
“Seeji!”
“Takai! Kalahkan ketakutanmu itu!”
Seeji terjatuh dengan wajah yang masih pucat dan penuh luka. Takai terkejut.
“S..Seeji..”
Monster tadi mencoba menyerang Takai dan Rou. Takai masih belum bergerak, Rou berusaha menariknya.
"Takai!!"
“Apa yang dilakukannya itu sangat bodoh” Kuroseki merendahkan Seeji.
“Kau.... Kuroseki.... AKAN KUBUNUH KAU!”
Matanya merah menyala, Takai sangat marah saat itu dan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mengalahkan monster itu.
ZRRAATS!
Dia mengambil kembali tongkatnya dan tanpa sadar Takai telah merubah tongkat miliknya menjadi nunchaku yang panjang dan berujung tajam saat melawan monster itu.
“Takai...kau...”
“JANGAN MENGHALANGIKU!!”
SRIIIIING
Warna rambut dan matanya semakin menyala, Takai mencabik - cabik monster itu tanpa memberi celah. Saat monster itu menyerang, Takai cepat menangkisnya dan memutar tongkatnya untuk menghentikan gerakan Nikki.
"PERGI!!!!"
Riu tidak percaya, Takai memusnahkan monster itu sendirian. Dia membelah monster itu kurang dari hitungan menit.
“Orang itu...”
Pria berkacamata itu hanya terkejut dan tidak melakukan apa apa. Tapi dia tau, dari raut wajah Takai, dia masih mengingat traumanya.
“Hh...hah...”
Bercak darah ada di mana - mana. Takai masih memaksakan dirinya bertarung
"Waah... Red petals... apa yang membuatmu marah kali ini..?"
Takai dengan gerakan cepat menuju ke arah Kuroseki yang menerteawakannya, dan memukulnya sekuat tenaga.
BUAAAGH!
“BRENGSEK!!! APA SEBENARNYA YANG KAU INGINKAN! KAU MEMANFAATKAN ORANG - ORANG TAK BERSALAH DEMI KEPUASANMU!! APA ITU YANG KAU INGINKAN?!!”
Takai memukul Kuroseki cukup keras, sehingga perban yang menutup mata kanannya sedikit terbuka.
‘Mata...yang penuh kebencian...’
SYAATS!
Kuroseki mengikat dan melukai tangan dan kaki Takai dengan hawa gelapnya. Black scar berdirinya menghentikan gerakan Takai.
“Orang yang tidak sabaran... kau pikir dengan membunuhku semua akan baik - baik saja? Heh... aku sudah mati tau...”
“Apa!?”
Kuroseki melempar Takai hingga menabrak dinding. Tubuh Takai penuh luka dari serangan yang menembus pelindungnya itu.
BRRAAAK!
“Takai!”
“Ukh....uhk..”
Kuroseki kembali berdiri dan menyeka mulut berdarahnya.
“Rou... kau adalah pengawal kerajaan.... dan dia adalah adikmu ya 'kan? Bergabunglah, kau tidak perlu bersusah payah melawanku. Akan mudah jika berurusan dengan kerajaan.”
“Sejak awal aku yakin Yuki tidak ingin ikut denganmu.”
“Begitukah?”
"Jadi... apa kau yang melakukan itu pada para anggota kerajaan...."
"Hahaha.... kau sangat cerdas..."
"Jadi...?! Riyou - sama... dan Tuan putri juga...?! Tidak bisa dimaafkan!!"
Saat Rou mencoba menyerang Kuroseki, Yuki menghadangnya.
"Apa?! Yuki?!"
Mereka lalu bertarung. Yuki memanggil kembali para hantu untuk melindunginya dengan kekuatan dari hoseki hitam.
“Saat ini Yuki menggunakan energinya sendiri untuk membuat hantu yang melindunginya. Jika dia terlalu banyak menggunakannya dia akan mati, Rou...”
“Yuki... kau mampu melihat hantu, tapi apa kau bisa melihatku saat ini?”
“Kau tidak pernah melihatku.”
"!!"
Mereka tetap bertarung Itu lengah karena teringat wajah adiknya.
'Kakak Rou?'
'Aku sibuk Yuki'
'Aku... meskipun kakak bilang aku bukan adikmu, aku tetap ingin...'
'Kau punya ibumu Yuki.'
Yuki melukai pundak kanan Rou.
“Sial.....”
“Kakak... tolong....”
“Yuki...”
“Aku salah.... aku telah putus asa dan membiarkannya mengendalikanku.... Aku hanya ingin punya teman... tolong....sakit...”
“Kau telah menerima hoseki hitam, Yuki. Jangan mengelak!"
“AAAAHH!!”
“Yuki!”
