
“Seeji Utsuki..”
“Sudah kuduga kau ada di balik ini, Kuroseki.”
“Begitukah menurutmu...?”
“Yuki!”
Seeji melihat Yuki dan mendekatinya.
“Kau baik - baik saja?”
GRRT
“!!”
Seeji terkejut Yuki tiba - tiba mencengkram tangannya.
“Apa yang kau lakukan! Yuki?”
Yuki menatap Seeji dengan tatapan yang menyeramkan.
“Hegh!”
“Seeji, kau tidak menyadari hoseki hitam pada anak itu? Nampaknya mulai ada kerusakan pada hosekimu...”
“Hoseki hitam....?!”
Seeji memeriksanya dengan matanya yang bersinar biru.
"Apa ini? Hoseki hitamnya sangat kecil...”
“Sama seperti dia bukan?”
“?!!”
“Tapi, dia ada dalam kendaliku”
Yuki melepas cengkramannya. Seeji mundur dan tiba - tiba seorang anak berambut panjang menghentikan gerakannya dari belakang.
“Apa?!”
SYUUSSH!
‘Hosekinya bertambah besar..? Tidak... anak di belakangku ini menyerap hoseki milikku...’
SRIIING!
“BATTLE WAITER, AYO BERMAIN!!”
Hawa gelap mengelilingi Seeji, dia lalu terikat oleh hawa gelap dari anak itu.
ZRRRAAATS
“AAAAHHH!!”
--------
“Apa maksudmu labirin yang menakutkan?!”
“Dimensi Seeji sekarang berada di bawah kendali hoseki hitam. Dan aku memanfaatkannya untuk mengubah dimensinya menjadi labirin.....”
“Apa yang kau lakukan pada Seeji!?”
“Kekuatan hosekinya kugunakan untuk memanfaatkan penelitian baruku... seorang anak kecil yang menjadikan hantu sebagai temannya...”
“Apa maksudmu...Yuki!?”
SYUUTS!
Yuki muncul di depan Kuroseki.
“Kau sudah selesai mengurus battle waiter? Yuki?”
“Kuserahkan dia pada Nikki”
SYYUUTS!
“Hh... hah!”
Yuki terlepas dari kendali Kuroseki. Tiba - tiba Yuki terkurung dalam sebuah lingkaran.
“Orang itu...”
“Yuki!”
“Rou... kau pasti tidak ingin adikmu diperlakukan seperti ini bukan?” Kuroseki mulai berbicara pada Rou
“Kuro...seki”
“Aku tertarik dengan kemampuan adikmu itu. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mencoba”
“Apa yang akan kau lakukan!?”
Kuroseki mengarahkan tangannya ke atas dan terlihat aliran hawa gelap menuju ke tangannya. Dia lalu mengarahkannya ke lingkaran yang mengurung Yuki.
“Hh...hh....”
“Yuki...”
“Gawat...” Takai dan Rou merasa cemas.
“AAAAAAHH!!”
Yuki tiba - tiba menangis dan berteriak. Dia lalu terjatuh.
“Yuki!”
Rou mendekati Yuki.
“Rou...lingkaran itu..!”
“!!”
“Lingkaran pemanggil hantu...”
KKKKKAAAAAAA.
Hantu keluar dari lingkaran tadi. Yuki menghempas kakaknya dan dia mengendalikan para hantu itu untuk menyerang Rou dan Takai.
“Obake?!”
“Aaah! Merepotkan sekali!!”
Takai lalu menggunakan tongkatnya untuk menangkis semua serangan massal hantu itu.
“Takai!”
“Rou! Sebaiknya kau tidak ikut campur! Carilah tempat aman!”
'Menyebalkan! Kenapa orang asing ini bisa masuk dimensi? Apa karena dimensi Seeji bermasalah?!
Yuki mengarahkan tangannya ke lantai dan mengendalikan lingkaran itu. Lingkaran itu lalu berubah menjadi sebuah papan berbentuk jam. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan.
