
“Ternyata aku benar... tidak kusangka... berani sekali menipuku....”
“Kau...!!”
Takai tetangkap basah oleh Pangeran, wujudnya telah kembali seperti semula.
“Pangeran dari kerajaan ini.... Kuroseki tidak mungkin menanyakan dimana Hiru, karena dia sendiri yang memasukannya ke tempat ruang hukuman mati..”
“Gawat...”
“Kau ingin menyelamatkan para pemilik permata itu? Mereka ada dibalik ruangan ini. Tapi kau tidak akan bisa melewatinya dengan mudah...”
Pangeran mengangkat tangannya. Dia mencoba mengendalikan semua penjahat yang ada dipenjara saat itu untuk menyerang Takai. Termasuk orang yang menyuntikkan obat pada Takai dulu.
“Oh... kalau tidak salah... kau....”
“Menjauh!”
Takai tidak bisa berkonsentrasi.
“Kau membuang waktumu. Pagi akan segera tiba.” Kuroseki yang asli berbicara pada pangeran.
“Kau ada disini?”
“Aku merasakan energi lain.”
“Oh, kau benar. Kalau begitu kuserahkan padamu.”
Pangeran menghilang begitu saja. Dia teleport seperti Seeji.
"Red petals...?"
‘Ini tidak bagus...’ Rou bergumam setelah melihat keadaan diluar sana dengan matanya.
‘Ada apa...Rou...?’
‘Seeji!’
‘Hah.... Takai dalam masalah ya kan?’
Seeji berusaha bangun.
“Kuroseki tidak ada disini kan? Dia tidak akan memperkuat jeruji besi ini dengan kekuatannya lagi.”
Sejak tadi Seeji berusaha mengumpulkan kekuatannya yang tersisa di tangannya. Rou melihat permata milik Seeji, hanya tinggal satu permata lagi kekuatan yang Seeji miliki.
“Kau tetap...”
GRAAAK!
Seeji berdiri sambil memegangi jeruji besi itu.
“Seeji...”
“Ketika ada celah, segera teleport ke tempat Takai dan selamatkan Hiru. Aku akan menyusul.”
“Kau keras kepala, Seeji"
SRIIIING!
Seeji masih berusaha menghancurkan jeruji besi itu dengan kekuatannya. Dia tidak menggunakan senjatanya, dia mengalirkan kekuatannya ke jeruji besi itu agar bisa bengkok atau patah, seperti yang dilakukan Takai ketika gelas plastik terlempar karena kekuatannya.
‘Seeji... sebegitu tidak maunya kau mengingkari janji?’
Hoseki milik Rou kembali bereaksi, melihat kenangan yang tersirat di benak Seeji.
‘Jangan khawatir... aku yakin, kita akan bertemu dan bermain lagi! Aku janji!’
Janji yang dibuat Seeji dengan Reeji. Rou mendengarnya karena Seeji sedang membayangkannya.
“Dia....sudah menghilang dari hidupku... setidaknya, aku tidak boleh mengulang kesalahanku.”
SRIIING!
“S...sial..”
Seeji merasa usahanya tidak cukup untuk membuka sel penjara. Rou lalu berdiri, dan memberikan kekuatannya sedikit demi sedikit pada Seeji.
“Kau adalah penyegel... jadi kau lebih tau serangan langsung... jangan lupa, aku juga petarung meskipun aku tidak tahu caranya menggunakan hoseki tanpa senjata.”
“Kau...langsung mengerti, ya?”
Kuroseki datang dan melihat apa yang dilakukan Seeji.
“K-kau! Dasar bodoh! Berapa kali kubilang percuma saja!”
TRAAAK!
Besi berdiameter 6 centi itu akhirnya bengkok dan memberi ruang untuk teleport.
“Sekarang!”
SYUUTS!
Rou lalu teleport ke tempat Takai.
“Hah.....hah....” Seeji terduduk lemas dan mengatur napasnya.
“Battle waiter! Apa kau tidak mau menyerah juga?!!”
“Setidaknya, aku mencoba melakukan apa yang aku bisa....”
Kuroseki terkejut melihat Seeji yang tetap berjuang keras.
