aku langsung teleport di tempat ini... berarti ada sedikit kekuatanku disini, tapi aku tudak menyimpannya di ruanganku.... kecuali....kalung Reeji!”
Seeji menyadari dia teleport di tempat itu karena hosekinya yang tersimpan di kalung Reeji.
“Reeji!!”
'Kenapa kalungnya ada di ruanganku? Rumahnya berjarak beberapa meter dari ruanganku... apa jangan - jangan....!'
Seeji mencoba mencari keberadaan hoseki Seeji yang sedikit tersimpan di kalung adiknya itu.
’Jika kalungnya kutemukan, aku bisa menemukan Reeji... Reeji!!!'
GREK
Seeji menyingkirkan puing bangunan di dekatnya dan mencari letak hoseki birunya tersimpan di kalung Reeji.
“Disini..! Reeji!!”
SRIIING!
__ADS_1
Seeji menghempaskan reruntuhan itu dengan hosekinya, tangannya lalu masuk ke dalam puing dan menarik sesuatu yang terjepit.
CRREK
"Ini...!!"
Permata berwarna putih dengan ornamen kayu di sisinya. Jika dilihat dari sisi lain, warna permata itu dapat berubah hitam. Berbalikan dengan permata milik Seeji.
"Kalungnya...."
Kalungnya tertarik, dan Seeji melihat ujung talinya berwarna merah darah. Permatanya pun retak.
“Tidak....”
SEETTS!!
Tiba - tiba ingatan Reeji tersalurkan lewat hoseki biru di kalung itu saat Seeji menyentuh permata di kalungnya.
"Kau tidak akan bisa menyakitinya....! Dia adalah kakakku...! Dia sangat hebat...! Bukan hanya karena permata itu, tapi dia benar - benar hebat!! Aku tidak akan membiarkanmu....."
'Reeji....'
"Kau tidak akan bisa memiliki kalung ini...Atau apapu....kh..."
PRRAANG!!
'Dia melempar dan menghancurkan kalung ini... karena seseorang.... mengincar hoseki biruku....'
DEGG!
'Aku percaya.... onee sama... akan menyelamatkanku...'
“!!”
Seeji tentu terbelalak tidak percaya, ingatan Reeji menghilang setelah dia tercekik oleh sesuatu. Seeji melihatnya dengan jelas.
“Tidak...”
Dia bahkan melihat gambar yang dibuatnya bersama Reeji sudah rusak, dan ada bercak darah disana.
DEGG
‘Tidak ada lagi...?’
SYUUUTS
Sebuah pisau mengarah pada Seeji.
“Se…ji…tunggu…!!”
Takai baru saja datang dan dia terkejut melihat rumah Seeji yang hancur seperti di dalam mimpinya.
“Tidak…. Seeji! Dimana kau!”
Takai mencarinya, dan dia melihat Seeji baru saja selesai bertarung dengan pemilik permata hitam tanpa dimensi.
“Seeji!”
Takai mendekatinya.
“Hm.. Kaulah yang kulihat di bukit hoseki tadi, kau masih mencoba mencari harta yang diiming - iming padamu itu?”
"Apa maumu hah? Aku hanya mencari harta itu untuk kehidupanku!!"
Dia menjatuhkan Seeji dari reruntuhan itu.
"Dengan begitu, hidupku akan bahagia selamanya!!"
"Bahagia...kau bilang bahagia...?"
Seeji bangkit dan berdiri menatap Black Petals itu. Tatapan yang penuh kemarahan.
"Kau mencari harta diatas kematian orang lain?! BAGAIMANA KAU AKAN BAHAGIA DENGAN ITU HAH?!?!"
Seeji langsung menyerangnya dan menghancurkan tumpukan reruntuhan itu. Dia teleport di depan wajahnya dan menusuknya dengan kedua pisaunya.
"Kau terlalu lemah untuk melawanku...! Black petals yang hanya bisa menendang dan ketakutan...!"
"Kenapa? Aku tidak bisa membuatnya takut...?"
"Kau.... kemampuanmu membuat orang lain takut...? Tapi sayang sekali aku tidak takut apapun saat ini!! Majulah pengecut!!!!"
Seeji menendangnya hingga terjungkal berkali - kali di reruntuhan puing itu.