“Jam?”
“Kalian punya waktu sampai tengah malam untuk menyelesaikan labirin. Berusahalah untuk mencari pintu keluar yang tepat...”
“Kuroseki sialan!”
Takai menyerang Kuroseki. Tapi Kuroseki menghindar dengan cepat.
“Sebaiknya kalian bermain saja dengan kelinci percobaanku yang menggemaskan ini....”
“Jangan dekati dia! Dasar Sekibodoh!”
“Dasar tidak tahu diri!!”
Kuroseki menghempas Takai ke arah dinding lorong.
“Sia - sia Takai, berapakalipun kau mencoba kau takkan bisa mengenainya...” Rou mengkritik tindakan Takai.
“Sudah diamlah! Kau sendiri tidak melakukan apapun 'kan?!”
“Menyenangkan bukan? Bermain dengan mainan sebanyak ini... selamat bermain...”
Kuroseki meninggalkan mereka bersama sekelompok makhluk yang tidak jelas rupanya.
“Menyenangkan dengkulmu! Aah dasar!!!”
Takai mencoba memukulnya. Tapi Kuroseki menghilang.
“Sial! Aku ingin memberikan tinju kerasku padanya!”
“Dia bilang ini labirin. Tapi, ini masih ruangan sekolah bukan?”
“Kupikir dia tidak merubah semua susunan dimensinya.”
“Sebenarnya apa tujuannya?!”
“Nikki, kau sudah selesai? Ayo tukar posisi”
Yuki mengarahkan tangannya ke atas, lalu menghilang. Hantu hantu tadi juga tiba - tiba ikut menghilang.
“Kemana mereka?”
“Heh! Mereka pasti takut melihat kemampuanku menghadang mereka tadi...”
SSSHH
“Entah hanya perasaanku saja tapi, aku merasa ada getaran yang aneh diatas...”
“Memangnya diatas ada apa?”
Rou melihat ke atas. Dia melihat ke atap dan ada banyak kekuatan hoseki hitam di atas sana.
“Apa itu..?”
“Rou...?”
Rou mencoba melihat apa yang ada di atap. Dia melihat orang - orang yang hilang ada di atas sana terperangkap dalam lingkaran.
“Apa!? Mereka orang - orang yang hilang! Kenapa mereka ada disana?!”
Dia juga melihat Seeji terikat dan tubuhnya bergetar kaku. Energi mereka terserap dan mengalir pada Yuki.
“Itu...Seeji! Takai, Seeji ada di atap!”
“Benarkah!? Apa yang terjadi padanya?!”
“Dia terlihat tidak bagus...”
“Seeji...”
“Energi mereka terserap dan berpusat pada Yuki.... selain itu, energi Seeji lebih besar terserap... Pasti karena dimensinya yang diambil alih oleh Kuroseki itu....”
“Yuki ada diatas? Lalu siapa nikki? Dia bilang dia bertukar posisi dengannya diatas?”
“Entahlah... Yang jelas jika mereka tidak segera diselamatkan, mereka akan kehabisan energi dan akan terlihat kering seperti ranting...”
“Jangan gunakan kiasan ranting! Terlalu mengerikan!”
Takai terhenti saat menyadari sesuatu.
“Tunggu, kenapa aku harus percaya padamu? Memangnya kau siapa?”
“Ya sudah. Sebenarnya aku...”
DAAK!
Sesuatu yang keras menghantam punggungnya.
“Takai?”
“Apa ini!? Sesuatu yang tidak terlihat menyerangku!”
BRRAAK
“Akh!”
“Berhati - hatilah! Akari!”
Rou mengeluarkan pedangnya. Lalu menahan serangan tidak terlihat itu.
“Apa itu?”
Rou melihat kumpulan tengkorak bersenjata mencoba menyerangnya.
“Aku melihatnya! Itu..! Tengkorak manusia?!”
Saat Rou menahan serangan tengkorak itu, Takai melihat wujudnya.