“Dasar bodoh! Kau membiarkan dirimu tersiksa demi menyelamatkan orang lain?! Tak ada gunanya bagimu ataupun bagi orang yang kau selamatkan! Kuperingatkan kau.... sebaiknya lepas kekuatanmu....”
Seeji berdiri dan teleport ke depan Kuroseki sebelum Kuroseki menyelesaikan kalimatnya. Emosi di mata Seeji dapat terpancar saat Kuroseki menatapnya. Seeji lalu menarik kerah baju Kuroseki dan menyerap kekuatannya, tudung milik Kuroseki terjatuh.
"Kau ingin aku menyerah? Aku yakin apa yang terjadi pada adikku ada hubungannya denganmu, dan kaulah yang membuat janjiku tidak bisa kupenuhi!!”
“Memangnya apa yang bisa kau lakukan dalam kondisi seperti itu?!!”
“Bodoh. Aku tidak sendiri, tau. Beda denganmu...”
“!!”
“Bagaimana? Kalau begitu Biar kupakai dulu kekuatanmu...”
Seeji memperlihatkan senyuman iblisnya pada Kuroseki. Kuroseki terpaku. Tak bicara dan tak mengalihkan pandangannya dari gadis yang tengah menahan emosi itu.
“Takai!!”
Rou berhasil teleport ke tempat Takai. Dia memanggil Takai yang sedang melawan penjahat - penjahat itu, tapi dia tetap saja masih gemetar
‘Tak ada yang perlu kutakutkan! Aku harus tetap menyerang!’
Seseorang mencoba menyerang Takai dari belakang. Rou cekatan menghentikannya.
“Kalau tak ada yang perlu kau takutkan... Kau tidak perlu ragu begitu...”
“Rou!”
“Ini semua hanya tipuan memori!”
SRIIIING!
Rou menyebarkan hoseki miliknya ke seluruh ruangan, pandangan Takai akhirnya berubah dan menyadari, semua yang ada disana hanya tahanan biasa yang mengenakan penutup mata.
“Rou...”
“Tipuan Kuroseki, memanipulasi ketakutanmu. Tapi dalam tubuh mereka memang teraliri hoseki hitam yang dikendalikan.”
Beberapa dari tahanan itu melempar barang - barang besar dan benda tajam ke arah Rou dan Takai, mereka berusaha menghindarinya dengan baik.
“Jangan lupa, kali ini kau tidak berjuang sendirian. Benar begitu? Seeji...?”
“Rou..?”
“Seeji, aku tak bisa berkomunikasi dengannya”
"Ayo kita akhiri saja ini!”
“Aku biasa menggunakan pedang, tapi mau bagaimana lagi...”
Mereka berdua melakukan serangan kombinasi, dengan menyerang orang - orang itu hanya dengan pukulan dan tendangan yang teraliri hoseki.
“Rou! Penutup mata...”
Takai tidak sengaja menarik penutup mata salah satu tahanan, nampaknya mata mereka memang sudah dihancurkan.
"Mata mereka....!"
“Tidak mungkin... terlalu kejam! Segera buat celah! Kita susul Seeji!”
Mereka lalu menyerang bersamaan, saat ada celah mereka keluar dan segera mengunci penjara kembali.
“Seeji! Jawab aku!”
Rou dan Takai berlari mencari jalan keluar, dan Rou masih berusaha menghubungi Seeji.
“Bagaimana?”
“Dia tidak menjawab..."
“Pangeran bilang kalau Hiru ada di ruang hukuman mati, kau tau dimana ruang itu?”
“Ikuti aku!”
--------------
Hiru masih terkunci di dalam ruang hukuman mati. Dia berharap dan mengingat mendiang ibunya.
“Ibu, aku tidak tahu, apa yang terjadi pada kakakku... Semenjak ibu tidak ada semua kacau.... Tapi tolonglah, sadarkanlah kembali kakakku seperti dulu.”
“Pagi sebentar lagi tiba, tuan puteri...”
Pintu ruangan sempit itu dibuka oleh Pangeran Riyou.
“Pangeran...”
“Apa yang kau lakukan, di waktu terakhirmu ini?”
“Tidak.... ini bukanlah waktu terakhirku....”
“Hm? Apa kau bilang...?”
“Karena... waktu - waktu yang pernah kita lalui... bersama Nii - sama.... tidak akan berakhir bagiku!”