“Aku tak peduli lagi! Sebaiknya kau mati saja!”
Yuki berteriak dan menyerang kembali Rou dengan black scar.
“!!”
Kesadaran Yuki menghilang, dia mencoba menyerang Rou dengan senjata tajam dari para hantu.
DHOOOR!
“Seeji...!”
“hampir saja..”
Seeji menembak senjata yang dipakai Yuki dari atas. Dia terbang. Berbeda dari biasanya, pistolnya menjadi lebih besar dari biasanya, dia menyatukan kedua pistolnya dan berubah menjadi senapan dengan kekuatan yang lebih kuat. Karena serangannya, Yuki terhempas. Dia lalu teleport ke depan Rou.
“Aku tidak menyangka kau adalah pemilik permata hijau... Rou - san...”
Seeji merubah kembali pistolnya menjadi dua.
“Bagaimana... bisa?”
“Aku memang sempat pingsan.... tapi Heal - san menolongku dan secepatnya aku teleport kesini. Dia memberiku sedikit kemampuan terbangnya...”
“Heal... “
Yuki kembali bangkit dan berusaha menyerang mereka dari jauh. Pasukan hantu berdekatan
“Jangan menghalangi battle waiter!”
__ADS_1
TRRAANG
"Makhluk yang menyeramkan....."
Seeji menebas semua serangan itu dengan pisaunya, lalu mengubah senjatanya menjadi pistolnyya dan menembak Yuki.
“Battle waiter... apa?!”
Serangan Yuki menyebar hingga hampir mengenai Rou. Heal - san segera membuat kekkai pelindung dengan hoseki kuningnya.
SRIIING!
“Rou san, hati - hati!”
DHOOR!
Seeji menembaknya dengan titik segel pada Yuki.
“Heal - san pemilik permata kuning, dan kau pemilik permata hijau... aku pasti merepotkan kalian kan? Aku beruntung kalian telah meluangkan waktu untukku...”
Seeji teleport menjauhi Yuki dan mengunci gerakannya dengan titik segel.
SRRIIIING!
“Yuki, aku harus menyegelmu. Bertahanlah sebentar.”
PYAAASSH
“Aaaaaah!!”
‘Sudah kuduga hoseki ini berbeda dari biasanya. Kuroseki memasukkannya secara paksa, tidak seperti black petals yang selalu aku lawan.’
SYUUUTS
“Kau selalu mengganggu, battle waiter!”
Kuroseki mencoba menyerang Seeji yang tengah menyegel. Tiba - tiba Takai menghalangnya, dengan tongkatnya yang memanjang karena rantai dari jauh. Nunchaku berantai adalah model baru dari tongkat kayunya.
“Heh... aku yakin kau tidak akan mati begitu saja... Seeji.”
Takai segera menjauhkan kuroseki yang terbelit rantai dengan sekali ayunan tangannya.
“Lalu kenapa kau semarah itu tadi?”
“Oh...kau melihatnya...”
Rou terkejut melihat mereka. Heal - san lalu memegang pundaknya dan menyalurkan hoseki kuningnya.
“Bertahanlah sebentar, aku akan menyembuhkanmu...”
“Nona...”
Seeji selesai menyegel dan Yuki terjatuh. Takai sempat menangkapnya yang tidak sadarkan diri.
“Heh...battle waiter, kau pasti masih belum sadar juga.”
Kuroseki berusaha bangkit dan melepas rantai yang mengikatnya.
“Apa lagi yang ingin kau lakukan?”
“Kalian berempat... Membuatku kesal!”
Kuroseki berbalik dan menghilang. Dimensi Seeji langsung menghilang.
“Beres juga...” Seeji bernapas lega dia sampai terduduk di lantai.
“Menyebalkan sekali melawan mereka..”
Takai menggunakan kembali ikat kepalanya lalu menggunakan kekuatannya untuk melepas sisa darah di badannya.
"Takai..."
Nikki tiba - tiba keluar dalam bentuk cahaya.
"Apa? Dia ini...?"
Rou lalu mendekatinya. Nikki ada dalam wujud manusia, namun melayang - layang di udara.
“Kau adalah mantan tahanan dulu disekolah ini kan?”
“Sekolah ini dulunya penjara. Yuki bertemu denganku disini. Dia selalu disiksa oleh teman atau kakak kelasnya, dan aku mencoba untuk menghiburnya... "
"Kau berteman dengannya..?"
"Hanya dia temanku, dan kupikir dia juga beranggapan sama... Tapi rasa kesepian dalam hatinya membuatnya dimanfaatkan Kuroseki, selain itu, dia mampu mengendalikan roh jahat yang bergentayang seperti aku...”