“Aku mengerti... Energi mereka pasti digunakan untuk para hantu menyebalkan ini!”
Takai lalu memukul tengkorak itu hingga tulang tulangnya berhamburan.
BRAAAK!
“Aku berhasil!”
Kepala tengkorak tadi mendarat di tangan Takai.
“UAAAA!”
Takai melemparnya ke arah Rou, dia langsung menentangnya menjauh.
“Hei! Apa yang kau lakukan!? Kau sengaja membuatku agar digigit tengkorak tadi kah?!”
“Aku kaget tau! Itu tengkorak tiba - tiba loncat!”
“Sebaiknya kita cari cara untuk naik ke atas.”
“ayo cari tangga!”
Mereka berlari dan mencari tangga tempat mereka naik tadi. Tapi saat berbelok, tangganya menghilang.
“Dimana tangganya? Padahal aku yakin tangga untuk naik ada disini!”
“Tangga untuk turunpun aku tidak melihatnya...”
“Sial! Aku tidak menyangka akan terperangkap di dalam sekolah seperti ini!”
’Seeji, bagaimana keadaanmu saat ini?’
-------------------
Sementara Takai dan Rou mencari jalan keluar, Kuroseki mendekati Seeji yang masih terikat dengan hoseki hitam di atap sekolah dan berbicara padanya.
“Battle waiter.... kau telah melakukan sesuatu yang tidak berguna....”
“Kh....kau....”
“Pikirkanlah sejenak, sampai kau mati lemas terikat disitu.”
Hoseki birunya diserap secara paksa untuk mengendalikan dimensi yang membuat Seeji tak sadarkan diri Kuroseki mencoba merasukinya untuk memanfaatkan hoseki birunya.
ZRAAATS
Tiba - tiba hembusan angin menerpa Rou dan menyayat sedikit tangannya.
“Mereka datang!”
“Mereka? Siapa?”
Tanpa perhitungan para hantu bersenjata itu menyerang Takai lebih dulu dengan serangan beruntun.
“Takai!
“S-sial! Kenapa mereka selalu mengincarku?!”
__ADS_1
“Karena kau tidak bisa melihatnya."
Takai berusaha lepas dari cengkraman hantu itu.
“Akari! Jangan bergerak!”
SRIIIING
Mata Rou bercahaya. Takai sontak terkejut melihatnya.
“!!”
“Mereka datang semakin banyak!”
Rou mampu melihat apa yang menyerang mereka. Sekelompok hantu berupa tengkorak, dan hantu lain yang tak jelas wujudnya mengerumuni Takai. Namun Takai tidak melihatnya. Mereka lalu menghentikan gerakan Takai dan menimpanya.
“O..oi! Ber..rat!”
SRIIIING
Pedang milik Rou bercahaya.
“Rou...itu...!!”
“Odessy, dan hoseki.. Bantulah aku!”
DAASH!
Semua hantu yang menimpa Takai terhempas dengan satu tebasan pedang yang kuat dari Rou. Setelah terkena serangan itu, Takai akhirnya melihatnya
“Rou! ternyata kau adalah salah satu pemilik hoseki berwarna! Pantas saja kau bisa melewati dimensi!”
“Aku adalah pengawal kerajaan. Aku tidak begitu sering menggunakan kekuatan ini, tapi Yuki dalam masalah.”
“Heh... kau memang aneh. Kau bisa melihat hoseki ya kan.... dilihat dari matamu, hosekimu berwarna hijau.”
“Aku juga melihat hoseki milik kalian. kau sudah mengetahui kemampuanku, sekarang beritahu aku tentang Kuroseki!”
Rou langsung menyerang serangan lain dari para hantu tidak terlihat itu.
“Dia pernah mencoba mencelakakan kami dan melukai Seeji, dia pasti mencoba melakukan hal buruk pada pemilik hoseki berwarna..”
“Lalu...?”
“Seeji bilang dia adalah pemilik hoseki hitam yang berbeda dengan yang lainnya, kupikir dia mencoba memanfaatkan orang lain dengan hoseki hitam yang dikendalikannya seperti barusan..”