“Kau tidak tahu diri! Sudah mau mati masih saja cerewet! Kau telah membuat pekerjaanku semakin sulit!”
Pangeran menjatuhkan Hiru dari kursinya, Hiru menahannya dengan tangannya.
“Semakin sulit? Aku justru mempermudahmu! Nii - sama tidak lagi memperhatikan rakyat kecil, apalagi mereka yang terkena wabah penyakit! Aku berusaha menolong mereka dengan kekuatanku seperti yang pernah coba kulakukan pada ibu!”
Pangeran menatap Hiru dengan mata yang penuh kebencian. Hiru terpaku. Pangeran lalu memukul Hiru dengan sarung pedangnya.
"Aaah!!
“Dengar... waktu - waktu yang kau bilang itu... tidak ada artinya bagiku! Aku akan menguasai sepenuhnya kerajaan ini! Tak kan ada yang menghentikanku termasuk kau! Hiru!”
Pangeran mengeluarkan pedangnya dan mencoba melukai Hiru.
"Nii sama! Jangan!!"
__ADS_1
ZRAAATS!!
“Kau!”
“Seeji - san!”
Seeji teleport tepat di depan Hiru. Dia menahan pedang milik pangeran hingga tangannya berdarah.
“Sudah kuduga kau memiliki kekuatanku dalam dirimu. Kuroseki pasti memberikannya padamu yang membuatku tepat teleport kesini.”
“Kau! Jangan menghalangiku!”
“Kau yang bahkan tidak tau arti dari seorang kakak, berniat menjadi Raja? Jangan membuatku tertawa...”
“Jangan ikut campur!”
Pangeran mencoba menyerangnya, Seeji lalu menghindarinya. Hanya tinggal beberapa senti lagi Seeji akan mengenai pedang itu. Pedangnya menancap ke dinding.
“Jangan halangi jalanku!!”
“Yang mulia, jangan sampai kau kehilangan jati dirimu..”
“Apa?!”
“Memangnya kau merasa jalanmu adalah yang terbaik untukmu?”
“Kau!!”
“Tidakkah kau melihat apa yang ada di sepanjang jalannya? seseorang yang seharusnya tidak kau tinggalkan di belakangmu!!?”
Hiru merasa cemas dengan kakaknya yang mulai kehilangan emosi.
“Tidak... Hiru..."
"Pangeran Riyou...?"
"Per...pergilah!!!”
SRIIIIING!
Cahaya hitam yang berasal dari hoseki hitam pangeran riyou menyelubungi ruangan, Seeji langsung teleport ke hadapan Hiru dan membawanya menjauh dari ruangan itu.
'Dia memang dikendalikan hoseki hitam... bukan mengendalikan hosekinya...'
BRAAAK!
“Apa itu?” Rou mendengar suara gebrakan yang keras.
“Seeji! Dia pasti disana!”
Saat mereka sampai didepan ruangan hukuman mati, tidak sedikit pengawal yang menjaga ruangan itu.
“Ahhh!! Kenapa harus ada penghalang seperti ini!”
Mereka mencoba menerobos pengawalan. Saat Rou dan Takai mencoba menembus pengawalan itu, Seeji terkejut melihat pangeran dari luar ruangan.
“Dia itu...”
Hoseki hitam menguasai dirinya sepenuhnya. Dia terlihat sangat marah. Setengah dari ruang hukuman mati itu hancur
“Seeji Utsuki! Kau akan mendapat hukuman yang sangat berat!”
“Nii - sama....”
Seeji menggunakan 2 pisaunya dan mencoba menghentikan pangeran. Tapi pangeran lebih unggul dari Seeji karena permata hitamnya.
“RYO NII - SAMA!”
“!!”
BRAAAK!
Seeji menjatuhkannya dan mengunci pergerakannya
“Kau!”
“Sudahlah! apa yang telah Nii - sama lakukan, bukanlah sesuatu yang diinginkan Ibu!”
“Apa yang kuinginkan, adalah sesuatu yang harus kudapatkan! Ukh... Hiru....! Tidak...Sial!!”
Pangeran lepas dari rinciannya dan memegang kepala Seeji, dia mencoba mengendalikan Pikirannya.
‘Sial! Apa ini kemampuan pangeran dari hoseki hitam?’