"Seeji! Hentikan itu!!"
"Kau bahkan tidak pantas untuk menatapku ketakutan seperti itu...! Berniat mencari hoseki dengan nyali sekecil itu? Jangan buat aku tertawa!!"
Tatapannya benar - benar kejam, Seeji lalu mengganti senjatanya dengan senapan lalu bersiap untuk menembaknya.
"Seeji! Kau harus menyegelnya! Bukan membunuhnya!"
Tangannya yang hendak menarik pelatuk itu terhenti, lalu ia merubah pelurunya menjadi peluru segel.
DHOOR!!
Penyegelan dilakukan dengan cepat, luka yang dialami pria itu pulih dengan cepat saat hoseki putih muncul.
“Seeji? Kau tidak membuat dimensi? Bagaimana jika seseorang melihat…”
Pandangan mata Seeji berbeda, yang membuat Takai sangat terkejut.
“Seeji?! kaukah itu?”
“Siapa yang berani mengacau....."
"Apa? Seeji?
"Satu lagi….”
Seeji mengarahkan pistolnya pada Takai. Dengan tatapannya yang tidak kemanapun.
“Seeji! Ini aku! Takai!!”
“Takai, kemana saja kau...”
Takai mulai merasa kalau inilah arti mimpinya waktu itu.
“Kau baik - baik saja?”
“Cepatlah, kita akan mencari lagi pemilik permata hitam lainnya.”
“Kau benar baik - baik saja? Bagaimana dengan Reej…”
“Jika kau tidak mau, pergilah!”
“Tudak, aku tidak akan pergi! Dengarkan aku!” Takai menarik tangan Seeji.
“Berisik!”
BRAAK!
Seeji menjatuhkan Takai hingga menghancurkan puing di belakangnya. Seeji lalu meninggalkannya.
“Ukh... dia melemparku semudah itu....? Apa yang harus kulakukan? eh..?” Takai menemukan kalung milik Seeji dan memungutnya.
'Apakah... adiknya telah....? Dan rumahnya juga...
Aku tahu... semua ini tidak mudah dilewatinya...'
Takai lalu membuntuti Seeji dari belakang. Seeji berjalan ke arah hutan kosong di sebelah pegunungan Aven. Dia sempat melirik bangunan yang sama hancurnya dengan rumahnya.
"Tidak ada gunanya...."
Seeji melongos pergi. Bersamaan setelah dia menghabisi black petals disana.
"Kenapa... Seeji menjadi sangat kejam...?
Takai tidak percaya, Seeji menghabisi musuhnya dengan cepat, dia menjadi sangat berbeda.
__ADS_1
"Aku... Bagaimana ini..."
Berhari - hari dilalui Seeji. Tetap tidak ada yang berubah, dengan cepat, persembunyian black petals di hutan kosong itu dihancurkannya. Tanpa pandang bulu menembak semua lawannya dan menebas serangan dengan pisau dan teleportnya.
Takai tidak dapat melakukan apapun selain memperhatikannya dari jauh. Saat dia berusaha menghentikannya, untuk sekian kali Takai diserang oleh Seeji. Dia hanya berharap Seeji tidak membunuh siapapun.
“Seeji....”
Seeji tak pernah lagi menunjukkan sikap berlututnya sebelum menghabisi pemilik permata hitam. Menyerangnya dengan pisau hingga tidak berdaya, lalu menembaknya berkali - kali hingga terakhir dia menembakkan peluru segel.
“Heh, pemandangan yang bagus....”
"Kuroseki!!"
Takai mengeluarkan tongkatnya dan langsung menyerang Kuroseki. Tapi dia meleset, Kuroseki selalu bisa menghindari serangannya.
"Rupanya kau ingat padaku..."
"Ingat...? Apa...?!"
“Perasaan adalah hal yang paling tepat untuk dijadikan sasaran..... jika semua itu hilang, maka takkan ada yang menghalanginya... ”
Dia lalu menghilang seperti asap. Takai mulai paham dengan maksud pria berjubah itu.
"Dimana... aku pernah melihatnya...?"
SRIIING
Seeji selesai menyegel seseorang, entah yang keberapa. Tatapan Seeji masih sama. Takai melihatnya dari jauh.