“Jadi... orang - orang yang hilang, dan orang orang yang berperilaku diluar batas itu, Kuroseki penyebabnya... Tak bisa diampuni.”
Rou menggunakan pedang miliknya. Dia mengalirkan kekuatannya dan pedang itu bersinar hijau. Hantu hantu mulai berdatangan
“Sebaiknya kita selesaikan saja ini!”
Rou langsung maju dan menebas semua hantu itu dengan pedangnya
“Rou! Itu keren sekali....”
CRAAAT
Takai terkejut ketika melihat bercak darah dari para hantu itu. Traumanya belum sepenuhnya hilang.
“Takai!”
“Hh...”
Tangan Takai bergetar, dan lututnya jatuh ke tanah.
’Kenapa ini? Padahal waktu itu aku tidak seperti ini...’
“Takai! Dibelakangmu!”
Puluhan hantu berbadan besar mendekati mereka. Takai masih terdiam.
“Cepat bangun dan pergi dari sini..!”
Rou memegang pergelangan tangan Takai. Dia tiba - tiba melihat apa yang dipikirkan Takai. Itu adalah salah satu kemampuannya.
Rou melihat ingatan saat Takai membunuh ayahnya. Cipratan darah merah mengenainya.
“Akari... ternyata kau...”
Tiba - tiba, kerah leher Takai diseret oleh pasukan hantu.
"Takai!!"
Hantu itu menyeret Takai dan melemparnya ke dalam salah satu ruangan kelas lewat kaca.
TRAAANG!
Rou menahan serangan dengan pedangnya.
“Dia itu...”
“Aku... tidak bisa berdiam terus!”
Takai berusaha bangkit.
“Nampaknya aku dilempar ke area berbahaya...”
Takai ternyata masuk ke dalam kelas yang terhubung dengan gudang dan lab ipa.
BRRAAK
“Kkhhaa!!!!”
Hantu berjubah gelap berteriak dengan wajah rusak di depan Takai
“Hei! napas bau malah teriak gak jelas! Beli hexos sana!”(?)
Takai menendangnya sekuat tenaga. Takai hampir saja tercekik oleh hantu itu.
Tiba - tiba sekumpulan paku menyerangnya. Takai mampu menghindar, tapi ada beberapa paku menancap di tangannya.
“Akh!”
“Takai!”
“Sial!! Aku tidak bisa melihat mereka!”
’Tanganku... masih saja bergetar....’
“Cobalah untuk merasakan pergerakan mereka!!”
“Pergerakan..?”
Takai memperhatikan setiap meja dan kursi yang ada di kelas itu. Dia lalu memejamkan matanya.
‘Mereka... pasti lebih dari dua... serangan mereka sebelumnya berbeda - beda dan menyerang dengan cepat... arah kanan dan kiri atas!”
ZRRRAATS
‘Yosh! berhasil! Selanjutnya...’
SYUUUSH
Bau darah mengingatkan lagi Takai pada kejadian itu. Takai menutup hidungnya.
“Uhuk!”
Dia tidak menyadari telah diseret lagi oleh sekelompok hantu, Takai terhempas ke arah lab ipa.
“Hh...hah...”
'aku kesulitan bertarung....'
TRAAK!
Dari dalam sakunya cermin milik Seeji terjatuh.
“Cermin ini...”
”Salurkan kekuatanmu ke sini, maka cermin ini akan bercahaya.”
“KKAAAA!”
Hantu itu tidak suka cahaya, dan Takai mendengar suara hantu itu yang berteriak, lalu menyerangnya.
"Akhirnya aku berhasil menyerangnya!!"
Namun bau darah yang ditimbulkan masih membuat Takai kesulitan.
“Sial...bau ini...”
Takai melihat di sekitarnya, ada sesuatu yang bisa ia gunakan. Dia lalu menyemprot ikat kepalanya dengan semprotan penetralisir bau dari lab ipa, lalu menggunakannya untuk menutup hidungnya.