“Seeji!” Takai datang dan melihat Seeji tengah dikendalikan Riyou.
"Serang dia untukku, Battle Waiter! Kalau bisa, bunuh sekalian!!"
Karena dikendalikan, Seeji mencoba untuk menyerang Takai.
"Apa?! Seeji!"
'Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku... aku mengikuti perintahnya begitu saja!!'
“Seeji - san!”
“Nah... Hiru, sekarang tak ada lagi yang menghalangi...”
Dia memegang pedangnya dengan penuh ambisi. Hiru melepaskan diri dari ikatannya dan memegang tangan kakaknya yang sedang memegang pedang itu.
PYAAAS!
Hiru mencoba mengalirkan kekuatannya pada kakaknya. Tapi dengan kasar Riyou melepasnya.
“Kau!”
ZRAAATS!
pangeran melukai tangan Hiru hingga berdarah.
Seeji terdiam dalam pikirannya.
‘Apa yang harus kulakukan sekarang!?’
Tiba - tiba suara Kuroseki terngiang di telinganya.
‘Kau baru saja mengambil kekuatan milikku, kenapa kau tidak menggunakannya?’
‘Diamlah, kau tidak membantu! apa yang coba kau lakukan, Kuroseki!’
‘Biar kuberi kau petunjuk, warna hitam dan putih berbeda dengan warna lain, karena dia mudah menyatu dengan warna lain. ‘
‘Me...menyatu dengan warna lain... Kalau begitu...!’
Seeji masih menyerang Takai, dan Rou sedang menghalangi para pengawal di luar ruangan.
‘Rou! Kau harus masuk! Aku dalam masalah!’
Seeji akhirnya berhasil telepati dengannya.
‘Seeji! Kau bisa membuat dimensi?’
‘Aku akan mencobanya! Bilang pada Takai. untuk menghentikan gerakanku! Aku tidak bisa mengendalikannya!’
‘Aku mengerti, Takai.....’
BAAATS!
Takai memiting Seeji, dan mencoba berbicara dengannya.
‘Seeji!!’
'Akhirnya... dengan begini akan kugunakan....'
Seeji mengepalkan tangannya, dan berusaha membuat dimensi.
‘DIMENSIONS!!’
SRIIIING!
Seeji membuat dimensi level dua, dia berhasil keluar dari pengaruh pangeran. Pagi hampir tiba.
“Hah....Takai.....”
Seeji akhirnya mampu kembali mengendalikan tubuhnya.
"Kau baik - baik saja? Rou bilang kau kehilangan tenagamu...."
"Aku dapat cara baru..."
Seeji mendekati pangeran Riyou yang hampir menebaskan pedangnya pada Hiru.
“Tuan puteri... inilah akhir dari hidupmu!”
TRAAANG
Seeji melemparkan pisau miliknya yang dialiri hoseki ke arah pangeran untuk menghentikannya.
“Kau memiliki sesuatu yang lebih penting daripada tahta.”
Seeji membuat semacam senjata kecil berwarna hitam yang dia arahkan pada pangeran lalu menyerangnya.
'Kau menginginkan kekuatan? Bukankah kau mengumpulkannya selama ini?'
SYUUUTS!
“Kau benar ingin melawanku? Aku tidak akan ragu!”
Seeji menyerang kembali dengan senjata kecilnya yang ditembakkan oleh hoseki biru. Pangeran menghindarinya dan menyerang dengan pedangnya.
'Seeji, senjata apa yang dipakainya itu? Selain itu kenapa warnanya hitam?'
Takai. sulit ikut bertarung karena serangannya dapat mengenainya kapan saja.
'Takai!'
“Rou?”
Rou memanggil Takai lewat telepati.
'Apa Seeji menggunakan hoseki hitam?'
'Menggunakan? Seeji?'
Rou akhirnya sampai di tempat mereka tapi Takai dan Rou tidak dapat mendekat.
"Berayunlah...! Mata pisauku!!"
Seeji mengendalikan puluhan pisau itu ke arah Riyou. Dia cukup terdesak karena beberapa senjatanya melukai tangan dan kakinya.
“Kalau begitu Battle Waiter! Saatnya senjata cadangan!”
SRIIING
Pangeran mengeluarkan semacam pisau kecil yang berbentuk aneh dari tangannya. Dia langsung menyerangnya ke arah Seeji.