‘Matanya... cahaya di matanya hampir menghilang...
Apa itu berarti seperti yang dikatakan kuroseki? Apa aku harus menghentikannya?‘
Seeji...'
“Hhuh! Masa bodoh memikirkan orang yang egois sepertinya!” Takai menjauhinya dan menuju ke arah Kota Kristal.
Suara langkah kaki Takai berjalan agak cepat. Dia berjalan sambil melamun.
‘Takai - san....’
“!!”
‘Kau tidak bisa pergi sekarang, kakakku membutuhkanmu!’
“Kakak.. ?”
SYUUTS!
Angin dingin melewati wajahnya dengan cepat.
“Apa itu tadi...?”
Takai terdiam sejenak.
“Apa yang aku... Aku tidak bisa meninggalkannya...”
Dia kembali berjalan ke arah sebelumnya.
“Apa ini...? Tunggu dulu... kemana aku pergi...” Takai membatin sendiri
Tanpa Takai sadari kakinya tersandung oleh akar pohon dan terjatuh. Kalung Seeji ikut terjatuh di tanah.
"Aakh!”
BRUUUK
“Kenapa aku terjatuh....”
Takai mengambil kalung Seeji yang lepas dari tangannya. Dia memandangi kalung itu.
“Apa sih... dia itu hanya merepotkanku saja...”
'Kau bodoh! Takai!'
Ejekan Seeji teringat di kepalanya.
Takai menutup matanya. Kemudian dia bersandar di pohon.
'Saat itu aku menemukannya di hutan kan...?'
Dia mengingat saat bertemu Seeji yang terluka di hutan saat itu. Tanpa sadar dia tertidur.
‘Takai san...’
‘Lagi - lagi kau.... kau siapa?! Tunjukkan dirimu!’
‘Reeji, aku adiknya Seeji Nee - sama.’
‘Reeji?’
Takai melihatnya. Seorang anak laki - laki berumur kisaran 10 tahun itu tersenyum dan penuh kekhawatiran.
‘Kaukah...adiknya itu..? Tapi kenapa...?'
‘Onee sama... dia tidak bisa melewati semuanya sendirian... dia tidak pernah punya teman... selalu sendirian...’
‘.....’
‘Saat ini dia berada di dekat perbatasan barat Kota Kristal, cepat susul dia!!’
‘Kau....’
'Takai – san, kau orang yang baik, aku sudah kehilangan semuanya tapi aku tidak ingin kakakku kehilangan dirinya...'
Reeji menangis, Takai memandangnya iba.
"Tolong.... tolong lindungi kakakku.” Suaranya semakin jelas. Membuat Takai terbangun.
'Kenapa.... aku harus ragu...? Seeji adalah temanku!'
Takai dengan segera menuju perbatasan barat Kota Kristal.
‘Kupikir, aku harus mencoba menghentikan Seeji sebelum dia melukai orang lain...'
Dia lalu sampai di perbatasan barat kota Kristal, menghubungkan kota Kristal dengan hutan kosong itu dan wilayah Kastil Ameytyst.
“Seeji!! Tunggu sebentar...”
Takai akhirnya berada di belakang Seeji.
“Mau apa kau..?”
Tatapannya masih sama. Takai hanya menelan keraguannya dan melanjutkan kata - katanya.
“ini bukan dirimu, bisakah kau berhenti dan menjadi dirimu lagi?”
“Apa maksudmu, aku didepanmu tahu.”
“Tapi kau tidak harus memaksakan dirimu seperti itu bukan? Kau bahkan hampir mengira kalau aku adalah musuhmu!”
“Lalu?”
“Berhentilah Seeji, kau bukanlah petarung yang menyiksa musuhmu, tapi kau menolong mereka.”
“Menolong? Heh... Aku tidak salah dengar bukan? Seseorang yang memiliki kekuatan mengerikan ini disebut penolong? Aku bahkan tidak pernah ingin memiliki kekuatan ini...”
Senyuman putus asa terpancar di wajahnya.
“Seeji!”
DHOOOR!!
Seeji menembakkan pistolnya keatas. Membuat Takai agak memberi jarak.
“Kalau begitu, apakah aku masih bisa disebut penolong jika, aku membunuhmu disini?”
DEEGG!
__ADS_1