’Seeji... kenapa aku kembali seperti ini?’
-----------------
‘Dimana....aku?’
Seeji berada dalam alam bawah sadarnya.
“Yang dilakukan ibumu sangatlah sia - sia...seperti yang kau lakukan saat ini.”
“Siapa itu?!”
“Hm... dia sengaja meminta pada hoseki biru untuk membuatmu tetap hidup. Tapi, apa hasilnya? dia mati sia - sia. Bahkan membuatmu dalam bahaya”
“Apa...? S-siapa kau! Jangan katakan apapun tentang ibuku!”
“Kau yang bahkan tidak memiliki seseorang yang disayangi..... apa yang akan kau lakukan di dunia yang tidak berguna ini?”
“!!”
Seeji terkejut dan terdiam sejenak
“Adikmu telah tiada, jadi tak ada yang perlu kau lindungi lagi....”
“Tiada....?”
“Kau hanya perlu memberikan permata birumu padaku, dan aku akan memberikan kebahagiaan padamu dengan semua keluargamu....”
‘Bahagia...?’
“Kemarilah....”
Dia memberikan tangannya ke arah Seeji yang masih terdiam.
----------------------
“Mana lagi kalian! Berhenti bersembunyi!”
Takai mengarahkan cahaya dari cermin itu ke seluruh penjuru kelas. Tiba - tiba dia melihat seekor kucing.
MEAAW
“Itu kucing yang tadi siang...”
Takai berusaha menangkapnya. Tapi kucing itu bergerak cepat seperti bayangan.
“Apa?”
Takai berusaha melihat apa yang ada di leher kucing itu.
“Rou!! Aku butuh bantuanmu!”
“Kau harus keluar dari tempat itu! Aku juga diserang tau!”
Rou menahan setiap serangan dari para hantu itu. Tapi Rou agak terdesak karena jumlah.
“Kalau begitu....!”
Takai mengarah ke jendela dan memancing kucing itu untuk meloncat ke jendela.
PRRAAANG!
Kaca jendela pecah, Takai mengeluarkan kucing itu dari dalam ruangan.
"Apa? Kucing?"
“Aku tidak bisa menangkap kucing itu, tapi sekarang aku bisa keluar! Tunggu...”
Dia ingat dengan cermin milik Seeji. Dia lalu melihatnya dan para hantu itu terlihat di cermin.
“Mereka menyeramkan....tapi!”
Takai lalu menyerang semua hantu di sekitarnya dengan tongkatnya. Dia menutup matanya dan berusaha tidak melihat. Setelah keadaan aman, dia langsung melompati jendela dan kembali ke lorong bersama Rou.
“Akhirnya kau keluar juga...”
“Daripada hantu, mereka lebih mirip dengan zombie..”
Takai menggunakan cermin itu untuk menyerang hantu - hantu itu.
“Kenapa kau tidak menggunakan itu dari tadi?”
“Aku tidak tahu cermin ini bisa melihatnya!”
“Kekuatan Seeji ada dalam energi hantu hantu ini... pasti karena itu...”
Darah kembali membuat Takai bergetar.
'Sial....'
“Takai... kita tidak punya banyak waktu mengurus mereka...”
“Kita harus mencari sumbernya... pasti dari atas!”
“Aku ada rencana, kau ikuti intruksiku menebas semua hantu itu tanpa melihatnya, lalu cari cara untuk keluar dari kerumunan ini...”
“Terserah!”
SRIIIING
Takai lalu mengeluarkan tongkatnya dan mengalirkan hoseki merah. Sama halnya dengan Takai, Rou menggunakan hoseki hijaunya seolah - olah menguasai ruangan itu.
“Pejamkan matamu Takai...”
“Hhah...kau ini...”
SYYUTS!
Dengan kekuatannya, arah pandang Rou meluas, Takai menunggu aba - aba Rou untuk menyerang.
“Arah jam 3.”