“Senjata hoseki hitam..!”
“Seeji! Jangan lengah!”
Ternyata arah serangannya berbelok ke belakang leher Seeji. Takai menahan senjata hoseki hitam itu dan mengenai dadanya. Tapi tak ada darah setetespun.
“Senjata apa ini?”
__ADS_1
”Takai! Senjata itu menguras tenagamu! Cepat lepaskan!”
Takai segera melepaskannya. Dia berbalik dan langsung melemparnya pada Pangeran Riyou
SRAAT!
Pisau itu menyayat tangan kanan Riyou yang lengah sehingga Riyou berhenti menyerang.
“Aku mengenainya!”
Seeji mengeluarkan dua pisaunya yang akan dia lempar ke arah pangeran. Aura yang dikeluarkan lebih gelap.
“Seeji! Kau harus menyegelnya kan?!”
Takai langsung menahan Seeji, Seeji terkejut.
“Hah! Benar juga...”
Kedua pisahnya langsung menghilang. Riyou terdiam karena tangan kanannya tidak bisa menyalurkan hoseki.
“Dasar... tidak berguna! Menjauh dari hadapanku!”
PYAASS!
pangeran menghempas semua yang didepannya dengan angin yang sangat kuat lalu meninggalkan mereka. Hiru melindungi mereka bertiga dengan perisai pelindung dari hoseki kuning.
“Hiru...”
“Aku mempersiapkan ini sejak tadi...”
“Ini..perisai pelindung”
“Nii - sama! Jangan lari!”
Mereka berempat langsung mengejarnya.
“Seeji, kau tidak apa - apa kan?”
Seeji mengangguk meyakinkan mereka.
“Hei! mau kemana kau pangeran bodoh!”
Mereka semua mengejarnya. Pangeran pergi ke kamar raja dan berniat untuk membunuhnya.
“Meskipun dia menuju ke kamar raja, raja tidak akan ada disana, kita masih di dalam dimensi.”
“Seeji, kau benar. Tapi kekuatannya benar benar meningkat sejak tadi.”
“Rou, kau mampu melihatnya?”
“Ya, kekuatannya sangat meningkat. Dia bisa saja menghancurkan dimensi ini dengan kekuatan Seeji yang awalnya ada padanya, kan?”
“Apa? Kekuatan Seeji ada padanya?”
Takai bertanya di belakang mereka.
“Hanya beberapa persen saja..”
“Tapi tetap saj...!”
Pangeran sampai di ruang raja. Seperti kata Seeji, raja tak ada disana.
“Dimana dia? Huh! Pasti karena penghalang ini!”
Riyou mengepalkan tangannya ke atas dan memukul udara.
PRAANG!
“Dia menghancurkan dimensiku. Sial!”
Seeji terpaksa melenyapkan dimensinya. Saat mereka sampai di ruang raja, Tidak sedikit para pengawal yang ada disana.
“Mereka para tahanan!”
“Tangkap mereka!”
Rou akhirnya menyadari para pengawal itu dikendalikan oleh pangeran Riyou.
“Kita tidak bisa menggunakan kekuatan kita di depan orang biasa seperti mereka.”
“Seeji! Hiru! Kau pergilah lebih dulu! Rou! Ayo tunjukan kombinasi kita!
“Kau menyeretku lagi, Takai.”
“Kalau begitu, Rou! Tetap hubungkan aku dengan Takai.!”
“Kalian, berhati - hatilah!”
Seeji dan Hiru meninggalkan mereka. Mereka lalu memasuki ruangan raja.
“Hah...yang mulia....”
“Kau....Riyou....”
“Jika kau mati, tak akan ada yang menghalangiku lagi...!”
Pangeran menusukkan pedangnya pada tangan raja yang tengah terbaring lemah. Raja hanya terdiam.
“AYAH!!”
Hiru terkejut kakaknya sudah melukai ayahnya.
“Hiru, kau harus segera menyembuhkannya!”
“Seeji?”
Seeji memberi Hiru sedikit kekuatannya.
“Bagaimana? Ayah? Sakit?”
“Kematian ibumu lebih menyakitkan daripada aku...”
“Jangan khawatir, kau akan mati dengan tenang, Ayah. Aku telah menangkap pembunuh ratu!”