“Begitu...dia kesepian”
“Aku adalah pembunuh berantai, karena itu aku dipenjara dan mati dibunuh disini hingga menjadi roh jahat...”
“Pembunuh berantai..?”
“Baiklah, sekarang Yuki sudah aman. Kau bisa pergi.”
“Yuki harus memiliki seseorang yang bisa melihat jauh ke dalamnya. Dia berharap kaulah orangnya, Rou. Yuki, kau harus memiliki teman!”
Nikki menghilang bersama cahaya putih dari penyegelan hoseki hitam. Orang - orang yang tak sadarkan diri tadi, menjadi terlihat lebih baik setelah Nikki menghilang.
“Hoseki putih membuatnya bebas.. kah?”
“Mungkin karena koneksi dengan Yuki...”
“Seeji, kau baik - baik saja?”
“Ternyata hantu menakutkan.... aku hampir tidak bisa melihat mereka.”
“Ooh... jadi sekarang kau takut ya?”
“Berisik ah!”
“Yuki, akan baik baik saja kan?”
Rou bertanya pada Takai yang menggendong Yuki di punggungnya.
“Ya, dia baik - baik saja. Dia hanya pingsan.”
"Permata hijau.... dan.... permata kuning...”
Heal - san membuka tudungnya dan tersenyum. Terlihat mata kuningnya yang lebar.
“Untunglah... aku tepat waktu...”
“Heal - san, kemampuan terbangmu bagus juga”
“Kau... bisa terbang?” Takai terheran dengan perkataan Seeji.
“Takai, aku terjatuh kan? Heal - san menangkapku dan terbang ke atas sambil menyembuhkanku"
“Wah... ada kekuatan untuk terbang ternyata... hm?” Takai memandangi Heal - san. Merasa tidak asing.
“Ada....apa..?”
“Aku sepertinya pernah melihatmu....”
“Takai, dia adalah putri dari kerajaan ini. Hirune Ameytyst” Rou menjelaskan dengan wajah datar.
“PUTRI??!!” Seeji dan Takai sontak terkejut, seorang bangsawan ada bersama mereka.
“Ah...Seeji...san...”
“Tapi... Heal - san....kenapa kau dikejar pengawal waktu itu?”
"Itulah masalah yang terjadi di kastil beberapa minggu lalu..."
Takai tiba - tiba menyerobot memotong kalimat Rou.
“Ah! Seeji! Orang itu adalah pengawal kerajaan! Dia pasti punya niat jahat!” Sambil menunjuk ke arah Rou.
“Jangan menyalahkan orang lain tanpa bukti. Seeji, Takai, terima kasih telah menyelamatkan adikku. Sebaiknya kalian segera pergi, Aku akan mengurus sisanya.”
Rou melihat ke arah orang - orang hilang yang tengah pingsan. Karena pertarungan terjadi di dalam dimensi, bercak darah yang berserakan tidak tampak.
'Takai baik - baik saja selama Seeji bersamanya, tidak bergetar seperti tadi. Selain itu... Battle waiter?'
__ADS_1
-------------------
“Dia itu, tetap saja menyebalkan” Takai merasa kesal pada Rou.
Mereka lalu berjalan keluar sekolah menuruni tangga.
“Seeji san... sebelumnya aku sedang berada cukup jauh dari tempat ini, tapi bagaimana aku bisa menemukanmu dengan sangat cepat?”
“Saat kau menyembuhkan lukaku di kota waktu itu, aku memberikan sedikit kekuatanku padamu. Kau ingat 'kan?”
"Ya, aku ingat...”
“Dan kau menggunakan kekuatan itu untuk teleport ke tempat asal kekuatannya. Jadi, tempatnya sangat tepat.”
“Eeh? Bisa seperti itu juga?”
Takai ikut pembicaraan di depan mereka.
“Kau juga pernah melakukannya, Takai.”
“Pernah? Kapan?”
“Saat tukang kayu itu menyerangku, kau datang ke hadapanku secara tiba - tiba"
“Ah... ya... aku ingat”
“Bisa juga terjadi kebalikannya..”
“Ngomong ngomong.... kenapa Heal - san... ma... maksudku, putri... menyamar dan menyembunyikan diri seperti ini?”
Takai bertanya dengan agak canggung. Hiru hanya terdiam.
"Kita bicarakan nanti..."
Mereka akhirnya sampai keluar sekolah setelah menuruni tiga lantai.
"Aaah... akhirnya sampai juga..."
Takai menghela napas dan memperbaiki tangannya yang menahan tubuh Yuki."
“Takai, tolong antarkan Yuki ke rumahnya. Aku harus bicara dengan Heal - san”
“Baiklah.... eeh? Lalu aku?”
"Kau antarkan Yuki ya."