Dengan cepat Takai langsung mengayunkan tongkatnya.
“Jam 8"
Semakin kuat, Takai mengayunkannya semakin kuat dan cepat.
“Jam 6, 2, 11!”
"Hiaaaah!!"
“Diatas!”
SYYUTS
Rou menahannya dengan pedangnya. Takai lalu menebasnya. Mereka bekerja sama.
“Sekarang lari ke arah jam 9!”
DRAP DRAP DRAP!
Mereka berlari secepat mungkin dari kejaran hantu - hantu itu.
“Kita harus keluar dari dimensi ini!”
__ADS_1
“Hah...hah....”
TRRAAAK!
Takai menjatuhkan tongkatnya. Lalu memegangi lututnya karena terengah - engah.
“Takai? Kau baik - baik saja?”
“Diam!!”
Takai merasa kesal pada dirinya sendiri.
‘Kenapa? Padahal saat membawa Kyusin aku tidak gemetar...!’
“Takai..”
“Apaan sih?! Jangan sebut namaku dengan tatapan yang bodoh seperti itu!”
“Bukan itu maksudku! Apa rencana kita sekarang?”
MEAAW
Tiba - tiba seekor kucing hitam mengeong di dekat mereka.
“Kucing itu...”
Takai memperhatikan sesuatu yang menggantung di leher kucing itu. Kucing hitam itu lalu berlari menjauh.
DRAP!
“Takai! Kemana kau pergi?”
“Rencana selanjutnya adalah mengejar kucing itu!”
“Untuk apa?!”
“Kucing itu adalah kunci agar kita bisa keluar dari sini! Di lehernya ada jam yang bentuknya persis seperti jam pada lingkaran hantu itu!”
“Apa..?!”
-----------
“Mereka akan kehabisan waktu.... hmh.. Menggunakan kekuatan hoseki hitam untuk mengendalikan hantu itu bagus juga...” Kuroseki masih menikmati keadaan di atap. Melihat Yuki dan Seeji sedang tersiksa dibawah kendalinya.
“Kakak....”
’Yuki...!’
Rou merasakan sesuatu. Dia lalu melihat keatas dan Yuki sudah terduduk lemas.
“Yuki! Bertahanlah!”
Rou lalu melihat ke papan lingkaran di atas Yuki. Ada deretan huruf yang teracak disana, dan jam pada papan itu menunjukkan pukul 23.47. Tiga menit menjelang tengah malam.
“Sudah tidak ada waktu lagi!!”
SYUUUTS
Mereka masih kesulitan untuk menangkap kucing itu.
“Kucing iti merubah posisinya setiap 5 detik, jika cahanyanya pudar maka dia akan berpindah tempat.”
“Ini kucing apa cheetah sih?”
“Kucing itu selalu dilindungi oleh pasukan hantu! Sepertinya memang itu pintu keluarnya!”
“Aku sudah bilang tadi tau!”
“Tapi... para pengganggu selalu berdatangan... bagaimana ini?”
“Apa kau ada ide untuk menggunakan ini? Hantu itu tidak suka cahaya, jika kau menyalurkan kekuatanmu kesitu, cermin itu akan bercahaya”
“Dasar bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Malah protes! Memang kenapa?”
“Kau salurkan kekuatanmu ke para hantu agar mereka menghindar dan saat ada jalan, aku akan menangkap kucing itu!”
Takai lalu melakukan apa yang dikatakan Rou. Rou langsung menghampiri kucing itu dan dengan menggunakan pedangnya menebas lehernya.
“Rou! Apa yang kau lakukan!”
SRIIIIING!
kucing itu berubah menjadi seorang gadis berambut panjang. Darah mengalir dari lehernya karena tebasan Rou
“Gadis itu...”
“Rou! Apa yang kau dapat?”
“Benda yang ada di leher kucing itu”
Sama halnya seperti papan itu, ada gambar jam juga deretan huruf acak. Jamnya menunjukkan waktu 23.58.