“Ayah! Itu semua hanyalah salah paham!” Hiru mencoba mendekati mereka.
“jangan menggangguku lagi, adik tidak berguna!”
Riyou lagi - lagi membentak Hiru hingga dia terkejut.
“Aku tidak peduli lagi dengan siapapun saat ini! Lebih baik semua mati saja!”
Pangeran mencoba membunuh mereka berdua. Hiru langsung teleport menggunakan kekuatan Seeji dan membuat pelindung untuk melindungi ayahnya.
“Hiru...”
“Ayah! Ayah pasti tidak tahu apa yang terjadi saat ini... tapi, izinkan aku untuk menolongmu, Ayah..”
Hiru memegang tangan Yang Mulia Raja yang terluka. Dia menggunakan kekuatan penyembuhnya.
“Jangan sok baik Hiru!”
Saat pangeran akan menebas pedangnya pada mereka berdua, Seeji segera menghentikan pangeran dengan kedua pisaunya dari belakang.
“Yang mulia, biar kutegaskan sekali lagi... seseorang yang tidak mengenal arti dari persaudaraan, kerukunan, dan kekeluargaan tidak pantas dihormati sebagi raja!”
“!!”
Pangeran dan raja terkejut melihat ekspresi Seeji. Ekspresinya mirip dengan ibunya yang selalu yakin dengan apapun.
“Kau!! Kh.....ukh...”
Pangeran mencoba menyerang Seeji, tapi dia seperti merasa sakit sehingga dia tidak bergerak. Kesadarannya perlahan kembali.
“Tuan putri!”
“Rou..san!”
“Kekuatan pangeran menurun drastis. Seeji... dia pasti bisa melakukannya”
DHOOOR!
Dengan satu tembakan pistol ya langsung menembakkan peluru segel ke dada kiri pangeran Riyou.
"Nii - sama...!"
Dia hanya terdiam, tidak berkutik dengan serangan Seeji. Seeji langsung mengeluarkan lingkaran fuin dari titik segel dan menyegel hoseki hitamnya.
SRIIING!
'Riyou.... disaat kau menjadi Raja nanti, jangan lupa dengan hal yang paling penting...'
'Apa itu? Okaa - sama?'
'Persaudaraan, kerukunan, dan kekeluargaan... Juga... Cinta, putraku...'
Riyou kehilangan kesadarannya. Hoseki putih perlahan muncul dan mengobati setiap lukanya, juga para pengawal di kastil yang dia kendalikan, pengaruhnya hilang.
Seeji Berhasil menyegel pangeran. Seeji hampir terjatuh, tapi Takai langsung menahan tubuhnya.
“Jangan berjuang sendiri, tau!”
"Yang tidak tau malu itu kau Takai... apa maksudmu menyamar menjadi orang yang kita incar...”
“Seeji - san!!”
Hiru langsung memeluk Seeji dari belakang.
“Hiru, tanganmu berdarah.”
“Lukaku akan segera sembuh.... tanganmu juga berdarah kan?”
Tangan mereka yang berdarah saling bersentuhan, dan Hiru menyembuhkan luka mereka berdua.
“Terima kasih... Seeji - san....kau telah... memenuhi.... janjimu...” Hiru menangis. Dia masih merasa takut dengan kejadian tadi.
“Hi..ru...”
“Terima kasih....”
“Dia seharusnya masih seumuran denganmu...”
“Ini milikmu kan?” Takai memakaikan kembali topi milik Seeji.
“Oh... topiku.”
“Dan, Rou. Ini kacamatamu.”
“Terima kasih.”
“Bukan masalah...!”
“Seeji...utsuki....”
-----------
“Hei, kau pernah dengar julukan battle waiter?”
“Ya, katanya dia orang yang mencari kekuatan dan mengambilnya dengan paksa dari orang lain!”
“Katanya dia menjadi buronan berharga seratus berlian... Apa kita harus mencarinya?”
Percakapan pengawal yang dulu didengar Rou saat dia masih menjadi pengawal kerajaan. Rou teringat kembali percakapan itu setelah mendengar kalau Seeji adalah battle waiter.
__ADS_1
'Dia itu.... Apa benar kalau dia itu orangnya?'
'Kuharap tidak sesuai dugaanku....'