----------
Seeji dan Heal san kini duduk di pinggir taman. Saat itu keadaan sepi karena waktu masih menunjukan pukul dua tengah malam.
“Aku...dituduh membunuh ratu...”
“Dituduh?”
“Padahal waktu itu seseorang mencelakakan ibuku, dan aku berusaha menolongnya, tapi mereka.... menuduh kalau aku yang melakukannya.... Jadi, aku dipenjara seumur hidup. Mereka takut dengan kekuatanku...”
“Penjara....”
“Tapi aku selalu kabur.... dan aku menolong orang - orang yang terkena wabah penyakit saat ini...”
“Wabah penyakit?”
“Ya, wabah penyakit itu berasal dari air yang seperti sengaja diracuni. Wabah penyakit itu hanya ada pada orang - orang di tempat terpencil saja... jadi, aku menolong mereka. Tapi para pengawal selalu menangkapku... aku tidak tahu sudah berapa kali aku kabur... ahhhh......” Heal - san terlihat kesal.
“Putri....”
“Ahh... tidak, jangan panggil aku putri... panggil aku Hiru saja...”
“Hiru?”
“Serapan dari kata ‘Heal’. Itu nama asliku sih... Rou - san sudah mengenalkanku kan?”
"Kalau begitu, aku perkenalkan lagi, namaku Seeji Utsuki."
"Ooh.. aku baru sadar nama Seeji - san juga serapan.."
Heal san tersenyum agak memaksa.
“Bagaimana dengan raja dari kerajaan ini..?”
“Saat ini... dia sedang sakit.... aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh ayahku hingga dia jadi seperti itu. Kakakku pun... sama saja..”
“Kakak? Maksudmu kau punya kakak?”
“Ya, dia anak pertama dari Raja. Pangeran.... dia mengambil alih pemerintahan sementara... kakakku lah yang menuduhku pertama kali!!”
“Apa?!”
“Sebenarnya saat itu aku diculik.. Dan ratu berusaha menyelamatkanku, tapi seseorang malah menyiksanya dan aku mencoba menolong ibuku dengan kekuatanku... tapi orang itu malah melukai kami. Aku tidak berhasil menyembuhkan ibuku dan kekuatanku malah menyembuhkan diriku sendiri..."
Hiru mulai menangis saat menceritakan kebenaran."
"Saat kakakku melihatku, dia langsung menuduh aku yang membunuhnya. Aneh sekali kan...?”
"Kau benar Hiru...”
“Pangeran..! Dia pasti melakukan sesuatu! Sejak dia mengambil alih pemerintahan, rakyat jelata tidak lagi diperhatikan... aku sendiri tidak lagi dipedulikan.... dia jadi sangat egois....”
“Hiru, mau bagaimanapun, kau tetap adiknya.”
“Seeji san...”
Seeji jadi teringat dengan adiknya.
“Lalu apa yang harus kulakukan....”
“Kau harus menghilangkan kesalahpahaman ini...”
“Seeji...san..”
Tiba - tiba datang suara para pengawal di dekat mereka.
“Seeji - san! Para pengawal datang!”
Seeji memegang pundak Hiru dan teleport ke tempat lain.
“Hhah...!”
“Tidak apa - apa Hiru.”
'Aku sedang tidak bisa membuat dimensi... untunglah teleportasi masih bisa kugunakan.'
Para pengawal itu bingung karena awalnya dia melihat Hiru duduk di bangku taman. Seeji dan Hiru memperhatikannya dari jauh.
“Pangeran pasti menyuruh mereka mencariku ...”
“Sebegitu bencikah kakakmu itu?”
“Awalnya dia adalah kakak yang sangat baik... tapi dia berubah setelah aku dituduh membunuh...”
“Kapan kau dituduh membunuh waktu itu?”
“S-sekitar sebulan yang lalu... ”
“Sebaiknya kita segera pergi...”
“Mau kemana kau....” Seseorang tiba - tiba memanggil mereka dari belakang.
“!!”
BUAGH!
Seeji terkejut, orang itu tiba - tiba memukulnya. Dia terjatuh cukup jauh sehingga topi miliknya terlepas.
“Pangeran..!”
Dengan rambut perunggu dan tanda kerajaan di matanya, Pangeran Riyou memerintahkan para pengawal mencegah mereka kabur.
“Hiru, kau sudah berlebihan.... apalagi yang kau lakukan di tengah malam seperti ini? Kau ingin membuat orang - orang dalam bahaya lagi....?”
“Tapi...pangeran....”
“Jangan melawan!!”
__ADS_1
Dia menjatuhkan Hiru dengan kakinya. Hiru tersungkur di tanah.
“Pengawal, tangkap mereka berdua!”