“Waktu kita tinggal sedikit! Dimensi ini semakin kuat!!”
Rou panik sambil memperhatikan sekitar.
“Ini mengingatkanku pada papan ouija”
“Ouija?”
“Papan yang digunakan untuk berkomunikasi dengan hantu...”
“Kau tahu.... tentang itu?”
“Itu adalah permainan terlarang yang harus dimainkan lebih dari satu orang. Cara memainkannya, seharusnya ada sebuah lingkaran untuk menandai kalau hantu yang..... berkomunikasi dengan pemain menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ mungkin bisa sebaliknya...”
“Kau tahu banyak tentang itu...Takai?”
“Aku hanya mendengar rumor saat masih sekolah dulu.....ahhh!! Sial!!”
Takai tidak tenang melihat darah dari gadis itu tergenang.
“Takai, pinjam cermin itu!”
Takai lalu memberikannya pada Rou, dia lalu menggunakannya untuk melihat kalung kucing itu lebih dekat.
“M...K...A....A.....N...A...ini!..Takai! Pinjam tanganmu!”
Mereka lalu menggunakan tangannya untuk menandai huruf - huruf kecil yang tertera disana.
SRET..SRET
“NAKAMA”
--YES--
SRIIIIING!
“Teman?”
'Yuki, aku ingin menjadi temanmu, kenapa kau malah merasa tidak memiliki siapapun?'
Benda itu bercahaya. Papan yang berada di atas kepala Yuki hancur kecuali jamnya. Para pasukan hantu yang mengincar Takai dan Rou menghilang
“Ikatan yang mengikat Seeji dan yang lainnya terlepas.” Rou melihat keadaan di atap sekolah.
“Untunglah...”
“Tapi kita...masih di dalam dimensi...”
“Apa?!!!”
Saat mereka melihat lagi kalung itu, jamnya masih berjalan. Tiba - tiba gadis yang tergeletak itu lalu berdiri dan berbicara.
“Kunci untuk keluar adalah menghancurkan jam yang ada di atas kepala Yuki...”
“Apa!?”
“Jam itu mengatur waktu dan ruang dimensi...”
“Menyebalkan!!” Takai merasa kesal.
“Yuki juga tidak meminta bertukar posisi denganku... aku malah jadi berdarah begini... aku hanya ingin menemani Yuki saja, apa itu salah?”
“Kau...”
“Berdarah seperti ini membuatku ingat dengan kematianku...”
“Rou! Dia hantu!”
“Tolong selamatkan Yuki untukku juga ya, kalian berdua...”
“Bukan waktunya mendengar curhatan orang! Waktu kita tinggal 2 menit lagi!”
“Tenanglah! Takai!”
“Kkh....”
Takai lalu menahan amarahnya. Riu hanya berusaha tidak panik.
“Kita bisa mengandalkan Seeji.”
“Apa?”
"Melalui hoseki...."
---------------
--‘Bagaimana? Seeji? Kau pasti ingin mengakhiri semua ini ya 'kan?’
‘Jika semua berakhir... apa aku akan bahagia?’
‘Tentu saja...!’
Seeji mendekati tangan itu, tapi dia langsung terhenti karena mendengar sebuah suara.
‘Seeji, masih ada yang harus kau lakukan! Jangan tergoda dengan ajakan manis itu! Tetap berjuang!'
'Apa?'
'Kau harus mengakhiri semuanya dengan tanganmu sendiri! Aku akan menunggu!’
“Ya, dia benar...”
“Apa maksudmu?”
“Apapun yang kau katakan.... heh, ternyata aku hanya berputar putar dalam pikiranku.... kau pikir aku tidak memiliki seseorang yang kusayangi? Begitu?”
SRIIIING!
Hoseki Seeji bersinar, sinar dari pemilik hoseki berwarna yang lain. Green petals dan Red petals.
“Seeji! Jangan tertidur dalam keadaan seperti ini! Bangun! tembak jam di atas kepala Yuki, aku tahu kau bisa melakukannya!”
“Semoga Seeji mendengarnya!”
Dengan kemampuan Rou dalam telepati, Takai dan Rou berusaha mengirim pesan pada Seeji lewat cermin itu. Dalam cermin itu masih ada kemampuan Seeji.
‘Aku... merasakannya, aku tidak boleh tenggelam dalam masa lalu, aku harus melakukan apa yang saat ini harus kulakukan. Hm, kau disini rupanya, Takai’
Seeji mencoba menyadarkan dirinya dan keluar dari alam bawah sadarnya.
“LAKUKAN! Seeji!!”
“Dasar cerewet!”
DHOOOR!
Dengan kemampuannya Seeji menembakkan peluru ke arah jam di atas Yuki. Tidak butuh waktu lama, jam itu retak dan pecah berkeping - keping. Yuki lalu terjatuh lemas.
“Hh...hah...”
Ikatan yang mengikat Seeji termasuk orang - orang yang hilang disana terlepas.
SRIIIIING!
Gambar jam pada benda yang Takai dan Rou pegang bercahaya. Dimensi labirin itu lalu menghilang bersamaan dengan bercak darah yang ada di ruangan itu.
“Tangganya pasti kembali!”
Rou dan Takai lalu berlari mencari tangga.
“Nah...apa yang akan kau lakukan, Kuroseki...”
“Kau kuat juga Seeji, setelah kekuatanmu terhisap begitu kau masih bisa mengeluarkan pelurumu... Tapi... kalian membuang banyak waktu...”
Kuroseki lalu menuju ke arah Yuki.
“Kekuatannya akan berlipat lebih dari ini”
“Kau!”
Seeji berusaha menghentikannya, tapi tubuhnya masih tidak dapat bergerak.
“Takkan kubiarkan kau menyakiti kami lagi!”
Gadis berambut panjang tadi berubah kembali menjadi kucing dan datang secepat bayangan menggigit tangan Kuroseki.
“Baiklah, akan kucoba padamu saja..”
Kuroseki menarik gadis itu dan memberikan sesuatu berbentuk bola energi berwarna hitam. Benda itu adalah hoseki yang dikumpulkan selama waktu itu.
“Kau pikir aku hanya diam menunggu kalian mati?”
“Apa yang kau lakukan pada gadis itu?!
ZRRRAATS
SRRIIIIING
Kucing tadi berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan juga ganas dari bola energi yang dimasukkan Kuroseki. Ukurannya bertambah besar dua kali lipat, dan meraung seperti makhluk yang buas.
“Aku tidak menyangka orang mati seperti dia bisa terbawa masuk dalam penelitianku...”
“Nikki!”
Yuki tersadar, tapi Kuroseki kembali mengendalikannya.
“Seeji! Yuki!”
Rou dan Takai akhirnya sampai di atap sekolah, Seeji masih belum bisa berdiri karena kehilangan tenaganya.
“Yuki, kau tahu apa yang harus kau lakukan...”
“Hhh...Yuki...”
Yuki kembali ke keadaan sebelumnya. Dia mengarahkan tangannya menuju Seeji.
"Tidak! Seeji!!"
BAAATS!
Yuki mengeluarkan black scar seperti milik kuroseki, dan menyeret Seeji keluar dari atap gerbang. Seeji berusaha menahannya, tapi black scar itu lebih kuat dan mendorongnya paksa sehingga Seeji terluka dan jatuh dari atap sekolah itu.
“Seeji!”
“Takai! Kalahkan ketakutanmu itu!”
Seeji terjatuh dengan wajah yang masih pucat dan penuh luka. Takai terkejut.
“S..Seeji..”
Monster tadi mencoba menyerang Takai dan Rou. Takai masih belum bergerak, Rou berusaha menariknya.
"Takai!!"
“Apa yang dilakukannya itu sangat bodoh” Kuroseki merendahkan Seeji.
__ADS_1
“Kau.... Kuroseki.... AKAN KUBUNUH KAU!”